
"Kau akan ke hutan Jinfeng?" Tanya jenderal Long Yuan dengan sedikit terkejut saat diberitahu Chu Pian Ran bahwa dia akan pergi ke hutan tersebut.
"Iya paman. Begitulah petunjuk yang aku dapatkan dalam meditasiku." Balas gadis itu.
"Aku dengar hutan Jinfeng termasuk hutan yang paling luas dan paling lebat di dataran China ini, bahkan bisa dibilang hutan perawan." Sela Qin Wu Zhu.
"Lalu apa yang akan kau lakukan di sana?" Lanjut jenderal Long Yuan.
"Aku disuruh menemui peri penguasa hutan itu paman." Jawab gadis itu.
Kedua pria itu saling memandang.
"Apa kau yakin akan ke sana? Bagaimana jika kau bertemu dengan siluman yang kuat seperti di Qianzhong?" Sambung Qin Wu Zhu.
"Aku tidak mau memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Yang jelas aku harus menemui peri itu." Sahut Chu Pian Ran mantap.
"Baiklah jika itu memang keinginanmu. Berhati-hatilah saat kau ke sana. Kami berharap urusanmu di sana lancar dan berhasil mendapatkan obat untuk tunanganmu." Ucap jenderal Long Yuan.
"Tentu paman, aku akan berhati-hati. Oh ya, ada hal yang ingin kukatakan. Jika nanti aku sudah mendapatkan obat itu aku akan langsung pulang ke ibukota dan tidak mampir ke sini lagi." Tambah gadis itu.
"Baiklah Nanyang. Jika nanti kau sudah di ibukota, kau tulislah surat untuk mengabari paman." Kata pria paruh baya itu.
"Iya paman."
Keesokan paginya sebelum matahari terbit, jenderal Long Yuan, Qin Wu Zhu dan semua prajurit mengantar kepergian putri Nanyang di depan markas.
Gadis itu dengan mantap memacu kudanya dengan kecepatan penuh menuju hutan Jinfeng.
****
Hutan Jinfeng
Hampir dua minggu, Chu Pian Ran baru tiba di tepi hutan Jinfeng.
Bagi orang biasa, begitu melihat penampakan hutan itu pasti timbul rasa takut karena memang hutannya sangat lebat.
Namun untuk Chu Pian Ran, rasa takut itu tidak ada sama sekali karena tujuannya datang di hutan tersebut adalah menemui peri penguasa hutan dan mendapatkan obat untuk Lee.
Tanpa ragu-ragu, gadis itu mengarahkan kudanya untuk masuk lebih dalam ke area hutan.
2 hari kemudian, setelah dirasa menemukan tempat yang cocok, Chu Pian Ran pun mulai bermeditasi untuk mengundang penguasa hutan itu.
Selama bermeditasi, gadis itu sama sekali tidak mendapat gangguan dari siluman/setan/iblis/sejenisnya yang menghuni hutan itu.
Tiga hari setelahnya, di saat tengah hari, terlihatlah sosok perempuan cantik terbang mendekat ke arah Chu Pian Ran yang saat itu masih dalam posisi bermeditasi.
Mendengar ada seseorang yang datang, gadis itu pun menghentikan meditasinya lalu memberi hormat pada peri itu.
"Salam hormat nona peri, perkenalkan nama saya Chu Pian Ran. Maksud kedatangan saya kemari adalah untuk meminta bantuan anda." Ucap gadis itu dengan membungkukkan badan.
Peri yang sudah berdiri di depannya itu sedikit tersenyum saat Chu Pian Ran menyebutnya 'nona'.
"Selama aku menjadi penguasa di hutan ini, baru kali ini ada manusia yang berani datang kemari dan meminta bantuan padaku." Kata peri itu.
"Maafkan saya nona peri, jika saya sudah mengganggu ketenangan anda. Tapi kedatangan saya benar-benar membutuhkan bantuan anda." Lanjut Chu Pian Ran.
Lagi-lagi peri itu merasa geli saat kata 'nona' disebutkan lagi oleh gadis yang ada di depannya itu.
"Bagaimana ceritanya kau bisa sampai kemari?" Tanya si peri penasaran.
"Saya hanya mengikuti petunjuk suara batin saya saat bermeditasi nona peri." Jelas Chu Pian Ran.
Beberapa detik kemudian, peri itu memperhatikan Chu Pian Ran dengan seksama bahkan mengelilingi tubuh gadis itu.
Si peri merasakan seperti ada aura yang familier dari tubuh Chu Pian Ran.
__ADS_1
Peri itu kemudian mengulurkan jari telunjuk dan jari tengahnya di depan dahi gadis itu.
Tak berapa lama muncullah cahaya dari kedua jarinya dan cahaya itu menembus dahi Chu Pian Ran.
Saat cahaya itu masuk menembus dahi, gadis itu sedikit merasa hangat di bagian itu.
Peri itu pun terkejut begitu selesai menerawang Chu Pian Ran.
