
Sementara itu, di suatu gua yang sangat dalam dan gelap gulita, terlihatlah Qing Liong sedang tergeletak dalam keadaan sekarat dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat terkena serangan cahaya putih milik Chu Pian Ran.
Namanya saja juga iblis, sekalipun kondisinya sudah seperti itu, Qing Liong masih bisa mengutuk, mengucapkan sumpah serapah dan maki-makian dari dalam hatinya kepada perempuan yang telah membuatnya tidak berdaya.
Qing Liong bertekad dalam hati, jika kelak dirinya pulih dan kekuatan supranaturalnya di level yang tinggi, dia akan membalaskan dendamnya pada Chu Pian Ran ataupun keluarganya.
🌹
Sejak roh Chu Pian Ran musnah, Zhin Zhuan lah yang menggantikan mendiang nyonya muda Lee untuk berkeliling di wilayah Qin sambil membagi-bagikan uang koin emas kepada rakyat yang tidak mampu dengan menggunakan uang hasil penjualan berlian.
Beberapa bulan awal sejak mendiang Chu Pian Ran dipasrahi oleh Fong Chong untuk mengelola berlian yang ada di salah satu gua tempat para manusia mini tinggal, si peri pegar emas belum diberitahu soal rahasia tentang berlian itu oleh mendiang nyonya muda Lee.
Seiring dengan berjalannya waktu dan karena mendiang Chu Pian Ran sering mengajak Zhin Zhuan untuk melakukan tugas mulianya, maka mendiang nyonya muda Lee pun akhirnya menceritakan rahasia tentang berlian itu kepada si peri pegar emas namun dengan syarat Zhin Zhuan harus menyimpan rahasia tersebut rapat-rapat termasuk dari Xi'er.
Sedangkan untuk tugas menyuplai bahan makanan mentah bagi bangsa kurcaci, Zhin Zhuan tetap melakukan pekerjaan itu pada pagi hari sebelum matahari terbit seperti biasanya yang dia lakukan dengan mendiang Chu Pian Ran.
🌹
Di lain pihak, semenjak ibunya meninggal, Lee Chu Mian Yin yang sebelumnya memiliki pembawaan ceria dan lincah, sekarang gadis kecil itu menjadi sosok anak yang pendiam. Sikapnya yang berubah lumayan drastis itu sangat dimaklumi oleh anggota keluarganya, dan mereka semua terus memotivasi dan menghibur Lee Chu Mian Yin agar tetap semangat dalam menjalani kehidupannya sekalipun ibu yang dikasihinya telah tiada.
Seperti yang telah dipesankan oleh anggota keluarganya, agar semua pengorbanan ibunya selama hidup tidak sia-sia, gadis kecil itu pun terus semangat untuk rajin belajar dan mengembangkan kemampuannya.
Saat Lee Chu Mian Yin berumur 7 tahun dan ibunya masih hidup, gadis kecil itu mulai mengikuti kegiatan belajar (sekolah) bersama para pangeran dan putri anggota keluarga kerajaan, putra putri dari keluarga pejabat istana, serta putra putri golongan bangsawan kelas atas.
Adapun kegiatan belajar tersebut dilaksanakan di dua buah aula istana yang ukuran masing-masing aulanya lumayan luas karena jumlah anak-anak yang mengikuti pembelajaran itu totalnya ada 83 anak dan dibagi menjadi dua kelas, yakni kelas A dan kelas B.
Sedangkan untuk guru pengajarnya, Kaisar Qin Shi Huang menunjuk beberapa guru yang ternama di wilayah Qin untuk membagikan ilmunya bagi generasi penerus wilayah Qin itu.
Jadwal pembelajarannya sendiri diadakan selama 4 hari per minggunya mulai dari jam 7 pagi hingga sebelum tengah hari.
Karena Lee Chu Mian Yin termasuk anak yang pintar, maka gadis kecil itu dimasukkan dalam kelas A yang memang khusus untuk kelompok anak-anak yang ber IQ lumayan tinggi. Sedangkan untuk kelas B diperuntukkan bagi anak-anak yang ber IQ menengah ke bawah.
