Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 81 Rong Hya Membantu Chu Pian Ran Melawan Iblis


__ADS_3

Dengan diam-diam, kupu-kupu itu mengubah wujudnya menjadi manusia kembali dan dengan segera terbang turun di depan iblis itu.


Melihat ada yang datang secara tiba-tiba, iblis itu pun terkejut lalu matanya nyalang melotot pada Chu Pian Ran.


"Rupanya kau yang sudah membunuh 11 pemuda itu iblis peyot terkutuk!" Ucap Chu Pian Ran dengan volume suara agak tinggi.


"Memangnya kenapa?! Dan apa urusanmu denganku ha?! Kau juga ingin setor nyawa?!" Jawab si iblis ketus dengan suaranya yang serak.


Tanpa banyak bicara lagi, Chu Pian Ran melesat maju dan menyerang iblis itu.


Pertarungan sengit pun dimulai.


Kedua makhluk beda dunia itu bertempur dengan segenap kekuatannya. Mulai dari saling hantam, pukul, tendang dan melepaskan berkas-berkas cahaya dari kedua telapak tangan masing-masing yang menimbulkan suara-suara menggelegar.


Dua jam sudah dua makhluk itu bertarung dan dua-duanya masih seimbang.


Tak berapa lama, tiba-tiba muncullah sosok pria bercadar dengan melepaskan cahaya merah dari telapak tangannya ke tubuh iblis itu.


Karena tidak menyangka akan mendapatkan serangan dari kubu lain, tubuh iblis itu terhempas ke belakang hingga beberapa meter lalu dia pun muntah darah.


Chu Pian Ran yang melihat kedatangan pria bercadar yang secara tiba-tiba itu merasa heran dan penasaran.


Kini pria itu sudah berdiri di samping perempuan itu.


"Ayo kita kalahkan dia bersama-sama." Ajak pria bercadar itu.


Beberapa saat kemudian, keduanya menyerang iblis itu dengan membabi buta. Iblis itu pun mulai merasa kewalahan.


Tanpa memberi jeda sedikitpun serangan-serangan sengit diarahkan pada iblis betina itu, dan akhirnya seperti memiliki insting yang sama keduanya mengarahkan cahaya dari masing-masing kedua telapak tangan mereka lalu diarahkan pada tubuh iblis itu.


Alhasil, tubuh iblis itu terpental jauh, menghantam batang pohon lalu memuntahkan darah.


Tak berhenti sampai di situ, cahaya putih milik Chu Pian Ran berhasil membakar tubuh iblis itu hingga membuat si iblis berteriak-teriak kesakitan.


Lima belas menit kemudian musnahlah sosok iblis itu, hilang tak berbekas.


Beberapa saat kemudian, pria itu melepas cadarnya dan terlihatlah sosok itu adalah Rong Hya, siluman serigala dari hutan Jinfeng.


"Siapa kau? Bagaimana bisa kau muncul di sini secara tiba-tiba dan membantuku?" Akhirnya perempuan bertopeng itu mengungkapkan rasa keingintahuannya yang sudah ditahannya sedari tadi.


"Perkenalkan nyonya muda Lee, aku adalah Rong Hya, siluman serigala dari hutan Jinfeng." Pemuda itu memperkenalkan dirinya sambil membungkukkan badan.


Chu Pian Ran sempat terkejut karena pemuda itu mengenalnya.


"Kau mengenalku?" Tanya perempuan itu.


"Iya, aku mengenalmu sejak kau datang ke hutan Jinfeng dan menemui peri Jinfeng Zhui." Terang Rong Hya.


Alis Chu Pian Ran sedikit berkerut. Perempuan itu masih penasaran bagaimana pemuda itu bisa mengenalnya dan bagaimana bisa sampai di tempat ini.


Siluman serigala itu tahu jika perempuan bertopeng yang ada di depannya itu masih memiliki pertanyaan dalam dirinya.


"Aku dan peri bunga Mei Hwa Lie sudah lama berteman. Selama dekat dengannya, aku sudah hapal bagaimana aroma tubuh peri itu. Saat kau datang ke hutan Jinfeng, secara kebetulan aku sedang jalan-jalan dan tidak sengaja mencium aroma tubuh yang dimiliki oleh peri Mei Hwa Lie. Karena penasaran aku mencari sumber aroma itu dan ternyata itu berasal dari tubuhmu." Jelas Rong Hya.


