Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 135 Duka Mendalam Keluarga Chu dan Keluarga Lee


__ADS_3

Begitu sampai di kediaman Chu, Zhin Zhuan pun dengan segera mencari keberadaan Nyonya Chu Jeong Byun yang ternyata saat itu sedang mengurus taman bunganya.


"Bibi...," ucap si peri pegar emas dengan suara tertahan karena hatinya sangat pedih bercampur bingung bagaimana caranya dia untuk menyampaikan berita meninggalnya Chu Pian Ran pada wanita paruh baya itu.


Melihat sosok Zhin Zhuan yang berdiri di samping kirinya dengan gugup dan mata merah berair, Nyonya Chu Jeong Byun pun segera mendekati peri cantik itu.


"Kamu kenapa Zhuan'er? Kamu habis menangis ya? Apa yang terjadi?" cecar wanita paruh baya itu sambil menatap lekat pada si peri pegar emas.


Zhin Zhuan masih diam terpaku sambil kedua tangannya mengepal erat di masing-masing samping tubuhnya dan bibirnya kelu belum mampu membuka suara.


Menyaksikan sikap aneh si peri pegar emas, Nyonya Chu Jeong Byun pun menjadi bingung untuk sesaat dan tiba-tiba muncullah 'pikiran buruk' tentang putrinya yang tadi pagi wanita paruh baya itu sudah mendapat kabar dari Zhin Zhuan jika Chu Pian Ran tidak ada di kediaman Lee karena pergi tanpa pamit.


"Kamu tadi bilang akan mencari Ran'er kan? Sekarang dimana dia? Kenapa kalian tidak pulang bersama?" lanjut Nyonya Chu Jeong Byun dengan memegang erat kedua pundak Zhin Zhuan sambil kedua matanya menatap tajam pada peri pegar emas itu.


Tak kuasa menahan kepedihannya, peri cantik itu pun kembali menangis dengan kepala tertunduk.


Sikap Zhin Zhuan yang tidak wajar itu tentu langsung membuat wanita paruh itu baya itu menjadi takut dan panik.


"Kenapa diam saja Zhuan'er?! Dimana Ran'er sekarang?! Apa yang terjadi dengannya?!" Nyonya Chu Jeong Byun meninggikan suaranya sambil mengguncang-guncang kedua pundak peri pegar emas itu yang tentu saja menarik perhatian beberapa pelayan perempuan yang kebetulan lewat atau berada di dekat mereka berdua.


Untuk sesaat, para pelayan yang menyaksikan pemandangan yang tidak biasanya itu menghentikan aktifitasnya karena mereka merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga majikan mereka meninggikan suaranya pada Zhin Zhuan.


"Kakak Ran'er... Kakak Ran'er...," si peri pegar emas tetap saja belum sanggup mengatakan yang sebenarnya dengan masih mengalirkan air matanya sambil sesenggukan.


"Chu Pian Ran kenapa Zhuan'er?!" wanita paruh baya itu tidak sabaran menunggu jawaban dari peri pegar emas itu sambil tetap mengguncang kedua pundak Zhin Zhuan.


"Kakak Ran'er meninggal bibi, rohnya musnah setelah bertarung dengan iblis Qing Liong...," dengan suara terbata-bata akhirnya peri pegar emas itu pun dapat memberikan balasan yang jelas sekalipun sangat berat di hatinya.


Untuk beberapa saat, tubuh Nyonya Chu Jeong Byun membeku dengan mata setengah membelalak di depan Zhin Zhuan.


"Tidak mungkin, Ran'er tidak mungkin meninggal! Kamu bohong kan Zhuan'er?!" ucap wanita paruh baya itu masih belum percaya dengan volume suara yang lumayan tinggi yang tentu saja dapat didengar dengan jelas oleh beberapa pelayan yang sedang menyimak percakapan mereka berdua dan hal itu langsung membuat para pelayan tersebut sangat terkejut.