"Rupanya kau adalah inangnya peri Mei Hwa Lie, peri bunga mei hwa yang adalah sahabat karibku. Pantas saja aku merasakan aura yang familier darimu. Aku pikir jiwanya dahulu benar-benar sudah musnah, tapi ternyata..." Peri itu tidak melanjutkan kalimatnya. Dia menatap lekat pada Chu Pian Ran.
"Siapa peri bunga Mei Hwa Lie itu peri? Mengapa aku bisa menjadi inangnya?" Tanya Chu Pian Ran sangat penasaran.
"Kita bicara di tempatku saja. Nanti akan kuceritakan padamu." Ajak peri itu.
Tak berapa lama si peri terbang dengan diikuti oleh Chu Pian Ran.
Dua puluh menit kemudian kedua perempuan itu mendarat, lalu peri itu mengulurkan tangan kanannya dan tiba-tiba muncullah pintu gaib di depannya.
Si peri lalu menggandeng tangan kiri Chu Pian Ran dan membawa gadis itu melewati pintu gaib itu.
Begitu pintu gaib itu telah terlewati, Chu Pian Ran dibuat terpesona dengan keindahan tempat tinggal peri itu.
Banyak bunga yang berwarna-warni, kupu-kupu dengan beraneka bentuk dan warna sayap beterbangan kian kemari, suara kicau berbagai macam burung, banyak tanaman buah-buahan dan di situ juga mengalir sebuah sungai yang tidak terlalu lebar yang airnya sangat jernih sehingga binatang air yang ada di sungai itu terlihat jelas.
Suasana tempat tinggal peri itu terasa damai, indah dan membuat betah.
Peri penguasa hutan itu tersenyum melihat reaksi gadis yang ada di sampingnya.
"Ayo kita ngobrol di sana." Ucapan si peri mengagetkan Chu Pian Ran.
Peri itu lalu mengajak duduk gadis itu di potongan batang pohon besar yang diukir indah.
Di tengah ke tiga kursi alami itu juga ada meja yang terbuat dari bahan yang sama.
Si peri lalu menuangkan teh dan menawarkan buah-buahan yang tertata rapi di atas piring kayu besar berukir pada Chu Pian Ran.
Apel itu rasanya sangat manis dan dagingnya empuk, berbeda dengan apel yang pernah dia makan selama ini.
"Makanlah buah ini sampai kenyang, aku tahu kau sudah beberapa hari ini tidak makan, pasti kau sedang kelaparan." Ucap peri itu.
"Baik nona peri, terimakasih banyak." Jawab Chu Pian Ran sambil mengunyah apel.
Peri itu tersenyum kembali.
"Kau tidak perlu memanggilku 'nona' karena umurku sudah banyak, sudah lebih dari 25 ribu tahun. Di alam peri dunia bawah, umur sekian sudah termasuk sangatlah tua." Jelas si peri.
"Tapi anda masih terlihat sangat muda dan cantik peri, sedikit lebih tua dariku." Sahut Chu Pian Ran dengan polosnya.
"Di kehidupan peri, merubah penampilan seperti ini sudah menjadi hal yang umum. Di kalangan para peri, aku menjadi salah satu peri yang sudah senior dan wujud asliku sebenarnya sudah sangat tua dan keriput." Terang peri itu.
Chu Pian Ran menghentikan makannya sejenak dan memperhatikan peri yang ada di depannya.
"Benarkah itu peri?" Tanya gadis itu.
"Benar, memang begitu adanya. Dan kau bisa memanggilku peri Jinfeng Zhui." Sahut peri itu.
"Tadi kau berkata membutuhkan bantuanku, memangnya kau perlu bantuan apa?" Tanya peri Jinfeng Zhui.
"Aku membutuhkan obat untuk menyembuhkan tunanganku yang sedang lumpuh peri." Jawab Chu Pian Ran.
"Tunanganmu lumpuh?" Sambung peri itu.
"Iya peri, ada orang yang berniat untuk membunuhnya. Tunanganku dihajar habis-habisan dan diminumi racun mematikan. Untunglah aku bisa segera menyelamatkannya, namun sekarang dia menjadi lumpuh akibat racun itu peri." Jelas gadis itu.
"Astaga... Siapa orang yang tega berbuat sadis seperti itu?" Tanya peri Jinfeng Zhui.
__ADS_1
"Mata-mata dari kerajaan Lian peri. Tapi beberapa waktu yang lalu aku sudah memberi mereka pelajaran." Ucap Chu Pian Ran.
"Sudah puluhan tahun aku tidak keluar dari hutan ini, jadi aku tidak tahu kabar apapun dari luar." Kata peri itu.
"Bukankah tadi peri berkata akan bercerita tentang peri bunga Mei Hwa Lie." Kata Chu Pian Ran.
Peri Jinfeng Zhui akhirnya bercerita dan inilah sepenggal kisah peri Mei Hwa Lie :
Peri Mei Hwa Lie dan peri Jianfeng Zhui tinggal di hutan yang sama namun jaraknya berjauhan.
Peri Mei Hwa Lie adalah seorang peri yang ringan tangan, dia suka membantu manusia yang sedang kesulitan.
Sekitar 3000 tahun yang lalu, suku iblis sedang melakukan aksi pemberontakan. Mereka mengadakan huru hara di dunia atas dan di dunia bawah.