"Sejak saat itulah aku mengikutimu untuk memastikan apakah kau adalah reinkarnasi dari peri bunga Mei Hwa Lie. Dan sekarang aku menjadi yakin jika kau adalah reinkarnasinya." Tambah siluman serigala itu.


"Benarkah yang kau ceritakan itu? Atau kau hanya mengarang-ngarang cerita saja?" Tanya Chu Pian Ran ragu.


"Aku tidak berbohong nyonya muda Lee, bahkan peri Jinfeng Zhui juga mengenalku dan tahu jika aku berteman dengan peri Mei Hwa Lie." Kata Rong Hya.


"Jadi benarkan kalau kau adalah reinkarnasi dari peri Mei Hwa Lie? Jika demikian aku merasa senang. Semasa hidupnya, peri itu banyak membantu manusia hingga suatu saat jiwanya musnah ketika melawan beberapa anggota suku iblis bersama peri Jinfeng Zhui. Sayang sekali saat itu aku tidak bisa membantu mereka karena harus bermeditasi panjang seperti kebiasaan yang harus kami lakukan para bangsa siluman serigala." Lanjut pemuda itu.


"Terimakasih kau sudah membantuku untuk mengalahkan iblis terkutuk itu, dan aku sebenarnya bukanlah reinkarnasi dari peri Mei Hwa Lie. Kata peri Jinfeng Zhui aku hanya sebagai inangnya peri itu." Ujar perempuan bertopeng itu.


"Inang? Apa maksudnya?" Tanya Rong Hya kurang paham.


"Maksudnya adalah menumpang di ragaku dan itu tidak tahu sampai kapan." Balas Chu Pian Ran.


"Jadi seperti itu... Lalu, bisakah kita berteman? Siapa tahu jika kau menghadapi masalah seperti ini aku juga bisa membantumu." Ucap siluman serigala itu penuh harap.

__ADS_1


"Boleh saja kau berteman denganku, tapi kau tahu jelas jika aku sudah menikah." Sahut perempuan itu.


Rong Hya pun tersenyum tipis.


"Kau jangan khawatir nyonya muda Lee, aku tahu batasanku. Meskipun sudah terlambat, aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian. Suamimu sungguh beruntung mendapatkanmu." Kata siluman serigala itu.


"Lalu kapan kita ada waktu untuk berbincang bersama?" Lanjut Rong Hya.


"Aku belum tahu pasti, mungkin di ibukota nanti kita bisa bertemu lagi." Jawab Chu Pian Ran.


"Baiklah, kalau begitu aku undur diri dulu nyonya muda Lee, sampai bertemu di ibukota..."


Setelah berkata demikian, pemuda itu melesat terbang menjauh dari tempat itu.


Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun juga meninggalkan tempat itu menggunakan ilmu peringan tubuhnya menuju pemukiman penduduk.


Karena merasa lapar dan haus setelah bertarung selama beberapa jam dengan iblis, perempuan itu pun mampir di sebuah warung mie kuah dan langsung memesannya.


Kebetulan saat itu ada seorang prajurit yang sedang berpatroli dan mendapati putri angkat kaisar itu sedang duduk di sebuah warung mie.


Tak menunggu lama, prajurit itu segera melaporkan hal tersebut pada Qin Wu Zhu.


Dengan segera pemuda itu pergi ke warung yang dimaksud dengan diantar prajurit itu.


Setelah dua puluh menit, terlihatlah Chu Pian Ran sedang makan mie kuah untuk yang kedua kalinya.


"Aku pikir kau masih di kamar melanjutkan meditasimu, rupanya kau sudah ada di sini." Ucap Qin Wu Zhu setelah duduk di samping perempuan bertopeng itu.


"Masalahnya sudah selesai, iblis peyot itu sudah musnah." Kata Chu Pian Ran sambil terus makan mie nya.


"Benarkah? Kenapa kau sering tidak memberitahu dulu sebelum bertindak? Bagaimana jika kau terluka dan tidak ada orang lain yang bersamamu?" Tanya pemuda itu dengan sedikit menceramahinya.


