
Begitu sampai di teras kediaman utama, ketiga perempuan itu pun langsung meletakkan barang belanjaan di lantai lalu mereka duduk sebentar untuk istirahat.
Xi'er yang merasakan pegal di kedua tangannya pun menggerak-gerakkan kedua bagian anggota tubuhnya itu untuk sesaat hingga rasa pegalnya menghilang.
"Nyonya muda, memangnya untuk apa sih belanja segini banyak?" Xi'er yang menyimpan rasa penasarannya sedari tadi pun sudah tidak tahan untuk bertanya.
"Mau tau saja, rahasia...," balas Chu Pian Ran yang malah membuat gadis pelayan itu semakin bertambah rasa ingin tahunya.
"Yaelah, nyonya muda jadi pelit sekali memberi informasi... Aku kan benar-benar penasaran...," ucap Xi'er dengan wajah mulai sedikit cemberut.
"Lebih baik kau ambilkan aku dua kain ukuran besar saja Xi," perintah nyonya muda Lee pada pelayan setianya itu.
"Kain besar? Untuk apa lagi nyonya muda?" tanya Xi'er kian meningkat lagi rasa penasarannya.
"Untuk membungkusmu lalu akan kuceburkan ke sungai agar kau tidak bertanya-tanya terus...," jawab Chu Pian Ran sekenanya yang membuat Zhin Zhuan tertawa cukup keras, sementara Xi'er malah bertambah cemberutnya sambil matanya melirik pada majikannya yang duduk di samping kirinya itu.
"Ya sudah, kalau main rahasia-rahasia an begitu Xi'er tidak mau mengambilkan kainnya...," ujar gadis pelayan itu dengan bibir mengerucut seperti tikus curut.
"Kalau begitu kau saja yang mengambilkan kainnya Zhuan'er, sekalian nanti kau kuajak ke suatu tempat untuk mengantarkan barang-barang itu sekaligus masak di sana...," lanjut nyonya muda Lee pada peri pegar emas yang duduk di samping kirinya.
Mendengar perintah Chu Pian Ran, Zhin Zhuan pun tidak langsung menurutinya, namun peri cantik itu malah menoleh pada perempuan yang selama ini dipanggilnya 'kakak' dengan masih menyimpan tanda tanya besar di benaknya sama seperti Xi'er.
"Ada apa kau melihatku seperti itu? Kau akan tahu jawabannya nanti setelah sampai di 'tempat itu'." Aku tidak bisa mengatakan padamu sekarang karena gadis yang di sebelah kananku ini lumayan 'bocor mulutnya'..." kata nyonya muda Lee sambil menatap si peri pegar emas.
Mendengar ucapan majikannya itu, spontan, Xi'er yang merasa disindir pun memukul pelan lengan kanan Chu Pian Ran tanpa peduli kalau yang dipukulnya adalah majikannya.
"Kau berani memukulku Xi? Awas kau ya, nanti akan kuceburkan kau ke sungai betulan, biar dimakan siluman buaya sekalian...," kata Chu Pian Ran asal-asalan sambil melihat pada gadis yang ada di samping kanannya itu.
"Habis, nyonya muda menyindirku 'bocor mulut', padahal aku kan tidak seperti itu...," sahut Xi'er ngambek dengan bibirnya masih seperti tikus curut.
"Heleh, apa iya kau tidak pernah membocorkan rahasiaku... Sudahlah, sebaiknya kau jujur saja Xii...," timpal nyonya muda Lee sambil kaki kanannya menyenggol kaki kiri pelayan itu.
"Kalau dulu memang pernah sih nyonya muda, tapi sekarang kan sudah tidaak... Itu pun juga bukan karena kemauanku sendiri, kan yang menyuruh tuan muda Lee Jiang Wook,"
Xi'er pun akhirnya mengaku jujur dengan sedikit merasa malu, karena dulu sebelum Chu Pian Ran menikah dengan Lee Jiang Wook, gadis pelayan itu pernah beberapa kali membocorkan rahasia nona mudanya pada putra tunggal pejabat istana Lee Jiang Xun itu.
