Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 120 Berlian Yang Berkilauan


__ADS_3

Setelah para kurcaci menyelesaikan acara makannya, seperti yang telah diperintahkan oleh nyonya muda Lee tadi, mereka pun dengan segera mencuci perlengkapan masak dan perlengkapan makan di sumber air yang ada di dalam gua sebersih-bersihnya lalu menata semua perlengkapan itu di dalam celah dinding gua yang dialasi oleh kain yang telah disiapkan sebelumnya oleh Chu Pian Ran.


Sementara itu, di bagian gua yang lain, yang dijadikan sebagai tempat tinggal para kurcaci, terlihatlah nyonya muda Lee sedang memeriksa denyut nadi nyonya Fong Chong yang hari ini mulai tampak stabil dan dengan penerawangannya infeksi di usus halusnya sudah pulih sedikit.


"Bagaimana keadaan istri saya nyonya muda?" tanya kepala suku bangsa kurcaci yang saat itu sedang berdiri di dekat ranjang batu istrinya dengan wajah cemas.


"Sudah mulai ada kemajuan... Mungkin sekitar satu minggu lagi istrimu akan sembuh seperti sediakala...," sahut Chu Pian Ran.


"Benarkah itu nyonya muda?" ucap Fong Chong masih belum percaya.


"Tuan Fong Chong, tanaman obat milik peri Jinfeng Zhui itu memiliki khasiat yang luar biasa. Untuk melihat hasil akhirnya semua itu butuh proses, kau bersabarlah...," terang nyonya muda Lee.


"Terimakasih banyak nyonya muda, anda sudah mau membantu kami... Maaf sudah merepotkan..." kata nyonya Fong Chong dengan suara lemah sambil berbaring di ranjangnya yang terbuat dari batu dan hanya dialasi oleh kain tipis yang kumal.


Tak lama kemudian, peri cantik itu pun mengambil semangkuk susu manis yang telah dimasaknya tadi, yang diletakkannya di atas batu sambil menunggu susu itu agak dingin.


"Minumlah susu ini nyonya, agar tubuhmu ada tenaga... Selama usus halusmu belum sembuh, jangan mengkonsumsi makanan yang kasar-kasar dulu, nanti usus halusnya malah tambah luka...," pesan Chu Pian Ran sambil menyerahkan mangkuk berisi susu itu pada suaminya, yang kemudian disuapkannya pada istrinya pelan-pelan dengan menggunakan sendok kecil.


"Besok, aku akan kemari lagi untuk mengecek keadaanmu nyonya, sekaligus membawakan bahan makanan mentah karena sisanya tadi tinggal sedikit," lanjut nyonya muda Lee.


"Apakah nyonya muda akan kembali sekarang?" tanya Fong Chong sambil menoleh pada peri cantik itu.


"Iya tuan Fong Chong, kemarin aku sudah janji dengan peri Jinfeng Zhui untuk kesana lagi dan mengambil buah-buahan panenannya serta membagikannya pada orang yang tidak mampu," jawab nyonya muda Lee.


"Jika nyonya muda tidak terburu-buru, bisakah ikut saya sebentar? Saya ingin menunjukkan sesuatu pada anda...," kata kepala suku bangsa kurcaci itu.


Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun mengikuti langkah kaki kecil Fong Chong hingga melewati salah satu lorong gua lain yang gelap gulita. Untuk penerangan, maka nyonya muda Lee pun mengeluarkan berkas cahaya dari telapak tangannya.


Setelah berjalan kaki sekitar empat puluh lima menitan, mereka berdua pun dihadapkan dengan persimpangan lorong cabang tiga, dan si kepala suku bangsa kurcaci itu mengambil lorong bagian kiri.


Rupanya, lorong gua yang sedang mereka lewati itu semakin lama semakin rendah langit-langitnya yang membuat Chu Pian Ran berjalan sambil membungkukkan badannya.


