Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 92 Kesedihan Selir Chi Min Ru


__ADS_3

Sepeninggal keempat harimau itu, tak berapa lama Lee Jiang Wook mendekati istrinya dan memeluk pinggang perempuan cantik itu. Untuk beberapa menit, ayah muda itu menatap lekat mata istrinya, dan sesudahnya dia mencium bibir perempuan itu dengan lembut.


Entah berapa lama pasangan suami istri itu jarang bermesraan apalagi melakukan hubungan suami istri.


Sejak memiliki seorang anak, hasrat bercinta Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran terlihat menurun dengan drastis karena sekarang pikiran mereka sedang fokus pada Lee Chu Mian Yin.


"Sayang, bagaimana kalau malam nanti aku minta jatah?" Tanya suaminya pelan di dekat telinga istrinya.


"Lalu bagaimana dengan putri kita suamiku?" Balas perempuan itu dengan kedua tangannya merangkul leher ayah muda itu.


"Kita titipkan saja pada ibu." Sahut Lee.


"Baiklah... Kita tanya ibu dulu apakah malam ini beliau mau tidur dengan cucunya atau tidak." Ujar Chu Pian Ran.


Sesampainya di rumah, pasangan suami istri itu pun segera mandi lagi karena tubuh mereka agak kotor terkena jelaga saat di hutan.


"Bu mo mo..." Ucap Lee Chu Mian Yin saat gadis kecil itu, ibunya dan neneknya sedang duduk-duduk di gazebo taman.


"Harimaunya sudah pulang ke hutan lagi sayang, karena dia juga punya keluarga..." Balas ibunya dengan pengucapan kalimat yang lambat sambil menatap mata putrinya yang jernih itu.


Seolah mengerti dengan kata-kata ibunya, gadis kecil itu pun berhenti menanyakan keberadaan anak harimau itu lagi.


"Bu, bolehkah malam nanti kita titip Yin Er pada ibu?" Tanya Chu Pian Ran pada ibunya yang saat itu sedang duduk di sampingnya sambil menyulam.


"Kau mau bercinta dengan suamimu nak?" Balas wanita paruh baya itu dengan matanya tak beralih dari kegiatan menyulamnya.


"Iya bu, malam ini Lee sedang ingin minta jatah." Sahut perempuan muda itu.


"Syukur-syukur jika kalian punya anak satu lagi, pasti suasana rumah ini akan lebih ceria." Lanjut ibunya.


"Ibu bisa saja... Tidaklah bu, aku masih belum ingin hamil lagi, apalagi Yin Er juga masih kecil dan masih butuh banyak perhatian." Ujar Chu Pian Ran.


"Baiklah, dengan senang hati ibu akan menemani Yin Er tidur nanti malam, mudah-mudahan saja dia tidak rewel mencari kalian." Sambung wanita paruh baya itu.


Kebetulan, di taman bunga itu, ada beberapa ekor kupu-kupu yang sedang beterbangan sambil menghisap nektar bunga. Entah apa sebabnya, tiba-tiba saja seperti dikomando, kupu-kupu itu lalu terbang mendekati Lee Chu Mian Yin. Tak berapa lama, tubuh gadis cilik itu telah dikelilingi oleh kupu-kupu itu.


Spontan, kejadian aneh itu menarik perhatian ibunya dan neneknya. Kedua perempuan itu pun memperhatikan gadis kecil itu untuk beberapa menit sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Pu pu... Pu pu" Celoteh Lee Mian Yin dengan berdiri di atas gazebo, sementara ibunya bersiaga di dekatnya agar jangan sampai putrinya itu terjatuh.


Beberapa saat kemudian, terdengarlah celotehan dari bibir anak kecil itu seolah-olah sedang bercakap-cakap dengan kupu-kupu itu. Kejadian itu berlangsung hingga belasan menit dan berhenti setelah kupu-kupu itu kembali terbang ke taman.


Peristiwa aneh itu menjadi pemikiran tersendiri bagi Chu Pian Ran.


