
Setelah kondisi tubuhnya pulih, dengan segera Chu Pian Ran merubah wujudnya menjadi kupu-kupu dan kembali ke wilayah Han. Dalam perjalanannya menuju tempat itu, pikiran nyonya muda Lee sudah campur aduk.
Maka, setelah terbang selama dua hari dua malam, sampailah perempuan itu di mulut kawah gunung dan melihat puluhan peri sedang berjuang dengan segenap kekuatan untuk memperkuat segel yang mengurung iblis jahat Qing Liong.
Sekalipun Chu Pian Ran sadar jika kekuatan supranaturalnya jauh di bawah para peri itu, namun karena dorongan hati nuraninya, perempuan itu pun ikut bergabung membantu para peri itu.
Akhirnya, setelah tujuh hari tujuh malam mengerahkan kekuatan supranatural masing-masing dengan maksimal, para peri pun berhasil memperkuat segel yang mengurung iblis itu.
Begitu usaha mereka berhasil, untuk beberapa saat mereka mengistirahatkan dirinya hingga kondisi tubuh mereka kembali stabil.
Setelah dirasa cukup beristirahat, para peri senior itu pun lalu berkumpul dan saling berbincang. Tak lupa, di kesempatan itu peri Jinfeng Zhui memperkenalkan Chu Pian Ran kepada para peri itu.
Para peri senior itu mengucapkan banyak terimakasih kepada nyonya muda Lee yang bertindak dengan cepat memberitahu peri penguasa hutan Jinfeng jika ada iblis jahat yang akan terlepas dari segelnya sehingga keadaan gawat pun sekarang dapat teratasi.
Mereka semua tidak bisa membayangkan jika tidak ada Chu Pian Ran yang melaporkan kejadian itu, pasti iblis Qing Liong akan lepas dan balas dendam dengan membabi buta yang menimbulkan penderitaan berkepanjangan bagi umat manusia yang lebih parah lagi dari ribuan tahun yang lalu.
Setengah jam kemudian, terlihatlah para peri itu saling berpamitan satu sama lain karena mereka akan kembali ke tempat mereka masing-masing.
Pergerakan yang dilakukan oleh Chu Pian Ran dan para peri itu tak lepas dari pandangan penghuni ibukota Han dan daerah sekitarnya.
Sebagian besar dari mereka memiliki pemikiran jika keadaan genting yang mereka hadapi telah berakhir, karena mereka menyaksikan para peri itu banyak yang pergi meninggalkan mulut kawah gunung. Namun, untuk lebih memastikan keadaan yang sebenarnya, mereka harus tahu informasi yang jelas dari putri angkat kaisar Qin.
Kini, tinggallah peri Jinfeng Zhui dan Chu Pian Ran di mulut kawah gunung itu. Karena peri penguasa hutan Jinfeng itu masih memiliki tanggungan untuk menyembuhkan salah seorang teman perinya yang terluka parah, maka peri itu pun turun dari gunung dan memperlihatkan dirinya kepada manusia setelah sekian lama dia mengurung dirinya di hutan.
Karena peri Jinfeng Zhui tidak ingin menarik perhatian manusia lebih lanjut, maka dengan mengandalkan kekuatan batinnya, peri itu terbang turun dari gunung dan langsung menuju ke rumah tabib yang merawat temannya dengan diikuti nyonya muda Lee.
Setelah peri Jinfeng Zhui menemukan temannya itu, maka dengan segera dia mengangkat tubuh peri itu dan membawanya pergi meninggalkan wilayah Han menggunakan kekuatan supranaturalnya menuju hutan kediamannya.
"Tuan putri, bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya putra mahkota Han Zhuo Jung dengan cemas begitu pemuda itu dan Qin Wu Zhi telah ada di hadapan Chu Pian Ran yang saat itu sedang berdiri di depan klinik si tabib.
"Syukurlah, keadaan bahaya itu telah lewat. Para peri senior berhasil memperkuat segel yang mengurung iblis Qing Liong." Terang nyonya muda Lee.