Setiap pagi sebelum pukul 7, jika ada jadwal sekolah, Lee Chu Mian Yin berangkat ke istana dengan diantar oleh ayahnya yang sekalian menuju ke toko perhiasan milik keluarganya yang menjadi tempat kerjanya sehari-hari.
Sekalipun Lee Jiang Wook juga memegang kendali rumah makan dan penginapan, namun untuk pemantauan setiap hari, kedua tempat bisnis milik keluarganya itu telah diserahkan kepada orang kepercayaan keluarganya sejak rumah makan dan penginapan itu beroperasi. Jika jam sekolah hampir usai, Lee Chu Mian Yin akan dijemput oleh Xi'er dengan ditunggu di depan gerbang istana.
Apabila tidak ada jadwal sekolah, putrinya Lee Jiang Wook itu akan datang ke markas besar prajurit untuk berlatih pedang, beladiri, memanah maupun latihan kemiliteran yang lain dengan Qin Wu Zhu karena Lee Chu Mian Yin memang bercita-cita jika sudah besar nanti dia akan bergabung dengan pasukan kemiliteran Qin.
🌹
1 bulan setelah Chu Pian Ran dinyatakan meninggal...
Pagi itu, di aula kelas A, tampaklah pembelajaran di kelas tersebut dimulai dengan guru pengajarnya adalah Tuan Bao Zhung, seorang pria yang sudah berusia lebih dari 60 tahun. Tuan Bao Zhung sendiri merupakan guru yang ahli dalam bidang matematika alias hitung-menghitung.
Setelah selama satu jam memberi penjelasan tentang suatu materi, kini anak-anak diberi tugas untuk mengerjakan soal yang cara penyelesaiannya harus sesuai dengan materi yang telah disampaikan tadi.
__ADS_1
Selama mengerjakan tugas itu, pangeran Qin Wu Dang, anak dari putra mahkota Qin Wu Zhang, yang juga termasuk siswa kelas A, beberapa kali tampak melihat ke arah putrinya Lee Jiang Wook, yang duduknya kebetulan ada di seberang kirinya. Anak laki-laki yang berusia lebih dari 10 tahun itu merasakan perubahan sikap Lee Chu Mian Yin semenjak ibundanya meninggal.
Telah sejak lama, pangeran Qin Wu Dang memiliki rasa 'tertarik' pada putrinya mendiang Chu Pian Ran itu, namun anak laki-laki tersebut masih menyimpan perasaannya di dalam hati karena memang belum saatnya untuk mengungkapkannya karena mengingat dia masih sangat muda.
Sementara itu, di baris bagian tengah, ada beberapa pasang tatapan mata yang tidak suka jika putranya Qin Wu Zhang tersebut peduli dengan Lee Chu Mian Yin, mereka adalah para putri dari keluarga bangsawan kelas atas, yakni : Xia He, Fang Ying, Li Mei dan Fang Hua.
Di kelas A, memang 4 anak perempuan itulah yang sering mencari perhatiannya Qin Wu Dang dengan cara bertingkah yang sengaja dibuat-buat.
Bagaimanakah beberapa anak perempuan seusia sekian bisa bertingkah seperti itu?? Rupanya di rumah masing-masing, anggota keluarga mereka memberi 'bekal' berupa perkataan yang tidak sewajarnya, dengan maksud kelak mereka ingin menjadi anggota keluarga kerajaan jika sampai bisa anak-anak perempuan yang kecentilan itu menarik perhatian pangeran Qin Wu Dang yang akhirnya bisa dijadikan selir oleh anaknya Qin Wu Zhang tersebut.
Begitu jam pembelajaran hari itu usai, Qin Wu Dang yang niatnya akan mengobrol sebentar dan membuat janji dengan Lee Chu Mian Yin untuk berangkat bersama saat akan ke markas besar prajurit pada akhir pekan nanti, namun tidak kesampaian karena ke 4 anak perempuan centil di kelas A itu buru-buru menghadangnya ketika putranya Qin Wu Zhang tersebut akan menghampiri Lee Chu Mian Yin.
