Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 128 Ibukota Qin Gempar


__ADS_3

Dengan menggunakan kekuatan supranaturalnya, si burung elang emas raksasa pun dapat pergi dari kediamannya tanpa diketahui oleh para penjaga, karena sejak Jinying pulang ke dunia atas, burung raksasa itu sudah pernah diberi wejangan oleh pemiliknya agar tidak keluar kediaman dengan membawa anaknya tanpa sepengetahuannya.


Sedangkan untuk para penjaga, Dewa Burung pun juga telah memerintahkan mereka agar lebih memperketat lagi keamanan di sekitar kediaman burung elang peliharaannya, supaya kejadian beberapa waktu yang lalu (telur burung elang emasnya dicuri oleh salah seorang dari suku iblis) tidak terulang kembali.


🌹


Setelah terbang dengan kecepatan penuh selama tiga jam dari dunia atas menuju ke dunia bawah, saat ini terlihatlah induk elang raksasa itu sudah mengudara di atas langit ibukota Qin dan kebetulan saat itu di dunia bawah masih sekitar pukul 10 an siang.


Beberapa penduduk ibukota yang tidak sengaja melihat penampakan burung elang emas raksasa di langit pun menjadi sangat terkejut, dan tak lama kemudian ibukota Qin pun menjadi gempar tak terkecuali dengan sebagian besar penghuni istana, yang beberapa menit setelah induknya Jinying terlihat di langit, mereka pun tak mau ketinggalan untuk menyaksikan pemandangan yang luar biasa itu.


Sementara itu di kediaman Chu, semua penghuninya saat ini sedang menghentikan aktifitasnya sesaat untuk turut menyaksikan si burung raksasa yang beberapa menit lagi akan mendarat di kediaman tersebut, termasuk si kecil Lee Chu Mian Yin yang saat itu sedang berdiri di samping kanan neneknya.


Saat melihat tubuh kecil Jinying ada dalam cengkeraman kaki kanan induknya, putrinya Chu Pian Ran itu pun memanggil nama bayi burung elang itu beberapa kali dengan suara yang keras sambil kedua tangannya dia lambai-lambaikan.


"Jinyiiiing, Jinyiiiing... Yin'el lindu padamuuuu!"


"Kik kiiiik, kik kiiiik!" jawab Jinying dalam jepitan cakar induknya.


Puluhan meter sebelum mendaratkan kakinya di tanah, burung elang raksasa itu pun menarik rentangan sayapnya, dan tak lama kemudian, dengan kekuatan supranaturalnya induk burung itu pun menurunkan tubuhnya sedikit demi sedikit.


Beberapa cm sebelum kakinya menyentuh tanah, burung elang raksasa itu pun melepaskan bayinya dari jepitan cakar kaki kanannya, yang langsung membuat si Jinying lari dengan gaya yang menggemaskan untuk mendekati Lee Chu Mian Yin.


"Kik kiiik, kik kiiik..."


Setelah bayi burung elang itu ada di depan putrinya Chu Pian Ran, gadis kecil itu pun langsung mengangkat tubuh si Jinying dari tanah lalu mendekapnya.


Sementara itu induknya Jinying, saat ini telah menekuk kedua kakinya sambil matanya menyaksikan bayinya yang ada dalam pelukan Lee Chu Mian Yian.


Keberadaan burung raksasa yang ternyata mendarat di kediaman Chu pun tentu saja menarik perhatian banyak penduduk ibukota Qin, yang saat ini sudah berjubel dan berdesak-desakan di depan kediaman untuk melihat induknya Jinying dari gerbang kediaman Chu.


Melihat kejadian itu, nyonya Chu pun segera bertindak dengan memerintahkan beberapa pelayan prianya untuk menenangkan dan menertibkan penduduk ibukota yang sangat ingin melihat burung elang raksasa itu.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu mengizinkan para penduduk untuk melihat induknya Jinying dengan syarat mereka harus tertib, secara bergiliran dan hanya diperkenankan melihat dari gerbang saja alias tidak boleh mendekat apalagi menyentuh si burung raksasa.


Awalnya, sebagian penduduk ibukota yang beberapa waktu yang lalu sempat tidak percaya dengan berita bahwa Dewa Shao Hao dan burung raksasanya datang ke kediaman Chu, kini pun menjadi percaya karena telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri.


"Jinying, kamu lindu pada Yin'el ya?" tanya Lee Chu Mian Yin yang dibalas dengan anggukan kepala dari bayi burung itu.


"Yin'el juga lindu sekali padamu bulung cantik... Kamu sudah makan belum?" lanjut putrinya Chu Pian Ran itu.


