Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 133 Jenderal Long Yuan Pulang Ke Ibukota


__ADS_3

Dua minggu kemudian...


Menjelang tengah hari, terlihatlah Jenderal Long Yuan memasuki gerbang ibukota Qin setelah melakukan perjalanan dengan berkuda selama satu minggu nan.


Saat melewati gerbang tersebut, beberapa prajurit yang sedang mendapat jatah untuk berjaga pun langsung mengambil sikap tubuh menghormat dengan cara menempelkan kedua tangan mereka.


Sudah lebih dari lima tahun adik kandung Kaisar Qin Shi Huang itu memilih tinggal di markas prajurit yang ada di perbatasan dan hari ini dia kembali ke tempat kelahirannya.


Setelah tiga puluh menit berkuda dengan kecepatan sedang dari gerbang ibukota, sampailah Jenderal Long Yuan di depan markas besar prajurit yang langsung disambut dan diberi hormat oleh dua prajurit penjaga gerbang markas setelah pria paruh baya itu turun dari punggung kudanya.


Sesudah menyerahkan tunggangannya pada prajurit tersebut, adik kandung Kaisar Qin Shi Huang itu pun kemudian melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerja Qin Wu Zhu.


Begitu melihat sosok pamannya yang tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu, pangeran kedua Kaisar Qin itu pun lumayan terkejut dan langsung berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Jenderal Long Yuan kemudian memeluk pria paruh baya itu.


"Kenapa paman tidak memberi kabar dulu jika akan pulang?" tanya Qin Wu Zhu setelah melepas pelukannya dari tubuh pamannya.


"Halah biasa saja, tidak perlu pakai memberi kabar segala. Memangnya kamu mau menjemput paman?" jawab pria paruh baya itu dengan kalimat yang sedikit mengandung sindiran.


"Cepat ambilkan paman minum, sudah sedari tadi aku menahan rasa haus...," lanjut Jenderal Long Yuan yang kemudian duduk di atas kursi yang letaknya tak jauh dari meja kerja keponakannya sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya untuk mengurangi rasa gerah.


Tanpa menunggu lama, pemuda tampan itu pun lalu mengambil teko berisi teh dan sebuah cangkir kosong dari atas meja kerjanya dan kemudian menyerahkan cangkir tersebut kepada pamannya.


Beberapa detik kemudian, tampaklah Qin Wu Zhu sedang menuangkan teh ke dalam cangkir yang dipegang oleh tangan kanan Jenderal Long Yuan hingga beberapa kali sampai pria paruh baya itu hilang rasa hausnya.


Setelah meletakkan kembali teko teh dan cangkir itu di atas meja kerjanya, pangeran kedua Kaisar Qin itu pun berniat untuk duduk di atas kursinya lagi namun dicegah oleh pamannya.


"Tolong dong kamu kipasi, paman merasa gerah sekali nih... Entah kenapa beberapa hari ini cuaca di wilayah Qin menjadi sangat panas...," perintah adik kandung Kaisar Qin Shi Huang yang membuat Qin Wu Zhu menjadi terdiam beberapa saat karena merasa aneh dengan permintaan pamannya yang tidak biasanya itu.


"Kenapa malah bengong seperti itu? Kamu tidak mau mengipasi paman ya?" tanya Jenderal Long Yuan sambil menatap keponakannya yang belum merespon itu.


"Bukannya tidak mau paman, tapi Zhu'er merasa aneh saja dengan permintaan paman kali ini...," sahut pemuda tampan itu terus terang.


"Aneh darimananya? Kan paman cuma minta kamu mengipasi... Sudah jangan banyak komentar, cepat kipasi paman," pria paruh baya itu mengulangi titahnya yang beberapa detik kemudian dituruti oleh Qin Wu Zhu.


Sekarang ini, tampaklah pangeran kedua Kaisar Qin sedang berdiri di samping kiri pamannya sambil mengipasi pria paruh baya itu menggunakan kipas miliknya yang beberapa hari terakhir ini sering dia pakai kemana-mana karena hawa di wilayah Qin memang lebih panas dari sebelumnya seperti yang dikatakan oleh adik kandung ayahnya itu.


