Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 78 Kebahagiaan Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran


__ADS_3

21+


Setelah meletakkan nampan berisi makan siang di atas meja, Lee menghampiri istrinya yang sedang berdiri di depan meja rias dari arah belakang.


Pemuda itu lalu meletakkan kedua tangannya di masing-masing gundukan istrinya itu sambil bibirnya menciumi gambar bunga mei hwa yang ada di belakang bahu kanan istrinya.


Setelah sekian lama, gambar bunga mei hwa yang ada di belakang bahu istrinya itu ternyata semakin melebar hingga mencapai sebagian punggung perempuan itu.


"Sayang, gambar bunga mei hwa di belakang tubuhmu semakin besar saja." Ucap Lee sambil memijit-mijit lembut kedua gundukan milik istrinya.


"Benarkah? Aku malah tidak tahu..." Balas Chu Pian Ran.


Kini perempuan itu membalikkan tubuhnya dan memandang suaminya.


"Apa kau merasa jijik melihatnya?" Tanya perempuan itu.


"Kenapa aku harus jijik sayang? Aku tidak mempermasalahkan hal ini." Kata suaminya yang lagi-lagi kedua tangannya berada di masing-masing gundukan istrinya dan melanjutkan aksi memijitnya yang sempat terputus tadi saat istrinya membalikkan badannya.


"Gambar bunga mei hwa ini sebenarnya adalah roh peri bunga Mei Hwa Lie yang sedang menumpang di tubuhku." Terang Chu Pian Ran.


"Apa yang kau katakan sayang? Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu." Ujar suaminya dengan alis berkerut.


Sejak pulang dari hutan Jinfeng, Chu Pian Ran memang belum pernah menceritakan masalah peri bunga Mei Hwa Lie pada Lee Jiang Wook.


"Kapan-kapan saja aku ceritakan. Sekarang bagaimana kalau kita makan siang dulu, senyampang makanannya masih hangat." Lanjut perempuan itu.


Pasangan pengantin baru itu lalu makan siang bersama dengan duduk sangat berdekatan. Dan Chu Pian Ran tanpa rasa malu sedikitpun melakukan aktivitasnya itu dengan tubuh atasnya yang polos.


Selama makan siang mereka berdua sering terlihat saling menyuapi.


Setelah acara makan siang selesai, Lee membawa bekas perlengkapan makan itu keluar dari kamar dan beberapa menit kemudian pemuda itu telah kembali.


Lee kemudian melepas jubah luarnya dan pakaian dalam bagian atas, hingga kini terlihatlah tubuh perkasa pemuda itu.


Lee lalu duduk di tepi ranjang dan meminta istrinya untuk duduk di pahanya dengan menghadap padanya.


Chu Pian Ran pun tanpa banyak bertanya menuruti kemauan suaminya itu lalu merangkulkan kedua tangannya pada leher pemuda itu.


Kini pasangan pengantin baru itu saling menatap lekat, sementara kedua tangan Lee mengelus-elus punggung mulus istri tercintanya.


Tak berapa lama tangan Chu Pian Ran memberikan sentuhan-sentuhan pada tubuh atas suaminya itu dan alhasil berhasil membuat kejantanannya tegang.


Beberapa detik kemudian, Lee mengangkat tubuh istrinya lalu membaringkannya di atas ranjang dan tangannya melepas kain penutup tubuh bagian bawah perempuan itu hingga tubuh istrinya benar-benar polos.


Untuk sesaat pemuda itu menatap bagian bawah tubuh istrinya dengan rasa kagum.


Selanjutnya, Lee pun juga melepas pakaian bawahnya sendiri hingga tak tersisa.


Secara otomatis Chu Pian Ran pun melihat bagian bawah tubuh suaminya termasuk kejantanannya yang sudah tegak dan tegang itu.


Beberapa detik kemudian, pasangan itu melakukan pemanasan bersama-sama mulai dari menyentuh, mencium, menjilat bahkan menggigit pelan.


Dua puluh menit mereka melakukan hal itu.


