
Sudah beberapa malam ini, hawa di ibukota dan sekitarnya lebih dingin dari biasanya. Dua orang prajurit yang saat itu sedang mendapat giliran berjaga di gerbang ibukota sampai beberapa kali pergi ke kamar kecil untuk kencing.
Tak jauh dari gerbang itu, sepasang mata berwarna kuning sedang memperhatikan kedua pria itu sedari tadi.
Kebetulan, dua prajurit itu merasa ingin buang air kecil di waktu bersamaan, dan akhirnya gerbang itu untuk sesaat tidak ada yang menjaga.
Tak berapa lama, melesatlah makhluk pemilik sepasang mata kuning itu ke dalam ibukota. Mahkluk tadi rupanya seekor harimau betina dewasa yang sedang dalam keadaan bunting.
(sekalipun ini daerah ibukota, namun tak jauh di luar ibukota terdapat hutan yang lumayan luas, yang masih dihuni oleh beberapa binatang buas).
Dengan santainya, harimau itu lalu menyusuri jalanan ibukota sambil mengendus-endus siapa tahu saja ada makanan yang dapat dia temukan.
Tak berapa lama, harimau itu menemukan bangkai tikus yang ada di tepi jalan dan langsung menyantapnya.
Beberapa detik kemudian, terlihatlah dari kejauhan dua orang prajurit sedang melakukan patroli. Mata harimau yang melihat dua sosok manusia itu pun lalu melangkahkan keempat kakinya agak menjauh dari jalanan dan mencari tempat untuk bersembunyi.
Sepanjang malam itu, si harimau berkeliaran di jalanan sambil terus mencari makanan. Jika dia melihat penampakan manusia, maka harimau itu akan menjauh atau bersembunyi karena binatang itu sedang bunting dan dia tidak ingin dicelakai manusia yang bisa membuat nyawanya dan calon anak dalam perutnya tak selamat.
Sebelum hari berubah terang, harimau betina itu menemukan sebuah pondok kecil kosong yang ada di pinggiran ibukota, lalu makhluk itu pun tidur di situ.
Hari itu, belum ada satu pun penduduk ibukota yang mengetahui jika tempat tinggal mereka telah dimasuki oleh seekor harimau yang ukurannya lumayan besar.
Malam harinya, saat sebagian besar penduduk ibukota telah tidur dengan nyenyak, si harimau keluar dari pondok dan mulai mencari makanan di wilayah itu.
Kejadian itu terulang sampai beberapa hari hingga harimau betina itu merasa sangat kelaparan karena beberapa malam sebelumnya dia hanya menemukan sedikit makanan, paling hanya beberapa bangkai tikus atau bangkai katak.
Maka, jika biasanya binatang itu hanya keluar pada malam hari, kali ini dia pun terpaksa memperlihatkan dirinya saat hari sudah terang.
Tak bisa dibayangkan betapa kaget dan takutnya beberapa penduduk ibukota yang saat itu tanpa sengaja melihat makhluk berkaki empat itu.
Mereka yang melihat harimau itu pun lari tunggang langgang sambil berteriak-teriak.
"Ada harimauuu, ada harimauuu!!"
Seperti biasanya, pagi itu Lee Jiang Wook sedang menemani istrinya jalan-jalan pagi.
Ketika pasangan suami istri itu melihat beberapa orang yang sedang lari tunggang langgang sambil teriak-teriak jika ada harimau, tanpa pikir panjang, Chu Pian Ran melesat terbang dengan ilmu peringan tubuhnya untuk mencari keberadaan binatang itu.
Lee yang tidak mengira jika istrinya mengambil langkah spontan dalam keadaan perut yang besar pun berteriak memanggil perempuan itu. Namun, teriakannya sia-sia, istri tercintanya tetap melaju untuk mencari harimau itu.
Tanpa menunggu lama, pemuda itu pun menyusul istrinya dengan ilmu peringan tubuh juga.
