Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 51 Mata-Mata Kerajaan Lian


__ADS_3

Kabar kehebatan tuan Song ternyata bukan hanya tersebar di wilayah kerajaan Qin, namun juga sampai di wilayah kerajaan Lian.


Kaisar kerajaan Lian adalah orang yang memiliki ambisi tinggi. Pria itu memiliki keinginan untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di sekitarnya. Dia ingin membuktikan bahwa kerajaan Lian adalah kerajaan yang paling kuat di China.


Untuk saat ini kerajaan Lian telah berhasil menaklukkan kerajaan Han dan kerajaan Ming.


Telah bertahun-tahun kerajaan Lian berusaha menaklukkan kerajaan Qin namun selalu mengalami kegagalan.


Setelah mendengar berita bahwa di kerajaan Qin muncul pria bertopeng yang memiliki kekuatan yang luar biasa, kaisar Lian bermaksud untuk mengajak pria itu bersekutu dengannya sehingga kerajaan Lian semakin ditakuti oleh kerajaan yang lain.


Di wilayah kerajaan Lian masih ada beberapa orang yang berprofesi sebagai dukun atau tukang tenung. Bahkan kaisar Lian sendiri juga memiliki seorang tukang tenung andalan yang selalu dimintai bantuan dalam menyelesaikan beberapa permasalahan kerajaan.


Selain itu, di wilayah kerajaan Lian juga membudidayakan beberapa tanaman beracun yang memang sengaja digunakan untuk melumpuhkan musuh-musuh mereka. Bahkan diantara tanaman beracun itu terdapat tanaman yang sangat langka dan belum ada penawar racunnya.


Hari itu kaisar Lian memanggil lima orang kepercayaannya, salah satunya adalah Chang Xuang yang merupakan adik kandung tukang tenung andalan kaisar Lian, Chang Xibing.


Chang Xuang juga belajar ilmu pertenungan namun kemahirannya setingkat di bawah kakaknya.


Dengan perintah langsung dari kaisar, mereka diutus untuk mencari dan membawa tuan Song ke kerajaan Lian bagaimanapun caranya sekalipun memakai cara yang licik.


Sebelum berangkat, mereka juga membekali diri dengan berbagai macam racun dan bubuk yang telah dimantrai Chang Xibing agar usaha mereka nanti berhasil.


Akhirnya mereka berlimapun melakukan perjalanan panjang menuju Qianzhong, karena kabar terakhir yang mereka dengar bahwa pria bertopeng pernah terluka parah saat di Qianzhong dan sempat dirawat di salah satu klinik yang ada di sana.


****


Kediaman Tuan Chu


Beberapa hari terakhir terlihat di kediaman Chu sedikit lebih sibuk dari hari biasanya. Para pelayan sedang mempersiapkan acara pertunangan nona mudanya dengan tuan muda Lee.


Seperti permintaan Chu Pian Ran, acara pertunangan ini nanti hanya diadakan secara sederhana saja. Sehingga tuan Chu dan tuan Lee sepakat hanya mengundang para pejabat istana.


Hari pertunanganpun tiba, satu persatu tamu undangan datang di kediaman Chu. Jumlah pejabat istana yang diundang semuanya ada tiga puluh lima orang.


Tuan Chu memakai aula kediamannya itu untuk acara pertunangan putrinya.


Tentu saja beberapa hari sebelumnya aula itu telah didekorasi sedemikian rupa hingga sekarang tampilannya terlihat elegan.


Setelah semua tamu undangan hadir, acara pertunangan itupun dimulai dengan tuan Lee sebagai pembawa acaranya.


Hari itu Chu Pian Ran terlihat sangat cantik dengan pakaian dan riasan yang menawan. Begitu juga Lee, dia terlihat tampan dan gagah.


Jika boleh jujur, diantara para pejabat istana yang memiliki seorang putra dengan usia siap menikah, mereka sangat ingin putranya bisa menikahi nona Chu.


Namun karena mereka sudah mendengar bahwa nona Chu dan tuan muda Lee sudah dekat sejak masa kanak-kanak dan akhirnya berpacaran, mereka akhirnya mengurungkan niatnya itu.

__ADS_1


Sebenarnya Chu Pian Ran sempat tidak setuju jika rambutnya dirias dengan berlebihan. Gadis itu kurang suka memakai perhiasan emas di rambutnya. Namun karena dibujuk beberapa kali oleh ibunya, gadis itu akhirnya mengalah dan menuruti perintah ibunya.


Acara itu berlangsung selama satu setengah jam. Setelah acara selesai, Chu Pian Ran dan Lee diperkenankan meninggalkan tempat dan para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan.


Acara makan minum itu terlihat santai dan kadang disertai canda tawa dari para pejabat istana itu.


Sementara itu Lee dan Chu Pian Ran ada di dalam kamar gadis itu.


Sejak masuk kamar, Chu Pian Ran sudah tidak tahan untuk melepas perhiasan yang ada di rambutnya.


"Sayang, kenapa kau melepas perhiasan itu? Bukankah kau terlihat sangat cantik dengan mengenakan itu?" Kata Lee dengan duduk di tepi meja rias kekasihnya.


"Aku tidak suka memakai perhiasan yang berlebihan seperti ini. Jika ibu tidak membujukku seperti itu pasti aku tidak mau memakainya." Balas Chu Pian Ran dengan wajah sedikit masam.