"Sayang, aku akan melakukannya sekarang, apa kau siap?" Tanya Lee dengan pelan.


"Aku siap suamiku, tapi lakukan pembasahan dulu agar aku tidak terlalu kesakitan." Jawab istrinya.


Dengan bertopang pada kakinya yang ditekuk, pemuda itu duduk di atas paha atas istrinya lalu melakukan pembasahan dengan menggesek-gesekkan dua organ inti.


Saat suaminya melakukan hal itu, tubuh Chu Pian Ran seperti tersengat. Mata perempuan itu terpejam sambil menahan gejolak akibat organ intinya digesek-gesek oleh milik suaminya.


Setelah cukup basah, maka dengan pelan-pelan Lee berusaha memasukkan miliknya di liang sempit istrinya.


Mata Lee melihat wajah istrinya yang saat itu memejamkan mata sambil bibirnya mendesis pelan karena menahan rasa sakit.


Dengan sangat pelan namun pasti akhirnya milik Lee sudah masuk secara penuh di organ inti istrinya.

__ADS_1


Pemuda itu lalu merubah posisinya. Kedua tangannya kini diletakkan menyilang di bawah kepala sang istri, sementara kedua kakinya menumpu berat badannya. Kini wajah mereka sangat dekat dan dada Lee menempel pada dada istrinya.


"Sayang, apa kau baik-baik saja? Rasanya sakit sekali ya?" Tanya Lee agak cemas karena istrinya masih memejamkan matanya.


Tak berapa lama kedua mata perempuan itu terbuka.


"Tidak apa-apa suamiku, rasanya hanya sedikit sakit saja... Hanya, aku merasakan gejolak yang besar dalam diriku sejak kau melakukan pembasahan tadi, apalagi saat milikmu yang perkasa itu masuk ke dalam milikku. Rasanya benar-benar tidak bisa terkatakan." Terang Chu Pian Ran jujur.


Kini kedua mata mereka beradu, saling menatap dengan rasa cinta.


Beberapa saat kemudian merekapun saling berciuman lembut untuk kesekian kalinya dan setelahnya Lee melakukan gerakan pelan yang teratur di bawah sana.


Seiring dengan gerakan pemuda itu terdengar pula lenguhan pelan dari mulut istrinya.


Kedua insan itu kini merasakan puncak kebahagiaan yang tak terkatakan. Melalui penyatuan itu seolah-olah aliran cinta yang murni mengaliri hati mereka berdua yang membuat cinta mereka semakin menguat.


Selama pergerakan itu berlangsung, kedua insan itu saling menatap lekat.


Kedua tangan Chu Pian Ran memeluk tubuh suaminya dengan erat.


Puluhan menit kemudian terasalah benih cinta Lee keluar dan masuk dalam rahim istrinya. Untuk beberapa saat tubuh mereka lemas.


Pemuda itu lalu meletakkan kepalanya di ceruk kanan leher istrinya untuk beristirahat sebentar.


"Sayang, apa kau merasa bahagia saat melakukannya tadi?" Tanya suaminya pelan dengan kepala masih berada di ceruk kanan leher istrinya.


"Iya suamiku, aku benar-benar bahagia... Rasa sakitnya tak sebanding dengan kebagiaan yang kurasakan. Aku sangat mencintaimu suamiku..." Jawab Chu Pian Ran sambil memeluk erat tubuh suaminya.


"Trimakasih banyak sayang, aku juga sangat mencintaimu." Sambung Lee.


Ritual bercinta pasangan pengantin baru itu berlanjut setelah mandi sore bersama.


Di hari pertama menikah itu, Lee telah mengeluarkan benih cintanya di rahim istrinya hingga tiga kali.


Tengah malam ini kedua insan itu sudah tertidur pulas karena kelelahan bercinta.


Lee tidur dengan lengan kirinya di bawah kepala istrinya sementara tangan kanannya menangkup gundukan kanan milik istrinya.


****


Keesokan paginya...


