Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 76 Kesurupan Massal


__ADS_3

Sepulang dari rumah calon istrinya, hati Lee benar-benar bahagia karena sebentar lagi dia akan menikahi gadis yang telah lama dicintainya itu.


Begitu masuk kediamannya, pemuda itu langsung mencari ayah dan ibunya untuk memberitahukan kabar gembira itu.


Kebetulan saat ini nyonya Lee sedang membantu pekerjaan suaminya di ruang kerja pria paruh baya itu.


"Ayah ibu aku punya kabar gembira." Ucap Lee begitu masuk ruang kerja ayahnya.


"Kabar gembira apa nak?" Tanya nyonya Lee tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas penting milik suaminya.


"Ran Er setuju jika aku ajak menikah." Balas pemuda itu dengan semangat.


Pasangan suami istri itu sempat terkejut dan menghentikan aktivitasnya secara bersamaan lalu menatap putra satu-satunya itu.


"Benarkah yang kau katakan itu Lee?" Tanya ayahnya.


"Benar ayah. Ran Er mau kuajak menikah dua bulan lagi." Sekali lagi Lee memperjelas pernyataannya.


"Coba kau duduk dulu nak, baru kau ceritakan pada ayah kenapa tiba-tiba Ran Er mau kau ajak menikah secepat itu." Ujar pria paruh baya itu serius.


Lee pun menuruti kata ayahnya dan duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari kedua orang tuanya.


"Tadi sewaktu aku di rumah Ran Er, aku membujuknya agar kita segera menikah saja dan dia setuju tapi ada syaratnya." Terang Lee.


"Syarat apa itu?" Tanya nyonya Lee.


"Setelah menikah nanti dia tidak mau aku melarangnya pergi jauh dan juga dia minta diijinkan untuk minum obat anti hamil selama dia belum siap punya anak." Lanjut pemuda itu.


Sepasang suami istri itu saling memandang untuk sesaat.


"Kau yakin akan menikahinya secepat itu Lee?" Tanya tuan Lee memastikan keinginan putranya.


"Aku sangat yakin ayah, aku memang sudah lama ingin menikahi Ran Er. Dan sekarang, senyampang dia ada di rumah dan bersedia kunikahi aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini." Sahut Lee.


"Jadi aku minta tolong pada ayah untuk segera membicarakan hal ini pada paman Chu." Tambah pemuda itu.


"Ya sudah, jika kau sudah mantap untuk menikahi Ran Er, besok atau besok lusa kita berangkat ke kediaman tuan Chu untuk membahas masalah ini." Kata pria paruh baya itu.


"Terimakasih ayah..."


Dua hari kemudian


Sore itu anggota keluarga Chu dan anggota keluarga Lee sedang berkumpul di ruang tamu untuk membahas pernikahan Lee dan Chu Pian Ran.


Karena banyak hal yang harus didiskusikan, pertemuan itu baru selesai setelah 3 jam.


Tuan dan nyonya Lee kemudian berpamitan terlebih dahulu, sedangkan Lee masih ingin berbincang dengan tunangannya.


Kini Lee dan Chu Pian Ran sedang duduk di tepi ranjang gadis itu.


"Sayang, aku senang sekali akhirnya sebentar lagi kita menikah. Aku harap setelah kita menikah nanti, kita bisa menikmati hari-hari bahagia dalam waktu yang lumayan lama." Kata Lee sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang gadis itu, sehingga tubuh mereka sangat berdekatan.


"Aku juga berharap demikian Lee..." Ucap Chu Pian Ran.


Kedua mata insan itu lalu saling beradu seolah-olah saling mengalirkan rasa cinta.


Tak lama kemudian keduanya saling memajukan kepala dan mereka pun berciuman dengan lembut selama dua puluh menitan.


"Aku sangat mencintaimu sayang..." Ujar Lee pelan sambil menempelkan hidung dan dahinya pada hidung dan dahi tunangannya.


"Aku juga mencintaimu Lee..."


Sejak saat itu keluarga Lee dan keluarga Chu mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara pernikahan nanti.


Berita tentang rencana pernikahan Lee dan Chu Pian Ran mulai tersebar di daerah ibukota tak terkecuali di paviliun milik Qin Wu Zhu.


Pemuda itu semakin tak berdaya dengan kenyataan yang harus dia terima.

__ADS_1


Di satu sisi dia punya perasaan terhadap Chu Pian Ran, tapi di sisi lain gadis itu akan segera menikah, dan dia juga sudah pernah mendapat peringatan dari pamannya serta adiknya.


Diapun mulai teringat dengan perkataan Qin Wu Lei yang mengatakan bahwa adalah suatu kesia-sian jika dia mengejar cinta seorang gadis yang akan menjadi istri orang lain.


Rasanya saat ini perasaannya terhadap Chu Pian Ran tidak akan pernah terbalas dan mau tidak mau dia harus cukup puas dengan menganggapnya sebagai seorang adik.


