Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 37 Siluman Harimau Gunung Yinlong


__ADS_3

Jalanan Yingchuan dipadati oleh penduduk yang saat itu akan mengantar kepergian tuan Song.


"Atas nama rakyat Yingchuan, saya mengucapkan banyak terimakasih dengan semua bantuan tuan Song. Tanpa bantuan tuan, kami tidak bisa seperti sekarang ini." Kata tuan Yihan selaku bupati baru.


"Tidak perlu sungkan bupati, aku senang bisa membantu kesulitan kalian. Untuk ke depannya aku berharap bupati bisa membawa daerah Yingchuan ini menjadi semakin lebih baik." Balas Chu Pian Ran.


"Sekarang sudah waktunya aku berpamitan, aku harus melanjutkan perjalanan kembali." Lanjut Gadis itu.


"Hati-hati di jalan tuan Song, perlindungan dari para dewa kiranya menyertai perjalanan anda." Ucap bupati Yihan.


Penduduk Yingchuan melambaikan tangannya saat Chu Pian Ran menaiki kuda.


Dengan kecepatan penuh, gadis itu memacu kudanya meninggalkan daerah Yingchuan.


Oleh dorongan yang kuat dalam batinnya, gadis itu mencari perbukitan batu karang yang ada guanya.


Setelah berjam-jam berkuda akhirnya Chu Pian Ran menemukan tempat yang dimaksud.


Gadis itu lalu menjelajahi perbukitan batu karang untuk mencari sebuah gua yang nyaman baginya bermeditasi.


Setelah menemukan gua itu, Chu Pian Ran berkata pada kudanya sambil mengelus-elus surainya.


"Kuda yang manis, aku akan bermeditasi lumayan lama di dalam gua ini. Jika kau lapar dan haus pergilah ke tempat yang ada sumber makanan dan airnya lalu kembalilah kemari." Kata Chu Pian Ran.


Seolah mengerti dengan ucapan pemiliknya, kuda itu membalas dengan dengusan.


Chu Pian Ran memasuki gua itu, setelah dibersihkan diapun mulai bermeditasi.


Entah apa sebabnya batinnya menyuruh dia untuk melakukan meditasi panjang. Mungkin sebagai persiapan akan menghadapi sesuatu yang tidak biasa.


Gadis itu bermeditasi dengan khusyuknya. Setelah melewati seminggu meditasi, lagi-lagi dari gambar bunga mei hwa di bahunya muncul berkas-berkas cahaya.


Berkas cahaya itu kemudian mengelilingi tubuh Chu Pian Ran seperti kejadian sebelumnya.


Dua minggu, tiga minggu dan akhirnya meditasi Chu Pian Ran telah mencapai satu bulan.


Berkas-berkas cahaya yang tadinya mengelilingi tubuh gadis itupun menyusut dan kembali ke gambar bunga mei hwa.


Chu Pian Ran membuka matanya. Hal pertama yang dia rasakan adalah lapar dan haus. Maklum, selama satu bulan penuh perut gadis itu tidak terisi oleh apapun.


Chu Pian Ran lalu keluar dari gua, si kuda masih setia menunggu pemiliknya di depan gua itu.


Gadis itu lalu menaiki kudanya dan memacu kuda itu dengan kecepatan penuh untuk mencari rumah makan terdekat.


Setelah tiga jam berkuda, Chu Pian Ran melihat ada sebuah rumah makan sederhana di suatu dusun kecil.


Tanpa menunggu lama, dia memesan menu makanan terenak yang ada di rumah makan tersebut.


Dengan cepat, Chu Pian Ran menyantap makanan yang sudah tersaji bahkan minta tambah dua porsi lagi.


Setelah dirasa kenyang dan membayar semua makan minumnya, gadis itu kembali melajukan kudanya untuk mencari penginapan.


****


Di suatu dusun di kaki gunung Yinlong, beberapa penduduk sedang berkumpul di sebuah rumah bibi Chung.


Entah apa sebabnya, sepulang dari mencari kayu bakar di area pegunungan, anak laki-laki tunggalnya tiba-tiba mengamuk tidak jelas. Xiao Lung, nama anak laki-laki bibi Chung itu bertingkah seperti harimau. Dia menggeram, mencakar-cakar dan matanya nyalang melotot.


Ada tetangga yang berkata mungkin saja pemuda itu sudah kerasukan oleh siluman harimau penunggu gunung Yinlong.


Beberapa orang yang memegang Xiao Lung pun terpental karena ulah pemuda itu.


Bibi Chung menjadi sangat panik dibuatnya. Para tetangga sekitarpun juga tidak bisa berbuat apa-apa karena kejadian ini diluar kemampuan mereka.


Beberapa jam kemudian, Xiao Lung berhasil kabur dari rumah lalu berlari menuju area pegunungan dengan tingkah layaknya harimau.