Lee terbangun terlebih dahulu, pemuda itu lalu menatap lekat istrinya yang masih tertidur lelap dengan tarikan nafas teratur.


Beberapa saat kemudian, Lee beranjak turun dari ranjangnya, memunguti bajunya dan baju istrinya yang berserakan lalu masuk ke kamar mandi yang ada di sebelah kamar.


Setelah selesai mandi, berpakaian dan menata rambutnya, pemuda itu lalu keluar dari kamar sambil membawa ember kayu berisi pakaian kotornya dan istrinya tadi dan menyerahkannya pada pelayan untuk dicuci.


Tak lupa, Lee juga meminta pada pelayan itu agar menyiapkan 2 mangkuk sup daging dan 2 mangkuk susu manis untuknya dan istrinya.


Sesudah itu Lee kembali masuk ke kamarnya, menutup pintu lalu naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya dengan posisi menghadap pada istrinya. Pemuda itu lalu memperhatikan wajah istrinya yang masih tertidur itu hingga beberapa menit.


Sekalipun rambut Chu Pian Ran berantakan tapi wajah perempuan itu terlihat masih sama cantiknya dengan sebelumnya.


Lee lalu memajukan kepalanya hingga kini wajahnya telah berada di atas wajah istrinya, dan tak berapa lama pemuda itu menciumi wajah istrinya dengan lembut.


Merasa tidurnya terganggu, Chu Pian Ran pun membuka matanya dan melihat wajah suaminya sudah ada di atas wajahnya dengan jarak sangat dekat.


"Selamat pagi sayang, bagaimana keadaanmu?" Tanya suaminya pelan.


"Tubuhku rasanya pegal linu dan di bagian bawah sana rasanya juga perih..." Jawab Chu Pian Ran terus terang dengan nada lesu.


"Maaf ya sayang, kemarin aku tidak bisa menahan keinginanku untuk bercinta denganmu sampai puas..." Ucap Lee.


"Kau tidak perlu minta maaf suamiku, sekalipun badanku sekarang rasanya seperti ini tapi aku sangat bahagia..." Sahut istrinya.


Tak berapa lama Lee menyingkap selimut bagian bawah yang menutupi tubuh polos istrinya itu.

__ADS_1


Pemuda itu lalu membuka sedikit kedua paha istrinya dan mengecek organ intinya, ternyata organ inti istrinya itu memang bengkak.


Setelah menutup selimut lagi, Lee kembali mendekati istrinya.


"Selama milikmu belum sembuh aku tidak akan minta jatah dulu sayang, aku tidak tega melihatmu kesakitan..." Kata pemuda itu.


Beberapa saat kemudian, mata pasangan pengantin baru itu saling beradu untuk sekian menit lalu terjadilah ciuman lembut yang intim kembali diantara mereka berdua


Aktivitas mereka tiba-tiba terhenti ketika terdengar pintu kamar diketuk.


Lee segera turun dari ranjang lalu melangkah untuk membuka pintu kamar.


Setelah pelayan menyerahkan nampan yang dibawanya kepada pemuda itu dan menutup pintu kamar, Lee lalu meletakkan nampan itu di atas meja dan mengambil semangkuk sup daging hangat beserta sendoknya.


"Ayo sayang makan sup dulu untuk mengganjal perut... Sini aku suapi." Ujar pemuda itu.


Chu Pian Ran pun lalu duduk di ranjang tanpa menutupi bagian atas tubuhnya yang polos dan memakan sup daging yang disuapkan oleh suaminya hingga habis tak tersisa.


Kini pemuda itu gantian mengambil semangkuk susu hangat dan meminta istrinya untuk minum.


Sesudah istrinya, kini gantian Lee yang makan sup dan minum susu itu. Setelah itu dia membawa mangkuk kotor itu keluar kamar.


Tak berselang lama, pemuda itu telah kembali lagi ke kamar.


"Sayang, apa kau mau mandi sekarang?" Tanya Lee.


Chu Pian Ran mengangguk.