****


Dua minggu kemudian, di saat tuan dan nyonya Chu beserta putrinya sedang berkumpul di ruang kerja pria paruh baya itu, datanglah seorang pelayan dan memberitahu jika ada seorang prajurit istana yang sedang mencari nona Chu.


Dengan segera Chu Pian Ran keluar dari ruang kerja ayahnya untuk menemui prajurit itu.


Setelah berbincang sebentar, prajurit itu undur diri dan kembali ke istana, sedangkan gadis itu kembali ke ruang kerja ayahnya dengan maksud untuk berpamitan pada orang tuanya.


"Ada apa nak?" Tanya tuan Chu begitu putrinya telah kembali.


"Kaisar memintaku untuk segera datang menemuinya karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan, ayah." Terang Chu Pian Ran.


"Hal penting apa itu sayang?" Tanya nyonya Chu.


"Aku juga masih belum tahu bu. Prajurit tadi hanya memberitahu jika aku harus menemui kaisar sekarang. Kalau begitu aku pamit pergi ke istana dulu ibu, ayah." Sahut gadis itu.


"Iya nak. Jika nanti ada apa-apa segera kau kabari ayah dan ibu." Ucap pria paruh baya itu.


Tak menunggu lama Chu Pian Ran meninggalkan ruang kerja ayahnya kembali dan menuju kamarnya untuk merubah wujudnya menjadi kupu-kupu.


Saat ini gadis itu telah mengenakan topengnya dan bersiap untuk menemui ayah angkatnya.


Saat dalam perjalanan menuju ruang kerja kaisar, Chu Pian Ran berpapasan dengan Qin Wu Zhu lalu mereka berbincang sebentar.


"Ada masalah apa?" Tanya gadis itu.


"Satu jam yang lalu ada dua orang penduduk dari desa Ying Luang datang kemari dan minta bantuan karena di sana telah terjadi kesurupan massal." Jawab Qin Wu Zhu.


"Kesurupan massal? Bagaimana critanya bisa terjadi demikian?" Lanjut Chu Pian Ran.


"Awalnya beberapa penduduk pria menebang pohon di pinggir hutan untuk membuat jembatan tapi tiba-tiba saja perilaku mereka berubah aneh." Jelas pemuda itu.


Selama setengah jam Chu Pian Ran berada di ruang kerja kaisar.


Setelah dia keluar, gadis itu mendapati Qin Wu Zhu masih berdiri di tempat yang tadi.


"Kita berangkat sekarang?" Tanya pemuda itu begitu Chu Pian Ran sudah ada di depannya.


"Aku harus menulis surat dulu untuk memberitahu ayah dan ibu agar mereka tidak khawatir, sekaligus menyiapkan beberapa potong pakaian untuk jaga-jaga jika nanti memang harus menginap di sana." Jawab gadis itu.


"Baiklah. Aku juga akan bersiap-siap dulu." Ujar Qin Wu Zhu.


Tiga puluh menit kemudian, Chu Pian Ran, Qin Wu Zhu, Lu Zee dan sepuluh prajurit telah siap di gerbang istana.


Tak menunggu lama rombongan itu berangkat ke desa Ying Luang yang jaraknya sekitar tiga jam berkuda dari istana.


Kediaman Tuan Chu


Sementara itu prajurit yang disuruh Chu Pian Ran mengantar surat di kediamannya telah tiba.


Prajurit itu lalu menyerahkan surat itu pada seorang pelayan dan dia langsung undur diri untuk kembali ke istana.


Kini tuan Chu sedang membuka kertas berlipat itu di depan istrinya dan membaca tulisannya. Setelah selesai dibaca kertas itu diberikannya pada istrinya.


"Untunglah hanya ke desa Ying Luang, jadi tidak akan membutuhkan waktu lama di sana." Kata tuan Chu.


"Benar. Apalagi satu setengah bulan lagi dia akan menikah. Aku harap sampai hari pernikahannya nanti dia tidak akan pergi jauh dulu." Ucap wanita paruh baya itu.


****


Desa Ying Luang

__ADS_1


Rombongan Chu Pian Ran tiba di desa Ying Luang pada sore hari sebelum matahari terbenam.


Begitu melihat rombongan dari istana datang, para penduduk menyambutnya dengan hangat.


Tak ingin membuang waktu lama, Chu Pian Ran meminta pada salah satu penduduk untuk mengantarnya pada beberapa penduduk yang sedang kerasukan.


Chu Pian Ran, Qin Wu Zhu dan Lu Zee lalu dibawa oleh seorang pria paruh baya menuju dapur yang ada di belakang rumahnya, dimana di situ telah ada seorang pria yang sudah berumur, yang tubuh dan tangannya diikat pada sebuah tiang dengan tali tambang.


Mata pria itu melotot dan dari mulutnya terdengar suara menggeram pelan.


Dengan segera Chu Pian Ran maju mendekati pria terikat itu lalu meletakkan tangannya di atas kepala pria itu.


Gadis itu mengalirkan kekuatannya pada pria itu untuk mengusir roh jahat dari tubuhnya.


