Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 29 Jaringan Perdagangan Manusia (1)


__ADS_3

Saat ini Chu Pian Ran sedang rebahan santai di batang kokoh sebuah pohon besar sambil makan bakpao.


Baru kali ini dia merasakan nyamannya rebahan di alam bebas.


Telinganya mendengar kicauan burung dan gemerisik daun yang tertiup angin.


Samar-samar dia mendengar suara perempuan minta tolong. Gadis itu pun bangkit duduk dan menajamkan pendengarannya.


Aneh, tadi aku samar-samar mendengar orang minta tolong tapi kenapa suaranya sudah menghilang... Batin Chu Pian Ran.


Chu Pian Ran lalu bermeditasi dan berusaha menerawang dari arah mana suara itu berasal. Karena tidak mungkin dia harus menjelajahi hutan seluas ini. Bisa-bisa dia terlambat, dan takutnya perempuan itu tidak tertolong.


Suara hati gadis itu berkata 'barat'.


Chu Pian Ran membuka matanya dan segera melompati pohon-pohon menuju arah barat.


Sekitar 20 menit kemudian, gadis itu melihat sebuah pondok kayu kecil.


Untuk sesaat Chu Pian Ran mengamati pondok itu dari atas pohon. Sepi.


Gadis itu lalu turun dan mendekati pondok kayu itu.


Di dekatkannya telinganya pada dinding pondok, namun tidak terdengar suara apapun dari dalam.


Pintu pondok itu rupanya terkunci dari luar. Chu Pian Ran tidak kehabisan akal.


Dia mundur beberapa langkah ke belakang dan menyalurkan kekuatannya pada kedua telapak tangannya.


Brakk!


Pintu pondok itu pun berlubang tak beraturan karena hentakan tangan Chu Pian Ran.


Dari lubang itu, Chu Pian Ran melihat ada seorang perempuan yang tergeletak tak berdaya di dalam. Kaki dan tangannya terikat dan mulutnya disumpal dengan kain.


Tanpa mengulur waktu lagi Chu Pian Ran merusak pintu itu hingga terbuka lebar.


Chu Pian Ran segera melepaskan perempuan itu dari ikatan dan sumpalan.


"Hei bangun..." Chu Pian Ran mengguncang-guncang tubuh gadis yang pingsan itu.


Karena belum sadar-sadar juga, akhirnya Chu Pian Ran membopong tubuh gadis itu dan membawanya ke tempat yang aman.


Dia lalu menyandarkan tubuh si gadis pada sebuah pohon besar.


Mata Chu Pian Ran memperhatikan sekelilingnya, memastikan bahwa tempat itu aman.


Beberapa saat kemudian mata gadis yang pingsan itu terbuka. Dia terkejut saat melihat di dekatnya ada seorang pria bertopeng berdiri membelakanginya.


"Si siapa kau? Apa kau juga komplotannya orang jahat itu?" Tanya gadis itu ketakutan.


Chu Pian Ran berbalik, mendekati gadis itu dan berjongkok.


Chu Pian Ran melihat wajah gadis itu pucat ketakutan.


"Kau sudah sadar rupanya... Aku bukan orang jahat, akulah yang membebaskanmu dari dalam pondok itu... Kau tidak perlu takut padaku." Jawab Chu Pian Ran.


Gadis yang ada di depannya itu masih gemetar ketakutan.


"Apa kau kuat berjalan? Kudaku ada di sana, aku akan membawamu keluar dari sini." Lanjut Chu Pian Ran.


Gadis itu tetap tidak bergeming karena masih ketakutan.


"Hei, aku ini benar-benar bukan orang jahat. Kau memilih tetap disini dan ditangkap oleh orang jahat itu lagi atau ikut denganku?" Tanya Chu Pian Ran lagi.


Akhirnya gadis itu mau mengikuti Chu Pian Ran sekalipun hatinya masih ragu apakah laki-laki bertopeng itu benar-benar ingin menolong dia atau malah menculiknya.


"Siapa namamu?" Tanya Chu Pian Ran saat mereka berdua dalam perjalanan menuju kudanya.


"Rong Er." Jawab gadis itu pelan.