Sementara itu, putrinya Lee Jiang Wook yang melihat pemandangan itu hanya bersikap acuh alias tidak peduli.
Setelah memasukkan semua peralatan belajarnya ke dalam tas, gadis kecil itu pun lalu memanggul tas tersebut di punggungnya, dan kemudian Lee Chu Mian Yin segera melangkahkan kakinya keluar dari aula untuk menuju ke depan gerbang istana yang telah ada sosok Xi'er yang sudah menunggunya beberapa menit yang lalu.
"Mian Yin!" baru saja beberapa langkah meninggalkan aula, sebuah suara anak laki-laki dari arah belakang terdengar memanggilnya.
Karena namanya dipanggil, putrinya Lee Jiang Wook pun menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya. Ternyata sosok yang memanggilnya tadi adalah Liu Xhu Ru, putra dari Tuan Liu Xhu Wang sekaligus cucu dari perdana menteri kesejahteraan rakyat.
"Ada apa kak Liu?" tanya Lee Chu Mian Yin setelah anak laki-laki yang berusia 9 tahunan tersebut sudah ada di depannya.
"Kita jalan bersama sampai ke depan gerbang istana yuk," ajak Liu Xhu Ru.
Tak berapa lama kedua anak tersebut pun melangkahkan kakinya menuju ke depan gerbang istana yang rupanya kebersamaan mereka berdua membuat Qin Wu Dang yang menyaksikan hal itu merasa tidak suka.
"Mian Yin, kapan-kapan bolehkah aku main ke rumahmu? Sudah lama sekali aku ingin melihat buruk merakmu...," ucap cucunya perdana menteri kesejahteraan rakyat saat mereka masih dalam perjalanan yang sebenarnya itu hanyalah alasan anak laki-laki tersebut agar bisa mendekati Lee Chu Mian Yin.
"Boleh saja kak tapi harus janjian dulu, karena jika tidak ada jadwal sekolah, aku ada di markas prajurit untuk latihan," balas gadis kecil itu.
"Bagaimana kalau hari Sabtu jam 4 an? Apakah kamu ada di rumah?" lanjut Liu Xhu Ru sambil menoleh pada anak perempuan cantik yang sedang berjalan di samping kirinya itu.
"Kemungkinan besar aku ada di rumah kak, biasanya kalau hari Sabtu aku pulang dari markas prajurit tidak lebih dari jam 2," terang Lee Chu Mian Yin.
"Baiklah, kalau begitu Sabtu jam 4 an aku ke rumahmu ya?" imbuh anak laki-laki itu.
"Silahkan kak."
Tak berapa lama, mereka berdua pun telah sampai di depan gerbang istana, yang di tempat itu telah ada beberapa pelayan yang sedang menjemput majikan kecil mereka masing-masing.
Karena jalur rumah Lee Chu Mian Yin dan Liu Xhu Ru berbeda, maka mereka pun berjalan terpisah setelah saling berpamitan.
Kini, terlihatlah Xi'er dan majikan kecilnya sedang berjalan kaki menuju ke kediaman Lee yang jaraknya hanya 20 menit an dari istana.
"Bibi, nanti mampir beli permen gulali dulu ya," ucap putrinya Lee Jiang Wook dengan pandangan mata yang tetap ke arah depan.
__ADS_1
"Iya sayang... Bagaimana dengan sekolahnya tadi? Lancar?" sahut Xi'er sambil menoleh pada Lee Chu Mian Yin.
"Lancar bibi."
Beberapa menit kemudian, mereka berdua pun sampai di tempat paman penjual gulali yang menjadi langganan Lee Chu Mian Yin sejak berumur satu tahunan.
"Halo nona kecil yang cantik, mau permen gulali yang biasanya?" tanya si penjual gulali dengan ramah.
"Iya paman."
