Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 52 Qin Wu Zhu Dan Lu Zee Sekarat


__ADS_3

Rombongan Chang Xuang telah sampai di ibukota Qin pada pagi hari setelah melakukan perjalanan selama dua minggu lebih tiga hari.


Sesampainya di ibukota, mereka mencari sebuah penginapan untuk beristirahat terlebih dahulu.


Malam harinya, di sebuah ruangan tertutup mereka berlima sedang berdiskusi untuk merencanakan langkah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Akhirnya mereka sepakat untuk menunggu kesempatan saat pangeran kedua Qin itu keluar dari ibukota.


Mereka mengambil cara itu mengingat saat ini mereka sedang ada di ibukota kerajaan musuh. Jika mereka gegabah itu artinya sama saja mereka sedang mengantarkan nyawa.


Selama menunggu kesempatan itu tiba, diam-diam mereka mencari informasi kalau-kalau si pria bertopeng sengaja disembunyikan di ibukota.


Dari kabar yang mereka dengar, setelah terluka parah si pria bertopeng itu tidak terdengar beraksi kembali. Sosoknya menghilang begitu saja bak ditelan bumi.


Entah kenapa Chang Xuang sendiri memiliki keyakinan bahwa si pria bertopeng ada di ibukota. Untuk itu mereka berusaha keras mencari informasi tentang keberadaan pria bertopeng itu.


Pucuk dicinta ulampun tiba, kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh kelompok Chang Xuang pun kini datang.


Dua teman Chang Xuang yang saat itu sedang mendapat jatah memata-matai gerak-gerik Qin Wu Zhu melihat pemuda itu bersama seorang pemuda lain sedang berkuda meninggalkan istana.


Salah seorang dari mata-mata itu dengan cepat pergi dari tempat itu untuk memberi kabar teman lainnya. Sedangkan mata-mata satunya membuntuti perginya Qin Wu Zhu dan pengawalnya itu.


Sesuai dengan kesepakatan, untuk mempermudah mencari jejak mata-mata yang membuntuti Qin Wu Zhu dan pengawalnya, mata-mata itu menjatuhkan sebuah batu kecil yang telah diwarna kuning di jalanan.


Kini Chang Xuang dan ketiga temannya telah berangkat untuk menyusul salah satu temannya yang sedang membuntuti Qin Wu Zhu.


Dua jam kemudian, dengan melihat petunjuk batu kuning itu, kini kelima orang itu telah berkumpul lagi.


Rupanya Qin Wu Zhu sedang berkunjung di sebuah rumah sederhana di suatu tempat yang lumayan terpencil karena rumah itu berada di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk lainnya.


Mata-mata Lian merasa inilah kesempatan paling bagus yang tidak boleh disia-siakan dan jangan sampai gagal.


Kemudian Chang Xuang bersama keempat temannya memakai cadar hitam sambil terus mengintai di balik semak-semak yang rimbun.


Dua jam pun berlalu, akhirnya Qin Wu Zhu keluar dari rumah itu dan berniat kembali ke ibukota.


Dengan menggunakan jurus peringan tubuh, mata-mata Lian pun dengan segera mengikuti Qin Wu Zhu dan Lu Zee lalu menghadang mereka berdua.


Qin Wu Zhu dan Lu Zee lalu turun dari kuda mereka.


"Siapa kalian, berani sekali menghadang langkahku!" Seru Qin Wu Zhu.


Tanpa menjawab pemuda itu, mata-mata Lian dengan serempak maju bersama-sama menyerang Qin Wu Zhu dan Lu Zee.


Terjadilah pertarungan sengit dua lawan lima.


Tiga jam kemudian kedua kubu itu masih sama-sama seimbang.


Qin Wu Zhu dan Lu Zee terus berusaha bertahan dan jangan sampai dikalahkan.


Saat Qin Wu Zhu sedikit lengah, Chang Xuang dengan secepat kilat menghamburkan bubuk pelumpuh yang sudah dimantrai oleh Chang Xibing di depan wajah Qin Wu Zhu.


Secara reflek Qin Wu Zhu berusaha menghindar dengan melayang ke belakang menggunakan jurus peringan tubuhnya.