Akibat ulah mereka, banyak manusia yang menderita bahkan ada beberapa yang meninggal dunia.
Melihat fakta yang seperti itu, peri Jinfeng Zhui dan peri Mei Hwa Lie tidak bisa tinggal diam.
Dengan sekuat tenaga mereka berusaha mengalahkan puluhan iblis yang merajalela di beberapa tempat.
Namun karena kekuatan yang tidak seimbang mereka berdua kalah bahkan jiwa peri Mei Hwa Lie pun musnah.
"Lalu bagaimana bisa aku menjadi inangnya peri?" Tanya Chu Pian Ran.
"Menurut perkiraanku, saat itu jiwa peri Mei Hwa Lie tidak benar-benar musnah tapi tercerai berai di banyak penjuru. Kemudian saat jiwanya telah terkumpul, dia mencoba untuk menumpang di tubuhmu." Terang peri Jinfeng Zhui.
"Tapi peri, sebenarnya rohkupun juga tidak berasal dari zaman sekarang. Aku berasal dari dunia modern. Setelah meninggal, tanpa dimasuk akal rohku masuk dalam raga gadis ini." Ucap Chu Pian Ran.
"Benarkah itu?" Tanya peri Jinfeng Zhui keheranan.
"Benar peri. Pada suatu hari rohku pernah bertemu dengan roh pemilik tubuh ini yang kemungkinan adalah roh peri Mei Hwa Lie dan dia berkata jika dialah yang menarik rohku dari dunia modern. Entahlah aku sendiri benar-benar tidak mengerti hingga sekarang ini." Ujar Chu Pian Ran.
"Di alam semesta ini memang banyak misteri dan sesuatu yang tersembunyi. Bahkan setelah mendengar ceritamu aku sendiri tidak bisa membuat kesimpulannya. Tapi yang jelas, selama kau menjadi inang dari roh peri Mei Hwa Lie, kau akan terus melakukan banyak kebaikan sama seperti yang dia lakukan dulu. Namun, dengan tubuh manusiamu kau harus berhati-hati jika berhadapan dengan makhluk yang bukan dari golongan manusia." Terang peri Jinfeng Zhui.
Peri Jinfeng Zhui lalu membuka telapak tangan kanannya dan tiba-tiba muncul sebuah cincin dari telapak tangannya itu.
"Pakailah cincin ini, suatu saat nanti jika kau berhadapan dengan makhluk yang bukan dari kaum manusia dan kau kalah, tubuhmu tidak akan terlalu merasakan kesakitan." Kata peri Jinfeng Zhui sambil menyodorkan telapak tangannya pada Chu Pian Ran.
Tanpa ragu-ragu gadis itu mengambil cincin itu dan mengenakannya di jari tengah tangan kanannya.
"Terimakasih banyak peri." Ucap Chu Pian Ran sambil mengamati cincin itu.
Peri Jinfeng Zhui lalu mengajak Chu Pian Ran berkeliling tempat itu dan berhenti di suatu tempat yang banyak tanaman anehnya.
Dikatakan aneh karena semua tanaman itu dikelilingi titik-titik cahaya kecil yang lumayan banyak.
Peri Jinfeng Zhui lalu melangkahkan kakinya beberapa meter mendekati tanaman itu dan mencabut sebuah tanaman yang besarnya setelapak tangan orang dewasa.
Begitu tanaman itu dicabut, titik-titik cahaya kecil tadi hilang.
Peri itu lalu menyerahkan tanaman itu pada Chu Pian Ran.
"Tanaman ini bisa menyembuhkan penyakit tunanganmu. Sesampainya di rumah, tumbuklah itu dengan campuran 5 sendok air, kau peras sarinya dan minumkan padanya. Niscaya tak lama kemudian dia pasti bisa berjalan kembali seperti biasa." Jelas peri Jinfeng Zhui.
"Sekali lagi terimakasih banyak peri. Aku sudah berhutang budi padamu." Ujar Chu Pian Ran.
Peri Jinfeng Zhui pun tersenyum.
"Aku sama sekali tidak menganggapmu punya hutang budi padaku. Setelah tahu bahwa kau inang dari peri Mei Hwa Lie aku sudah mengganggapmu sebagai putriku. Kapan-kapan jika kau punya waktu mampirlah kemari, kita bisa mengobrol lebih banyak lagi. Dan lagi, jika suatu saat kau butuh bantuan tanaman obat kau bisa memintanya padaku." Lanjut peri Jinfeng Zhui.
"Oh ya peri, kira-kira jika aku meminta buah-buahan yang ada disini sebagai bekalku pulang apakah boleh?" Tanya gadis itu tanpa sungkan.
Peri Jinfeng Zhui tertawa kecil.
"Tentu saja boleh. Silahkan kamu ambil sesukamu." Balas peri itu.
__ADS_1
Setelah mengucapkan terimakasih, Chu Pian Ran langsung memetik buah yang diinginkannya dengan menggunakan ilmu peringan tubuhnya hingga satu karung penuh.
Setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi, gadis itu pun berpamitan pada peri Jinfeng Zhui dan meninggalkan hutan itu.