Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 91 Keluarga Harimau Berkumpul Kembali


__ADS_3

Sore itu, terlihatlah Chu Pian Ran sedang menulis surat di ruang kerja suaminya yang akan ditujukan untuk kaisar Qin.


Saat perempuan itu masih menulis, masuklah ke ruangan itu sosok putri kecilnya yang cantik dengan digandeng oleh ayahnya.


"Bu cu, bu cu..." Celoteh Lee Chu Mian Yin sambil melangkahkan kaki kecilnya ke arah ibunya yang sedang duduk di kursi.


Chu Pian Ran pun menghentikan aktifitasnya lalu mengangkat tubuh putri kecilnya itu dan memangkunya.


"Halo malaikat cantiknya ibu, kamu wangi sekali nak..." Ucap perempuan itu lalu menciumi pipi putri kecilnya.


"Bu cu..." Gadis kecil itu mengulangi celotehannya sambil tangan kirinya yang mungil berusaha membuka pakaian atas ibunya karena dia memang sedang ingin menyusu.


Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun mengeluarkan buah dad@ kirinya, lalu Lee Chu Mian Yin mulai menyusu dengan tenang sambil tangan kirinya yang mungil memegang buah dad@ ibunya.


"Kau sedang menulis surat istriku?" Tanya suaminya saat melihat di atas meja ada selembar kertas putih yang ada tulisannya.


"Iya suamiku. Aku sedang menulis surat untuk kaisar agar beliau mengeluarkan undang-undang tentang larangan membuka lahan dengan membakar hutan." Terang istrinya.


"Jadi hutan itu sengaja dibakar?" Lanjut pemuda itu.


"Berdasarkan penerawanganku tadi siang, di suatu area hutan itu sengaja dibakar oleh dua orang untuk dijadikan lahan perkebunan, namun mereka tidak mengira jika api yang mereka nyalakan itu malah menyebar dan membakar hutan. Karena takut, kedua orang itu akhirnya kabur dan lepas tanggung jawab." Balas perempuan itu.


"Ada-ada saja mereka itu... Untungnya tidak memakan korban jiwa manusia." Ujar Lee Jiang Wook dengan perasaan lumayan jengkel.


"Apa kau sudah selesai menulis surat itu istriku? Jika sudah, biar aku yang menyuruh pelayan untuk mengantarkannya ke istana." Sambung suaminya.


"Masih kurang sedikit suamiku. Apakah kau mau melanjutkannya?" Ucap Chu Pian Ran.


"Baiklah..."


Beberapa saat kemudian, Lee Jiang Wook pun terlihat melanjutkan tulisan di surat yang belum dituntaskan oleh istrinya itu, setelah selesai dia menyerahkan lembar kertas itu kepada istrinya dahulu agar diperiksa.


Sesudah istrinya setuju dengan kalimat yang ditulis olehnya, maka pemuda itu pun keluar dari kamar untuk mencari pelayan agar mengirimkan surat itu ke istana.


Tak berapa lama, Lee Jiang Wook kembali ke dalam kamar dan melanjutkan pekerjaannya memeriksa buku laporan keuangan, sementara istri tercintanya masih menyusui putri kecil mereka.


"Kesayangannya ibu, setelah minum susu belajar ya... Supaya kelak kamu jadi anak yang pintar..." Ucap Chu Pian Ran sambil menatap lekat pada mata gadis kecil itu.


Sejak putrinya berumur 11 bulan, perempuan itu memang sengaja mulai mengajari putrinya melalui media buku bergambar dan berwarna. Mulai dari gambar buah-buahan, gambar benda-benda yang sering dijumpai, gambar binatang, angka-angka dan lainnya.


Tentu saja, sebelum tahap itu dimulai, perempuan itu meminta kepada suaminya agar mencarikan seorang pelukis untuk membuatkan buku yang berisi gambar berwarna tersebut.


Karena yang meminta tolong adalah suami dari putri angkat kaisar yang terkenal di wilayah Qin, maka si pelukis menerima pekerjaan itu dengan senang hati.


