Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 80 Kasus Kematian Aneh


__ADS_3

Desa Dong Shan


Pada suatu pagi terlihatlah seorang pemuda sedang mencari kayu bakar di tepi hutan dekat rumahnya. Pemuda itu bernama Lie Wang, putra satu-satunya paman dan bibi Lie.


Dengan semangat pemuda itu memunguti kayu-kayu kering yang berserakan di tempat itu.


Tanpa dia sadari, tiba-tiba muncullah asap hitam tipis yang meliuk panjang dari arah belakangnya dan mendekatinya.


Asap hitam itu kemudian masuk lubang hidung pemuda itu dan beberapa detik kemudian Lie Wang berubah seperti orang linglung dan tatapannya kosong.


Tak berapa lama, di dekat pemuda itu tiba-tiba muncul segumpalan asap hitam tebal dan membentuk sesosok nenek tua bungkuk yang wajah dan kulitnya sangat keriput serta berpakaian serba hitam dan compang-camping.


Sosok itu lalu mendekati Lie Wang, berdiri tepat di hadapannya dengan jarak yang sangat dekat dan membuka mulut pemuda itu.


Setelah sosok tua itu membuka mulutnya sendiri, maka keluarlah berkas cahaya berwarna abu-abu dari mulut Lie Wang dan masuk ke dalam mulut sosok itu.


Rupanya, sosok itu adalah sejenis iblis yang saat ini sedang menghisap hawa murni dari tubuh pemuda perjaka itu.


Begitu hawa murni itu keluar dari tubuhnya, lambat laun kulit Lie Wang menjadi berkerut dan sedikit menghitam. Lalu meninggallah pemuda itu ketika masih dalam cengkeraman si iblis tua.


Sesudah tuntas menghisap hawa murni milik Lie Wang, sosok itu mendorong tubuh pemuda itu hingga jatuh ke tanah.


Kini terlihatlah keriput di wajah dan kulit iblis tua itu sudah berkurang sedikit.


Baginya itu sangat tidak cukup karena kecantikannya masih belum kembali. Maka diapun berniat mengembara di sekitar tempat itu untuk mencari mangsa selanjutnya.


Sosok iblis tua itu tiba-tiba berubah menjadi asap hitam tebal lagi dan menghilang begitu saja.


Sementara itu bibi Lie yang berniat mau memasak, sedari tadi sudah menunggu anaknya yang sedang mencari kayu bakar.


Biasanya setelah 1,5 jam anak muda itu sudah kembali, tapi hari ini ditunggu hingga 2 jam lebih Lie Wang belum kembali juga.


Maka wanita paruh baya itu pun berniat untuk mencari anaknya di tempat biasanya dia mencari kayu bakar.


Setelah 20 menit berjalan kaki sampailah bibi Lie di tepi hutan. Wanita itu lalu berteriak-teriak memanggil nama anaknya. Namun, setelah belasan kali memanggil belum ada sahutan sama sekali dari yang empunya nama.


Bibi Lie tidak menyerah begitu saja, dia terus menerus memanggil nama anaknya sambil mengamati sekitarnya.


Setelah lebih dari satu jam pencarian, dari kejauhan mata wanita itu tiba-tiba melihat sosok manusia yang tergeletak di tanah.


Dengan segera bibi Lie pun berlari dan alangkah terkejutnya saat melihat sosok itu dengan jelas.


Wanita itu menjadi sangat panik dan sedih bercampur jadi satu. Dia berusaha membangunkan tubuh anaknya namun sia-sia saja. Tubuh Lie Wang sudah terbujur kaku tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan.


Dalam keadaan sangat panik sambil menangis, tanpa berpikir panjang bibi Lie berlari sambil teriak-teriak minta tolong di sepanjang perjalanannya hingga ke pemukiman penduduk.


Beberapa penduduk yang mendengar teriakan minta tolong itu pun mencari sumber suara, dan ternyata itu suara salah satu tetangga mereka.


Dengan segera beberapa penduduk itu menghampiri bibi Lie dan bertanya apa yang sedang terjadi.


