Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 31 Berlatih Mematahkan Besi


__ADS_3

Lu Zee sedang melaporkan hasil pengintaiannya pada majikannya.


"Hong Gwan? Siapa dia?" Tanya Qin Wu Zhu.


"Berdasarkan informasi yang hamba dapatkan, Hong Gwan adalah salah satu orang terkaya di daerah Sanchuan ini yang mulia. Dia memiliki beberapa usaha hingga luar daerah Sanchuan." Jawab Lu Zee.


"Untuk apa pria bertopeng itu mengincar Hong Gwan? Apakah dia juga memiliki bisnis kotor?" Lanjut pemuda itu.


"Hamba masih belum tahu yang mulia. Jika yang mulia berkehendak hamba akan mencari informasinya." Kata Lu Zee.


"Beberapa hari ini kau sudah bekerja keras Lu Zee, sebaiknya kau tidurlah dulu. Sekarang aku akan pergi ke penginapan pria bertopeng itu, mudah-mudahan hari ini sikapnya lebih melunak." Ucap Qin Wu Zhu.


"Baik yang mulia pangeran, terimakasih untuk perhatiannya. Hamba undur diri dulu."


Sepeninggal Lu Zee, Qin Wu Zhu keluar dari penginapan untuk mencari tuan Song si pria bertopeng.


Sesampainya di penginapan Yukuai, Qin Wu Zhu menyampaikan maksud kedatangannya pada seorang pelayan. Kata sang pelayan, tuan Song sedari tadi belum keluar dari kamarnya.


Pemuda itu pun meminta tolong pada pelayan itu untuk menyampaikan pesannya pada tuan Song. Tak lupa Qin Wu Zhu memberikan 1 koin emas pada si pelayan.


Tok, tok, tok!


Terdengar suara ketukan pintu.


"Tuan Song, apakah tuan ada di dalam? Saya pelayan penginapan, tuan." Kata pelayan itu.


Pelayan itu menunggu hingga beberapa menit, namun tidak ada suara jawaban dari dalam.


Pelayan itu kembali mengetuk pintu kamar tuan Song.


"Tuan Song." Panggil si pelayan.


Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu terbuka.


"Ya ampun pelayan, aku masih ngantuk, kenapa kau menggangguku." Gerutu Chu Pian Ran.


"Saya benar-benar minta maaf tuan karena saya sudah berani mengganggu tidur tuan. Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari seorang tamu untuk tuan." Ucap pelayan itu dengan sedikit ketakutan.


"Tamu? Siapa?" Tanya Chu Pian Ran malas.


"Namanya tuan Sung Huan. Dia ingin bertemu dengan tuan. Saat ini tuan Sung Huan masih menunggu jawaban anda, tuan." Lanjut si pelayan.


"Katakan padanya nanti sore dia suruh menemuiku di warung mie kemarin. Sekarang kau pergilah dan jangan ganggu aku, aku masih sangat ngantuk." Tanpa menunggu jawaban dari pelayan itu, Chu Pian Ran langsung menutup pintu kamar dan melanjutkan tidurnya.


Pelayan penginapan kemudian menemui Qin Wu Zhu dan meneruskan pesan tuan Song padanya.


Siang harinya, Chu Pian Ran baru bangun tidur. Dengan masih rebahan di ranjang, gadis itu sedang memikirkan cara untuk membongkar bisnis kotor yang dilakukan oleh Hong Gwan.


Setelah mandi dan makan, gadis itu memiliki pikiran untuk berlatih mematahkan besi, mengingat kemarin dia gagal membuka gembok dengan semua jenis kunci yang dia bawa.


Chu Pian Ran lalu pergi keluar penginapan untuk membeli berbagai jenis barang yang terbuat dari besi dan juga beberapa gembok besi dengan berbagai bentuk dan ukuran.

__ADS_1


Setelah mendapatkan barang-barang itu, dia kembali ke penginapan dan mengurung diri di kamar.


Mata Chu Pian Ran memperhatikan beberapa gembok besi yang baru dia beli. Tidak ada satupun yang sama bentuknya dengan gembok yang niatnya ingin dia buka kemarin.


Mungkin itu gembok yang dipesan secara khusus. Batin gadis itu.


Sebelum memulai latihannya, gadis itu membalut kedua telapak tangannya dengan sapu tangan yang baru dia beli tadi. Cara ini dia gunakan untuk mengurangi rasa sakit saat mematahkan besi.


Chu Pian Ran lalu bermeditasi sebentar.


Awalnya gadis itu mengambil sumpit besi. Dengan mengerahkan kekuatan pada telapak tangannya, dia mencoba untuk mematahkan sumpit besi itu.


Rupanya sumpit besi itu hanya bengkok sedikit. Chu Pian Ran tidak putus asa dan terus mencoba.


Setelah delapan kali mencoba, akhirnya sumpit besi itu pun berhasil dia patahkan.