Sejak saat itu, Lee Jiang Wook menjadi pelanggan setia pria pelukis itu dalam hal menyediakan media belajar putrinya.


Beberapa menit kemudian, Lee Chu Mian Yin melepas puncak ibunya tanda dia sudah puas menyusu. Maka, Chu Pian Ran pun merapikan pakaiannya kembali.


"Ja ja..." Kata gadis kecil itu pada ibunya.


Karena setiap sore sudah dibiasakan oleh ibunya melakukan kegiatan belajar ringan, maka anak kecil itu menjadi tanggap jika saat ini sudah saatnya dia harus belajar.


Beberapa saat kemudian, terlihatlah Chu Pian Ran mengajari putrinya nama buah-buahan melalui buku gambar berwarna dengan gadis kecil itu tetap dalam pangkuannya dan menghadap meja. Kegiatan belajar Lee Chu Mian Yin itu berakhir saat waktu makan bersama tiba.


Tak berapa lama, sepasang suami istri beserta putri kecil mereka itu berjalan menuju ke ruang makan. Di ruang makan itu, telah menunggu tuan dan nyonya Chu.


Sedari dulu, tuan Chu memang memberlakukan acara makan bersama agar semakin menambah keakraban dan kehangatan diantara sesama anggota keluarga.


Saat ini, terlihatlah anggota keluarga itu makan bersama dengan suasana yang harmonis.

__ADS_1


Sambil menyuapi putrinya dengan bubur halus khusus untuk gadis kecil itu, Chu Pian Ran juga terlihat menyuapkan makanan di mulutnya sendiri dengan menggunakan sendok dan bukan menggunakan sumpit agar perempuan itu lebih mudah bergantian dalam menyuapi putrinya.


Setelah setengah jam, acara makan bersama itu pun usai. Lee Jiang Wook dan istrinya beserta putri kecil mereka undur diri dari hadapan tuan dan nyonya Chu.


Chu Pian Ran lalu membawa putrinya menuju ke kamar, sedangkan suaminya masuk ke ruang kerjanya kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.


Di dalam kamar, nyonya muda Lee berbaring di ranjang sambil memeluk putrinya dengan posisi badan saling berhadapan.


Tak berapa lama, mulailah mulut perempuan itu menyenandungkan sebuah lagu yang berjudul 'Twinkle Twinkle Little Star'.


Beberapa saat kemudian, mulai bercelotehlah bibir Lee Chu Mian Yin dengan gemasnya mengiringi senandung ibunya.


Itulah rutinitas malam yang dilakukan oleh Chu Pian Ran sebagai penghantar tidur putrinya.


Selain menyanyi, kadang perempuan cantik itu juga membawakan dongeng atau mengajak putrinya bercakap-cakap.


Kebiasaan yang ditanamkan oleh nyonya muda itulah yang membuat Lee Chu Mian Yin memiliki perbendaharaan suku kata yang lebih banyak dibanding anak seusianya yang lain.


Tak menunggu lama, gadis kecil itu pun telah tertidur dalam pelukan ibunya, dan beberapa menit kemudian Chu Pian Ran ikut menyusul putrinya karena mata perempuan itu memang sudah mengantuk.


Satu jam kemudian, tampaklah Lee Jiang Wook masuk ke dalam kamar. Saat mata pemuda itu melihat jika istri dan putrinya sudah tertidur, maka diapun menutup pintu kamar lalu melangkahkan kakinya untuk naik ke atas ranjang.


Lee kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, putri kecilnya dan tubuhnya sendiri.


Tak berapa lama, pemuda itu pun tidur dengan tangan kanannya memeluk tubuh putrinya dan tubuh istrinya.


****


Keesokan harinya...


Setelah mendapatkan surat dari putri angkatnya, maka kaisar Qin Shi Huang mengangkat masalah pembakaran hutan di acara sidang rutin hari ini.


Karena usul itu dinilai sangat baik, maka tak menunggu lama para pejabat istana itu pun setuju dengan dikeluarkannya undang-undang tersebut.