Lalu dengan sigapnya pemuda itu mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


Lee kemudian meletakkan tubuh istrinya pelan-pelan di bak mandi yang berukuran 2m x 2m itu (bak mandinya berbentuk seperti kolam kecil yang permukaannya rata dengan lantai) lalu membantu istrinya mandi.


Rupanya kamar mandi itu juga memiliki pintu lain yang menjurus keluar, dimana di dekat pintu terdapat gentong besar untuk penampungan air hangat yang didesain sedemikian rupa sehingga salah satu sisinya bisa dilubangi dan dipasangi pipa bambu panjang untuk mengalirkan air ke bak mandi dengan menembus dinding kamar mandi itu.


Selain itu, untuk mengosongkan air yang ada di bak mandi setelah selesai dipakai, hanya tinggal membuka lubang di samping bawah bak mandi yang juga diberi pipa bambu yang tembus keluar kamar mandi dan langsung terbuang di saluran pembuangan air yang ada di belakang kamar mandi.


Di dalam ruangan kamar mandi yang cukup luas itu juga terdapat meja kecil panjang yang di atasnya terdapat keranjang berisi berbagai macam bunga, kotak berukuran sedang yang berisi beberapa botol wewangian cair untuk mandi, dan beberapa potong lap pengering badan.


Karena membantu istrinya mandi, otomatis Lee harus turun juga ke bak mandi itu dan pakaiannya basah. Namun bagi pemuda itu tidak menjadi masalah karena dia ingin melayani istrinya itu sebaik mungkin.


Dengan lembut Lee menggosok seluruh tubuh istrinya itu dengan lap halus. Karena air dalam bak mandi itu lumayan wangi, maka ruangan kamar mandi itu pun beraroma wangi pula.


Setelah selesai memandikan istrinya, pemuda itu lalu mengangkat tubuh perempuan itu keluar bak mandi dengan hati-hati.


Sesudahnya Lee pun mengeringkan tubuh istrinya menggunakan lap yang telah tersedia di atas meja.


Tak lupa, pemuda itu melepas semua pakaiannya yang basah lalu meletakkannya di ember kayu yang ada di situ.


Tak berapa lama tubuh polos Lee mengangkat tubuh istrinya yang polos juga menuju kamar.


Maka berpakaianlah mereka berdua, setelah itu Chu Pian Ran melangkah menuju kursi yang ada di depan meja rias lalu mulailah dia menyisir dan menata rambutnya.


Sementara itu, suaminya masuk ke kamar mandi lagi dan keluar sambil membawa ember kayu yang berisi pakaian basahnya tadi, melipat sprei kotor yang habis dipakainya bercinta dengan istrinya kemudian membawa barang-barang itu keluar dari kamar untuk diserahkan pada pelayan.


Beberapa menit kemudian pemuda itu masuk ke kamar dengan membawa sprei baru lalu langsung memasangkannya di atas ranjang dan merapikan ranjangnya.


Mata Chu Pian Ran yang menyaksikan semua yang dilakukan suaminya pun merasa kagum.


"Kau rajin juga suamiku..." Kata perempuan itu.


"Sedari dulu aku sudah seperti ini sayang... Sekalipun di kediaman banyak pelayan, tapi ayah dan ibu mengajariku untuk menjadi orang yang mandiri agar kelak tidak menyusahkan orang lain. Apalagi sekarang aku sudah menjadi seorang suami, tentu aku harus memberikan teladan bagi istriku dan anakku kelak..." Terang Lee.


Setelah ranjang itu rapi, pemuda itu mendekati istrinya.


"Apa kau sudah lapar? Bagaimana kalau kita segera sarapan saja setelah itu menemui ayah dan ibu." Lanjut Lee.


Chu Pian Ran menganggukkan kepalanya tanda setuju.

__ADS_1


Tak menunggu lama pemuda itu pun keluar kamar, setelah lima belas berlalu dia datang kembali sambil membawa nampan berisi makanan.


Kini pasangan suami istri baru itupun sarapan bersama dan beberapa kali terlihat saling menyuapi.


__ADS_2