****


Sudah lebih dari satu tahun ini, selir Chi Min Ru, selir dari pangeran ketiga kaisar Qin, Qin Wu Lei menyimpan kesedihan dalam hati yang tidak diungkapkan kepada siapapun bahkan suaminya sendiri.


Sudah lebih dari tiga tahun menikah, perempuan cantik itu belum kunjung hamil juga, sementara selir pangeran yang lain malah sudah memiliki anak yang usianya lebih dari 2 tahun.


Sekalipun dari luar pembawaan selir itu tampak tenang seperti biasanya, namun dalam hatinya dia sedang pedih apalagi saat para selir berkumpul bersama dengan membawa anak mereka masing-masing.


Meskipun suaminya tak mempermasalahkan hal itu, namun tetap saja perempuan itu menyimpan beban yang berat dalam hati.


"Suamiku, bolehkah aku berkunjung ke rumah adik Nanyang? Rasanya sudah lama sekali aku tidak berbincang dengannya. Apalagi sejak dia melahirkan hingga putrinya sekarang sudah berusia lebih dari satu tahun, aku baru sekali saja mengunjungi mereka." Kata selir Chi pada suatu sore dengan memberikan alasan yang kuat pada suaminya, padahal tujuannya berkunjung sebenarnya adalah ingin meminta bantuan pada Chu Pian Ran.


"Lalu kapan kau berniat akan pergi ke sana selir Chi?" Tanya Qin Wu Lei.

__ADS_1


"Rencananya besok pagi suamiku... Bagaimana, apakah kau mengijinkan?" Lanjut perempuan itu.


"Baiklah, besok kau boleh pergi mengunjunginya." Jawab pemuda itu.


****


Keesokan harinya, dengan ditemani oleh dua orang pelayan setianya, selir Chi Min Ru berkunjung di kediaman Chu dengan naik kereta kuda.


Saat Chu Pian Ran diberitahu oleh seorang pelayannya jika nyonya muda itu mendapat kunjungan dari selir Chi Min Ru, perempuan cantik itu pun merasa heran. Instingnya mengatakan bahwa pasti ada maksud tertentu dibalik kunjungan selir Qin Wu Lei itu.


"Halo kak Min Ru, tumben kau berkunjung kemari." Kata Chu Pian Ran sambil berjalan mendekat pada perempuan yang sudah duduk di kursi beberapa menit yang lalu.


"Rasanya sudah lama sekali kita tidak saling mengobrol adik Nanyang, jadi aku datang berkunjung ke sini." Balas selir Chi Min Ru masih menyembunyikan faktanya.


Nyonya muda Lee pun tertawa sebentar setelah mendengar jawaban perempuan yang ada di samping kanannya itu.


"Sudahlah kak, kau tidak perlu menutupinya lagi. Aku sudah tahu jika kedatanganmu kemari ada udang dibalik batu. Ya kaaan..." Lanjut Chu Pian Ran terus terang sambil menyenggol pinggang selir itu.


"Sepertinya aku tidak bisa membohongimu adik Nanyang... Memang benar apa yang dikatakan oleh banyak orang selama ini, jika kau bisa menerawang sesuatu atau kehidupan seseorang." Ucap perempuan itu.


"Apa yang dikatakan oleh banyak orang itu terlalu dilebih-lebihkan kak, jadi tidak perlu dianggap serius." Ujar nyonya muda Lee.


"Mereka itu tidak berlebihan adik Nanyang, apa yang mereka katakan memang benar adanya. Oh ya, dimana putrimu? Rasanya aku ingin sekali melihat dan menggendong dia." Sambung selir itu dengan menoleh pada Chu Pian Ran.


Tak berapa lama, nyonya muda Lee memanggil salah seorang pelayannya agar membawa putrinya ke tempat itu.


Sepuluh menit kemudian, datanglah pelayan itu sambil menggendong majikan kecilnya yang cantik, lalu menyerahkannya pada ibunya.


"Bu.." Ucap bibir mungil Lee Chu Mian Yin.


"Bi yu..."


Spontan, tingkah gadis kecil yang menggemaskan itu membuat selir Chi Min Ru tersenyum lebar. Beberapa saat kemudian, perempuan itu pun mengambil anak kecil itu dari pangkuan ibunya dan diletakkan di pangkuannya.