Beberapa penduduk yang berkumpul di rumah bibi Chung berusaha mengejar pemuda itu, namun mereka semua kehilangan jejak.

__ADS_1


Sejak saat itu, Xiao Lung tidak pulang ke rumah. Bibi Chung dan para penduduk yang awalnya berusaha mencari-cari keberadaan pemuda itupun akhirnya menyerah.


Jangan ditanya betapa sedihnya hati Bibi Chung yang hanya memiliki satu anak laki-laki sebagai tumpuan hidupnya, namun sekarang keberadaan anaknya itu tidak diketahui.


****


Sudah seharian penuh Chu Pian Ran tidur nyenyak di penginapan. Setelah bermeditasi selama satu bulan gadis itu berniat ingin mengistirahatkan tubuhnya.


Namun, saat sedang pulas-pulasnya, suara batinnya yang kuat membangunkan dia.


Chu Pian Ran membuka matanya yang masih terasa berat. Sebenarnya dia ingin lebih lama menghabiskan waktunya untuk tidur. Namun karena kuatnya suara batin itu, Chu Pian Ran mau tidak mau bangkit dari ranjangnya dan mandi agar tubuhnya segar kembali.


Satu jam kemudian, Gadis itu sudah memacu kudanya menuju sebuah tempat yang dikatakan oleh suara batinnya tadi.


Karena Chu Pian Ran tidak tahu letak tempat itu, akhirnya dia bertanya pada pemilik penginapan.


Berdasarkan arahan pemilik penginapan, Gadis itu mengendarai kudanya menuju ke sana.


Tiga jam kemudian, Chu Pian Ran telah tiba di sebuah dusun di dekat kaki gunung Yinlong.


Gadis itu kemudian bertanya kembali kepada salah satu warga dimana letak tempat yang sedang dia cari.


Setelah satu jam Chu Pian Ran tiba di sebuah dusun dimana Bibi Chung tinggal.


Untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut, gadis itu bermeditasi selama dua jam.


Dalam meditasinya, Chu Pian Ran mendapat dorongan yang kuat lagi dari suara batinnya untuk pergi ke area hutan bagian timur.


Tanpa menunggu lama lagi, gadis itu menjelajahi area hutan bagian timur dengan menggunakan jurus peringan tubuhnya. Karena dengan naik di atas pohon yang tinggi dia dapat melihat sekitarnya dengan jangkauan yang lumayan luas.


Satu jam, dua jam hingga lima jam barulah Chu Pian Ran menemukan target yang dimaksudkan oleh suara batinnya itu.


Di atas ketinggian pohon, matanya melihat seorang pemuda yang bertingkah seperti harimau dan penampilannya acak-acakan.


Chu Pian Ran lalu terbang turun di depan pemuda itu.


"Siapa kau berani-beraninya mau mencampuri urusanku?!" Terdengar suara berat dari bibir Xiao Lung yang sebenarnya itu adalah suara asli siluman harimau yang sudah merasuki pemuda itu.


"Dasar siluman tidak tahu diri, berani-beraninya kau merasuki pemuda itu." Kata Chu Pian Ran tegas.


Xiao Lung menggeram.


"Memangnya kenapa kalau aku merasuki dia, aku ingin dia mati pelan-pelan lalu menawan jiwanya menjadi budakku." Balas si siluman.


Tanpa basa-basi lagi, Chu Pian Ran maju dan menyerang raga Xiao Lung dengan ilmu bela dirinya.


Selama satu jam pertarungan itu berlangsung.


Karena siluman itu lumayan kuat, gadis itu mengerahkan kekuatan spiritualnya.


Kedua tangan gadis itu telah mengangkat tubuh Xiao Lung dan kekuatan spiritualnya berusaha untuk memaksa roh siluman itu keluar dari tubuh pemuda itu.


Siluman itu berteriak, suaranya memecah keheningan hutan.


Setengah jam sudah Chu Pian Ran terus mendesak roh siluman itu agar cepat keluar.


Bersamaan dengan suara teriakan yang keras, keluarlah asap hitam dari tubuh Xiao Lung.


Gadis itu mendaratkan raga Xiao Lung yang pingsan ke tanah.


Asap hitam itu kemudian berubah wujud menjadi harimau yang ukurannya sangat besar, kira-kira sepuluh kali lipat besarnya dari ukuran harimau biasa.


Pertarungan terjadi kembali.


Dengan kekuatan yang seimbang, mereka berdua sama-sama seimbang.


Setelah tiga jam bertarung akhirnya tanpa Chu Pian Ran sadari, ketika dia mengulurkan kedua tangannya pada makhluk itu, keluarlah kilatan cahaya putih mengenai tubuh siluman harimau.

__ADS_1


Siluman itu berteriak dengan suara yang sangat nyaring. Rupanya cahaya putih itu membakar tubuh makhluk itu hingga menjadi abu.