Beberapa detik kemudian, suara geraman dari mulutnya yang awalnya pelan kini menjadi keras. Matanya melotot menatap pada Chu Pian Ran.


Akhirnya setelah mengeluarkan teriakan agak panjang, roh jahat itu bisa diusir dari tubuh pria itu. Dan sekarang tubuh pria itu tak sadarkan diri.


"Lepaskan ikatannya. Dan jika dia sadar nanti segera minumi air putih yang banyak." Perintah Chu Pian Ran pada seorang penduduk itu.


"Baik tuan putri, terimakasih banyak sudah menyembuhkan ayah saya." Kata pria paruh baya itu dan dengan segera melepaskan ayahnya dari ikatan dengan dibantu Lu Zee.


Beberapa waktu ke depannya, Chu Pian Ran juga melakukan hal yang sama pada lima penduduk yang kerasukan secara bergantian.


Namun, saat menangani orang selanjutnya, pria yang kerasukan itu berkata pada Chu Pian Ran.


"Mau apa kau perempuan, berani-beraninya kau mencampuri urusanku!" Kata pria itu dengan suara berat dan serak.


"Jadi kau yang sudah membuat mereka seperti ini?" Ucap gadis itu.


"Itu karena mereka sudah kurang ajar merusak tempat tinggalku bahkan mengencinginya!" Ujar pria itu dengan emosi.


"Mereka mana tahu jika itu tempat tinggalmu, mata manusia biasa tidak akan bisa melihat keberadaanmu." Lanjut Chu Pian Ran memberi penjelasan.


"Aku tidak mau tahu alasan itu! Yang jelas aku sudah tinggal di situ selama puluhan tahun. Dan sekarang tiba-tiba tempat tinggalku dirusak begitu saja!" Balas pria itu.


"Bukankah hutan itu luas, kenapa kau tidak mencari tempat lain yang lebih jauh dan tidak mudah dijangkau oleh manusia biasa." Sambung gadis itu.


"Perempuan goblok! Kau pikir di hutan itu makhluk seperti aku hanya beberapa saja, banyak sekali goblok! Dan mereka semua sudah punya wilayah sendiri-sendiri. Jika aku menyerobot tempat mereka begitu saja pasti hidupku akan tamat!" Kata pria itu.


Mendengar kata-kata kasar dari mulut pria itu, Qin Wu Zhu terpancing emosinya. Namun tidak demikian dengan Chu Pian Ran, gadis itu hanya menganggapnya angin lalu saja.


"Baiklah, jika kau bersikeras seperti itu aku akan memasukkanmu dalam botol lalu menguburkanmu di dalam tanah. Bagaimana?" Tantang gadis itu.


Pria itu lalu menggeram-geram keras dan menatap Chu Pian Ran dengan mata melotot.


"Kau pilih keluar sendiri dari tubuh manusia itu lalu pergi mencari tempat tinggal yang baru jauh dari sini atau aku memasukkanmu dalam botol dan menguburkanmu dalam tanah? Aku bukan tipe orang yang suka bercanda setan, aku ini orangnya serius." Tambah Chu Pian Ran.


Setan yang merasuki pria itu rupanya sangat keras kepala. Dia menolak mentah-mentah perintah gadis itu bahkan mengucapkan beberapa kata-kata kasar lagi padanya.


Tanpa basa basi lagi, Chu Pian Ran meminta sebuah botol berpenutup pada tuan rumah.


Setelah botol itu ada di tangannya dan membuka tutupnya, telapak tangan gadis itu diletakkannya di atas kepala pria itu.


Tak berapa lama muncullah cahaya dari telapak tangan Chu Pian Ran. Bersamaan dengan itu, mulut pria itu berteriak-teriak karena kepanasan.


Lima belas menit kemudian keluarlah asap hitam tebal dari tubuh pria itu, dan dengan secepat kilat gadis itu menangkap asap itu dengan telapak tangannya dan dimasukkan dalam botol lalu ditutup.


Tubuh pria yang ada di depannya kini sedang tak sadarkan diri.


Chu Pian Ran memerintahkan anggota keluarganya untuk melepas ikatan pria itu lalu membaringkan tubuhnya ke ranjang.


Sekalipun roh jahat yang membuat huru hara itu sudah dimasukkannya dalam botol, namun tetap saja gadis itu memberikan penanganan pada penduduk lain yang kesurupan hingga masalah benar-benar beres.


Selama tiga jam lebih Chu Pian Ran mengusir dan membersihkan tubuh para penduduk yang kerasukan dari pengaruh roh jahat.


Tak berselang lama, satu persatu dari mereka mulai sadar. Dan sesuai perintah gadis itu, mereka diminumi air putih yang banyak.

__ADS_1


Malam itu, Chu Pian Ran dan yang lain memutuskan untuk menginap sehari di desa itu sambil memastikan semuanya baik-baik saja.


Chu Pian Ran dan Qin Wu Zhu diberi tumpangan oleh penduduk desa, sementara para prajurit berjaga-jaga di luar sambil mengelilingi api unggun.


__ADS_2