
Hari ini, Lee Chu Mian Yin ijin pada Qin Wu Zhu untuk tidak mengadakan latihan di markas besar prajurit karena dia sudah diberi janji oleh Rong Hya bahwa pemuda jelmaan siluman serigala itu akan melatih kemampuan ilmu peringan tubuhnya.
Pagi itu sekitar jam 8 nan, terlihatlah putrinya Lee Jiang Wook dan si Rong Hya berada di taman bunga kediaman Chu, tepatnya di depan gazebo.
"Kamu sudah pernah mencoba ilmu peringan tubuhmu dari atap gazebo ini sampai ke dahan pohon itu belum?" tanya pemuda jelmaan siluman serigala itu sambil jari telunjuk kanannya menuding atap gazebo dan dahan pohon berukuran sedang yang letaknya lebih dari 7 meter an dari gazebo tersebut.
"Masih belum paman, ayah masih belum berani melatih ilmu peringan tubuhku setinggi dan sejauh itu, kalau ketahuan kakek nenek bisa dimarahi, katanya Yin'er masih terlalu kecil untuk berlatih sesuatu yang berbahaya," terang gadis kecil cantik itu jujur.
"Karena ada paman Rong Hya kamu tidak perlu takut untuk jatuh, paman janji akan menjagamu dengan baik. Sekarang kita naik ke atap gazebo itu yuk," ucap siluman serigala tersebut dengan mengajak putrinya Lee Jiang Wook naik ke atap gazebo.
"Tapi ujung atapnya kecil segitu lo paman," kata Lee Chu Mian Yin sambil sepasang matanya melihat ke ujung atap gazebo tersebut.
"Kamu tidak perlu khawatir sayang, paman nanti akan memegangmu," si Rong Hya berusaha meyakinkan gadis kecil itu.
"Janji ya paman, jangan sampai Yin'er jatuh lo, kalau sampai jatuh Yin'er tidak mau ketemu dan bicara dengan paman lagi," sahut putrinya Lee Jiang Wook sambil memberi ancaman.
"Iya iya paman janji."
Setelah berkata demikian, siluman serigala itu pun lalu melingkarkan tangan kanannya di pinggang Lee Chu Mian Yin dan membawanya terbang menuju ke atap gazebo.
Begitu sampai di atap, Rong Hya pun memposisikan badan gadis kecil tersebut agar bisa berdiri dengan seimbang.
"Jangan tegang ya, dibuat santai, tarik napas dalam-dalam dan dibuang pelan-pelan...," siluman serigala itu memberikan instruksi sebagai langkah persiapan sebelum latihan dimulai.
"Kamu jangan takut ya, karena paman punya kekuatan supranatural yang bisa membuat tubuhmu berhenti bergerak sehingga tidak akan jatuh ke bawah," sekali lagi si Rong Hya meyakinkan Lee Chu Mian Yin agar gadis kecil itu tidak takut untuk mencoba sesuatu yang 'berbeda'.
"Sekarang persiapkan dirimu untuk terbang menuju ke dahan itu," lanjut siluman serigala tersebut yang dibalas dengan anggukan kepala dari putrinya Lee Jiang Wook.
Tak berapa lama, setelah benar-benar siap, gadis kecil itu pun memposisikan tubuhnya saat akan lepas landas seperti biasanya, lalu melayang dan berusaha mendaratkan kedua kakinya di dahan tersebug yang ternyata tubuhnya sempat tidak seimbang namun pinggangnya langsung dililit oleh berkas sinar merah milik Rong Hya sehingga badan Lee Chu Mian Yin tetap bertahan di tempat tersebut.
Untuk sesaat, terlihatlah gadis kecil itu sedang mengatur napasnya sambil tangan kirinya merangkul pada batang pohon karena tadi jantungnya sempat berdebar-debar waktu tubuhnya goyang ketika melakukan pendaratan.
"Terus semangat ya sayang, yakinlah kamu pasti bisa!" seru siluman serigala tersebut dari atap gazebo.