Qin Wu Zhu masih ingat betul dengan kejadian di Qianzhong yang membuat perempuan di sampingnya itu terluka parah hingga koma selama 3 bulan.


"Untungnya tadi ada yang membantuku, jadi aku baik-baik saja sekarang." Jelas Chu Pian Ran.


"Siapa yang sudah membantumu?" Lanjut Qin Wu Zhu.


"Jangan sembarangan berkenalan dengan orang asing, jangan-jangan dia punya niat tidak baik dengan membantumu tadi." Pemuda itu memberi sedikit nasehat lagi pada adik angkatnya itu.


"Paman, mie nya tambah 1 mangkuk lagi ya!" Seru Chu Pian Ran tanpa menggubris kata-kata Qin Wu Zhu barusan.


"Siap tuan putri." Jawab pria yang cukup berumur itu sambil sedikit membungkukkan badannya.


Pemuda itu hanya bisa memperhatikan tingkah adik angkatnya itu dengan perasaan sedikit jengah.


Beberapa detik kemudian terlihatlah perempuan itu mengambil dua koin emas dari saku bajunya.


"Simpan saja uangmu kembali, biar aku yang bayar." Kata Qin Wu Zhu.


"Kebetulan sekali... Terimakasih kakakku yang tampan dan baik." Balas Chu Pian Ran sambil memasukkan kembali koin emasnya di saku bajunya.


Beberapa saat kemudian pesanan yang ketiga kali perempuan itu diantar oleh pemilik warung.


"Paman ini bayaran mie dan tehnya, ambil saja kembaliannya." Ujar Qin Wu Zhu sambil menyodorkan dua koin emas pada pria itu.


"Tidak usah yang mulia pangeran, untuk makan dan minum tuan putri hamba gratiskan..." Balas pria itu.


"Aduh paman, mana bisa seperti itu, jika semua digratiskan paman bisa rugi..."


Setelah berkata demikian, Chu Pian Ran langsung mengambil dua koin emas itu dari tangan Qin Wu Zhu.


Sambil berdiri lalu perempuan itu berkata pada pemilik warung itu.


"Paman tidak perlu sungkan, ini sudah menjadi hak paman..." Kata Chu Pian Ran pelan dengan langsung meletakkan dua koin emas itu di telapak tangan pria berumur itu.


"Terimakasih banyak tuan putri, yang mulia pangeran..." Ucap pemilik warung sambil membungkukkan badannya.


"Paman tidak perlu berterimakasih... Kami tulus memberikannya." Lanjut perempuan bertopeng itu.

__ADS_1


****


Sekembalinya dari warung mie, Chu Pian Ran langsung masuk ke ruangan yang pernah dia pakai untuk meditasi dan mulailah dia tidur nyenyak.


Sementara itu, Qin Wu Zhu menyampaikan kabar musnahnya iblis pelaku pembunuhan kepada Guang Chun.


Dengan segera, kepala biro keamanan itu memerintahkan asisten pribadinya untuk mengumumkan hal tersebut kepada semua penduduk desa Dong Shan.


Kini, semua penduduk desa Dong Shan sudah bisa bernapas lega dan tidak dibayang-bayangi ketakutan lagi karena biang pembuat masalah alias si pembunuh telah dihabisi.


Keesokan harinya, sebagai wujud belasungkawa atas kematian ke 11 pemuda itu, Qin Wu Zhu mewakili pihak istana Qin mengunjungi satu-persatu kediaman anggota keluarga korban dan memberikan mereka uang koin emas sebanyak 20 keping per masing-masing keluarga sebagai kompensasi.


Pada kesempatan itu, Guang Chun dan Lu Zee turut menemani pemuda itu.


Dua hari telah berlalu sejak Chu Pian Ran tidur sepulang dari warung mie, dan sampai saat ini belum bangun juga.


Karena sudah diberi pesan dulu sebelumnya, maka Qin Wu Zhu atau lainnya tidak berani mengganggu acara tidurnya perempuan itu.


