Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 82 Kehamilan Chu Pian Ran


__ADS_3

"Sebaiknya kau segera menemui ayah ibu sayang, agar mereka merasa lega karena kau telah pulang dalam keadaan selamat." Lee mengingatkan istrinya begitu mereka selesai berciuman.


Chu Pian Ran mengangguk lalu perempuan itu turun dari gendongan suaminya.


Pasangan suami istri itu kemudian keluar dari ruang kerja tersebut sambil bergandengan tangan menuju tempat tuan dan nyonya Chu berada.


Rupanya malam itu kedua orang tua Chu Pian Ran sedang sibuk di ruang kerja ayahnya.


"Ayah ibu, aku sudah pulang..." Seru Chu Pian Ran saat melewati ambang pintu ruang kerja ayahnya.


Begitu mendengar suara putrinya, dengan segera nyonya Chu bangkit dari tempat duduknya, menghampiri putrinya dan memeluknya dengan erat.


Sementara itu, tuan Chu menghentikan pekerjaannya lalu melihat pemandangan mengharukan yang ada di depannya.


Beberapa menit kemudian wanita paruh baya itu pun melepaskan pelukannya.


"Kamu sehat-sehat saja kan sayang?" Tanya ibunya sambil memegang kedua bahu putrinya.


"Aku sehat bu, hanya saja sekarang perutku keroncongan. Selama 4 hari 4 malam aku terus berkuda tanpa henti, jadi tidak ada waktu untuk makan dan minum..." Jawab Chu Pian Ran terus terang.


Mendengar perkataan istrinya Lee pun lumayan terkejut karena saat di ruang kerjanya tadi perempuan itu tidak mengungkit masalah ini. Dipikirnya sang istri sudah makan di istana, namun ternyata perempuan itu sekarang malah mengaku kelaparan.


"Ya ampun sayaaang, kenapa kamu jadi suka terlambat makan seperti itu, lambungmu nanti kan bisa sakit... Ya sudah, kalau begitu ibu akan meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam secepatnya."


Tak menunggu lama, wanita paruh baya itu meninggalkan ruang kerja suaminya dengan langkah cepat lalu mencari pelayan agar segera menyiapkan makan malam.


"Duduklah nak..." Ucap tuan Chu pada putrinya.


Chu Pian Ran menuruti kata ayahnya dengan duduk di kursi bekas diduduki oleh ibunya tadi, sementara suaminya duduk di kursi yang tak jauh dari istrinya.


"Bagaimana urusanmu di Dong Shan? Apakah sudah beres? Sebenarnya ada masalah apa di sana hingga terjadi pembunuhan beruntun seperti itu?" Tanya ayahnya penasaran.


"Masalah di desa Dong Shan sudah beres ayah. Sebenarnya semua itu disebabkan karena seorang iblis tua yang menghisap hawa murni pemuda yang masih perjaka agar dia kembali muda dan cantik." Terang Chu Pian Ran.


Sontak penuturan perempuan itu membuat ayahnya dan suaminya terkejut.


"Benarkah itu sayang?" Tanya Lee.


"Benar suamiku. Sebelum aku menghadapi iblis itu, sudah ada 11 pemuda yang menjadi korbannya." Lanjut istrinya.


Untuk beberapa menit ruangan itu menjadi hening.


"Di alam semesta yang luas ini memang menyimpan banyak kejadian-kejadian tak masuk akal, termasuk keberadaan makhluk tak kasat mata yang suka mencelakai manusia." Ucap pria paruh baya itu.


"Aku merasa kasihan kepada anggota keluarga korban itu, apalagi jika korbannya adalah anak mereka satu-satunya... Untunglah iblis peyot terkutuk itu berhasil dimusnahkan, jika tidak pasti banyak korban berjatuhan." Sambung Chu Pian Ran.


"Saat kau bertarung dengannya kau tidak terluka kan sayang?" Sela suaminya.


"Aku tidak terluka sama sekali suamiku... Untungnya waktu itu ada yang membantuku, sehingga iblis itu dapat dimusnahkan dalam waktu yang cepat." Balas perempuan itu.