"Itu benar bibi, banyak siluman dan binatang yang ada di hutan Jinfeng turut melihat musnahnya roh kakak Ran'er, bahkan Peri Jinfeng Zhui keadaannya sekarang juga sangat parah...," jelas peri pegar emas yang tak lama kemudian berita itu membuat tubuh Nyonya Chu Jeong Byun menjadi limbung dan akhirnya pingsan.


Melihat majikannya pingsan, beberapa pelayan perempuan yang sedang berdiri di dekat taman itu pun langsung bertindak dengan menggotong tubuh wanita paruh baya itu lalu membaringkannya di atas ranjang.


Sementara itu, Zhin Zhuan masih saja berdiri kaku di tempatnya dengan menangis sesenggukan yang suaranya lebih keras dari sebelumnya.


Tak lama kemudian, datanglah Bibi Chen dengan tergopoh-gopoh lalu mengajak peri pegar emas itu untuk duduk di kursi yang ada di depan teras kediaman utama dan dimintai keterangan lebih lanjut.

__ADS_1


Setelah mendengar penuturan Zhin Zhuan, Bibi Chen dan beberapa pelayan yang ada di dekat peri pegar emas itu pun terkejut bukan main bercampur sedih dan masih tak percaya jika putri majikan mereka telah meninggal dengan begitu cepatnya dan secara tiba-tiba.


Dengan segera, Bibi Chen pun memerintahkan tiga orang pelayan untuk memberi kabar ke kediaman Lee, istana Qin dan toko perhiasan tempat Lee Jiang Wook biasanya bekerja. Tanpa berbantah, tiga orang pelayan yang diberi mandat tersebut langsung berangkat ke tiga tempat berbeda.


Seorang pelayan yang mendapat bagian menyampaikan berita di istana Qin, sesampainya di depan gerbang dan melapor pada prajurit, tentu saja laporannya itu juga membuat prajurit yang mendengarnya sangat terkejut sekaligus masih belum percaya. Namun, begitu mendapat penjelasan lebih rinci dari si pelayan jika musnahnya roh Chu Pian Ran disaksikan oleh banyak mahkluk, maka dengan segera prajurit itu pun berlari menuju tempat dimana persidangan rutin diadakan.


Salah seorang perdana menteri yang waktu itu sedang menyampaikan laporannya di hadapan Kaisar Qin pun menghentikan suaranya begitu melihat kedatangan seorang prajurit yang terkesan tergopoh-gopoh dan dengan wajah yang tegang.


"Kenapa kau mengganggu acara persidangan ini prajurit? Apakah ada hal penting yang ingin kau laporkan?" tanya pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu penasaran.


"Menjawab Yang Mulia Kaisar, baru saja ada seorang pelayan dari kediaman Tuan Chu Jeong Byun datang dan memberi kabar jika Tuan Putri Nanyang meninggal. Tuan Chu Jeong Byun dan Tuan Lee Jiang Xun diminta untuk pulang sekarang."


Mendengar laporan dari prajurit itu, semua orang yang ada di ruang persidangan itu sangatlah terkejut, terkhusus Tuan Chu Jeong Byun, Tuan Lee Jiang Xun dan Kaisar Qin Shi Huang yang sampai berdiri dari kursi kebesarannya.


"Benarkah berita yang kausampaikan itu prajurit?" lanjut Kaisar Qin berusaha memastikan kebenaran kabar itu.


"Benar Yang Mulia Kaisar, itulah yang disampaikan oleh pelayan tadi."


Tanpa menunggu lama, pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu pun langsung membubarkan persidangan lalu memerintahkan semua para pejabat istananya untuk kembali ke kediaman masing-masing terlebih dahulu sebelum melayat di kediaman Chu.


🌹


Karena tidak didapati peti mati dalam kediaman tersebut, banyak pelayat yang bertanya-tanya yang tak lama kemudian mereka sangat terkejut begitu mengetahui sebuah kebenaran jika putri tunggal Tuan Chu Jeong Byun telah menjadi seorang peri yang meninggalnya tanpa meninggalkan jasad.