Berita tentang adanya seekor harimau yang berkeliaran di jalanan ibukota telah didengar oleh banyak penduduk, maka sebagai langkah pengamanan, mereka pun masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu dan jendela rapat-rapat.
Begitu kabar itu sampai di kantor biro keamanan, maka dengan segera kepala biro keamanan beserta belasan bawahannya melesat menuju ke tempat harimau itu berada dengan masing-masing membawa tombak panjang di tangannya beserta busur dan panah besi.
Kini, Chu Pian Ran telah berdiri beberapa meter di depan binatang berkaki empat itu.
Sementara itu, suaminya berdiri agak jauh di belakang istrinya dengan perasaan was-was dan khawatir takut perempuan cantik itu kenapa-kenapa.
Dengan kekuatan supranaturalnya, Chu Pian Ran menatap kedua mata harimau itu dengan maksud untuk menjinakkannya.
Selama beberapa menit perempuan itu dengan si harimau saling bertatapan mata hingga rombongan dari biro keamanan tiba.
Ketika kepala biro keamanan melihat sosok nyonya muda itu, dia mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat agar anak buahnya berhenti bergerak maju. Tanpa dikomando, separuh dari mereka siap siaga dengan tombak panjangnya, dan lainnya memegang busur yang telah terpasang oleh anak panah.
Aksi tatap-tatapan mata Chu Pian Ran dengan si harimau bukan hanya dilihat oleh suaminya dan pihak biro keamanan, namun juga disaksikan oleh beberapa penduduk yang mengintip dari jendela rumahnya.
Beberapa saat kemudian, harimau bunting itu maju dengan perlahan-lahan hingga jaraknya semakin dekat dengan Chu Pian Ran.
Tak berapa lama, binatang itu menggeram-geram pelan sambil matanya menatap perempuan itu, seolah-olah dia sedang menyampaikan sesuatu.
__ADS_1
Terlihatlah kemudian, Chu Pian Ran dan harimau itu sedang bercakap-cakap yang tidak diketahui maksudnya oleh orang-orang yang menyaksikan.
Saat peristiwa itu sedang berlangsung, datanglah Qin Wu Zhu, Lu Zee dan beberapa prajurit di tempat itu.
Dengan segera, pangeran kedua kaisar Qin itu berjalan mendekati adik angkatnya.
Begitu melihat Qin Wu Zhu datang, nyonya muda Lee meminta pemuda itu untuk menyiapkan daging mentah yang banyak karena harimau itu sedang kelaparan.
Tanpa membantah, Qin Wu Zhu lalu memanggil Lu Zee dan memerintahkan pengawal pribadinya itu untuk membeli daging sapi yang banyak di tempat terdekat.
Dua puluh menit kemudian, datanglah Lu Zee dengan menggotong sebuah karung berukuran sedang yang muat diisi daging mentah seberat 10 kg.
Pemuda itu lalu menumpahkan isinya di depan harimau itu dan tak lama kemudian binatang itu mulai makan daging mentah itu dengan lahapnya hingga tertinggal tulang yang keras.
"Sekarang kau kembalilah ke hutan dan jangan mengganggu manusia lagi." Kata Chu Pian Ran setelah harimau itu selesai makan. Binatang itu lalu menjawabnya dengan geraman.
Dengan diantar oleh Lu Zee dan beberapa prajurit, harimau itu pun kembali ke hutan dengan selamat.
Begitu binatang itu keluar dari ibukota, keluarlah para penduduk dari persembunyiannya dengan perasaan lega.
Mereka pun kemudian melanjutkan aktifitas paginya yang sempat tertunda gara-gara harimau itu.
****
Kini, Chu Pian Ran sedang duduk di tepi ranjangnya dengan ditemani sang suami.
"Tadi pagi aku benar-benar khawatir dengan tindakanmu sayang... Bagaimana bisa dengan perut sebesar ini kau nekat berbuat seperti itu." Kata Lee sambil membelai rambut panjang istrinya.