Begitu mendengar jawaban wanita itu mereka sangat terkejut. Tak lama kemudian mereka berlari mengikuti bibi Lie dimana tergeletak tubuh Lie Wang yang sudah tak bernyawa.


Sementara itu, salah seorang dari penduduk segera mencari keberadaan paman Lie untuk memberitahu berita itu.


Tak beda dengan bibi Lie, beberapa penduduk itu juga sangat terkejut begitu melihat jasad Lie Wang yang begitu mengenaskan.


Karena kematiannya tidak wajar, maka mereka meminta persetujuan bibi Lie agar diijinkan membawa jasad anaknya ke biro keamanan terdekat dulu untuk ditindak lanjuti dan mencari tahu siapa pelaku pembunuhannya.


Maka tiga dari antara penduduk itu pun menggotong tubuh Lie Wang untuk dibawa ke biro keamanan dengan diiringi oleh bibi Lie dan beberapa penduduk lainnya.


Empat puluh lima menit kemudian, di kantor biro keamanan terdekat terlihat lebih ramai dari hari-hari biasanya.


Paman dan bibi Lie, beserta belasan penduduk sedang menunggu keluarnya kepala biro keamanan untuk menyampaikan hasil pemeriksaan sementara dari jasad Lie Wang.


Beberapa saat kemudian muncullah kepala biro keamanan tersebut. Paman dan bibi Lie dengan tidak sabaran bertanya bagaimana hasil pemeriksaannya.

__ADS_1


Di depan semua orang, pria itu memberitahu bahwa untuk saat ini pihak biro keamanan belum bisa memberi kesimpulan yang jelas karena harus diadakan penyelidikan terlebih dahulu.


Akhirnya kepala biro keamanan itu meminta mereka untuk pulang ke rumahnya masing-masing dan setelah mendapatkan hasil penyelidikan pihak biro keamanan akan memberi kabar pada keluarga korban.


Sepeninggal penduduk itu, kepala biro keamanan kembali ke ruangan dimana jasad Lie Wang diletakkan.


Di ruangan itu, sedari tadi sudah ada tabib Sue dan asisten pribadi kepala biro keamanan yang sedang menyimpan tanda tanya besar saat melihat kondisi tubuh Lie Wang yang begitu mengenaskan.


"Bagaimana tabib Sue?" Tanya Guang Chun si kepala biro keamanan.


"Maaf tuan, jika saya boleh jujur baru kali ini saya melihat korban pembunuhan yang kondisinya aneh seperti ini. Setelah saya periksa, di dalam tubuhnya sama sekali tidak ada kadar racun atau sejenisnya yang membuat tubuhnya seperti itu." Jelas tabib Sue.


"Jika saya boleh berbicara, mungkinkah ini ulah dari makhluk tak kasat mata. Jika memang iya tentu masuk akal jika kondisi korbannya seperti ini." Lanjut tabib Sue.


Guang Chun hanya berdiam diri karena memang belum bisa berkata apa-apa. Tak berapa lama, pria itu menyuruh asistennya jika mulai saat ini di desa Dong Shan harus diadakan patroli selama 24 jam dengan cara bergantian agar tidak kecolongan seperti hari ini.


Dengan segera asisten itu melaksanakan perintah atasannya. Dia keluar ruangan dan menginformasikan perintah itu pada semua pegawai biro keamanan.


Sejak saat itu, di desa Dong Shan terlihat beberapa pegawai biro keamanan yang sedang berpatroli dengan cara berkuda bahkan mereka sampai merambah area hutan sekitar desa itu.


Malam harinya...


Di saat semua penduduk desa Dong Shan sedang tertidur pulas, terlihatlah asap hitam memasuki sebuah kamar milik seorang pemuda yang bernama Mong Lan.


Beberapa saat kemudian tiba-tiba asap hitam itu berkumpul dan membentuk sosok yang sama seperti di hutan tadi.


Tak menunggu lama sosok tua bungkuk itu menghembuskan asap hitam tipis ke wajah pemuda itu sebagai pembius.