"Bagaimana kabarnya paman? Sehat?" tanya pemuda tampan itu sambil tangan kanannya terus mengipasi Jenderal Long Yuan.


"Kabar paman baik-baik saja dan tetap sehat keponakanku...," balas pria paruh baya itu dengan mata terpejam sambil menikmati hawa sejuk dari kipasannya Qin Wu Zhu.


"Sepertinya paman lebih betah tinggal di perbatasan daripada tinggal di ibukota ini...," lanjut pangeran kedua Kaisar Qin.


"Bukan masalah betah tidak betahnya Zhu'er, tapi ini menyangkut tanggung jawab... Lagipula di sini kan sudah ada kamu yang memimpin para prajurit," balas adik kandung Kaisar Qin Shi Huang.


"Kamu masih belum menikah juga? Sampai kapan kamu akan melajang seperti ini? Apa kamu tidak ingin hidup bahagia dengan gadis cantik?" imbuh Jenderal Long Yuan dengan mata yang masih tertutup.


"Zhu'er masih belum berminat untuk menikah paman... Hidup melajang seperti paman sepertinya nyaman juga, tidak perlu direpotkan dengan urusan soal perempuan...," timpal pemuda tampan itu yang sebenarnya hanyalah dalihnya untuk menutupi fakta yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Paling-paling itu hanya alasanmu saja yang masih belum bisa melepaskan perasaanmu dari Chu Pian Ran kan?" tebak pria paruh baya itu yang memang benar adanya.


Untuk sesaat, suasana ruangan itu pun menjadi hening karena Qin Wu Zhu tidak bisa mengomentari perkataan pamannya dan untungnya sebelum pangeran kedua Kaisar Qin itu dicecar pertanyaan lebih lanjut dari pamannya, Jenderal Long Yuan tiba-tiba mengeluarkan suara dengkuran yang lumayan keras yang tentu saja hal itu membuat keponakannya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memutuskan untuk berhenti mengipasi pamannya itu.


Karena tidak ingin mengganggu acara tidurnya Jenderal Long Yuan, maka Qin Wu Zhu pun keluar dari ruang kerjanya sambil membawa kipasnya.


Kini, terlihatlah pangeran kedua Kaisar Qin sedang duduk di sebuah kursi yang ada di depan teras ruang tamu sambil mengipas-ngipas dirinya sendiri yang tak lama kemudian tiba-tiba ada 'sesuatu' yang menimpuk belakang bahunya kanannya, yang setelah dia lihat, ternyata 'sesuatu' itu adalah sebuah kacang kulit.


"Hei perempuan aneh, kamu jangan main-main ya!" kata Qin Wu Zhu yang tahu itu adalah perbuatan Chu Pian Ran sekalipun belum melihat sosok perempuan itu dengan mata kepalanya sendiri.


"Sudah jangan main sembunyi-sembunyian seperti anak kecil, tidak lucu tahu!" lanjut pemuda tampan itu tanpa memalingkan kepalanya untuk berusaha menebak dimana tempat persembunyian adik angkatnya sambil tangan kanannya masih terus menggerak-gerakkan kipasnya.


"Good afternoon my handsome brother...," ucap nyonya muda Lee yang akhirnya muncul dari samping kanan bangunan ruang tamu yang hanya dicueki saja oleh Qin Wu Zhu.


"Sekalian kipasi aku dong kak, panas nih...," imbuh perempuan cantik itu begitu sudah berdiri di samping kanan kakak angkatnya.


"Enak saja, memangnya aku tukang kipasmu...," sahut pangeran kedua Kaisar Qin itu dingin tanpa menoleh pada Chu Pian Ran.


"Pelit sekali sih...," ujar nyonya muda Lee yang secepat kilat merebut kipas dari tangan kanan Qin Wu Zhu, yang tentu saja membuat pemuda tampan itu mendelik pada perempuan yang berdiri di samping kanannya sambil mengipas-ngipas dirinya dengan tanpa merasa bersalah.