Betapa leganya Han Zhuo Jung dan Qin Wu Zhi begitu mendengar jawaban dari mulut perempuan cantik itu.
Dengan segera, putra mahkota Han itu memerintahkan salah seorang jenderalnya agar mengerahkan prajurit dan membantu penduduk yang telah disuruh mengungsi kembali ke rumah masing-masing.
Tak berapa lama, berita baik itu pun menyebar dengan cepat di kalangan penduduk ibukota dan sekitarnya.
Tak terbayangkan betapa lega dan senangnya hati mereka begitu tahu keadaan bahaya yang sempat mengancam mereka selama beberapa hari ini telah berakhir.
"Bagaimana keadaanmu Nanyang, apa kau baik-baik saja?" Tanya kakak angkatnya.
"Aku baik-baik saja kak... Oh ya, besok kita langsung pulang ke ibukota Qin saja ya. Kita sudah terlalu lama tinggal di sini." Sahut Chu Pian Ran.
"Baiklah, terserah kau saja. Sebaiknya aku menyuruh dua orang prajurit mendahului kita ke ibukota Qin agar memberi kabar jika kita telah kembali." Kata Qin Wu Zhi.
Nyonya muda Lee dan pangeran keempat kerajaan Qin pun akhirnya kembali ke istana Han. Ketika mereka berdua sampai, banyak penghuni istana Han yang menyambut mereka dan terkhusus kaisar Han Zhuo Lung mengucapkan banyak terimakasihnya atas semua bantuan yang telah diberikan oleh putri angkat kaisar Qin itu.
Malam harinya, tampaklah para prajurit Qin sedang bersiap-siap untuk kepulangan mereka keesokan harinya.
__ADS_1
Setelah sempat olahraga jantung selama beberapa hari, mereka dapat merasakan suasana hidup yang tenang kembali.
Keesokan harinya...
Sebelum matahari terbit, Chu Pian Ran, Qin Wu Zhi dan para prajurit Qin telah naik di atas punggung kuda masing-masing untuk bersiap meninggalkan ibukota Han.
Atas perintah kaisar Han Zhuo Lung, pangeran kedua kaisar Han beserta 500 prajurit Han akan mengantar kepulangan rombongan itu hingga ke perbatasan.
Selama melewati jalanan ibukota Han, para penduduk yang berjajar di tepi kiri kanan jalan membungkukkan sedikit badannya sebagai rasa hormat dan terimakasih mereka pada Chu Pian Ran karena putri angkat kaisar itu memiliki peranan yang sangat besar dalam melepaskan mereka dari ancaman iblis jahat Qing Liong.
Begitu keluar dari gerbang ibukota Han, maka perjalanan panjang rombongan dari Qin pun dimulai.
Untuk mempersingkat waktu agar cepat sampai di ibukota Qin, maka Chu Pian Ran memberlakukan cara yang sama saat mereka berangkat dari ibukota Qin dulu.
Empat hari kemudian, sampailah rombongan besar itu di perbatasan Han. Di tempat itu, selain mereka berpamitan, Han Zhuo Jin juga mengucapkan terimakasihnya sekali lagi atas pertolongan mereka semua, dan pemuda itu berjanji kelak jika ada waktu dia akan berkunjung ke istana Qin.
****
Tiga minggu kemudian, terlihatlah rombongan itu masuk ke ibukota Qin. Sambutan yang diberikan oleh penduduk ibukota Qin saat kepulangan mereka sangatlah berbeda dengan waktu keberangkatan.
Ternyata, dua prajurit yang diutus mendahului mereka ke ibukota Qin oleh Qin Wu Zhi, selain menyampaikan berita kepulangan, mereka berdua juga diutus untuk memberitahu kejadian genting yang dialami selama mereka di wilayah Han. Otomatis, berita itu membuat kaisar Qin Shi Huang sangat terkejut bercampur bangga dengan putri angkatnya itu.