Seperti yang dilakukan pada Lie Wang, iblis itu pun juga menghisap hawa murni Mong Lan hingga tubuhnya sama mengenaskannya dengan Lie Wang.


Setelah urusannya selesai makhluk itu pergi dengan cara yang sama saat dia datang.


Keesokan paginya, gemparlah seisi rumah itu karena mendapati tubuh Mong Lan sudah terbujur kaku tak bernyawa dengan kondisi tubuh seperti Lie Wang.


Kejadian itu berulang hingga korbannya sudah mencapai 4 orang.


Dengan segera asisten itu memacu kudanya dengan kecepatan penuh tanpa henti hingga sampai di ibukota Qin.


****


Ibukota Qin


Setelah selama 4 hari berkuda tanpa henti sampailah asisten itu di depan istana Qin lalu menyampaikan maksud kedatangannya pada seorang prajurit penjaga gerbang istana.


Tak banyak bicara, prajurit itu dengan langkah cepat menuju ke tempat kaisar Qin berada.


Kini di kediaman Chu terlihatlah nyonya Chu sedang berbincang hangat dengan putrinya.


Sejak menikah, Chu Pian Ran dan Lee Jiang Wook menginap secara bergantian di kediaman orang tua masing-masing. Dan kini giliran mereka menginap di kediaman Chu.


Ketika asyik mengobrol, terlihatlah sosok seorang prajurit yang mendekati mereka.


Setelah memberi hormat, prajurit itu menyampaikan maksud kedatangannya dan langsung undur diri kembali ke istana.


Tak menunggu lama, setelah berpamitan pada ibunya, Chu Pian Ran segera melangkah menuju kamarnya, memakai topengnya dan merubah wujudnya menjadi kupu-kupu.


Saat itu keberadaan Lee Jiang Wook sedang ada di toko perhiasan milik keluarganya, sehingga perempuan itu tidak bisa berpamitan langsung pada suaminya.


Setelah menulis surat singkat untuk orang tua dan suaminya, berangkatlah segera Chu Pian Ran bersama Qin Wu Zhu disertai dengan asisten pribadi kepala biro kemanan, Lu Zee dan 20 orang prajurit menuju desa Dong Shan.


Saat rombongan itu melewati jalanan ibukota secara kebetulan Lee Jiang Wook baru keluar dari pintu toko perhiasannya.


Mata pemuda itu menangkap sosok istrinya yang sedang terburu-buru berkuda dengan pangeran Qin Wu Zhu dan puluhan prajurit.


Tak menunggu waktu lama, Lee Jiang Wook menuju ke kediaman Chu dengan langkah cepat karena ingin tahu kemana istrinya pergi dan kasus apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Begitu masuk kediaman, di depan halaman sudah ada ibu mertuanya yang sedang duduk di kursi sambil membaca secarik kertas.


"Nak, ini ada surat dari istrimu..." Kata wanita paruh baya itu sambil menyerahkan secarik kertas itu.


Lee lalu membaca tulisan yang ada di kertas itu.


Ada kasus pembunuhan aneh secara beruntun di desa Dong Shan, aku harus secepatnya pergi ke sana...


"Kau tidak perlu cemas Lee, istrimu pasti akan kembali dengan selamat." Hibur ibu mertuanya saat menantunya itu terlihat sedih setelah membaca pesan dari istrinya.


****


Setelah berkuda selama 4 hari tanpa henti tibalah rombongan itu di depan kantor biro keamanan.


Dengan segera Guang Chun dan pegawainya yang kebetulan ada di kantor tersebut memberi hormat pada Qin Wu Zhu dan Chu Pian Ran.


Tak ingin berlama-lama, Chu Pian Ran meminta kepada kepala biro keamanan itu untuk segera mengantarnya ke ruangan jenazah para korban disimpan.


Ternyata hingga saat ini jumlah korbannya sudah mencapai 10 orang.