"Dasar perempuan sableng...," gerutu pangeran kedua Kaisar Qin yang sekarang sudah menghadapkan kepalanya di posisi semula.


"Oh ya, aku tadi sempat melihat paman Long Yuan pulang saat melintas di langit luar ibukota. Dimana dia?" tanya Chu Pian Ran mengalihkan bahan pembicaraan dengan santainya tanpa peduli jika kakak angkatnya masih sebal dengan sikapnya barusan.


"Ada di ruang kerjaku, tapi jangan mengganggu paman karena dia baru saja tidur," jawab pemuda tampan itu dengan nada sedikit ketus.


Menyaksikan sikap seenaknya istri Lee Jing Wook itu, pangeran kedua Kaisar Qin itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menggerutu dalam hati.


Dasar perempuan, makin lama sikapnya makin tidak wajar saja...


🌹


Sore harinya...


Sekitar pukul lima nan, tampaklah nyonya muda Lee mengajak Lee Chu Mian Yin untuk menjenguk Jenderal Long Yuan, yang berdasarkan informasi dari seorang pelayan yang diutusnya tadi ke markas besar prajurit, pria paruh baya itu saat ini sedang berada di kediamannya.


Setelah berkuda selama dua puluh lima menit dengan pelan, sampailah ibu dan anak itu di depan kediaman adik kandung Kaisar Qin Shi Huang.


Sesudah keduanya turun dari punggung si kuda, istrinya Lee Jiang Wook pun menambatkan kuda tersebut di palang kayu yang ada di samping kanan kediaman Jenderal Long Yuan, dan tak lama kemudian perempuan cantik itu beserta putrinya menapakkan kaki mereka menuju ke dalam kediaman.


Beberapa saat kemudian, terlihatlah oleh ibu dan anak itu, Jenderal Long Yuan sedang berbincang dengan Qin Wu Zhu di teras kediaman utama.


"Si perempuan aneh datang lagi, bosan aku melihatnya...," kata pangeran kedua Kaisar Qin itu begitu Chu Pian Ran dan Lee Chu Mian Yin telah dekat dengan kedua pria itu.


Sebelum dipersilahkan duduk oleh si tuan rumah, nyonya muda Lee mengajak putrinya duduk di kursi yang masih kosong dengan posisi perempuan cantik itu diapit oleh putrinya dan Jenderal Long Yuan, sementara si Lee Chu Mian Yin diapit oleh ibunya dan Qin Wu Zhu.


"Paman Zhu'er tidak boleh bicara seperti itu pada ibunya Yin'er... Ibunya Yin'er kan cantik, baik dan pintar...," bela putrinya Chu Pian Ran karena tidak terima ibunya dibilang 'aneh' oleh pamannya begitu gadis kecil itu telah duduk di samping kiri pemuda tampan itu dengan melihat pada pamannya.

__ADS_1


Karena sadar di tempat itu ada anak kecil yang berumur lima tahunan, pangeran kedua Kaisar Qin pun tidak mau mengungkit masalah keanehan sikap adik angkatnya lagi.


"Jadi ini putrimu Nanyang? Sudah besar dan cantik rupanya...," sela adik kandung Kaisar Qin Shi Huang.


"Iya paman, namanya Lee Chu Mian Yin...," balas nyonya muda Lee.


"Yin'er, ayo beri salam pada kakek Long Yuan...," lanjut peri cantik itu.


"Hello grandpa Long Yuan, introduce my name is Lee Chu Mian Yin...," putrinya Chu Pian Ran melambaikan tangan kanannya pada pria paruh baya itu yang tentu saja membuat Jenderal Long Yuan menjadi 'bingung dan bengong' mendengar bahasa aneh yang diucapkan oleh gadis kecil itu.


"Bahasa aneh apa itu? Sepertinya baru kali ini aku mendengarnya...," ucap adik kandung Kaisar Qin Shi Huang itu jujur sambil diliputi kebingungan.


"Itu bahasa anehnya para siluman paman," potong Qin Wu Zhu sembarangan.