"Kik kik...," Jinying bersuara sambil menganggukkan kepalanya lagi.


Beberapa detik kemudian, gadis kecil itu pun melangkahkan kakinya untuk mendekati induknya Jinying.


"Halo ibu bulung, apa kabal?" ucap Lee Chu Mian Yin sambil mendongakkan kepalanya.


"Krak krak," jawab si burung elang raksasa setelah menurunkan kepalanya agar matanya bisa lebih lekat menatap gadis cilik yang sedang berdiri di depannya itu, dan arti dari suaranya adalah 'kabarku baik'.


Tak berapa lama, tangan kanan putrinya Chu Pian Ran itu pun mengelus-elus bulu leher si burung elang raksasa, sementara tangan kirinya mendekap si Jinying.


Jinying pun memberi jawaban berupa gelengan kepala sambil paruhnya digerak-gerakkan.


"Masa' sik kamu tidak punya ayah? La ibumu bisa beltelul kamu itu calanya bagaimana? Yin'el bisa lahil saja kalena ada ayah dan ibu...," ujar gadis kecil itu keheranan dengan jawaban bayi burung itu.


Lagi-lagi Jinying pun menggerak-gerakkan paruhnya yang artinya 'ibuku adalah burung elang istimewa, dia bisa bertelur tanpa elang jantan, dan bertelurnya hanya sekali seumur hidup'.


"O begitu ya...," sahut putrinya Chu Pian Ran.


Menjelang tengah hari, pulanglah tuan Chu Jeong Byun ke kediamannya bersama dengan kedua besannya yang sangat ingin melihat burung elang raksasa milik Dewa Burung.


Sebelum sampai di depan kediaman, ketiga orang itu pun melihat masih ada puluhan orang yang sedang antri untuk melihat induknya Jinying.


Karena tidak bisa lewat gerbang utama, maka tuan penasehat kerajaan itu pun mengajak kedua besannya untuk lewat pintu belakang kediaman. Adapun bagian belakang kediaman tuan Chu merupakan area kandang kuda dan kamar para pelayan pria yang bertugas untuk merawat dan membersihkan kandang binatang berkaki empat itu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, sampailah tuan Chu Jeong Byun beserta kedua besannya di depan kediaman utama, yang mana di tempat itu ada burung elang emas raksasa yang langsung membuat tuan Lee Jiang Xun dan istrinya sangat takjub karena melihat betapa besarnya burung itu.


Setelah menatap induknya Jinying untuk beberapa saat, pasangan suami istri itu pun bergabung dengan nyonya Chu dan Lee Chu Mian Yin yang saat itu sedang duduk di kursi yang ada di depan teras kediaman utama.


"O jadi ini ya bayi burung elang emas yang pernah diceritakan oleh ayahmu pada nenek?" tanya nyonya Lee Jiang Xun pada cucunya sambil matanya mengamati Jinying yang diletakkan di atas meja itu.


"Iya nek, bayi bulungnya namanya Jinying...," jawab gadis kecil itu.


"Jinying, kenalkan ini nenek Lee...," lanjut Lee Chu Mian Yin sambil tangan kanannya menepuk lengan kiri nyonya Lee.


"Kik Kik...," sapa Jinying sambil matanya melihat pada wanita paruh baya itu.


"Nek, Jinyingnya membeli salam pada nenek...," imbuh putrinya Chu Pian Ran.


"Halo bayi burung elang emas...," ucap nyonya Lee Jiang Xun sambil tangan kanannya melambai pada Jinying.


"Dan itu adalah kakek Lee...," sambung Lee Chu Mian Yin sambil jari telunjuk kanannya menuding tuan Lee Jiang Xun yang duduk di sebelah kanan istrinya.


"Kik kik...," bayi burung elang emas itu pun bersuara setelah binatang itu merubah posisinya menghadap pria paruh baya itu.


"Halo bayi burung imut..," balas tuan Lee Jiang Xun sambil tangan kanannya mengelus puncak kepala si Jinying.


🌹🌹🌹


🌷🌷🌷


Halo para readers novel "Chu Pian Ran" yang setia, hari ini author kembali update karena baru ingat kalau sebentar lagi mau naik ke 'Level Silver', tapi update jumlah katanya tidak sebanyak sebelumnya/episodenya karena author harus membagi waktu antara kerja + persiapan untuk ujian semester 6.


Semoga kalian semua tetap sehat dan dalam lindungan Tuhan...


Sekali lagi terimakasih banyak untuk dukungannya... 🙏

__ADS_1


🌷🌷🌷


__ADS_2