Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 22 Menjadi Suka Bermeditasi


__ADS_3

3 hari setelah munculnya gambar bunga mei hwa di belakang bahu Chu Pian Ran, sikap gadis itu mulai mengalami perubahan.


Sejak pagi tadi setelah sarapan gadis itu menghabiskan waktu berjam-jam dengan bermeditasi di kamarnya.


Sebelumnya dia sudah berpesan kepada Xi Er untuk tidak mengganggunya. Dan sekarang sudah tiba saatnya untuk makan siang.


Xi Er menjadi bingung antara masuk ke kamar majikannya dan memberitahunya bahwa waktu makan siang sudah tiba atau membiarkan Chu Pian Ran tetap dalam kamarnya tanpa gangguan apapun.


Karena bingung, Xi Er pun melaporkan tingkah aneh nonanya itu pada nyonya Chu.


Nyonya Chu pun lalu mendatangi kamar putrinya bersama Xi Er.


Wanita paruh baya itu kemudian membuka pintu kamar putrinya dan melihat putrinya sedang dalam posisi meditasi yang khusyuk.


Setelah menutup kembali pintu kamar Chu Pian Ran, nyonya Chu berkata pada Xi Er.


"Biarkan saja dulu dia seperti itu. Mungkin sebentar lagi meditasinya akan selesai. Jika sudah selesai, kau antarkan makan siang nonamu." Pesan nyonya Chu pada Xi Er.


"Baik nyonya." Jawab Xi Er.


Nyonya Chu lalu meninggalkan kamar putrinya, sedangkan Xi Er berjaga di depan kamar Chu Pian Ran.


Setengah jam, 1 jam dan kini hampir 2 jam berlalu.


Xi Er mulai gelisah di depan kamar majikannya. Dari dalam belum terdengar pergerakan apapun, pertanda jika sang majikan belum juga selesai dari meditasinya.


Karena cemas, Xi Er melaporkannya kembali kepada nyonya Chu. Kebetulan saat itu tuan Chu juga sudah kembali dari urusan pekerjaannya di luar.


Pintu kamar Chu Pian Ran kembali terbuka. Kali ini tuan Chu lah yang membukanya. Sepasang suami istri itu melihat putri mereka masih bermeditasi dengan khidmat.


"Bagaimana ini suamiku, apakah ini keanehan selanjutnya dari putri kita?" Tanya nyonya Chu ketika mereka sudah berada di luar kamar Chu Pian Ran.


"Mungkin saja begitu... Aku sendiri juga tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menghadapi dan menjalani apa yang ada di depan kita..." Balas tuan Chu.


"Aku hanya khawatir dengan kesehatannya..." Lanjut nyonya Chu.


"Sebulan terakhir ini kondisi tubuhnya baik-baik saja. Mudah-mudahan untuk seterusnya akan seperti ini." Ucap tuan Chu penuh harap.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang suamiku? Putri kita sudah berjam-jam seperti itu. Apakah tidak sebaiknya kita sadarkan dia." Saran wanita paruh baya itu.


"Sebaiknya jangan... Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi." Sambung tuan Chu.


Akhirnya tuan dan nyonya Chu sepakat membiarkan putri mereka seperti itu.


Hingga malam tiba, Chu Pian Ran masih tidak bergeming. Mulailah timbul rasa cemas pada tuan dan nyonya Chu.


Kini pasangan suami istri itu sudah berada di kamar putrinya lagi.


Chu Pian Ran masih terus khusyuk bermeditasi tanpa merasa terganggu oleh kehadiran orang tuanya.


Mereka berdua berjaga di kamar gadis itu hingga pagi menjelang.


****


Sehari telah terlewati. Namun, belum ada tanda-tanda Chu Pian Ran menyudahi meditasinya.

__ADS_1


Lee yang hari ini berkunjung di kediaman Chu merasa terkejut saat diberitahu oleh tuan Chu.


Pemuda itu sempat masuk dalam kamar Chu Pian Ran dan melihat kekasihnya itu sedang khusyuk bermeditasi seperti yang diceritakan oleh tuan Chu.


Malam harinya...


Malam ini giliran Xi Er yang berjaga di kamar Chu Pian Ran.


Saat mata pelayan itu mulai terasa berat karena menahan kantuk, tiba-tiba terjadi keanehan pada tubuh majikannya itu.


Ada untaian cahaya yang keluar dari belakang bahu Chu Pian Ran dan untaian cahaya itu mengelilingi tubuh gadis itu.


Mata Xi Er yang niatnya ingin terpejam pun akhirnya tidak jadi. Pelayan itu terus memperhatikan tubuh nonanya. Untaian cahaya yang awalnya sedikit kini menjadi bertambah.


Melihat keanehan itu, dengan segera Xi Er menemui tuan dan nyonya Chu.


Kini mereka bertiga telah ada di kamar Chu Pian Ran.


Mereka bertiga melihat tubuh gadis itu masih dikelilingi oleh untaian cahaya aneh.


Tuan dan nyonya Chu benar-benar terkesiap melihat pemandangan di depan mereka.