Beberapa detik kemudian, putrinya Lee Jiang Wook tampak membalikkan badannya dengan hati-hati.
"Sekarang kamu coba terbang ke sini lagi ya!" imbuh si Rong Hya dengan masih berdiri di tempat yang sama.
Untuk selanjutnya, terlihatlah Lee Chu Mian Yin berlatih ilmu peringan tubuhnya dengan beberapa kali terbang dari atap gazebo ke dahan pohon hingga gadis kecil itu pun menjadi mahir dan lancar saat melakukan pendaratan.
Saat ini, tampaklah si Rong Hya dan Lee Chu Mian Yin sudah duduk di gazebo untuk beristirahat sebentar.
"Sekarang kita latihan apa lagi paman?" tanya putrinya Lee Jiang Wook penuh semangat karena latihannya tadi membuahkan hasil yang memuaskan.
"Bagaimana kalau kamu mencoba terbang dari atap sana menuju ke atap sana?" sahut siluman serigala tersebut dengan jari telunjuk tangan kanannya menunjuk pada atap kediaman utama dan atap bangunan yang lainnya.
__ADS_1
"Wih tingginya... Nanti kalau ketahuan nenek pasti dimarahi lo paman," ujar gadis kecil itu jujur dengan sedikit kaget.
"Jangan takut sayang, paman akan menjagamu seperti tadi. Masalah nenekmu biar paman yang urus. Bagaimana, kamu mau tidak?" si Rong Hya meyakinkan Lee Chu Mian Yin sambil sepasang matanya menatap ke arah gadis kecil itu.
"Baiklah paman, Yin'er mau mencobanya."
Sesudah berkata demikian, putrinya Lee Jiang Wook dan siluman serigala itu bangkit dari duduknya lalu lagi-lagi Rong Hya merangkulkan tangan kanannya di pinggang Lee Chu Mian Yin dan membawanya terbang menuju ke atap kediaman utama yang tentu saja aksi mereka berdua langsung menarik perhatian beberapa pelayan perempuan yang kebetulan melihat mereka.
Otomatis, keberadaan dua orang yang berdiri di atas atap itu langsung membuat beberapa pelayan tadi lumayan terkejut dan tak lama kemudian salah satu diantara mereka melaporkannya pada Nyonya Chu Jeong Byun yang tentu saja membuat wanita paruh baya itu juga langsung kaget bercampur emosi.
Tanpa menunggu lama, Nyonya Chu Jeong Byun dan si pelayan tadi segera melangkahkan kedua kakinya dengan cepat menuju ke depan kediaman utama.
"Rong Hya, apa yang kau lakukan pada cucuku?!! Ayo cepat bawa dia turun!!" seru wanita paruh baya itu sambil mendongakkan kepalanya dan jari telunjuk kanannya menuding pada siluman serigala tersebut.
"Santai bibi, tenang saja, aku akan menjaga Yin'er dengan baik kok!" jawab Rong Hya dari atap kediaman sambil kedua tangannya memegang erat kedua pundak Lee Chu Mian Yin.
"Kalau bibi nanti masih teriak-teriak seperti itu, kita berdua bisa jatuh betulan lo!" tambah siluman serigala itu yang langsung membuat wanita paruh baya tersebut tidak berani berteriak lagi dengan menahan amarah dalam hatinya.
Awas kamu ya Rong Hya, begitu kamu sudah ada di bawah, bibi akan memukulmu, rutuk Nyonya Chu Jeong Byun dalam hati.
Beberapa saat kemudian, tampaklah para pelayan yang lain berkumpul di depan kediaman utama itu termasuk Xi'er untuk turut menyaksikan peristiwa yang mengejutkan sekaligus menakutkan tersebut.
Pemandangan berikutnya adalah Lee Chu Mian Yin melayang dari atap kediaman utama menuju ke atap lainnya yang jaraknya ada sekitar 20 meteran yang tentu saja aksi gadis kecil itu membuat semua orang yang ada di bawah menjadi 'miris' dibuatnya terkhusus Nyonya Chu Jeong Byun yang semakin meningkat emosinya pada si Rong Hya.