"Maafkan aku suamiku, itu karena naluriku yang membuatku bertindak secara spontan. Lagipula, jika aku terlambat menemukan harimau itu pasti terjadi sesuatu yang buruk." Jelas Chu Pian Ran.
"Seumur-umur baru kali ini ibukota kemasukan harimau, rasanya aneh sekali..." Lanjut pemuda itu.
"Mungkin saja karena binatang itu lagi bunting lalu mencari makanan hingga tersesat sampai di sini. Bukankah harimau yang bunting membutuhkan makanan lebih banyak dari biasanya." Sahut istrinya.
"Jika harimau itu bunting, jangan-jangan pasangannya juga berkeliaran di ibukota." Ucap Lee.
"Tidak suamiku, binatang itu masuk sendirian ke ibukota. Aku tadi sudah menerawangnya sebentar. Sebenarnya harimau itu sudah ada di ibukota beberapa hari ini, tapi dia mencari makanan hanya pada saat malam hari. Dan pagi ini dia menampakkan dirinya karena dorongan rasa laparnya." Terang Chu Pian Ran.
Saat pasangan suami istri istri itu sedang berbincang, masuklah tuan dan nyonya Chu ke dalam kamar.
"Sayang, kau sudah kembali nak?" Tanya wanita paruh baya itu setelah duduk di samping putrinya. Sementara itu, tuan Chu duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang.
"Ibu tak perlu cemas, aku baik-baik saja..." Balas putrinya.
"Bagaimana ibu tidak khawatir nak, dengan perut sebesar ini kau berhadapan dengan harimau ganas itu." Ucap nyonya Chu.
"Aku sudah memiliki sedikit kelebihan untuk menjinakkan binatang buas bu, jadi ibu tidak perlu cemas lagi." Kata Chu Pian Ran sekali lagi berusaha untuk menenangkan ibunya.
Mereka berempat pun lalu terlibat dalam obrolan selama setengah jam, lalu tuan dan nyonya Chu keluar dari kamar itu.
Begitu mertuanya sudah pergi, Lee kemudian membantu istrinya mandi dan berpakaian. Sementara itu, giliran pemuda itu yang mandi saat Chu Pian Ran sedang menyisir dan menata rambutnya.
Setelah sarapan bersama, Lee Jiang Wook berpamitan pada istri dan mertuanya karena dia ada pekerjaan penting di toko perhiasannya.
Aksi heroik Chu Pian Ran yang menjinakkan harimau telah menyebar dengan cepat di ibukota.
Banyak diantara mereka yang merasa kagum dengan kelebihan yang dimiliki oleh nyonya muda itu.
Namun, sebagian lagi ada yang merasa penasaran bagaimana bisa perempuan itu memiliki kelebihan yang tidak biasa seperti itu.
Kantor Biro Keamanan
__ADS_1
"Jadi, nyonya muda Lee itu putri angkat yang mulia kaisar alias si pria bertopeng tuan Jui?" Tanya salah satu bawahannya yang bernama Shao Lan kepada Tang Jui, si kepala biro keamanan.
"Iya. Aku yakin seratus persen jika nyonya muda Chu Pian Ran itu sebenarnya tuan putri Nanyang. Jika bukan, bagaimana bisa perempuan itu kelihatan akrab dengan yang mulia pangeran Qin Wu Zhu." Sahut Jui Lan.
"Saya benar-benar tidak menyangka jika putri penasehat kerajaan sehebat itu. Kalau begitu, penduduk ibukota patut berbangga memiliki seorang penduduk yang sehebat nyonya muda Chu Pian Ran."
Malam harinya...
Terlihatlah Lee Jiang Wook sedang mengajak ngobrol calon putrinya sambil mendekatkan wajahnya di atas perut besar istrinya.
Beberapa kali bibir pemuda itu menciumi perut istrinya yang tidak tertutup pakaian itu dengan rasa sayang.
"Hari ini penduduk ibukota sedang membicarakanmu sayang..." Kata Lee dengan wajahnya sudah di dekat wajah istri tercintanya sambil tangannya mengelus perut besar perempuan itu.