Selama satu jam an, tampaklah wajah para pelayat tersebut tersirat kesedihan terkhusus keluarga Chu Jeong Byun dan keluarga Lee Jiang Xun.


Sementara itu di dalam kamar, Nyonya Chu Jeong Byun telah sadar dari pingsannya namun masih saja terus menangis, tak terkecuali Nyonya Lee Jiang Xun dan Lee Chu Mian Yin yang saat itu meratap di dekapan nenek Lee.


Sedangkan di luar kediaman Chu, juga terlihat banyak penduduk ibukota Qin yang berdatangan secara bergantian untuk ikut menyampaikan rasa belasungkawanya begitu mereka mendengar berita jika putri angkat kaisar sekaligus pahlawan wilayah Qin dinyatakan meninggal setelah bertempur dengan iblis Qing Liong.


Adapun untuk menyambut dan mengucapkan terimakasih pada penduduk ibukota yang datang melayat, Bibi Chen telah memerintahkan beberapa pelayan pria kepercayaan kediaman Chu untuk mewakili si tuan rumah.


Diantara anggota keluarga kerajaan yang datang di acara perkabungan, tampaklah sosok Qin Wu Zhu yang dari luar raut wajahnya dingin seperti biasanya, namun hatinya sangatlah pedih.


Jendral muda itu terkenang saat dia pertama kali melihat secara langsung sosok Chu Pian Ran yang berhasil membuatnya jatuh hati bahkan hingga kini pemuda tampan itu masih sulit melepas perasaannya sekalipun ungkapan cintanya sudah ditolak terang-terangan oleh perempuan itu.


Selain itu, pangeran kedua Kaisar Qin juga teringat akan kebersamaan mereka saat menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi di wilayah Qin. Tak luput pula kenangan saat mereka saling ejek dan menyindir yang sebenarnya itu sekedar gurauan semata.


Lebih dari yang diingat Qin Wu Zhu, Lee Jiang Wook yang berstatus sebagai suaminya Chu Pian Ran pun hatinya sangat hancur begitu mendengar jika roh istrinya musnah alias meninggal.

__ADS_1


Ayah muda itu menyimpan sangat banyak kenangan yang dilewati bersama dengan perempuan yang sangat dicintainya itu mulai dari masa kanak-kanak hingga saat ini mereka telah dikaruniai seorang putri yang sekarang umurnya sudah 7 tahunan.


Selama berumah tangga, tidak pernah ada yang namanya pertengkaran karena pernikahan mereka memang dilandasi saling cinta dan pengertian.


Lee Jiang Wook tidak tahu apakah saat-saat ke depannya nanti dia sanggup melalui hari-harinya dengan semangat seperti biasanya tanpa dampingan dari istri tercintanya. Namun, begitu ayah muda itu teringat akan putrinya, mau tidak mau dia harus memotivasi dirinya agar tidak terlihat lemah di hadapan Lee Chu Mian Yin.


Sebelum jam 5 sore, kediaman Tuan Chu Jeong Byun mulai sepi dari kunjungan para pelayat dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh keluarga Chu dan keluarga Lee untuk beristirahat sambil menata hati dan pikiran masing-masing agar mereka diberi ketegaran dalam menghadapi peristiwa yang sangat menyedihkan yang sedang mereka alami saat ini.


Malam harinya, tampaklah Lee Jiang Wook sedang memeluk erat tubuh putrinya di atas pembaringan kamar milik ayah muda itu.


Setelah sekian lama tidur terpisah dengan kedua orang tuanya, saat ini Lee Chu Mian Yin kembali tidur di atas ranjang tersebut namun sekarang hanya ditemani oleh ayah tercintanya.


Gadis kecil yang telah berumur 7 tahun lebih 4 bulan itu benar-benar merasa kehilangan ibu yang sangat dicintainya yang telah merawat dan mendidiknya dengan sepenuh hati hingga dia menjadi anak yang semakin mandiri dan cerdas seperti sekarang ini.