Seperti halnya pendaratan pertama waktu di dahan pohon tadi, kali ini pun putrinya Lee Jiang Wook mengalami ketidak seimbangan saat mendaratkan kedua kakinya itu yang langsung membuat semua orang yang ada di bawah menjadi ngeri bahkan ada pelayan perempuan yang menutup kedua matanya karena tidak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Selama beberapa menit, Lee Chu Mian Yin kembali membutuhkan waktu untuk mengatur napas dan detak jantungnya. Sesudah siap, dengan hati-hati dia membalikkan badannya untuk mencoba terbang menuju ke atap kediaman utama lagi. Aksi tersebut terulang beberapa kali hingga gadis kecil itu menjadi mahir melakukan pendaratan.
Karena sudah merasa sangat geregetan dengan sikapnya Rong Hya, Nyonya Chu Jeong Byun pun masuk ke dalam kediaman untuk mengambil kemoceng yang rencananya akan digunakan untuk memukul siluman serigala itu.
Setelah dirasa cukup latihannya, si Rong Hya pun lalu meminta putrinya Lee Jiang Wook untuk terbang turun ke bawah secara mandiri yang tentu saja dengan diawasi oleh pemuda jelmaan siluman serigala tersebut dari atas atap.
Dengan mantap, gadis kecil itu pun lalu meluncur ke bawah dan ternyata sukses mendarat di tanah yang tak berapa lama disusul oleh si Rong Hya.
Begitu siluman serigala itu mendaratkan kedua kakinya di tanah, Nyonya Chu Jeong Byun langsung memukulkan kemoceng yang tadinya dia sembunyikan di balik punggungnya pada tubuh si Rong Hya dengan pukulan yang lumayan keras.
"Aduh, sakit bibi," keluh si Rong Hya yang memang merasakan panas pada bekas pukulan kemoceng tadi.
"Dasar siluman serigala gila kamu ya, berani-beraninya membahayakan nyawa cucuku!" kata wanita paruh baya itu dengan volume suara lumayan tinggi sambil mengacungkan kemoceng yang dia pegang.
"Kok saya dibilang gila sih bi. Kan kemampuan Yin'er harus diasah supaya semakin meningkat. Lagipula itu kan pesannya Peri Jinfeng Zhui juga," Rong Hya berusaha membela dirinya.
"Mengasah kemampuan tidak harus sekarang, setelah dia besar nanti kan bisa," protes Nyonya Chu Jeong Byun yang sebenarnya memiliki niat baik dan tidak ingin kehilangan cucu kesayangannya jika terjadi apa-apa.
"Nenek jangan marahi paman Rong Hya dong, terbang di ketinggian itu seru lo," sela Lee Chu Mian Yin jujur sekaligus berusaha membela si Rong Hya.
__ADS_1
"Tapi sayang umurmu belum ada 9 tahun, jika kamu celaka bagaimana nenek akan mempertanggung jawabkannya pada mendiang ibumu," balas wanita paruh baya itu terus terang.
"Bibi Chu, apa yang bibi takutkan itu tidak akan terjadi. Selama Yin'er berlatih denganku, aku jamin dia tidak akan terjadi apa-apa," siluman serigala itu mencoba memberi pengertian pada Nyonya Chu Jeong Byun.
"Itu kalau ada kamu, bagaimana kalau suatu saat nanti cucuku mencoba terbang secara diam-diam lalu terjatuh?" wanita paruh baya itu masih terus mengkomplain cara berpikirnya Rong Hya.
Tak berapa lama, terlihatlah putrinya Lee Jiang Wook mendekati neneknya lalu kedua tangannya memegang tangan kiri wanita paruh baya tersebut.
"Nenek lupa ya dengan kejadian di sekolah beberapa waktu yang lalu? Nenek kan juga pernah mencobanya sendiri pada Yin'er," gadis kecil itu berusaha mengingatkan Nyonya Chu Jeong Byun dengan peristiwa 'lemparan kertas'.