"Bagaimana critanya kau bisa ada di tempat itu? Siapa yang menculikmu? " Sambung Chu Pian Ran.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu dan kenapa mereka mau menculikku." Balas Chu Pian Ran.


"Sekarang kita harus keluar dari hutan ini dulu. Urusan selanjutnya kita pikirkan nanti." Lanjut Chu Pian Ran.


Akhirnya mereka berdua sampai pada kuda Chu Pian Ran.


Chu Pian Ran lalu membantu Rong Er naik ke atas kuda. Dan kemudian dia ikut naik ke atas kuda itu, di belakang Rong Er.


Dengan segera Chu Pian Ran membawa kudanya keluar dari area hutan itu.


Sesuai arahan Rong Er, dalam setengah jam mereka berdua akhirnya tiba di depan sebuah rumah sederhana yang cukup terpencil karena hanya rumah itu yang terlihat, sedangkan sekelilingnya terdapat banyak pepohononan.


"Sepi sekali rumahmu? Dimana anggota keluargamu?" Tanya Chu Pian Ran begitu mereka turun dari kuda.


"Aku tinggal sendiri, kedua orang tuaku sudah meninggal." Jawab Rong Er pelan.


"Pasti tidak akan aman jika kau tinggal sendirian di tempat terpencil seperti ini. Apa kau tidak punya kerabat lain?" Lanjut Chu Pian Ran.


"Tidak, aku sudah tidak punya kerabat lagi." Balas Rong Er.


Rong Er membuka pintu rumah itu.


"Maaf tuan jika sikapku tadi tidak baik. Aku benar-benar ketakutan karena peristiwa itu." Ucap Rong Er.


"Sudahlah tidak apa-apa, jangan terlalu dipikirkan." Kata Chu Pian Ran.


"Kau tidak perlu takut denganku karena sebenarnya aku juga seorang gadis yang sedang menyamar. Tapi kau harus merahasiakan ini, hitung-hitung sebagai rasa terimakasihmu karena aku sudah menolongmu." Sambung Chu Pian Ran.


"Baik nona, aku janji. Terimakasih banyak nona sudah menolong saya." Imbuh Rong Er.


Tanpa dipersilahkan masuk oleh tuan rumah, Chu Pian Ran berkeliling di dalam rumah itu.


Perabotan yang ada dalam rumah benar-benar sangat sederhana, namun bersih dan rapi.


"Kau tidak punya bahan makanan?" Tanya Chu Pian Ran.


Rong Er menjawabnya dengan gelengan kepala.


Mereka berdua berkuda kembali menuju sebuah desa terdekat.


Di desa itu mereka membeli semua bahan makanan yang dibutuhkan untuk beberapa hari.


Tentu saja yang membayar belanjaan itu adalah Chu Pian Ran. Tuan Chu sudah membekali putrinya itu dengan uang emas dan beberapa perhiasan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa bulan.


Tak lupa mereka juga membeli makanan bungkus untuk dibawa pulang.


Penduduk desa itu memperhatikan penampilan Chu Pian Ran yang mereka anggap aneh.


Karena desa itu merupakan desa kecil, jadi para penduduk belum mendengar tentang kabar laki-laki misterius bertopeng yang sedang naik daun.


Sesampai di rumah Rong Er, kedua gadis itu pun makan dengan lahap.


"Rong Er, kau masaklah makanan untuk sore nanti. Sekarang aku akan mengintai sekitar rumah ini, siapa tahu orang jahat itu kembali dan aku bisa langsung meringkusnya." Ucap Chu Pian Ran.


"Baik nona... Terimakasih banyak untuk semua bantuan nona, Rong Er tidak tahu bagaimana harus berterimakasih." Kata Rong Er.


"Sudahlah, tidak perlu kau pikirkan." Balas gadis itu lalu beranjak ke luar rumah dan naik terbang ke atas pohon yang lumayan rimbun.


Satu jam sudah Chu Pian Ran mengintai di sekitar rumah Rong Er.


Tiba-tiba sepasang matanya melihat dua sosok pria sedang mengendap-endap tidak jauh dari rumah Rong Er.