Rupanya pada tengah hari, keluarlah sosok Chu Pian Ran dari ruangan itu dan langsung menemui Qin Wu Zhu agar pemuda itu menyiapkan makanan untuknya.


Sementara makanan itu tersedia, perempuan itu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sekaligus berganti pakaian.


Kini, Chu Pian Ran sedang makan dengan lahap dengan ditemani Qin Wu Zhu.


"Bagaimana keadaan penduduk desa Dong Shan sekarang?" Tanya perempuan itu sambil mulutnya mengunyah makanan.


"Mereka sudah bisa hidup tenang kembali. Dan sesuai pesan ayah, aku juga sudah berkeliling kepada semua anggota keluarga korban untuk menyampaikan rasa belasungkawa serta memberikan uang kompensasi sebanyak 20 koin emas per masing-masing keluarga." Terang pemuda itu.


"Baguslah kalau begitu... Setelah ini kita langsung pulang ke ibukota saja." Sambung Chu Pian Ran.


"Apa tidak sekalian besok pagi saja?" Ucap Qin Wu Zhu.


"Jika kelamaan nanti suamiku tercinta bisa khawatir bahkan tidak bisa tidur tenang." Kata perempuan itu dengan sengaja menambahkan kata 'tercinta' pada kalimatnya untuk memancing reaksi pemuda yang sedang duduk di seberangnya itu.


Dari luar Qin Wu Zhu tidak menunjukkan reaksi sama sekali, namun dalam hatinya dia merasa agak sedih.


"Ya sudahlah terserah kau saja... Kalau begitu aku akan memberitahu yang lain agar mereka bersiap-siap." Lanjut pemuda itu.


Satu jam kemudian, berangkatlah rombongan itu untuk kembali pulang ke ibukota Qin.


Sesuai kemauan Chu Pian Ran, mereka berkuda terus tanpa henti hingga tiba di depan istana sebelum matahari terbenam.


Setelah menghadap ayah angkatnya untuk memberi laporan dan berbincang sebentar, perempuan itu langsung menuju kamarnya untuk mandi sebersih-bersihnya dan mengganti pakaiannya.


Kini, kupu-kupu jelmaan Chu Pian Ran sudah berada di kediamannya.


Dengan diam-diam dia berusaha mencari suaminya untuk memberi kejutan.


Rupanya saat ini suami tercintanya sedang berada di ruang kerja untuk memeriksa laporan keuangan.


Tanpa sepengetahuan pemuda itu, si kupu-kupu merubah wujud menjadi manusia kembali di belakang punggung Lee Jiang Wook dan secara tiba-tiba kedua telapak tangannya menutup kedua mata pemuda itu. Tak ayal sikapnya itu membuat suaminya lumayan terkejut.


"Sayang, kau kah ini?" Tanya suaminya sambil tangan kanannya memegang telapak tangan yang masih menutup matanya itu.


"Bukan, aku adalah seorang penyihir yang akan mengubahmu menjadi katak, hi hi hi hi..." Jawab Chu Pian Ran dengan mengubah suaranya layaknya suara nenek sihir.


Dengan segera Lee membalikkan badannya dan terlihatlah wajah cantik istri tercintanya.


Tak lama kemudian, Chu Pian Ran melompat pada tubuh suaminya hingga posisinya dalam keadaan seperti digendong.


Kedua tangan kekar suaminya pun menopang pantat istrinya agar tubuh perempuan itu tidak merosot ke bawah.


"Suamiku, apakah kau merindukanku?" Tanya perempuan itu sambil merangkul leher pemuda itu.


"Bukan hanya rindu tapi juga khawatir jika kau kenapa-kenapa sayang." Jawab Lee.


"Aku baik-baik saja suamiku... Maaf waktu berangkat kemarin aku tidak bisa berpamitan langsung padamu karena keadaannya memang sedang gawat." Jelas istrinya.


"Kau tidak perlu minta maaf sayang, yang penting sekarang kau sudah kembali dengan selamat dan sehat..." Ucap Lee.

__ADS_1


Tak berapa lama Chu Pian Ran pun mencium lembut bibir suaminya itu. Maka terlihatlah pasangan suami istri itu saling berciuman mesra selama puluhan menit untuk melepaskan rasa rindunya.


__ADS_2