Terlalu banyak kenangan indah dan bermakna yang telah dia lewati bersama ibu tercintanya yang membuat Lee Chu Mian Yin menangis untuk kesekian kalinya jika teringat kembali dengan semua kenangan itu.


"Ayah harap kau tidak menjadi lemah semangat dan sedih berkepanjangan setelah kepergian ibumu, Yin'er...," suara Lee Jiang Wook memecah keheningan kamar itu berusaha menghibur putrinya sambil tangan kanannya masih memeluk erat tubuh gadis kecil itu.


"Jangan membuat sia-sia semua pengorbanan yang telah ibumu lakukan hingga saat ini sampai dia mengorbankan nyawanya sendiri demi berusaha membinasakan iblis jahat yang pernah membuat kekacauan besar di dunia manusia," lanjut ayah muda itu.


"Iya ayah, Yin'er akan berusaha untuk tetap kuat sekalipun ibu sudah tidak ada di samping Yin'er lagi... Yin'er akan terus berjuang untuk membuat ibu bangga...," sahut Lee Chu Mian Yin dengan suara pelan dalam pelukan ayahnya.


"Saat ini ibu sudah bahagia di surga kan ayah? Kan ibu manusia yang baik dan banyak menolong sesama...," imbuh gadis kecil itu teringat oleh ajaran yang pernah diberikan ibunya bahwa 'manusia yang baik pasti masuk surga'.


"Iya sayang, sekarang ini ibu sudah bahagia di surga, jadi Yin'er jangan terlalu sedih berkepanjangan... Kalau Yin'er terus sedih, ibu yang sudah ada di surga juga ikutan sedih...," ucap Lee Jiang Wook mencoba memasukkan perkataan yang positif pada putrinya sekalipun bagi ayah muda itu sendiri sangat sulit untuk mempraktekkannya.


🌹


Berita tentang meninggalnya Chu Pian Ran, hari demi hari menyebar di seluruh wilayah Qin termasuk di markas besar prajurit yang ada di perbatasan yang tentu saja kabar tersebut membuat semua penghuni di markas tersebut sangat sedih terkhusus Jenderal Long Yuan.


Pria paruh baya yang dibuat kagum beberapa kali dengan keponakan angkatnya itu sama sekali tidak menyangka jika sekembalinya dari ibukota Qin ke perbatasan, adik kandung Kaisar Qin Shi Huang itu malah menerima berita tentang meninggalnya Chu Pian Ran yang menurutnya begitu tiba-tiba.


Untuk menghormati semua jasa putri angkatnya, Kaisar Qin Shi Huang memerintahkan semua penghuni istananya dan penduduk ibukota untuk mengadakan hari-hari perkabungan selama 7 hari.


Selain di wilayah Qin, berita tentang meninggalnya putri Tuan Chu Jeong Byun juga telah disampaikan di ibukota Han yang tentu saja anggota keluarga kerajaan tersebut sangat sedih bercampur terkejut karena mereka sama sekali tidak menyangka jika iblis Qing Liong yang disegel di dekat ibukota Han ternyata telah meloloskan dirinya dan membuat Chu Pian Ran meninggal tanpa bekas.


Sementara itu di gua nya para kurcaci, begitu para manusia mini itu mendengar berita dari Zhin Zhuan jika roh nyonya muda Lee musnah setelah bertempur dengan iblis Qing Liong. Selama beberapa hari, para makhluk kerdil itu pun sepakat untuk mengadakan perkabungan dalam rangka mengenang semua jasa-jasa Chu Pian Ran.


Sekalipun Zhin Zhuan masih dalam tahap berkabung dan menyimpan kesedihan mendalam atas kepergian nyonya muda Lee, namun karena peri pegar emas itu tidak tega membiarkan bangsa kurcaci mengalami kekurangan makan seperti dulu, maka Zhin Zhuan pun tetap menyuplai bahan makanan mentah untuk para manusia mini tersebut.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2