Maka, sang kaisar pun menyuruh dua orang prajurit itu untuk menyebarkan berita besar itu ke seluruh penduduk ibukota agar mereka semua tahu peristiwa besar yang sudah terjadi di wilayah Han. Spontan, kabar itu membuat para penduduk ibukota Qin memberikan sambutan yang meriah saat kepulangan rombongan.
"Hidup tuan putri Nanyang, hidup kerajaan Qin!"
Sorakan seperti itu terdengar berkali-kali disertai dengan gerakan tangan kanan mengepal yang dinaik turunkan oleh penduduk ibukota Qin di sepanjang perjalanan rombongan itu menuju ke istana.
Belasan menit kemudian, begitu mata Lee Chu Mian Yin melihat sosok ibunya sedang duduk di atas punggung kuda, maka bibir mungil gadis cilik itu pun teriak-teriak memanggil ibunya sambil tangan kanannya menunjuk-nunjuk pada perempuan cantik itu.
"Bu buuu, bu buuuu..."
Saat Chu Pian Ran tahu jika putri kecilnya dibawa oleh suaminya untuk melihat rombongan itu lewat, begitu nyonya muda Lee itu hampir dekat dengan mereka berdua, maka perempuan itu pun menjalankan kudanya agak menepi dan berhenti sebentar di hadapan Lee Jiang Wook dan mengangkat tubuh putrinya itu lalu didudukkannya di atas punggung kudanya sambil tangan kanannya memegang pinggang gadis kecil itu.
Bukan main senangnya Lee Chu Mian Yin, karena bukan saja ibu tercintanya pulang namun dia juga diajak naik kuda bersama perempuan cantik itu.
Otomatis, beberapa detik kemudian terdengarlah celotehan yang tidak jelas dari bibir mungilnya itu, yang membuat siapa saja yang mendengarnya merasa gemas.
Setelah mendengar ocehan putri kecilnya yang menggemaskan itu, rasa lelah Chu Pian Ran pun lumayan terobati. Maka pemandangan itu pun membuat pangeran keempat kaisar Qin semakin ingin cepat bertemu dengan istri dan putranya yang telah dia tinggal pergi lebih dari dua bulan.
****
Malam ini, tampaklah Chu Pian Ran sedang memejamkan matanya tertidur lelap sambil memeluk tubuh Lee Chu Mian Yin, yang saat itu matanya masih terbuka lebar sambil menatap lekat pada ibunya yang sangat dirindukannya.
Sesekali tangan kanan gadis cilik itu mengelus pipi kanan perempuan cantik itu dan bibir mungilnya menciumi wajah ibunya.
Sementara itu, Lee Jiang Wook terlihat memeluk pinggang istrinya dari arah belakang sambil bibirnya menciumi pipi kanan istrinya dengan rasa sayang.
Karena terlalu lelahnya Chu Pian Ran, perempuan itu sama sekali tidak bereaksi mendapatkan perlakuan seperti itu dari suami dan putrinya.
__ADS_1
Keesokan paginya hingga matahari terbit, nyonya muda Lee masih tampak tertidur dengan pulasnya.
Maka, Lee Jiang Wook pun seperti biasa akan memandikan Lee Chu Mian Yin karena sudah sedari tadi putri kecilnya itu terbangun. Seolah mengerti jika ibunya kelelahan setelah pergi dalam waktu yang lumayan lama, pagi tadi saat matanya terbuka, gadis cilik itu tidak mengganggu tidur nyenyak ibunya.
Beberapa menit setelah ayah muda itu selesai memandikan Lee Chu Mian Yin, masuklah nyonya Lee ke dalam kamar dan melihat menantunya itu masih tidur dengan pulasnya.
Karena tahu jika perempuan cantik itu pasti sangat lelah, maka wanita paruh baya itu tidak ingin mengganggu acara tidurnya Chu Pian Ran. Tak berapa lama, nyonya Lee pun mengambil cucunya dari tangan ayahnya agar putranya itu bisa mandi dan melakukan aktifitasnya.