"Sudahlah sayang jangan menggerutu seperti itu. Bibi menyuruhmu mengenakan perhiasan itu karena kau akan dilihat oleh para pejabat istana. Jadi dia berusaha sebaik mungkin agar kau tampil menawan di depan mereka." Lanjut Lee.


Pemuda itu lalu mendekati kekasihnya dan kedua tangannya memeluk pinggang gadis itu lalu menarik tubuhnya agar mereka lebih merapat.


Sambil menempelkan puncak hidungnya pada puncak hidung gadis itu, Lee lalu berkata pada kekasihnya.


"Sayang, hari ini aku senang sekali akhirnya kita bisa bertunangan. Aku yakin tidak akan ada pemuda lain yang akan berani mendekatimu." Ucap Lee.


Pemuda itu lalu mengusap-usapkan puncak hidungnya itu pada puncak hidung Chu Pian Ran.


"Setelah ini aku harap kita bisa menikah secepatnya." Lanjutnya.


"Tidak apa-apa sayang, aku akan menunggu sampai kau siap." Kata Lee.


Beberapa detik kemudian, tangan kanan Lee lagi-lagi menarik kerah pakaian kekasihnya itu.


Dengan tangan kiri masih merengkuh pinggang kekasihnya, pemuda itu menarik kerah pakaian Chu Pia Ran untuk bisa mengintip sesuatu yang ada di baliknya.


"Lee, jangan seperti ini... Di kediamanku masih banyak tamu dan pelayan yang sering berlalu lalang. Bagaimana jika ada pelayan yang melihat kita?" Chu Pian Ran berusaha mengingatkan kekasihnya.


Rupanya pemuda itu tidak peduli dengan ucapan kekasihnya itu, dia masih saja melihat bagian tubuh kekasihnya itu.


Beberapa saat kemudian, Lee mendorong tubuh Chu Pian Ran hingga tubuh gadis itu tertahan oleh dinding kamar.


Selanjutnya, pemuda itu menghujani wajah kekasihnya dengan ciuman-ciuman yang lembut sambil tangan kirinya menyingkap separuh pakaian atas kekasihnya.


Beberapa saat kemudian untuk ke sekian kalinya Lee melakukan hal itu lagi pada bagian tubuh kekasihnya itu.


****


3 bulan kemudian...

__ADS_1


Mata-mata dari kerajaan Lian telah sampai di gerbang Qianzhong.


Karena mereka baru saja melakukan perjalanan yang lumayan panjang, merekapun mencari sebuah penginapan untuk beristirahat terlebih dahulu.


Pada malam harinya, Chang Xuang menyuruh dua orang dari antara mereka untuk mencari informasi dimana lokasi klinik tempat tuan Song pernah dirawat.


Tak butuh waktu lama, dua orang itu kembali dengan memberikan laporan dimana tempat klinik itu berada.


Tengah malamnya...


Chang Xuang dan dua temannya dengan berpakaian serba hitam dan bercadar hitam berusaha untuk memasuki klinik tabib Fei.


Mereka bertiga masing-masing membawa sebilah pedang.


Tanpa mengalami kesulitan yang berarti akhirnya tiga orang itu berhasil masuk ke dalam klinik.


Merekapun kemudian berpencar untuk mencari dimana letak kamar tabib Fei.


Sepuluh menit kemudian Chang Xuang sendirilah yang ternyata terlebih dahulu menemukan kamar tabib tua itu.


Pria itu lalu mengeluarkan pedangnya dan langsung membangunkan tabib Fei dengan menepukkan pedang itu di bahu tabib tua itu.


Betapa terkejutnya tabib Fei saat matanya terbuka dan melihat ada seorang pria bercadar hitam dengan meletakkan pedangnya yang tajam di lehernya.


"Si siapa kau?" Tanya tabib Fei ketakutan.


"Tabib tua, kau tidak perlu tahu siapa aku. Sekarang katakan dimana keberadaan pria bertopeng itu?" Tanya Chang Xuang.


"Ma maaf tuan, saya juga tidak tahu dimana tuan Song berada." Jawab tabib Fei.


"Aku dengar terakhir kali dia dirawat di klinikmu ini." Lanjut Chang Xuang.


"Be benar tuan, tapi pangeran Qin Wu Zhu sudah membawanya pergi dari sini." Ucap tabib Fei.


"Awas saja kalau kau bohong tabib! Aku tidak akan segan-segan memenggal kepalamu." Ancam Chang Xuang lalu menurunkan pedangnya dari leher tabib Fei.


Pria itu kemudian keluar dari kamar tabib tua itu dan meninggalkan klinik dengan diikuti dua temannya tadi.


Sepeninggal Chang Xuang tubuh tabib Fei lemas, dia memegang dadanya karena detak jantungnya berdegup cepat.


Tabib tua itu beberapa kali menarik dan membuang nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


****


Pagi harinya, Chang Xuang dan keempat temannya melanjutkan perjalanannya menuju ibukota Qin.

__ADS_1


Kali ini yang menjadi target mereka adalah Qin Wu Zhu, pangeran kedua kerajaan Qin itu.


Dengan kecepatan penuh mereka berlima memacu kudanya agar cepat sampai di tujuan.


__ADS_2