"Pangeran Qin Wu Zhu?" Lee mencoba menebak.


"Bukan... Namanya Rong Hya, dia golongan dari siluman serigala." Sahut istrinya.


Sebenarnya pemuda itu ingin bertanya tentang Rong Hya lebih detail lagi pada istrinya, namun Lee merasa sungkan pada ayah mertuanya.


Empat puluh lima menit kemudian, ke empat orang itu makan malam bersama. Sesudahnya, Chu Pian Ran ijin undur diri karena matanya sudah terasa berat.


Saat ini, terlihatlah Lee Jiang Wook sedang menatap wajah cantik istrinya yang sudah tertidur lelap itu.


Hampir dua minggu, pemuda itu tidak bertemu dengan istrinya sehingga dia harus menahan rasa rindu. Maka dari itu, malam ini Lee betah melihat wajah cantik istrinya hingga setengah jam lebih.


Setelahnya, menyusullah pemuda itu tidur di samping istrinya dengan tangan kanan memeluk pinggang ramping Chu Pian Ran.


21+


Dini hari, terasalah oleh Chu Pian Ran bahwa dadanya sedang disentuh-sentuh.


Dengan mata yang masih berat, perempuan itu terpaksa membuka matanya.


Setelah mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali terlihatlah olehnya suaminya sedang mencium dan menjilatinya gundukan miliknya yang sebelah kanan.


"Suamiku..." Kata Chu Pian Ran dengan suara pelan dan serak karena baru bangun tidur dengan terpaksa.


Mendengar suara istrinya, Lee menghentikan aktifitasnya tadi lalu mendekatkan wajahnya di dekat wajah cantik istrinya.

__ADS_1


"Kau terbangun sayang?... Maaf ya, aku sudah tidak kuat menahan hasratku untuk bercinta denganmu. Apakah aku boleh memintanya sayang?" Ucap pemuda tampan itu dengan penuh harap.


Chu Pian Ran pun mengangguk saja. Dalam keadaan sedikit sadar perempuan itu teringat jika suaminya sudah dia tinggal pergi hampir dua minggu. Maka diapun setuju saja saat suaminya minta jatah pada saat ini.


Tak berapa lama, kedua mata suami istri itu saling menatap lekat hingga lebih dari sepuluh menit. Sementara, tangan kanan Lee sedang memijit-mijit pelan gundukan sebelah kanan milik istrinya dan memainkan puncaknya.


Beberapa saat kemudian, terlihatlah mereka berdua saling berciuman lembut hingga beberapa menit.


Selesai berciuman, kedua tangan kanan pemuda itu melepas pakaian atas istrinya.


Dan setelahnya, mulailah Lee memberikan ciuman dan jilatan pada tubuh atas istri tercintanya.


Seperti yang biasa dia lakukan, pada saat di gundukan kembar milik istrinya, dia akan melakukan hisapan pada puncaknya.


Agar istrinya semakin tersadar dari rasa kantuk yang masih menderanya, maka pemuda itu menghisap puncak istrinya dengan lumayan kuat.


Lebih dari setengah jam Lee menghabiskan waktunya untuk menghisap dua puncak itu.


Sesudahnya, pemuda itu melepas pakaian bawah istrinya pelan-pelan, hingga saat ini tubuh perempuan cantik itu benar-benar polos.


Lee lalu gantian melepas semua pakaian miliknya hingga tubuhnya sama-sama polos seperti istrinya.


Tanpa persetujuan istrinya, pemuda itu pun mulai melakukan pembasahan dengan pelan-pelan.


Alhasil, semakin terbukalah kedua mata Chu Pian Ran dan perempuan itu hampir sadar sepenuhnya.


Tak menunggu lama, dengan pelan namun pasti, Lee memasukkan kejantanannya sedikit demi sedikit di liang sempit istri tercintanya. Mulailah terdengar desisan pelan dari mulut perempuan itu.


Beberapa menit kemudian, masuklah kejantanan pemuda itu secara penuh di organ inti istrinya.


Lee kemudian menyilangkan kedua tangannya di bawah kepala istrinya. Dengan kedua kakinya dia menopang tubuhnya yang saat itu sudah ada di atas tubuh perempuan itu.