Chu Pian Ran terus memperhatikan dua orang pria yang mencurigakan itu.


Dua pria itu sedikit demi sedikit mulai mendekati rumah Rong Er, hingga keduanya telah sampai di samping rumah.


Kedua pria itu mengendap-endap lagi, yang satu ke depan rumah, sedangkan satunya lagi menuju belakang rumah.


Sebelum salah satu pria itu masuk ke dalam rumah, Chu Pian Ran sudah bersiap-siap untuk beraksi.


Dia mengambil sebuah batu kecil yang sengaja dia persiapkan.

__ADS_1


Chu Pian Ran melempar sebuah batu ke arah kepala pria itu dan kena.


Pria itu meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.


Chu Pian Ran terbang turun dari pohon dan mendarat di depan pria itu.


"Kurang ajar! Jadi kau yang sudah melempar batu ke kepalaku ha!" Teriak pria itu.


"Kalau iya kenapa? Kau datang ke rumah orang dengan tingkah yang mencurigakan seperti itu memangnya mau apa? mencuri atau menculik?" Tanya Chu Pian Ran tanpa rasa takut.


"Itu bukan urusanmu! Sebaiknya kau menyingkir dari sini sebelum aku menghajarmu!" Sesumbar pria itu.


Mendengar temannya sedang bersitegang dengan orang lain, pria yang awalnya di belakang rumah tadi kini menghampiri temannya itu. Kini kedua pria itu sudah siap siaga pasang kuda-kuda.


"Kau ingin menghajarku? Coba saja kalau bisa." Tantang Chu Pian Ran.


Kedua pria itu maju serentak untuk menyerang Chu Pian Ran.


Namun sebelum tangan mereka berhasil menyentuh tubuh gadis itu, Chu Pian Ran menghentakkan kedua tangannya sekuat tenaga.


Alhasil, tubuh kedua pria itu terpental beberapa meter ke belakang dan jatuh berguling-guling di tanah.


Kedua pri itu pun meringis kesakitan.


Mendengar suara ribut-ribut di depan rumah, Rong Er pun keluar.


Gadis itu terkejut saat melihat salah seorang dari mereka.


"Tuan, itu pria yang sudah menculikku tadi." Kata Rong Er sambil menunjuk pada seorang pria.


"Kau mundurlah Rong Er, biar aku yang mengurus mereka." Perintah Chu Pian Ran.


Kini Chu Pian Ran mendekati kedua pria itu.


Kedua tangannya terulur dan mengangkat tubuh kedua pria itu beberapa meter dari tanah.


Rong Er benar-benar terkejut melihat pemandangan di depannya. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya sambil melebarkan matanya.


Chu Pian Ran lalu melempar tubuh itu sekuat tenaga.


Chu Pian Ran mengulangi hal itu hingga beberapa kali sampai dua pria jahat itu tergeletak tak berdaya sambil mengaduh kesakitan.


Kini kedua tubuh pria itu sudah terikat kuat di pohon batang pohon yang berbeda.


"Katakan apa tujuanmu menculik gadis itu?" Tanya Chu Pian Ran pada pria yang sudah menculik Rong Er.


Pria itu diam saja.


Plak!


Chu Pian Ran menampar pipi pria itu. Salah satu sudut bibirnya berdarah.


"Kau masih belum mau mengatakannya? Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan membuatmu terus kesakitan hingga mulutmu mengaku." Ancam Chu Pian Ran.


Benar saja. Chu Pian Ran berkali-kali menampar pipi pria itu secara bergantian.


Pipi pria itu terlihat bengkak dan membiru.


"Baiklah aku akan mengatakannya..." Kata pria itu pelan.


"Kami disuruh oleh tuan Hong Gwan." Lanjutnya.


"Siapa itu Hong Gwan?" Tanya Chu Pian Ran.


"Dia seorang juragan kaya di daerah Sanchuan." Jawab pria itu.


"Untuk apa dia menyuruhmu menculik gadis itu?" Sambung Chu Pian Ran.


"Dijual." Balas pria itu.


Plak!

__ADS_1


Sekali lagi Chu Pian Ran menampar pria itu lagi.


__ADS_2