Saat melihat lorong di depannya semakin rendah lagi langit-langitnya, maka nyonya muda Lee pun berniat untuk merubah wujudnya menjadi berkas cahaya putih agar mudah melintasi lorong itu.


Namun entah mengapa, dia sulit bertransformasi seolah 'ada sesuatu yang menghalangi' untuk melakukan hal itu, bahkan peri cantik itu pun juga tidak bisa menerawang di bagian gua tersebut untuk mengetahui kemana Fong Chong akan membawanya pergi dan apa yang akan diperlihatkannya padanya.


Akhirnya, peri cantik itu pun kini mau tidak mau harus berjalan merangkak hingga puluhan menit, yang membuat pakaiannya yang berwarna putih itu menjadi sangat kotor terkena tanah.


Sementara itu, karena tubuh Fong Chong sangat mini, maka pria kurcaci itu tidak perlu menundukkan kepala atau pun merangkak saat berjalan.


Sesudah dua puluh menitan nyonya muda Lee berjalan dengan merangkak, sampailah mereka berdua di mulut sebuah lorong.


Begitu masuk ke dalam lorong tersebut, terkejutlah Chu Pian Ran dengan apa yang dilihat oleh matanya hingga membuat peri cantik itu sampai terpana hingga beberapa menit.


Setelah bangkit berdiri, perempuan cantik itu pun mengedarkan pandangannya dengan rasa takjub dimana terlihatlah di bagian dinding gua, langit-langit gua dan dasar gua itu banyak sekali bongkahan-bongkahan batu berlian yang beraneka warna yang membuat gua tersebut memancarkan cahaya berwarna-warni yang begitu indah.

__ADS_1


"Luar biasa sekali..." gumam Chu Pian Ran memecah keheningan dengan rasa kagum.


"Selama ribuan tahun, berlian-berlian itu tetap ada di sini dan tidak berkurang jumlahnya satu biji pun," terang kepala suku bangsa kurcaci itu.


"Lalu kenapa kau memberitahuku? Apakah kau tidak takut aku akan mencurinya?" tanya nyonya muda Lee asal-asalan dengan masih menatap takjub berlian-berlian yang berkilauan itu.


"Dengan hati anda yang sebaik itu apakah anda akan bisa mencuri?" tanya Fong Chong.


"Ya siapa tahu saja kalau suatu saat nanti aku sedang kekurangan uang, aku bisa diam-diam mencuri berlian-berlian itu... Kan lumayan, bisa untuk foya-foya...," kata Chu Pian Ran sekenanya.


"Memangnya nyonya muda suka berfoya-foya?" buru manusia mini itu.


"Ya tidaklah... Daripada untuk foya-foya, lebih baik dibagikan untuk rakyat miskin," ujar nyonya muda Lee yang disambut dengan senyuman dari bibir Fong Chong yang sudah bisa menebak jawaban apa yang akan keluar dari bibir perempuan cantik itu.


"Kalau begitu, berlian-berlian itu saya serahkan pada anda nyonya muda...," ucap si kepala suku bangsa kurcaci.


Mendengar perkataan pria mini itu, Chu Pian Ran pun terkejut dan menatap pada Fong Chong dengan hati penuh tanda tanya.


"Apa aku tidak salah dengar tuan Fong Chong? Kau menyerahkan semua berlian itu padaku? Bukankah berlian itu milik kalian?" nyonya muda Lee melontarkan beberapa pertanyaan sekaligus pada pria mini yang ada di dekatnya itu.


"Menurut cerita nenek moyang kami secara turun-temurun, berlian itu sudah ada di sini sejak dahulu sebelum bangsa kami tinggal menetap di sini. Jadi tidak bisa dikatakan jika berlian itu adalah milik kami. Karena berlian-berlian itulah kami mau dianggap sebagai 'mitos' oleh bangsa manusia," terang kepala suku bangsa kurcaci itu.


"Apa maksudnya tuan Fong Chong? Aku tidak mengerti dengan perkataanmu...," timpal peri cantik itu.