Setelah acara persidangan selesai, maka kaisar Qin dengan segera menuliskan undang-undang itu di beberapa kertas dan diberi stempel pada bagian bawahnya.


Beberapa saat kemudian, pria itu memanggil kasim Liu dan memerintahkannya untuk memberikan kertas itu pada prajurit agar mereka memasang undang-undang itu di tempat yang strategis di daerah ibukota Qin dan sekitarnya. Sementara, lembaran undang-undang untuk daerah lain menyusul di kemudian harinya.


Adapun isi undang-undang itu, selain melarang rakyat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, para pelanggarnya pun juga akan dikenai hukuman berupa kurungan penjara maksimal 5 tahun untuk kasus pembakaran yang dikatakan paling parah.


Tak pelak, undang-undang yang baru saja dibuat oleh kaisar itu mengundang beberapa reaksi dari penduduk ibukota Qin.


Begitu mereka tahu bahwa kebakaran hutan yang terjadi kemarin karena memang faktor kesengajaan dari orang yang tidak bertanggung jawab, maka merekapun menjadi geram.


Secara garis besar, undang-undang yang baru diberlakukan itu mendapat sambutan yang sangat positif dari penduduk ibukota karena itu memang demi kenyamanan dan kebaikan bersama.


****


Dua minggu sudah, si anak harimau berada di kediaman Chu.


Karena setiap dua hari sekali si tabib memeriksa dan mengobati harimau itu, maka keadaan binatang itu sekarang menjadi lebih baik, tinggal 20% penyembuhan.


Tentu saja saat si tabib akan memeriksa dan mengobati anak harimau itu, Chu Pian Ran harus berada di dekatnya, jika tidak jangan harap si tabib mau mendekat karena sampai saat ini laki-laki itu masih takut jika harus berdekatan apalagi bersentuhan dengan binatang berkaki empat itu.


Selain itu, setiap sehari sekali, nyonya muda Lee akan mengeluarkan harimau itu dari kandangnya selama satu jam, dengan maksud agar kandang binatang itu bisa dibersihkan oleh dua pelayannya, sehingga kebersihan kandang itu tetap terjaga dan proses penyembuhan luka bakar anak harimau itu dapat terjadi dengan lebih cepat.


Senyampang kandangnya masih dibersihkan, Chu Pian Ran akan membersihkan tubuh binatang berkaki empat itu menggunakan lap basah.


Pagi ini, terlihatlah Chu Pian Ran membawa keluar anak harimau itu dari kandangnya sambil menggendong putri kecilnya yang cantik menuju gazebo taman bunga.

__ADS_1


Dan masih sama seperti pada hari pertama kedatangan binatang berkaki empat itu di kediaman Chu, para pelayan perempuan akan segera menyingkir saat tahu majikannya dan harimau itu akan lewat.


Sesampainya di tempat itu, nyonya muda Lee menurunkan putrinya dari gendongannya.


"Sayang, ini namanya harimau, ha ri mau..." Ucap perempuan itu pada putrinya.


"Mo mo..." Sahut gadis kecil cantik itu yang tanpa rasa takut menyentuh bulu binatang buas itu.


Tak berapa lama, semakin akrablah si anak harimau dengan Lee Chu Mian Yin.


Sementara itu, dari kejauhan, tepatnya di balik celah jendela suatu ruangan, nyonya Chu dibuat jengkel dengan ulah Chu Pian Ran. Bagaimana bisa putrinya itu membawa si anak harimau ke taman dan malah mendekatkan cucu kesayangannya dengan binatang berkaki empat yang dikenal ganas itu.


Tak berapa lama, datanglah Lee Jiang Wook dan bergabung dengan mereka.


"Yah, mo mo..." Kata putri kecilnya saat pemuda itu telah ada di dekat mereka.


"Iya sayang, ini namanya harimau..." Sahut ayahnya.