Chu Pian Ran merasakan kedua tangannya sedikit panas.


Setelah jeda sebentar, gadis itu lalu mengambil sebuah gembok besi yang bentuknya mirip dengan gembok yang ada di rumah Hong Gwan kemarin.


Chu Pian Ran mengambil napas dalam-dalam dan kembali memusatkan kekuatannya pada kedua telapak tangannya.


Dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk mencabut besi pengait gembok itu.


Berkali-kali gadis itu mengalami kegagalan.


Chu Pian Ran menghentikan latihannya sejenak. Dia mengambil posisi meditasi dan bermeditasi selama dua jam.


Gadis itu bermeditasi dengan khusyuk.


Sekali dua kali hingga lima kali akhirnya dia berhasil. Gembok itupun akhirnya terbuka tanpa menggunakan kunci.


Kali ini dia mencobanya dengan gembok yang lain.


Selama dua jam lebih gadis itu bersibaku dengan gembok-gembok itu dan berhasil membuka 4 gembok lagi.


Chu Pian Ran menghentikan latihannya, dia ingat ada janji ketemuan dengan Qin Wu Zhu.


Gadis itu membungkus benda-benda besi itu ke dalam buntelan lagi dan menyimpannya.


Setelah mandi, diapun beranjak keluar dari penginapan.


Rupanya Qin Wu Zhu sudah duduk manis di salah satu bangku yang ada di warung mie itu.


Chu Pian Ran pun duduk di samping pemuda itu.


"Ada apa kau mencariku?" Tanya Chu Pian Ran.


"Maafkan saya tuan, jika saya sudah mengganggu kesibukan anda." Balas Qin Wu Zhu.


"Tidak perlu bertele-tele, langsung saja ke intinya. Aku juga ada urusan penting lainnya." Lanjut Chu Pian Ran.

__ADS_1


"Saya dengar selama ini tuan banyak membantu orang lain yang sedang kesusahan. Kalau boleh saya tahu, apakah kedatangan anda di Sanchuan juga demikian?" Kata pemuda itu.


"Kalau iya apakah aku harus memberitahumu?" Jawab Chu Pian Ran terus terang.


"Saya tidak bermaksud untuk mencampuri urusan anda tuan. Saya hanya ingin menawarkan bantuan jika anda memang memerlukannya." Sambung Qin Wu Zhu.


Tanpa memberi jawaban, gadis itu bangkit berdiri dan meninggalkan pemuda itu.


Lagi-lagi Qin Wu Zhu dibuat jengah oleh sikap pria bertopeng itu.


Sedingin-dinginnya sikap dia selama ini, rupanya ada yang lebih parah lagi.


Pemuda itu menarik napas panjang.


****


Tengah malamnya


Kali ini Chu Pian Ran mengulangi kembali datang di sebuah bangunan asal suara rintihan kemarin malam.


Gadis itu kembali menajamkan telinganya. Sepi. Tidak ada suara apapun dari dalam.


Chu Pian Ran melihat ke sekelilingnya, memastikan keadaan sekitarnya aman.


Lagi-lagi dia mencoba untuk membuka gembok besi itu tanpa kunci.


Sekali dua kali dia gagal membukanya.


Gadis itu terus berusaha hingga beberapa kali dan akhirnya gembok itu berhasil terbuka.


Sepasang mata Lu Zee kembali mengawasi gerak gerik pria bertopeng itu.


Saat gembok terbuka, benda itu mengeluarkan sedikit bunyi. Chu Pian Ran kembali mengedarkan pandangannya di sekelilingnya.


Setelah dirasa masih aman, dia masuk ke dalam bangunan itu.


Tak berapa lama kemudian. Gadis itu keluar sambil menggendong seseorang.


Sebelum meninggalkan bangunan itu, Chu Pian Ran mengunci kembali gembok besi itu.


Dengan hati-hati, gadis itu segera membawa pergi orang yang ada dalam gendongannya.


Chu Pian Ran merasa kesulitan untuk membawa keluar orang itu. Jika sendirian, dia mudah untuk menggunakan jurus peringan tubuhnya, namun kali ini dia membawa orang lain yang berat badannya lebih dari 30 kilo.


Gadis itu menyandarkan tubuh yang pingsan itu di dinding pagar bagian belakang kediaman.


Dinding pagar yang mengelilingi kediaman Hong Gwan cukup tinggi, kira-kira ada 4 meteran.


Chu Pian Ran lalu naik terbang ke atas dinding pagar itu.


Dia mengulurkan kedua telapak tangannya dan mengangkat tubuh itu lalu mendaratkannya di seberang pagar dengan hati-hati.

__ADS_1


Dengan segera gadis itu menggendong kembali tubuh yang sedang pingsan itu dan membawanya menjauh dari kediaman Hong Gwan.


Chu Pian Ran menembus gelapnya malam untuk membawa tubuh itu ke tempat yang aman.


__ADS_2