"Menurut mitos yang beredar, bangsa kurcaci adalah makhluk yang suka mencari harta karun, jika kami menampakkan diri pada manusia yang jahat dan mereka sampai menangkap kami, apakah yang akan terjadi dengan nasib kami ini...," sambung Fong Chong.


"Benar nyonya muda... Padahal, kami ini tidak lebih dari mahkluk mini yang lemah yang hanya bisa mengandalkan alam sekitar agar kehidupan kami tetap berlangsung sekalipun kami sangat minim fasilitas. Jika kami sampai tertangkap oleh manusia yang jahat dan dipaksa untuk terus mencari harta karun, bisa-bisa kami mati satu-persatu dan bangsa kami pun akhirnya punah...," imbuh pria mini itu


Mendengar penjelasan Fong Chong yang panjang lebar itu, nyonya muda Lee pun menjadi trenyuh dan merasa sangat kasihan.


Andai saja bangsa kurcaci itu tidak dianggap sebagai makhluk mitos, Chu Pian Ran pasti akan bisa menjamin kehidupan yang layak untuk para manusia mini itu dari hasil penjualan berlian-berlian dan dibuatkan beberapa rumah yang memadai di suatu tempat, yang sekitarnya mendukung penghidupan mereka.


Namun apalah daya dia, mitos itu sudah mendarah daging hingga ratusan tahun yang membuat bangsa kurcaci itu harus tetap tinggal di tempat yang tersembunyi.


Kalau pun dipindah ke tempat yang lain, manusia mini itu belum tentu akan setuju karena mereka sudah terlanjur tinggal di dalam gua yang sekarang ini mereka tinggali selama ratusan tahun bahkan mungkin lebih dari itu.


"Aku akan berusaha agar hidup kalian tidak terganggu oleh mahkluk lain khususnya manusia, tuan Fong Chong. Kapan-kapan, aku akan mencoba memasang pagar gaib di sekitar gua dengan kekuatan supranaturalku agar hidup kalian menjadi aman," ucap peri cantik itu.


"Lalu bagaimana dengan yang lain? Apakah mereka setuju jika aku membawa berlian-berlian itu?" lanjut Chu Pian Ran sambil menoleh pada pria mini yang ada di dekatnya itu.


"Kenapa tidak setuju nyonya muda? Dengan keberadaan berlian itu di sini, hidup kami selalu merasa was-was. Kalaupun kami ingin memilikinya itu pun untuk apa, toh kami juga tidak bisa menjual batu berharga itu," balas Fong Chong terus terang.


"Baiklah, jika itu memang sudah keputusan kalian, aku bersedia membawa batu-batu berharga itu, tapi seperlunya saja dulu agar tidak menaruh kecurigaan pembeli. Nanti uang hasil dari penjualannya akan aku gunakan juga untuk memenuhi kebutuhan kalian sehari-hari. Jadi, jika kalian membutuhkan sesuatu kalian tinggal mengatakannya padaku," kata nyonya muda Lee.


"Sepakat nyonya muda... Apa yang kau anggap baik, kau lakukan saja, kami akan menurutinya. Saya percaya, anda akan bisa mengelola hasil penjualan dari berlian-berlian itu untuk hal yang bermanfaat dan mulia."

__ADS_1


Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun melangkahkan kakinya untuk mendekat di kumpulan bongkahan-bongkahan batu berlian itu lalu memungut 5 batu berlian kecil dan membungkusnya rapat dengan sapu tangannya.


Setelah memasukkan sapu tangan berisi berlian itu ke saku bajunya, nyonya muda Lee pun mengajak Fong Chong untuk segera keluar dari tempat itu karena sudah ada janji dengan peri Jinfeng.


Kini, terlihatlah Chu Pian Ran telah berada di luar gua dengan Zhin Zhuan yang sudah menunggunya sedari tadi sambil berbincang dengan beberapa kurcaci perempuan yang bertanya soal masak-memasak.


Begitu melihat pakaian nyonya muda Lee yang tampak kotor kecoklatan, peri pegar emas itu pun bertanya dengan rasa keheranan.