Satu jam kemudian, tampaklah tuan dan nyonya Lee, Lee Jiang Wook serta putri kecilnya sedang sarapan bersama di ruang makan tanpa Chu Pian Ran.
Seperti biasa, wanita paruh baya itu akan mengambil alih tugas menantunya untuk menyuapi Lee Chu Mian Yin.
Karena hari ini ada pekerjaan penting di toko perhiasan, maka ayah muda itu menyerahkan putri kecilnya pada ibunya. Sementara, tuan Lee juga bersiap akan berangkat ke istana untuk menghadiri persidangan rutin.
Setelah kepergian suami dan putrinya, maka nyonya Lee mengajak cucunya bermain di taman yang di situ ditumbuhi beberapa tanaman bunga beraneka warna.
Seperti biasa, begitu gadis kecil itu berada di taman itu, beberapa ekor kupu-kupu yang saat itu sedang beterbangan, tanpa dikomando, binatang bersayap itu akan mengerumuni Lee Chu Mian Yin hingga puluhan menit.
Saat pertama kali melihat pemandangan itu, nyonya Lee sempat dibuat keheranan. Namun, setelah terulang beberapa kali, wanita paruh baya itu menjadi terbiasa.
"Nyek bu bu..." Oceh cucunya begitu kupu-kupu itu kembali terbang ke taman sambil tangan kanannya menunjuk ke arah kamar.
"Ibumu masih tidur nyenyak sayang..." Sahut nyonya Lee.
"Bu bu, na na..." Lanjut bibir mungil Lee Chu Mian Yin.
Tak berapa lama, kaki mungil gadis cilik itu pun melangkah menuju ke arah kamar dengan maksud ingin melihat ibunya, diikuti oleh neneknya yang ada di belakangnya.
Sesampainya di kamar, mata Lee Chu Mian Yin masih melihat tubuh ibunya berbaring tak bergerak di atas ranjang. Beberapa detik kemudian, gadis cilik itu pun mendekat di tepi ranjang dan berusaha untuk naik ke atas ranjang itu.
Nyonya Lee yang tanggap jika cucunya ingin melihat ibunya dari jarak dekat, maka wanita paruh baya itu pun mengangkat tubuh gadis cilik itu dan mendudukkannya di samping ibunya yang sedang tertidur. Sementara, nyonya Lee duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah menantu dan cucunya secara bergantian.
Untuk beberapa saat, mata jernih Lee Chu Mian Yin menatap lekat ibunya yang diam tak bergerak dengan tarikan napas yang teratur dari hidung perempuan cantik itu. Tak berapa lama, jari telunjuknya pun disentuh-sentuhkannya di salah satu pipi ibunya.
Melihat tingkah cucunya yang menggemaskan itu, neneknya pun tersenyum.
Beberapa detik kemudian, mata Chu Pian Ran pun terbuka oleh sentuhan tangan mungil putrinya.
"Halo cantiknya ibu..." Ucap nyonya muda Lee dengan suara yang lesu karena tubuhnya masih terasa lelah dan mengantuk.
"Bu bu, yit yit..." Ucap bibir mungil Lee Chu Mian Yin.
Untuk sesaat perempuan cantik itu pun berpikir. Semenjak putri kecilnya diajak ke markas besar prajurit untuk pertama kali, Lee Chu Mian Yin terlihat seperti ada ketertarikan dengan para prajurit itu.
"Yin Er ingin melihat prajurit?" Tanya Chu Pian Rian.
"Ya, yit yit, na na..." Sahut gadis cilik itu sambil tangan kanannya menunjuk ke arah luar.
"Besok ya sayang, hari ini ibu masih lelah dan ngantuk." Lanjut perempuan cantik itu.
__ADS_1
Seolah mengerti dengan ucapan ibunya, maka gadis kecil itu pun tidak mengucapkan kata 'yit yit' lagi.