"Ye enak saja dibilang bahasa siluman... Itu namanya bahasa Inggris paman Zhu'er ku yang 'kurang pintar'...," tukas Lee Chu Mian Yin sambil menatap pada pamannya dengan wajah mulai cemberut.


"Dari siapa juga kau bisa mengatai pamanmu yang tampan dan perkasa ini 'kurang pintar'? Pasti dari ibumu yang aneh itu ya?" Lagi-lagi pangeran kedua Kaisar Qin itu mengucapkan kata 'aneh' yang membuat wajah gadis kecil yang sedang duduk di samping kirinya itu semakin cemberut.


"Paman Zhu'er jelek, nakal...," tukas putrinya Chu Pian Ran.


"Tampan seperti ini kok dibilang jelek..."


"Sudah sudah, tidak perlu ribut lagi...," Jenderal Long Yuan menengahi pertengkaran kecil antara keponakannya dengan Lee Chu Mian Yin.


"Aku dengar kau sudah menjadi seorang peri, Nanyang?" tanya adik kandung Kaisar Qin Shi Huang yang sudah beberapa bulan yang lalu mendapat informasi tentang hal itu dari kakaknya melalui surat.


"Ya begitulah paman... Mau tidak mau aku harus menerima dan mengalami kenyataan yang ada," jawab perempuan cantik itu.


"Makin lama paman jadi kagum denganmu Nanyang, entah manusia macam apa kamu itu kok bisa sampai mengalami takdir yang luar biasa seperti itu, bahkan Dewi Chang'e dan Dewa Shao Hao pun punya hubungan yang baik denganmu...," puji pria paruh baya itu terus terang.


"Sudahlah paman, memujinya jangan terlalu berlebihan, nanti aku bisa terbang melayang lo...," kata istrinya Lee Jiang Wook berusaha merendah.


"Lalu bahasa aneh apa yang diucapkan putrimu tadi? Apakah itu bahasanya para dewa dewi?" imbuh Jenderal Long Yuan ingin tahu.


"Itu bukan bahasanya para dewa dewi paman, tapi bahasa Inggris dari abad 20 tempat jiwaku berasal...," sahut Chu Pian Ran dengan jujur membuka 'rahasia besar' kisah hidupnya yang dia dan keluarganya simpan selama bertahun-tahun.


Bagai disambar petir di siang bolong, adik kandung Kaisar Qin Shi Huang pun sangat terkejut bercampur tidak percaya dengan penuturan putri angkat kakaknya itu tak terkecuali Qin Wu Zhu.


"Apa yang kamu bicarakan itu Nanyang? Kalau bercanda jangan kelewatan ya," sergah pangeran kedua Kaisar Qin karena menganggap perkataan adik angkatnya itu hanya gurauan semata.


"Aku tidak bercanda kak Zhu'er, setelah aku meninggal karena leukimia, rohku ditarik oleh roh peri bunga Mei Hwa Lie untuk menggantikan jiwanya masuk ke dalam raga Chu Pian Ran...," terang nyonya muda Lee yang malah membuat kedua pria yang duduk di dekatnya itu semakin bertambah bingung.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataanmu itu Nanyang, coba kau ceritakan dengan lebih jelas lagi...," pinta pria paruh baya itu sambil menatap lekat keponakan angkatnya.


"Jadi begini, setelah Xian mendapat hukuman dan keluarganya pindah ke Handan akibat aksi korupsinya dilaporkan oleh Tuan Chu Jeong Byun kepada kaisar, pria itu beberapa kali menyuruh dukun Shie untuk mengirimkan teluh pada Tuan Chu. Karena teluh itu tidak mempan pada tuan penasehat kerajaan sebab dia dilindungi oleh kekuatan supranaturalnya roh peri bunga Mei Hwa Lie yang 'terbatas', maka si dukun mengganti sasarannya ke nona Chu Pian Ran dan akhirnya berhasil membuat tubuh nona cantik ini menjadi penyakitan," kata istrinya Lee Jiang Wook.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2