"Kamu cantik sekali seperti ibumu nak..." Ujar selir itu sambil mencolek-colek pipi Lee Chu Mian Yin dengan gemasnya. Seketika hilanglah rasa sedih di hati perempuan itu untuk sesaat.


"Bi yu..." Celoteh gadis cilik itu dengan tangan kanannya terulur di dekat wajah selir itu.


Lebih dari setengah jam, selir Chi Min Ru mengajak putri kecil Chu Pian Ran bercakap-cakap. Sekalipun gadis cilik itu tidak terlalu paham dengan perkataan si selir, namun tingkahnya yang menggemaskan berhasil membuat hati perempuan itu bahagia.


Karena nyonya muda Lee tahu jika selir Qin Wu Lei itu punya maksud yang penting dari kunjungannya itu, maka perempuan itu memanggil seorang pelayan lagi agar mengambil putri kecilnya itu dan menyerahkannya kembali kepada neneknya.


"Hari ini aku datang kemari karena ingin meminta bantuanmu adik Nanyang, siapa tahu saja kau bisa menyelesaikan masalahku selama ini." Kata selir itu mulai serius.


"Coba ulurkan tangan kananmu kak, aku akan mencoba menerawang apa yang menjadi sumber permasalahanmu sehingga kau sulit untuk hamil." Kata Chu Pian Ran.


Tanpa berbantah, selir Chi Min Run lalu mengulurkan tangan kanannya dan setelahnya nyonya muda Lee memegang pergelangan tangan perempuan itu untuk melakukan penerawangan. Untuk beberapa detik, terlihatlah Chu Pian Ran memejamkan matanya.


"Pantas saja kau sulit hamil kak, rupanya saluran menuju sel telurmu sangat sempit." Ucap nyonya muda Lee sambil membuka kedua matanya kembali.


"Lalu apa yang harus kulakukan adik Nanyang? Bisakah kau membantuku?" Lanjut selir itu dengan perasaan cemas dan berharap perempuan yang ada di sampingnya itu bisa menolongnya.


"Aku akan mencoba untuk memperlebar saluran itu dengan kekuatan supranaturalku kak, mudah-mudahan saja bisa." Jelas Chu Pian Ran.


Sekali lagi, tangan kanan nyonya muda Lee itu diletakkannya di pergelangan tangan selir Chi Min Ru.


Dan beberapa menit ke depan, perempuan itu menyalurkan kekuatan supranaturalnya ke tubuh selir itu sambil memejamkan kedua matanya kembali.

__ADS_1


Tanpa terlihat oleh kedua mata mereka berdua, keluarlah garis-garis sinar dari beberapa jari Chu Pian Ran yang diletakkan di pergelangan tangan selir Chi Min Ru.


Garis-garis sinar itu merambat menembus daging dan tulang menuju saluran rahim selir itu.


Terasalah oleh selir Chi Min Ru suatu aliran yang hangat dari pergelangan tangan kanannya sampai ke perutnya.


Ketika nyonya muda Lee sedang melakukan proses itu, pulanglah Lee Jiang Wook dari toko perhiasannya.


Dari kejauhan, mata ayah muda itu melihat jika istrinya sedang melakukan sesuatu hal yang penting dengan salah satu selir pangeran, maka Lee langsung menuju ke ruang kerjanya dan tidak ingin mengganggu kedua perempuan itu.


Sudah hampir dua puluh menit Chu Pian Ran menyalurkan kekuatan supranaturalnya pada selir Chi Min Ru.


"Untuk hari ini cukup sekian dulu kak, minggu depan kau datanglah kemari lagi untuk kuperiksa ulang." Ujar nyonya muda Lee setelah membuka kedua matanya.


"Baiklah adik Nanyang, terimakasih banyak ya kau sudah membantuku hari ini... Mudah-mudahan setelah proses ini selesai aku bisa secepatnya hamil." Kata selir Chi Min Ru.