Namun sungguh disayangkan, sekalipun sudah menghindar, aroma bubuk pelumpuh itu ada yang tercium oleh hidungnya.

__ADS_1


Qin Wu Zhu mulai merasa sedikit pusing.


"Kurang ajar! Dasar licik!" Seru Qin Wu Zhu.


Chang Xuang hanya berdiam diri saja sambil menyeringai di balik cadarnya, pria itu memang sengaja menunggu efek obat itu bekerja.


Lima menit kemudian tubuh Qin Wu Zhu merasa lemas, tubuhnya sedikit bergoyang, lalu tak lama kemudian dia jatuh terduduk. Napas pemuda itu menjadi tersengal-sengal.


"Dasar manusia laknat!" Rutuk Qin Wu Zhu.


"Hei pangeran bodoh! Dengan keadaanmu yang seperti itu kau masih saja berani mengata-ngataiku. Lebih baik simpan saja tenagamu karena kau akan aku buat tidak berkutik." Kata Chang Xuang.


Sementara itu, di tempat yang agak jauh, Lu Zee diserang bertubi-tubi oleh keempat mata-mata Lian. Pemuda itupun sudah mulai kelelahan.


Beberapa menit kemudian, pedang salah satu mata-mata Lian berhasil melukai lengan Lu Zee.


Tanpa mengulur waktu lagi, Lu Zee pun terus diserang hingga tak bisa melawan lagi.


Keempat mata-mata Lian itu lalu menghajar Lu Zee habis-habisan hingga pemuda itu babak belur parah dan berdarah-darah.


Karena tidak tahan disiksa sedemikian rupa, akhirnya Lu Zee pun tak sadarkan diri.


Kini keempat mata-mata Lian telah berada di tempat Chang Xuang dan Qin Wu Zhu.


Kini pangeran kedua Qin itu sudah tergeletak di tanah namun masih sadarkan diri.


Chang Xuang kemudian mendekati Qin Wu Zhu lalu berjongkok di sampingnya.


Pria itu lalu berkomat kamit merapalkan mantra dan menghipnotis Qin Wu Zhu.


"Hei pangeran bodoh dimanakah pria bertopeng sekarang?" Tanya Chang Xuang.


"Di kediaman penasehat kerajaan." Jawab Qin Wu Zhu.


"Penasehat kerajaan siapa?" Lanjut Chang Xuang.


"Chu Jeong Byun." Balas Qin Wu Zhu.


"Kenapa pria bertopeng ada di sana?" Sambung Chang Xuang.


"Dia adalah putri penasehat kerajaan." Sahut Qin Wu Zhu.


Untuk sesaat alis Chang Xuang berkerut. Bahkan keempat temannya saling berpandangan.


Mereka merasa tidak percaya jika pria bertopeng adalah seorang perempuan.


"Maksudmu pria bertopeng adalah perempuan?" Tanya Chang Xuang lagi.


"Benar, dia sebenarnya perempuan." Ucap Qin Wu Zhu.


Chang Xuang pun berdiri. Dia lumayan terkejut saat mengetahui bahwa pria bertopeng adalah seorang perempuan.


Karena tujuan mereka sudah terwujud, kelima orang itupun menghajar habis-habisan pangeran kedua Qin itu hingga tak sadarkan diri seperti pengawalnya.


Sebelum pergi, Chang Xuang meminumkan paksa cairan racun langka reaksi lambat pada Qin Wu Zhu dan Lu Zee.

__ADS_1


Kelima mata-mata Lian itu tidak kembali lagi ke ibukota Qin karena sudah pasti kaisar Qin akan murka setelah kejadian ini dan jelas akan mencari tahu siapa pelakunya.


Jika mereka kembali ke ibukota Qin, pasti mereka akan dicurigai karena mereka adalah para pendatang.


Tiga jam sudah tubuh Qin Wu Zhu dan Lu Zee tergeletak di tanah.


Untungnya, saat itu ada dua orang pria yang sedang berburu di sekitar tempat itu dan melihat mereka.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat salah satu pemuda yang tergeletak itu adalah pangeran kedua kerajaan Qin.