Adapun paman si penjual gulali itu, saat mendengar berita jika putri angkat kaisar meninggal, pria tersebut sangat terkejut dan tidak percaya seperti kebanyakan orang lainnya jika perempuan cantik yang tersohor di wilayah Qin itu sekaligus ibu dari salah satu pelanggan setianya meninggal secara tiba-tiba.
Satu bulan yang lalu, sebagai wujud belasungkawa sekaligus rasa terimakasihnya karena Chu Pian Ran sering memberinya uang koin emas, pria penjual permen gulali itu turut datang ke kediaman Chu untuk melayat dan dia dengan anggota keluarganya mengadakan perkabungan serta doa bersama di rumahnya melebihi jangka waktu yang ditetapkan oleh Kaisar Qin Shi Huang.
"Ini permen gulali bentuk kudanya nona kecil, tidak usah membayar, untuk nona kecil gratis," kata pria itu sambil tangan kanannya menyodorkan permen gulali kesukaan putrinya Lee Jiang Wook yang kemudian diambil alih oleh gadis kecil itu.
"Yang namanya membeli ya harus membayar paman, kalau digratiskan paman nanti tidak mendapat untung dan tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga paman. Bibi Xi'er tolong bayar permen gulalinya ya," balas Lee Chu Mian Yin pada si penjual gulali itu yang kemudian menoleh pada bibi nya agar membayar permen gulali nya.
Seperti biasanya, jika sudah mendapatkan perkataan yang demikian, pria penjual gulali itu pun tidak bisa menolaknya.
Setelah meletakkan satu keping uang koin emas di atas alat untuk mencetak permen gulali, Xi'er dan Lee Chu Mian Yin pun beranjak menjauh dari tempat tersebut dan melanjutkan perjalanannya sesudah mendapatkan ucapan terimakasih dari paman penjual permen gulali.
Sementara itu, permen gulali bentuk kuda yang dibeli oleh putrinya Lee Jiang Wook tadi masih dipegang di tangan kanannya yang niatnya akan dimakan sesampainya di rumah neneknya.
Belasan menit kemudian, begitu tiba di depan kediaman Lee, Xi'er pun pamit dan kembali ke kediaman Chu, sedangkan Lee Chu Mian Yin masuk gerbang kediaman untuk melanjutkan langkahnya menuju ke ruang belajarnya.
Sesampainya di ruang belajarnya, gadis kecil itu pun melepas tas sekolahnya lalu meletakkan benda tersebut di atas meja belajar dan kemudian dia menjilati gulali itu sambil menatap lukisan ibunya yang tergantung di dinding yang berseberangan dengan meja belajarnya tersebut.
Adapun pemasangan lukisan mendiang Chu Pian Ran di dinding ruang belajarnya itu merupakan keinginan Lee Chu Mian Yin sendiri agar dia selalu teringat akan ibu yang sangat dikasihinya dan terus semangat menjalani hidupnya karena gadis kecil itu ingin membuat ibunya bangga akan dirinya.
Jika saat jam belajarnya tiba, Lee Chu Mian Yin akan duduk di kursi belajarnya yang posisi tubuhnya menghadap pada lukisan tersebut sebagai penyemangat dia selama belajar.
Ketika gadis kecil itu sedang menatap lukisan ibundanya sambil menjilati permen gulali, datanglah Nyonya Lee Jiang Xun ke ruangan tersebut.
"Kau sudah pulang sayang?" tanya wanita paruh baya itu sambil melihat pada cucunya.
"Baru saja nek," jawab Lee Chu Mian Yin.
"Sudah waktunya makan siang, kita ke ruang makan yuk, kakek juga sudah menunggu di sana," lanjut Nyonya Lee Jiang Xun.
Tak berapa lama, terlihatlah wanita paruh baya itu bersama cucunya melangkahkan kaki mereka menuju ke ruang makan.
"Ayo duduk sini sayang...," kata Tuan Lee Jiang Xun sambil tangan kanannya terulur pada cucu kesayangannya untuk diajaknya duduk di kursi yang ada di samping kanannya.
🌹🌹🌹
__ADS_1