Entah kenapa tiba-tiba tubuh Chu Pian Ran terasa lemas. Tubuhnya limbung serasa ingin pingsan.


Untuk sesaat gadis itu duduk bersila lalu bermeditasi kembali selama jam.


Setelah merasa tubuhnya lebih baik, Chu Pian Ran memeriksa tubuh Xiao Lung.


Gadis itu memeriksa denyut nadi pemuda itu. Masih ada denyutnya tapi lumayan lemah.


Kemudian Chu Pian Ran menggendong tubuh Xiao Lung meninggalkan area hutan itu.


Karena tubuhnya belum pulih, beberapa kali gadis itu harus beristirahat untuk memulihkan tenaganya.


Beberapa jam kemudian gadis itu berhasil menemukan kudanya. Chu Pian Ran lalu menaikkan tubuh Xiao Lung ke kudanya. Setelah gadis itu naik di atas kuda, Chu Pian Ran memacu kuda itu menuju dusun terdekat.


Sebelum matahari terbenam, gadis itu berhasil mencapai dusun terdekat. Kebetulan saat itu ada seorang pria tua yang baru kembali dari ladangnya.


Pria tua itu kaget saat tahu bahwa Xiao Lung sudah ditemukan oleh pria bertopeng.


Dengan segera, si pria tua mengantarkan Chu Pian Ran ke rumah Bibi Chung.


Bibi Chung menangis terharu karena anaknya telah kembali ke rumah. Namun ternyata masalahnya belumlah usai.


Rupanya setelah dirasuki oleh siluman harimau itu, Xiao Lung harus mendapatkan penanganan khusus agar sadar kembali.


Kini beberapa tetangga sekitar Bibi Chung telah berdatangan. Mereka cukup lega karena Xiao Lung telah ditemukan. Namun kondisi pemuda itu masih mengkhawatirkan.


Selama hampir dua minggu menghilang, tubuh Xiao Lung menjadi kurus, pucat dan ada beberapa luka lecet.


Chu Pian Ran akhirnya menawarkan bantuan untuk menyembuhkan Xiao Lung, tapi gadis itu kurang yakin apakah dia bisa melakukannya atau tidak mengingat baru kali ini dia akan mencoba menyembuhkan orang.


Sebelum melakukan penyembuhan, Chu Pian Ran minta ijin dulu memulihkan diri dengan bermeditasi, karena saat ini kondisi tubuhnya memang belum pulih seperti sedia kala.


Dengan menumpang di rumah salah satu penduduk, gadis itu bermeditasi selama dua hari.


Saat ini, Chu Pian Ran sudah duduk bersila di belakang tubuh Xiao Lung yang masih belum sadar.


Tubuh Xiao Lung dibuat duduk bersila dengan dipegangi oleh dua orang penduduk di masing-masing bahu pemuda itu.


Bibi Chung pun turut menyaksikan proses penyembuhan itu. Wanita itu terlihat sangat cemas.


Chu Pian Ran mengerahkan kekuatannya pada kedua telapak tangan yang dia tempelkan di punggung Xiao Lung.


Satu jam, dua jam berlalu. Dua puluh menit kemudian terdengar suara batuk dari bibir Xiao Lung. Mata pemuda itu pun mulai terbuka.


Bibi Chung dan dua pria tetangga tadi merasa lega. Akhirnya Xiao Lung berhasil disadarkan.


Keadaan Xiao Lung sangat lemah, karena selama dirasuki oleh siluman harimau pemuda itu sama sekali tidak makan dan minum.


Pemuda itu lalu dibaringkan kembali ke ranjang. Salah seorang tetangga perempuan menawarkan diri untuk memasakkan bubur halus.


Beberapa tetangga sekitar mulai berdatangan untuk menjenguk Xiao Lung.


Pemuda itu merasa sangat bingung mengapa kondisinya bisa seperti ini dan mengapa banyak tetangga yang mengunjunginya.


Bibi Chung sengaja tidak menceritakan terlebih dahulu peristiwa itu kepada Xiao Lung mengingat anaknya baru sadar.


Seminggu kemudian, berangsur-angsur keadaan Xiao Lung menjadi lebih baik. Pemuda itu sudah kuat untuk berjalan-jalan di sekitar rumahnya.


Bibi Chung sangat berterimakasih pada pria bertopeng yang telah banyak membantunya. Jika tidak ada pria itu, mungkin anaknya akan mengalami nasib yang tragis.


Karena keadaan sudah dirasa membaik, Chu Pian Ran pun berpamitan kepada Bibi Chung, Xiao Lung dan para tetangga.


Tak lupa, Chu Pian Ran berpesan kepada mereka untuk berhati-hati jika bepergian ke tempat yang sekiranya asing bagi mereka.


Tak bisa dipungkiri, bahwa selain manusia dan binatang, bumi ini juga dihuni oleh makhluk tak kasat mata yang adakalanya mengganggu manusia.

__ADS_1


__ADS_2