Sebelum melakukan pergerakan di bawah sana, pemuda tampan itu menatap lekat mata istri tercintanya.


Dengan kedua tangan memeluk suaminya, Chu Pian Ran juga menatap lekat mata Lee.


Melalui tatapan mata itulah terasa aliran-aliran cinta sedang mengairi hati mereka berdua.


Tak berapa lama suami istri itu pun kembali berciuman lembut dengan intimnya.


Beberapa saat kemudian terdengarlah lenguhan pelan dan teratur dari bibir istrinya.


Kedua insan itu pun benar-benar menikmati pergerakan itu selama puluhan menit, hingga keluarlah benih cinta milik pemuda itu di rahim istrinya.


Untuk beberapa saat istirahatlah mereka hingga merasa pulih.


"Sayang, aku sangat mencintaimu..." Kata Lee pelan dengan wajahnya di atas wajah istrinya.


"Aku juga sangat mencintaimu suamiku..." Balas Chu Pian Ran.


Beberapa menit ke depan pasangan suami istri itu hanya saling bertatapan mata dengan perasaan cinta.


Selama puluhan menit itu Lee sengaja tidak melepas kejantanannya dari organ inti istrinya. Bahkan mereka berdua kembali tidur hingga keesokan paginya dalam keadaan seperti itu.


Pagi harinya...


Lee Jiang Wook baru terbangun dari tidurnya setelah matahari terbit.


Pemuda itu teringat jika pagi ini ada urusan penting yang harus dia kerjakan di toko perhiasan milik ayahnya.


Dengan pelan-pelan, Lee mencabut miliknya dari organ inti istrinya, mencium kening istrinya dan menutup tubuh polos istrinya dengan selimut hingga sebatas leher kemudian turunlah pemuda itu dari ranjang.


Setelah memunguti pakaiannya dan pakaian istrinya, masuklah Lee ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Hingga pemuda itu selesai menata rambut, Chu Pian Ran masih tertidur dengan pulasnya karena perempuan itu memang sangat mengantuk dan kelelahan sepulang dari Dong Shan ditambah lagi dia juga habis bercinta dengan suaminya.


Setelah sarapan sendirian, maka pemuda itu segera mencari keberadaan mertuanya untuk berpamitan.


Beberapa saat kemudian terlihatlah Lee keluar dari kediaman Chu dengan membawa buntelan kain berisi buku catatan keuangan.


Setengah jam kemudian terlihatlah nyonya Chu masuk dalam kamar putrinya.


Wanita paruh baya itu mendapati putrinya masih tertidur dengan pulasnya.


Nyonya Chu lalu duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan wajah cantik putrinya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, tangan kanan Chu Pian Ran muncul dari balik selimut lalu meraba-raba samping kanannya dengan maksud untuk menyentuh tubuh suaminya dengan mata yang masih tertutup.


Tak berapa lama terbukalah mata perempuan itu, lalu terlihatlah sosok ibunya sudah duduk di tepi ranjangnya.


"Selamat pagi sayang, bagaimana dengan tidurmu semalam?" Tanya ibunya lembut dengan mulut tersenyum.


"Suamiku mana bu?" Bukannya menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu, Chu Pian Ran malah balik bertanya.


"Sudah setengah jam yang lalu dia pergi ke toko perhiasan, katanya ada urusan penting yang harus dia kerjakan di sana." Sahut nyonya Chu.


Tanpa sadar jika tubuhnya masih polos, Chu Pian Ran pun melipat separuh selimutnya hingga terlihatlah bagian atas tubuhnya oleh ibunya.


Melihat itu dengan segera nyonya Chu menutup tubuh putrinya kembali. Chu Pian Ran hanya tersenyum tipis pada wanita paruh baya itu.


"Kemarin kau bercinta dengan suamimu?" Lanjut ibunya.


"Bukan kemarin bu, tapi tadi pagi." Jawab perempuan muda itu jujur.


"Kau tidak ingin secepatnya punya anak sayang? Rasanya ibu sudah ingin punya cucu." Sambung wanita paruh baya itu.