"Pakaianmu kenapa kak? Kotor begitu?"


"O ini... Tadi aku habis mengejar tikus," jawab Chu Pian Ran sekenanya.


"Sudahlah, jangan banyak tanya. Sekarang kita segera saja pergi ke tempat nenek Jinfeng, beliau pasti sudah menunggu kita sedari tadi," lanjut peri cantik itu.


Setelah berpamitan dengan para manusia mini itu, Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan pun merubah wujud menjadi berkas cahaya lalu melesat secepat kilat menuju hutan Jinfeng.


****


"Nek, aku lapar sekali nih...," keluh Chu Pian Ran begitu sampai di depan peri Jinfeng Zhui yang saat itu sedang membaca buku sambil menunggu kedatangan perempuan cantik itu, yang sekarang sudah duduk di kursi yang ada di samping kirinya sambil mengelus-ngelus perutnya yang lapar.


Sementara itu, Zhin Zhuan juga sudah duduk di kursi yang ada di samping kanan peri senior itu, yang sebelumnya telah memberi salam dahulu pada peri Jinfeng Zhui.


"Memangnya, sebelum datang kemari apa kalian tidak mampir di rumah makan terlebih dahulu? Jika kau ingin minta makanan padaku seperti makanan yang kau makan sehari-hari, tentu saja aku tidak punya, karena setiap hari kan makananku hanya buah-buahan...," jelas peri senior itu.


"Makanya nek, nenek itu perlu makan makanan bangsa manusia yang enaknya mantap betul. Atau jangan-jangan, nenek tidak bisa memasak ya?" kata Chu Pian Ran mulai mencari-cari perkara.


"Untuk apa juga memasak? Dari dulu aku sama sekali tidak pernah memasak..." sahut peri Jinfeng Zhui.


"Rugi dong nek kalau tidak bisa memasak, kita sebagai kaum hawa harus bisa memasak... Nenek pasti tidak pernah kan merasakan lezatnya makan dengan tumis sawi putih campur daging, tumis kangkung, rica-rica ayam... Masih banyak lagi lah pokoknya..."


Menyebutkan beberapa makanan tadi, peri cantik itu pun semakin bertambah rasa laparnya.


"Bukannya nenek tidak bisa atau tidak mau memasak, tapi karena itu sudah menjadi tekad nenek yang bisa dikatakan sebagai salah satu 'aksi pengendalian hawa nafsu' yang sangat penting untuk kehidupan para peri...," terang peri senior itu tanpa merasa tersinggung sedikit pun dengan perkataan Chu Pian Ran.


Tak berapa lama, peri Jinfeng Zhui pun memperhatikan pakaian nyonya muda Lee yang tampak sangat kotor.


"Darimana saja kau ini, pakaianmu kotor begitu? Kamu habis bertanam padi di sawah ya?" tanya peri senior itu.


"Tidak nek, kita berdua tadi habis dari guanya bangsa kurcaci dan mengajari mereka memasak...," jawab Chu Pian Ran.


"Kalau mengajari mereka memasak, harusnya kamu kan juga bisa makan bersama mereka...," timpal peri senior itu.


"Ya mana tega nek ikut makan bersama mereka, bisa-bisa nanti ada yang tidak kebagian jatah makanan, kan kasihan... Lagipula kalau aku sedang lapar, aku bisa menghabiskan makan hingga tiga porsi...," balas nyonya muda Lee jujur.


"Astaga... Rupanya kamu itu cantik-cantik tapi rakus juga ya...," sindir peri Jinfeng Zhui terus terang.

__ADS_1


"Namanya juga lapar neek...,"


"Ya sudah, sebaiknya kamu bersihkan tubuhmu dulu lalu ganti pakaianmu dengan pakaian nenek, kebetulan ukuran pakaian kita hampir sama hanya lebih panjang sedikit milikku. Setelah itu, kau makan sana gih di rumah makan. Kalau sudah kenyang, cepat kemari lagi."


__ADS_2