"Sudahlah, kau tidak perlu merajuk seperti itu... Zhuan'er, segeralah kau ambilkan kain pesananku tadi agar kita tidak kesiangan berangkat ke sana," nyonya muda Lee mengulang lagi perintahnya dan langsung dituruti oleh si peri pegar emas.
Sepeninggal Zhin Zhuan, Chu Pian Ran memperhatikan wajah Xi'er masih cemberut saja.
"Kau tidak perlu ngambek seperti itu Xi... Aku sengaja tidak memberitahumu tentang hal ini karena memang permintaan 'mereka' sendiri dan aku sudah berjanji pada 'mereka' bahwa aku akan merahasiakan keberadaan 'mereka'...," terang peri cantik itu jujur pada pelayannya.
"Memangnya 'mereka' itu siapa nyonya muda? Masa aku tidak boleh tahu... Xi'er janji tidak akan memberitahu hal ini pada siapapun...," sahut gadis pelayan itu sambil mengangkat tangan kanannya yang membentuk simbol ✌️.
Untuk sesaat, Chu Pian Ran pun menatap pelayan setianya itu, seolah menyiratkan keraguan akan perkataan Xi'er.
"Nyonya muda tidak percaya padaku?" tanya gadis pelayan itu 'sadar diri' jika majikannya tidak percaya dengan janjinya.
"Aku masih ragu-ragu dengan ucapanmu tadi. Jangan-jangan suatu saat nanti, waktu kau bercanda dengan pelayan lain sampai lupa diri, lalu kau keceplosan...," balas nyonya muda Lee terus terang.
"Sudahlah, sebaiknya kapan-kapan saja aku memberitahumu... Kalau kau masih nekat mempertanyakan hal ini pada Zhin Zhuan, maka aku tidak akan mengajakmu bicara lagi untuk seterusnya...," jelas Chu Pian Ran serius.
__ADS_1
Mendengar ucapan majikannya yang seperti itu, mau tidak mau Xi'er pun tidak bisa membantah dan tidak berani mengungkitnya lagi karena gadis pelayan itu tahu betul sifat majikannya.
Mendengar ada suara orang bercakap-cakap di luar, tuan dan nyonya Chu yang saat itu sedang membereskan kamar pun akhirnya keluar dan sangat keheranan waktu melihat ada beberapa bungkusan besar berisi barang-barang dan sayuran yang tergeletak di lantai.
Begitu melihat sosok tuan dan nyonya besarnya keluar dari balik pintu ruangan, dengan segera Xi'er pun bangkit berdiri lalu memberi salam pada kedua majikannya itu dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Good morning mom, dad...," sapa Chu Pian Ran pada kedua orang tuanya sambil bangkit berdiri.
"Halah, sudahlah Ran'er jangan ucapkan bahasa anehmu itu lagi, ibu sampai pusing mendengarnya...," ucap nyonya Chu terus terang.
"Ini barang dan sayuran untuk apa nak? Banyak sekali...," lanjut wanita paruh baya itu penasaran sambil tangan kanannya mulai membuka-buka sedikit bungkusan itu.
"Aku mau camping bu, ibu mau ikut?" balas perempuan cantik itu masih asal-asalan.
"Apa itu camping? Jangan-jangan itu salah satu bahasa anehmu juga ya...," imbuh ibunya.
"Sudahlah Ran'er, berhenti bercandanya...," sela tuan Chu dengan nada tegas seperti biasanya.
Mendengar ucapan ayahnya itu, Chu Pian Ran pun sedikit menyeringai sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Barang-barang dan sayuran ini nanti akan aku bawa ke suatu tempat bersama Zhin Zhuan ayah. Sekalian aku akan mengajari 'mereka' memasak," terang peri cantik itu mulai serius.
"Tempat di mana itu? Mereka itu juga siapa?" tanya pria paruh baya itu mulai sedikit jengkel dengan sikap putrinya yang memberi penjelasan sepotong-sepotong, seolah-olah ada sesuatu yang dirahasiakan.
Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun mendekati ayahnya lalu membisikkan sesuatu di telinga kiri ayahnya.
Begitu mendengar keterangan dari perempuan cantik yang ada di dekatnya itu, tuan Chu berdiam diri sesaat sambil menatap putrinya.
"Ada ayah, kemarin aku tidak sengaja melihat salah satu dari mereka saat dikejar-kejar harimau. Bahkan aku juga dibawa ke tempat tinggalnya yang ternyata jumlahnya ada puluhan," jelas nyonya muda Lee.
"Tapi ayah janji ya tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun...," sambung Chu Pian Ran.
"Tentu saja putriku, kau bisa mempercayai ayahmu ini...," sahut tuan Chu
Melihat suami dan putrinya main rahasia-rahasia an, nyonya Chu pun sangat penasaran.
"Hei, apa juga yang kalian bicarakan itu, pakai rahasia-rahasia an segala... Memangnya ibu tidak boleh tahu...," sela wanita paruh baya itu sambil melihat suami dan putrinya secara bergantian dengan muka sedikit masam karena merasa diacuhkan.
"Nanti saja kuberitahu istriku..."
Tak berapa lama, datanglah Zhin Zhuan dengan membawa dua kain lebar berwarna biru tua. Dengan segera, Chu Pian Ran pun membagi barang belanjaan itu menjadi dua buntelan yang sangat besar dengan dibantu Zhin Zhuan dan Xi'er.
Buntelan pertama khusus berisi bahan-bahan makanan mentah dan sejenisnya, sedangkan buntelan yang lain berisi perlengkapan makan dan perlengkapan memasak.
****
Kini, terlihatlah dua berkas cahaya putih sedang melesat menuju ke gua tempat para kurcaci tinggal.
Setelah melakukan perjalanan selama satu jam dengan kecepatan sedang, sampailah dua berkas cahaya putih itu di mulut gua, dan tak berapa lama, berkas cahaya itu berubah menjadi dua perempuan cantik yang terlihat menggendong buntelan besar di punggungnya.
Begitu masuk ke dalam gua, terlihatlah oleh Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan, puluhan manusia mini sedang berkumpul di situ.
__ADS_1
Peri pegar emas yang sedari tadi belum diberitahu oleh nyonya muda Lee soal makhluk mini itu pun menjadi lumayan terkejut, karena selama menjadi peri, Zhin Zhuan memang belum tahu jika keberadaan manusia kurcaci itu ternyata benar-benar ada.
Tampaklah sebagian kurcaci pria sedang membakar beberapa binatang buruan berukuran kecil (seperti : kelinci, serangga, burung, katak, tikus) dan umbi-umbian. Sementara itu, kurcaci yang lain sedang menunggu makanan mereka siap.
Melihat kedatangan nyonya muda Lee bersama seorang perempuan lain, makhluk kerdil itu pun sangat penasaran dan merasa was-was.
"Nyonya muda, kau datang lagi? Dan siapa perempuan itu?" tanya Fong Chai tidak sabaran, saat dia sudah ada di dekat dua perempuan cantik itu.
"Hari ini aku sengaja datang kemari lagi karena ingin mengajari kalian memasak... Dan itu adalah Zhin Zhuan, peri pegar emas yang sudah aku anggap kerabat sendiri," jawab nyonya muda Lee sambil menurunkan buntelan besar yang berisi bahan makanan mentah dan sejenisnya, yang diikuti oleh Zhin Zhuan.
Setelah menurunkan buntelan besar mereka, dua perempuan cantik itu pun secara bersamaan memijit-mijit kedua pundak mereka yang terasa pegal dan panas.
Beberapa menit kemudian, tampaklah Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan membuka dua buntelan kain itu.
Begitu buntelan kain itu terbuka dan terlihat isinya, bukan main senangnya para kurcaci itu hingga mereka bergerombol di sekeliling barang-barang bawaan dua perempuan itu, termasuk para kurcaci yang tadi sedang membakar hewan buruan dan umbi-umbian.