"Tidak perlu berterimakasih kak, aku senang membantumu... Semoga apa yang menjadi harapan kakak selama ini akan segera terkabul." Sahut Chu Pian Ran.


Sepuluh menit kemudian, pamitlah selir Chi Min Ru pada adik ipar angkatnya itu dan kembali ke istana.


"Ada masalah apa dengan selir tadi sayang?" Tanya Lee Jiang Wook saat istrinya masuk di ruang kerja pemuda itu sambil membawa nampan yang di atasnya ada seteko teh hangat dan dua buah cangkir kecil.


"Dia sedang gelisah karena tidak kunjung hamil, makanya aku tadi menyalurkan sedikit kekuatan supranaturalku untuk membantu mengatasi masalah pada tubuhnya." Jawab Chu Pian Ran sambil menuangkan teh ke cangkir lalu diletakkan di dekat suaminya yang saat itu sedang memeriksa buku laporan keuangan seperti biasanya.


"Memangnya ada apa dengan tubuhnya hingga dia sulit hamil?" Lanjut ayah muda itu.


"Saluran menuju sel telurnya sangat sempit, jadi hari ini aku mencoba untuk memperlebar sedikit saluran itu." Balas istrinya.


****


Kunjungan pertama selirnya ke rumah Chu Pian Ran, Qin Wu Lei belum merasa curiga dengan niat perempuan itu. Namun, begitu selir itu minta ijin untuk kedua kalinya, maka tahulah pemuda itu jika selirnya sebenarnya sedang meminta bantuan pada adik angkatnya terkait masalahnya yang sulit hamil.


"Maafkan aku suamiku jika kemarin aku tidak jujur padamu... Aku hanya khawatir jika kau tidak berkenan dengan niatku ini." Jelas selir Chi Min Ru dengan suara pelan takut suaminya itu marah setelah tahu dia membohonginya.


"Kita sudah menikah selama beberapa tahun selir Chi, jika kau sedang ada masalah seharusnya kau memberitahukannya padaku, jangan dipendam sendiri... Lagipula, aku sudah pernah mengatakan padamu jika aku tidak mempermasalahkan dirimu yang tak kunjung hamil itu." Kata Qin Wu Lei.


Selir Chi Min Ru hanya berdiam diri sambil menunduk mendengar perkataan suaminya itu.


"Mumpung aku sedang longgar, aku akan menemanimu ke sana. Lagipula, aku juga sudah lama sekali tidak mengobrol dengannya." Lanjut pemuda itu.


Tentu saja, sikap suaminya itu membuat selirnya merasa lega dan senang.


Tak menunggu lama, mereka berdua pun pergi ke ke kediaman Chu bersama-sama.


Seperti dikunjungannya yang pertama, kali ini pun Chu Pian Ran juga menyalurkan sedikit kekuatan supranaturalnya pada selir Chi Min Ru hingga saluran menuju sel telurnya itu menjadi cukup lebar untuk dilalui oleh benih suaminya.


Dua bulan setelah itu, terdengarlah kabar gembira yang mengatakan jika saat ini selir Chi Min Ru sedang hamil dan usia kandungannya sudah dua pekan.


Tentu saja hal itu membuat si selir sangat bahagia. Setelah setahun lebih hatinya menyimpan kesedihan karena tak kunjung hamil, akhirnya sekarang dia bisa mengandung juga.


Berita kehamilan selir Chi Min Ru itu bukan hanya membuat pasangan suami istri itu bahagia, namun juga disambut gembira oleh anggota kerajaan yang lain, khususnya selir agung Zhing Ru Yan, ibu kandung Qin Wu Lei.


Setelah sekian lama sabar menunggu, akhirnya wanita paruh baya itu sebentar lagi bisa menimang cucu.


Sebagai rasa terimakasih sekaligus ungkapan bahagianya, maka selir Chi Min Ru memberikan beberapa perhiasan dan dua pakaian baru untuk Chu Pian Ran.


Tak lupa, selir itu juga memberikan hadiah kepada Lee Chu Mian Yin berupa beberapa mainan yang dipesan secara khusus di tukang pembuatnya.

__ADS_1


__ADS_2