Selama ini nyonya Chu tahu jelas jika putrinya rutin minum obat anti hamil.


"Sebenarnya ingin bu, hanya saja kalau aku hamil lalu ada kasus penting yang terjadi aku belum tahu bagaimana cara mengatasinya. Aku kasihan saja kalau misalnya harus membawa calon anak dalam kandunganku bepergian jauh." Jelas putrinya itu.


Wanita paruh baya itu tidak mengungkit masalah itu lagi jika anaknya sudah berkata demikian.


Tiga minggu kemudian...


Saat ini, Lee Jiang Wook dan istrinya sedang berada di ruang kerjanya untuk memeriksa buku keuangan.


Sudah sejak 3 hari yang lalu mereka giliran menginap di kediaman Lee.


Saat sedang serius memeriksa buku keuangan itu, tiba-tiba saja Chu Pian Ran merasa ada sesuatu dalam perutnya. Tanpa sadar perempuan cantik itu menempelkan telapak tangannya pada perutnya sambil memejamkan matanya.


Tak ayal sikap aneh Chu Pian Ran membuat suaminya heran.


"Kau kenapa sayang, sakit perut?" Tanya Lee dengan masih duduk di kursinya yang berjarak dua meter dari istrinya.


Karena perempuan itu tidak menjawab, Lee pun bangkit dari tempat duduknya lalu mendekati istrinya.


"Sayang kau kenapa?" Pemuda itu mengulang pertanyaannya dengan rasa cemas.


Lee berjongkok di samping kiri istrinya sambil tangan kanannya memegang sandaran kursi yang diduduki istrinya.


Tak berapa lama Chu Pian Ran membuka matanya lalu menatap lekat suaminya untuk beberapa detik.


"Aku hamil suamiku..." Balas istrinya pelan.


Begitu mendengar jawaban istrinya, Lee pun terkejut.


"Kau hamil? Benarkah itu?" Tanya pemuda itu masih tidak percaya.


"Bagaimana jika kau memanggil tabib saja agar kita semua yakin." Lanjut Chu Pian Ran.


Tanpa banyak bicara Lee pun segera keluar dari ruangan itu untuk mencari pelayan dan memerintahkan pelayan itu agar memanggil tabib langganan keluarganya secepatnya.


Setelahnya, pemuda itu kembali ke ruang kerjanya, menggeser kursinya agar lebih dekat dengan istrinya lalu dia pun duduk sambil menatap lekat istrinya.


"Sayang, apakah yang kau katakan itu benar?" Tanya Lee memastikan pernyataan istrinya.


"Menurut penerawanganku begitu." Sahut Chu Pian Ran dengan juga menatap mata suaminya.


"Awalnya aku memang belum menginginkan seorang anak, tapi karena ini sudah terjadi maka aku harus tulus menerimanya. Aku akan merawat anak kita dengan segenap jiwa dan raga." Lanjut perempuan itu sambil masih memegang perutnya.


Lee menjadi terharu dengan penuturannya itu. Pemuda itu sempat takut jika istrinya akan menggugurkan kandungannya karena belum siap untuk memiliki anak.


Lima belas menit kemudian datanglah tabib langganan keluarga Lee.


Seperti yang dikatakan oleh Chu Pian Ran, tabib itu pun juga mengatakan jika nyonya muda itu sedang mengandung satu pekan. Jangan ditanya betapa senangnya Lee saat itu.


Sepulangnya tabib tadi, berita tentang kehamilan Chu Pian Ran pun tersebar dengan cepat.


Tak beda dengan Lee, reaksi ibu mertuanya pun senangnya bukan main. Para pelayan di kediaman Lee juga menyambut kabar itu dengan gembira.


Dengan segera, Lee meminta seorang pelayannya untuk menyampaikan berita bahagia itu pada tuan dan nyonya Chu.

__ADS_1


Kebetulan saat ini keberadaan tuan Lee sedang menghadiri pertemuan rutin di istana, jadi pria paruh baya itu belum mendengar kabar jika menantunya sedang hamil.


__ADS_2