Dengan segera merekapun membawa dua pemuda itu ke istana.


Penghuni istana kerajaan Qin menjadi gempar dengan penemuan tubuh Qin Wu Zhu dan Lu Zee yang saat itu sekarat.


Kaisar Qin dan keempat pangeran lainnya sangat geram bercampur sedih melihat keadaan Qin Wu Zhu.


Sementara itu, permaisuri Qin hanya bisa menangis sesenggukan meratapi putra keduanya.


Kedua selir kaisar Qin berusaha untuk menghibur wanita itu.


Dengan segera kaisar Qin memerintahkan semua tabib istana untuk mengobati Qin Wu Zhu dan Lu Zee.


"Tabib, bagaimana keadaan putraku?" Tanya kaisar dengan cemas pada salah satu tabib yang memeriksa Qin Wu Zhu. Tabib itu bernama tabib Xie.


"Maafkan hamba yang mulia kaisar, setelah hamba memeriksa yang mulia pangeran Qin Wu Zhu, selain lukanya sangat parah yang mulia pangeran juga diracun oleh jenis racun reaksi lambat yang tidak kami ketahui." Terang tabib Xie.


Mendengar keterangan tabib Xie, permaisuri yang saat itu sedang duduk di kursi kamar Qin Wu Zhu menjadi tambah sedikit keras tangisannya.


Putra mahkota Qin Wu Zhang, putra pertama kaisar Qin dan permaisuri berusaha menenangkan ibundanya dengan mengelus-elus pundak wanita itu.


"Diracun? Benarkah itu?" Lanjut kaisar terkejut.


"Benar apa yang dikatakan oleh tabib Xie yang mulia kaisar. Berdasarkan pemeriksaan hamba dan tabib lainnya hasilnya juga demikian." Ucap tabib Nuan memperkuat pernyataan tabib Xie.


"Lalu bagaimana ini? Jika jenis racunnya saja tidak diketahui bagaimana cara mendapatkan penawarnya. Manusia terkutuk mana yang sudah membuat putraku seperti ini, rasanya aku ingin sekali memenggal kepalanya." Kata kaisar dengan hati geram. Karena terlalu khawatirnya kaisar tidak bisa berpikir jernih.


"Maafkan hamba yang mulia kaisar, jika boleh hamba memberi saran, yang mulia kaisar bisa mengadakan sayembara untuk menyelesaikan masalah ini. Menurut pemeriksaan hamba, racun lambat langka ini bisa menunggu waktu hingga beberapa bulan." Saran tabib Nuan.


"Aku rasa tidak ada salahnya untuk mencoba. Baiklah aku akan segera membuat sayembara itu sekaligus mengerahkan banyak prajurit untuk memburu pelakunya."


Dengan segera kaisar Qin Shi Huang meninggalkan kamar putranya untuk menulis sayembara dan memerintahkan adiknya, jenderal Long Yuan untuk mengerahkan prajuritnya agar memburu pelakunya.


Kini di kamar Qin Wu Zhu telah berkumpul permaisuri, kedua selir, keempat pangeran, dan beberapa tabib yang mengobati luka Qin Wu Zhu.


Mereka benar-benar tidak menyangka jika pangeran kedua Qin yang lumayan ditakuti banyak orang itu sekarang keadaannya sangat memprihatinkan.


Tidak beda jauh dengan majikannya, keadaan Lu Zee juga serupa. Kaisar Qin juga memerintahkan beberapa tabib untuk merawat pengawal setianya Qin Wu Zhu itu.


Satu jam kemudian, beberapa prajurit telah terjun ke jalanan ibukota untuk menempel sayembara yang dibuat oleh kaisar.


Membaca sayembara itu penduduk ibukota menjadi heboh karena mereka jadi tahu jika pangeran kedua kerajaan Qin sedang kritis.


****


Setelah berhasil membuat Qin Wu Zhu dan Lu Zee sekarat, Chang Xuang dan keempat temannya untuk sementara tinggal jauh dari ibukota.

__ADS_1


Mereka masuk ke sebuah dusun kecil dan membeli sebuah rumah sederhana di sana dan menyamar sebagai penduduk.


__ADS_2