"Biarkan saja suamiku, nanti mereka akan berhenti sendiri jika sudah bosan membicarakanku..." Balas Chu Pian Ran dengan menatap sayang suaminya.
"Bagaimana jika mereka lama-lama tahu jika kau adalah putri angkat kaisar atau si pria bertopeng?" Tanya pemuda tampan itu.
"Ya biar saja suamiku... Cepat atau lambat identitasku pasti terbongkar juga." Sahut istrinya.
Tak berapa lama, tangan kanan Chu Pian Ran merangkul leher suaminya dan menariknya lebih dekat agar perempuan itu bisa mencium bibir pemuda itu.
Mulailah pasangan suami istri itu berciuman lembut dengan intimnya selama belasan menit.
Selesai berciuman, nyonya muda itu lalu mengelus wajah tampan suaminya.
"Aku tidak menyangka jika dulunya aku kurang begitu suka denganmu sekarang aku menjadi sangat mencintaimu suamiku..." Ucap Chu Pian Ran kembali mengingat masa lalu sambil menatap lekat mata suaminya.
"Itu karena cintaku tulus padamu dan aku tidak menyerah untuk mengejarmu sayang..." Jawab Lee sambil mengelus kepala istrinya.
"Kau janji kan tidak akan mencintai perempuan lain selain diriku?" Lanjut istrinya.
"Aku janji sayang... Sampai akhir hayatku hanya kau satu-satunya perempuan yang ada di hatiku." Balas suaminya mantap.
Pasangan suami istri itu lalu saling menatap dengan rasa cinta yang dalam.
18+
Beberapa menit kemudian, tangan kanan Lee menyentuh lembut buah d@da kanan istrinya lalu mengusap-usap bagian itu beserta puncaknya.
Beberapa hari yang lalu, saat pemuda itu berniat memijit-mijit bagian itu, istrinya meringis dan mengeluh nyeri. Jadi sejak hari itu, Lee memperlakukan kedua gundukan istrinya dengan lebih lembut lagi.
Saat ini buah d@da istrinya benar-benar padat berisi dan terlihat besar. Itu sudah menjadi tanda yang wajar untuk perempuan yang sedang hamil tua.
Tak berapa lama Lee pun menciumi bagian itu dengan lembut dan seperti biasa dia akan menghisap puncaknya, namun beberapa hari terakhir ini pemuda itu melakukannya dengan pelan.
"Sayang, apa kau merasa takut menjelang kelahiranmu kelak?" Tanya suaminya begitu bibirnya selesai di gundukan kanannya.
"Lumayan suamiku... aku dengar jika melahirkan normal rasa sakitnya lumayan." Jawab istrinya jujur.
"Aku yakin kau juga bisa melewati masa-masa itu seperti kau telah melewati masa-masa sulitmu sebelumnya sayang..." Lanjut suaminya memberi dukungan.
Tangan kanan pemuda itu lalu diletakkan di samping kepala kiri istrinya dan mulailah dia menciumi wajah istrinya dengan penuh rasa cinta.
Terkenanglah Lee akan masa-masa lalu saat dia berjuang selama beberapa tahun demi mendapatkan cinta perempuan yang saat ini sudah menjadi istrinya seutuhnya.
Tak terasa beberapa tetes air matanya jatuh dan mengenai wajah istrinya.
"Kau menangis suamiku?" Tanya Chu Pian Ran pelan sambil mengusap tetesan air mata suaminya yang jatuh di wajahnya.
"Maaf sayang jika aku tiba-tiba menjadi melankolis seperti ini... Aku tadi sempat terkenang dengan perjuanganku selama bertahun-tahun untuk mendapatkanmu. Hatiku terharu campur bahagia karena sekarang kau telah menjadi milikku dan mengandung buah cinta dariku." Jawab Lee terus terang.
__ADS_1
Kini, pasangan suami istri itu berbaring saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
Tak berapa lama mereka berdua tertidur dengan saling berpelukan.