Pihak keluarga korban yang keberatan jika jenazah anaknya disimpan di kantor biro keamanan pun tetap diijinkan oleh Guang Chun.


Saat ini di ruangan itu tinggal tiga jenazah dan jenazah lainnya sudah dimakamkan oleh pihak keluarga masing-masing.


Ketika kain penutup jenazah itu dibuka, Qin Wu Zhu dan Chu Pian Ran lumayan terkejut.


Batin perempuan itu sangat yakin jika ini adalah ulah sejenis iblis.


Untuk memastikan penyebab kematiannya, Chu Pian Ran menutup matanya dan meletakkan telapak tangan kanannya di atas mayat itu untuk melakukan penerawangan.


Beberapa menit kemudian selesailah dia menerawang jenazah itu.


"Bagaimana tuan putri? Apakah anda sudah menemukan penyebab kematiannya dan siapa pelakunya?" Tanya Guang Chun.


"Mereka sudah dihisap hawa murninya oleh iblis. Dan untuk keberadaan pelakunya sekarang, aku masih belum tahu. Iblis ini mengincar pemuda yang masih perjaka agar dia bisa awet muda." Terang Chu Pian Ran.


Sontak keterangan perempuan bertopeng itu membuat semua orang yang ada di ruangan menjadi terkejut.


"Lalu apa yang harus kita lakukan tuan putri? Semakin hari jumlah korbannya semakin bertambah saja." Lanjut kepala biro keamanan itu dengan cemas.


"Untuk berhadapan dengan makhluk sejenis ini biar aku yang akan menanganinya. Sementara itu kalian teruslah siaga menjaga para penduduk dengan dibantu para prajurit dari istana. Oh ya, aku butuh ruangan khusus untuk bermeditasi sebelum menghadapi iblis itu." Ucap Chu Pian Ran.


Tak berapa lama Qin Wu Zhu memerintahkan Lu Zee dan para prajuritnya untuk memperketat keamanan penduduk secara bergantian.


Sementara itu Guang Chun mengantar Chu Pian Ran ke sebuah ruangan yang memang telah lama disediakan jika kebetulan ada tamu yang berkunjung di biro keamanan.


Sekalipun perempuan itu habis berkuda selama 4 hari 4 malam tanpa henti dan tanpa makan minum, tapi karena ini kasus yang terbilang gawat, maka dia rela melakukan apapun tanpa mempedulikan tubuhnya sendiri.


Maka mulailah Chu Pian Ran bermeditasi dengan khusyuknya.


Tiga hari kemudian, keluarlah perempuan itu dari ruangan.


Tanpa rasa sungkan dia minta pada Qin Wu Zhu untuk menyiapkan makanan untuknya.


Selama Chu Pian Ran bermeditasi, korbannya bertambah satu orang lagi.


Setelah makan sampai puas, mandi dan berganti pakaian, maka Chu Pian Ran pun segera merubah dirinya menjadi kupu-kupu di dalam ruangan tersebut.


Tanpa diketahui siapapun, kupu-kupu itu terbang meninggalkan kantor biro keamanan dan menjelajah sekitar daerah itu untuk mencari keberadaan si iblis yang telah memakan 11 korban jiwa.


Dengan petunjuk suara batinnya, kupu-kupu itu terbang ke arah hutan.


Satu jam kemudian, dari atas pohon terlihatlah oleh kupu-kupu itu sesosok perempuan cantik jelmaan iblis tua yang keriput dan bungkuk.


Iblis itu terlihat tersenyum sendiri di depan sebuah cermin kecil yang dibawanya.

__ADS_1


Dari mulutnya terdengar suara tertawa yang nyaring (seperti suara mak lampir), tanda dia lumayan puas dengan usahanya selama ini.


"He he he he he... Akhirnya wajahku bisa cantik kembali... Aku harus terus mendapatkan pemuda perjaka untuk mempertahankan kecantikanku... Sebaiknya aku mencari wilayah lain saja. Di desa itu pemudanya sangat sedikit." Kata iblis itu dengan suara serak nenek tua.


__ADS_2