"Bagaimana? Kalian mau tidak kami ajari memasak? Kalau kalian nanti bisa memasak, setiap hari kalian akan bisa menikmati makanan yang lebih berasa dan bervariasi...," ucap nyonya muda Lee pada puluhan manusia mini itu.
"Tentu saja kami mau nyonya muda, sudah lama sekali kami ingin merasakan makanan seperti bangsa manusia," sahut kurcaci tertua yang ternyata bernama Fong Hung, yang di iyakan oleh kurcaci lainnya.
Maka tak lama kemudian, terlihatlah Chu Pian Ran sedang memberikan arahan kepada makhluk kerdil itu.
Untuk para kurcaci pria diberinya tugas untuk mengumpulkan kayu bakar dan bebatuan yang nanti akan disusun dan dibuat menjadi dapur, sementara itu Zhin Zhuan sedang mengajari beberapa kurcaci perempuan untuk memotong-motong sayuran dan menyiapkan bumbu.
Kini, tampaklah mereka semua sedang bahu membahu untuk mempersiapkan 'pesta besar' yang pertama kali untuk bangsa kurcaci.
Agar di dalam gua itu terlihat terang, Chu Pian Ran pun membuat puluhan bola-bola cahaya dari telapak tangan kanannya yang dilemparkan di langit-langit gua.
Setelahnya, peri cantik itu pun menyusun batu-batuan yang telah terkumpul sedemikian rupa hingga membentuk 4 buah tempat untuk perapian.
Agar batu-batu itu tidak tercerai berai saat digunakan untuk memasak, maka dengan kekuatan supranaturalnya, nyonya muda Lee 'melekatkan' susunan bebatuan itu.
Sesudah tempat perapian jadi, sambil menunggu para manusia mini pria mengumpulkan kayu bakar yang banyak, Chu Pian Ran membantu Zhin Zhuan dan para kurcaci perempuan menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak.
Selama menyiapkan bahan-bahan tersebut, tak lupa, dua peri cantik itu memberi keterangan atau arahan pada manusia mini perempuan, agar kelak mereka bisa memasak sendiri.
Saat ini, terlihatlah Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan sudah mulai memasak di atas perapian. Dua buah perapian digunakan untuk menanak nasi, dan dua buah lainnya digunakan untuk memasak sayur dan lauk pauk.
Selama dua perempuan cantik itu memasak, para manusia mini perempuan memperhatikan dengan seksama cara-cara memasak yang dilakukan oleh Chu Pin Ran dan Zhin Zhuan.
Saat Chu Pian Ran mulai memasak sayuran, para sosok kerdil itu dibuat menelan ludah beberapa kali karena mencium aroma wangi masakan. Mereka semua benar-benar tidak sabaran untuk mencicipi masakan itu.
Setelah satu dua jam memasak, kini tampaklah para kurcaci sedang antri untuk mendapat jatah makanan dengan masing-masing membawa mangkuk makan dan sendok yang telah dibelikan oleh Chu Pian Ran.
Sementara itu, si Fong Chai membawa dua buah mangkuk makan karena ayahnya memang sedari tadi tidak ikut bergabung sebab sedang menunggui ibunya yang saat itu masih tergeletak lemah di celah guanya.
Begitu mendapatkan jatah makannya, dengan segera para manusia mini itu makan dengan lahapnya karena mereka sama sekali belum pernah makan makanan selezat itu.
Sementara para kurcaci sedang makan, Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan menyimpan bahan-bahan makanan mentah yang masih tersisa beserta perbumbuannya di celah dinding gua yang tidak terlalu tinggi dengan dialasi kain.
"Jangan lupa semuanya, setelah makan nanti kalian harus mencuci perlengkapan masak dan perlengkapan makannya sampai bersih ya. Mulai hari ini kalian harus belajar hidup rapi dan bersih agar tidak mudah terkena penyakit," pesan nyonya muda Lee yang langsung mendapat anggukan dari para kurcaci.
__ADS_1