Untuk sesaat wanita paruh baya itu terdiam sambil menatap lekat pada cucu kesayangannya.
"Apa perlu Yin'er coba jatuh dari ketinggian untuk membuktikan jika Yin'er tidak bisa celaka," imbuh Lee Chu Mian Yin yang tentu saja membuat neneknya langsung terkejut.
"Ya jangan begitu dong sayang, masa' kamu mau praktek jatuh dari atap begitu," larang Nyonya Chu Jeong Byun tegas.
Belasan menit kemudian, terlihatlah Nyonya Chu Jeong Byun dan si Rong Hya sudah duduk di kursi yang ada di depan kediaman utama, sementara si Lee Chu Mian Yin dibawa Xi'er pergi dari tempat itu atas perintah neneknya.
"Kamu itu benar-benar keterlaluan Rong Hya, bisa-bisanya mengajak cucuku latihan yang berbahaya seperti itu. Bibi sudah kehilangan Ran'er, masa' harus kehilangan cucuku juga," wanita paruh baya itu tampak sedang menceramahi siluman serigala tersebut.
"Bibi, aku tidak ada niatan sama sekali untuk mencelakai Yin'er. Aku hanya berusaha mengasah kemampuannya agar kelak bisa dipakai untuk perlindungan. Kan dia sangat ingin menjadi jenderal. Aku sudah berusaha menggoyahkan keinginannya tapi ya gagal," terang si Rong Hya apa adanya.
"Lagipula Peri Jinfeng Zhui sudah menitip pesan padaku jika transferan kekuatan supranatural yang diberikan para peri senior akan membuat Yin'er memiliki beberapa keistimewaan yang harus dikembangkan. Para peri itu melakukan hal demikian semata-mata untuk melindungi Yin'er," tambah siluman serigala tersebut.
"Bibi tahu maksudmu, tapi aku tidak tega melihat Yin'er melakukan hal se bahaya itu. Bibi itu sayang sekali dengan dia karena dia cucuku satu-satunya."
Mendengar penjelasan Nyonya Chu Jeong Byun, si Rong Hya pun terdiam untuk sesaat. Secara logika, apa yang dikatakan wanita paruh baya itu sangat masuk akal karena memang dia adalah neneknya dan memiliki hak atas Lee Chu Mian Yin.
"Aku benar-benar minta maaf ya bibi Chu, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencelakai Yin'er," sesal pemuda jelmaan siluman serigala itu.
Malam harinya...
Saat ini, terlihatlah Nyonya Chu Jeong Byun sedang duduk di tepi ranjang Lee Chu Mian Yin sambil sepasang matanya menatap lekat wajah cucu kesayangannya yang sedang berbaring di ranjang.
"Nek, nenek jangan marahi paman Rong Hya ya, nanti paman tidak ke sini lagi lo," gadis kecil itu mencoba meredam amarah neneknya.
"Tapi nenek benar-benar kesal dengan paman Rong Hya karena mengajakmu latihan hal yang berbahaya seperti tadi sayang," terang wanita paruh baya itu.
"Tapi niatnya paman Rong Hya kan baik, supaya Yin'er mahir dalam menggunakan ilmu peringan tubuh Yin'er. Seru lo nek bisa terbang tinggi," putrinya Lee Jiang Wook masih terus berusaha membela si siluman serigala.
"Tapi nenek tetap takut kalau kamu celaka sayang, masa' kamu diajak naik ke atas atap dan terbang tinggi seperti itu, nenek ngeri melihatnya...," Nyonya Chu Jeong Byun mencoba membuka jalan berpikir cucunya.
"Nenek merasa ngeri karena nenek kan tidak tahu enaknya terbang," dengan keluguannya gadis kecil itu mengajak neneknya beradu argumen.
"Jelas saja nenek tidak bisa terbang sayang, kan nenek tidak punya kekuatan supranatural...," wanita paruh baya itu berusaha membela dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tapi nenek jangan marah terus dengan paman Rong Hya, kan Yin'er masih ingin latihan dengan paman," pinta Lee Chu Mian Yin.
🌹🌹🌹