Hal ini terus terjadi hingga hari yang ketujuh.


****


"Xi Eeer! Xi Eeer!" Panggil Chu Pian Ran dari dalam kamarnya.


Si empunya nama segera masuk dalam kamar majikannya.


"Nona, nona sudah selesai meditasinya?" Tanya Xi Er.


Dua puluh menit kemudian, gadis itu makan dengan lahap di depan kedua orang tuanya. Dia benar-benar tidak merasakan bagaimana khawatirnya pasangan suami istri itu.


"Ya ampun sayang, pelan-pelan makannya, nanti perutmu bisa sakit..." Nyonya Chu memperingatkan putrinya.


"Lapar sekali bu." Ucap Chu Pian Ran dengan mulut penuh makanan.


Beberapa puluh menit kemudian gadis itu sudah menyelesaikan acara makannya.


"Kenyaang..." Ucap Chu Pian Ran tanpa rasa malu dengan mengelus perutnya yang kekenyangan.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya tuan Chu.


"Baik ayah, sekarang aku sudah kenyang." Balas gadis itu dengan polosnya.


"Ayah dan ibu benar-benar khawatir denganmu Ran Er. Bagaimana bisa tiba-tiba kau melakukan meditasi selama 7 hari 7 malam." Lanjut pria paruh baya itu meminta penjelasan.


"Aku sendiri juga tidak tahu ayah. Entah mengapa tiba-tiba muncul keinginan yang kuat dalam diriku untuk bermeditasi. Itu semua ada di luar kendaliku ayah." Terang Chu Pian Ran.


Tuang dan nyonya Chu hanya saling berpandangan.


"Kamu yakin tidak kenapa-kenapa sayang? Tidak ada bagian tubuhmu yang sakit?" Wanita paruh baya itu memastikan keadaan putrinya.


"Aku sehat-sehat saja bu. Ibu tidak perlu khawatir. Oh ya, setelah mandi nanti Ran Er ingin tidur agak lama bu. Boleh kan?" Ijin gadis itu.

__ADS_1


"Iya sayang, tentu boleh... Kamu jaga kesehatan baik-baik ya, jangan membuat ayah dan ibumu khawatir." Kata nyonya Chu.


****


Benar saja. Setelah mandi, Chu Pian Ran menghabiskan waktu berjam-jam untuk tidur.


Sore itu, Lee datang berkunjung ke kediaman Chu dan ingin tahu bagaimana keadaan kekasihnya.


Setelah masuk kamar, pemuda itu melihat Chu Pian Ran sedang tidur pulas.


Karena tidak ingin mengganggu, Lee tidak membangunkan gadis itu. Dia malah naik ke ranjang lalu mengelus-elus rambut Chu Pian Ran.


Plak!


Tangan gadis itu memukul tangan Lee yang saat itu sedang mengelus rambutnya dengan mata masih terpejam.


Mendapat pukulan itu bukannya berhenti menghentikan elusannya, Lee malah terus melanjutkan aksinya.


Plak!


Kali ini pukulannya lebih keras dari sebelumnya. Lee bahkan sempat mengaduh kecil. Bekas pukulannya terasa agak panas.


Mata Chu Pian Ran mengerjap-ngerjap.


"Rupanya kau. Mengganggu saja. Pergi sana!" Kata gadis itu ketus.


"Ya ampun sayang, kamu kok begitu? Aku rindu padamu tahu..." Balas Lee.


"Tidak ada rindu-rindunan. Kamu pergi saja, aku masih ngantuk sekali tahu!" Lanjut Chu Pian Ran.


Tanpa aba-aba, tiba-tiba Lee mencium pipi kekasihnya itu.


Alhasil, Lee mendapat reaksi tak terduga dari Chu Pian Ran.


Gadis itu memukul-mukul Lee dengan bertubi-tubi.


Sampai akhirnya, tubuh Lee pun terhempas jatuh dari ranjang karena Chu Pian Ran mendorong Lee dengan kekuatan telapak tangan kanannya.


Lee meringis kesakitan.


"Ya ampun sayang, kamu tega sekali..." Ucap Lee sambil bangkit berdiri.


"Sudah pulang sana, jangan ganggu acara tidurku!" Sambung gadis itu.


Karena tidak ingin berdebat lebih lama lagi akhirnya Lee mengalah.


Pemuda itu lalu meninggalkan kamar Chu Pian Ran dan menemui paman Chu untuk mengobrol.


****


Sejak saat itu, Chu Pian Ran menjadi suka bermeditasi.


Paling singkat 3 hari dan paling lama 2 minggu.


Sebenarnya apa yang dilakukan gadis itu membuat tuan dan nyonya Chu sangat khawatir. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.

__ADS_1


Semua orang yang ada di kediaman Chu dan anggota keluarga Lee merahasiakan hal ini.


Tuan Chu memang sengaja menyimpan hal ini rapat-rapat karena dia tidak ingin putrinya semakin menjadi perbincangan di ibukota seperti kejadian di aula istana beberapa waktu yang lalu.


__ADS_2