Selama satu jam, pasangan suami istri itu beserta putri dan si anak harimau berada di taman bunga itu. Sesudahnya, Chu Pian Ran membawa harimau itu untuk dimasukkan lagi ke dalam kandangnya. Sementara, suami dan putri kecilnya masih duduk-duduk di gazebo taman.


Begitu nyonya muda itu telah kembali, nyonya Chu pun dengan segera mendekati mereka dan menceramahi putrinya.


Mendengar nasehat ibunya itu, perempuan cantik itu hanya berdiam diri saja dan tak menjawab sepatah kata pun perkataan wanita paruh baya itu.


****


Genap tiga minggu keberadaan si anak harimau di kediaman Chu. Dan saat ini, luka bakar pada tubuh binatang berkaki empat itu sudah dinyatakan sembuh.


Tabib yang menangani anak harimau itu akhirnya bisa bernapas dengan sangat lega karena dia sudah tidak perlu menyentuh binatang buas itu lagi.


Hari ini, Chu Pian Ran berniat akan memulangkan si anak harimau kembali hutan. Tiga hari sebelumnya, perempuan itu telah menyuruh beberapa pelayannya agar membuat kandang yang akan dipakai untuk mengangkut binatang berkaki empat itu.


Pagi itu, di depan kediaman Chu terlihatlah sebuah kereta yang di atasnya ada kurungan yang lumayan besar.


Tak berapa lama, datanglah Chu Pian Ran bersama si anak harimau mendekati kereta itu, lalu perempuan itu menyuruh binatang berkaki empat itu untuk masuk ke dalam kurungan, dan setelahnya kurungan itu dikuncinya.


Dengan ditemani oleh suaminya dan seorang pelayan yang bertugas sebagai kusir kereta, nyonya muda itu mengantar anak harimau kembali ke habitatnya.


Begitu mereka lewat di jalanan ibukota, maka rombongan kecil itu menjadi pusat perhatian sebagian penduduk ibukota.


Ketika para pejalan kaki tahu jika rombongan kecil itu akan lewat, maka dengan segera mereka menyingkir di tepi kanan kiri jalan.


Tiga puluh menit kemudian, sampailah rombongan kecil itu di gerbang ibukota. Begitu para prajurit penjaga gerbang melihat jika putri angkat kaisar Qin itu akan lewat di depan mereka, maka prajurit itu membungkukkan badannya sebagai rasa hormat.


Setelah melakukan perjalanan selama puluhan menit lagi sejak di gerbang ibukota, maka sampailah mereka di tepian hutan.


Keadaan hutan itu tak beda jauh dari sebelumnya, banyak pepohonan yang tampak hitam legam sejauh mata memandang. Aura suasana sunyi begitu sangat terasa karena sekarang berisik kicauan burung telah menghilang dari hutan itu.


Tak menunggu lama, Chu Pian Ran pun turun dari kudanya dengan diikuti oleh sang suami. Perempuan itu lalu membuka kunci kandang dan menyuruh harimau itu keluar.


Setelah melakukan penerawangan selama beberapa menit guna mencari keberadaan anggota keluarga harimau yang lain, tak lama kemudian perempuan itu pun terbang menggunakan ilmu peringan tubuhnya dengan diikuti oleh suaminya dan si anak harimau yang berlari tak jauh di bawah mereka.


Empat puluh menit kemudian, tiba-tiba mengaumlah si anak harimau itu dengan keras begitu hidungnya mencium jejak anggota keluarganya.


Setelah beberapa kali mengaum dengan keras, nampaklah dari kejauhan tiga ekor harimau berlari mendekat ke arah si anak harimau itu.


Pasangan suami istri itu pun lalu berhenti terbang dan turun ke bawah. Tak berapa lama, mereka berdua menyaksikan keluarga harimau itu berkumpul kembali dalam suasana yang haru.


Beberapa menit kemudian, mendekatlah keempat harimau itu kepada pasangan suami istri itu sambil menggeram, dan setelahnya keempat binatang itu pergi menjauh ke dalam hutan hingga menghilang dari pandangan.

__ADS_1


__ADS_2