Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 132 Berkunjung Ke Rumah Xhi Wan Mei


__ADS_3

Setelah Jinying dan induknya kembali ke dunia atas, maka untuk 'mengakali' bayi burung elang itu agar tidak sering kangen dengan Lee Chu Mian Yin, Dewa Shao Hao pun memasukkan beberapa jenis burung ke kediaman burung elang istimewanya, yang sebelumnya tempat itu memang khusus untuk tempat burung elang emas peliharaannya saja alias tidak dicampur dengan burung lainnya.


Jadi, jika kemarin si Jinying merasa kangen dengan putrinya Chu Pian Ran hingga ngambek pada induknya, sebenarnya itu ada faktor 'kesepian' juga dari bayi burung elang itu karena dia tidak memiliki teman untuk diajak bermain, ditambah lagi induknya Jinying adalah tipe ibu yang pembawaannya sangat tenang.


Tentu saja, dengan masuknya beberapa jenis burung itu di kediamannya, si Jinying pun merasa sangat senang karena jadi punya banyak teman untuk diajak bermain, sehingga bayi burung elang emas itu hanya cukup sekali dalam sebulan diantar ke rumah Lee Chu Mian Yin oleh pemiliknya.


🌹


Sementara itu di wilayah Qin, setelah proses pembangunan selama 3 sampai 4 bulanan, rumah khusus untuk para tunawisma pun akhirnya jadi dan siap untuk dihuni.


Adapun di setiap dinding depan rumah khusus itu ditempeli aturan tertulis berstempel pejabat daerah setempat yang ditunjuk, yang secara garis besar isi dari tata tertib tersebut adalah para penghuni 'wajib' menjaga kebersihan dan merawat dengan baik semua fasilitas ataupun perabotan yang mereka dapatkan.


Tujuan diberlakukannya aturan itu adalah agar para tunawisma tersebut memiliki rasa tanggung jawab dan mengubah gaya hidupnya menjadi lebih tertib sehingga rumah khusus yang mereka tempati beserta perabotan dan fasilitas yang disediakan untuk mereka dapat dimanfaatkan dalam waktu yang lama, sehingga mengurangi biaya pengeluaran pajak yang berlebihan.


Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari mereka seperti bahan makanan mentah, para tunawisma itu mendapat suplai dari pihak kepala daerah setempat yang dananya juga diambilkan dari pajak rakyat, yang tentu saja harus dibuatkan laporannya secara terperinci di buku catatan pengeluaran pajak disertai bukti nota-nota pembelanjaan dari pihak penjual.


Apabila di kemudian hari, ada diantara mereka yang mendapatkan pekerjaan dikarenakan masih memiliki fisik yang kuat, maka bantuan dari kepala daerah tersebut akan dihentikan selama upah yang diterima oleh orang yang bersangkutan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Namun, jika upah yang mereka dapatkan tidak mencukupi untuk makan sehari-hari hingga satu bulan, maka pihak kepala daerah akan memberikan bantuan tapi jatahnya hanya sebagian saja.


Demi kesejahteraan hidup para tunawisma yang menempati rumah khusus itu, atas titah kaisar Qin, kepala daerah setempat harus menunjuk pegawainya untuk melakukan pemantauan secara rutin setiap dua minggu sekali di area rumah khusus tersebut.


Pengadaan pemantauan tersebut dimaksudkan selain untuk mengecek semua kondisi sarpras yang ada, tapi juga untuk menampung keluhan para penghuni rumah khusus.


Adapun hasil pemantauan yang diperoleh nanti harus dilaporkan kepada kepala daerah setempat untuk ditindak lanjuti. Jika permasalahan yang dihadapi dapat diatasi secara intern, maka kepala daerah beserta pegawainya bisa mengambil keputusan terbaik dalam rangka menyelesaikan perkara tersebut.


Namun jika diketemukan masalah yang berat hingga harus meminta bantuan pada pihak kerajaan, maka kepala daerah setempat harus segera melaporkannya ke perdana menteri kesejahteraan rakyat yang kediamannya ada di ibukota.


Sejak saat itu, penghidupan rakyat di wilayah Qin semakin lama semakin sejahtera karena pihak kerajaan beserta para pejabatnya berusaha untuk terus memperbaiki sistem perekonomian mereka, ditambah lagi Chu Pian Ran rajin berkeliling di wilayah Qin sambil membagi-bagikan uang koin emas, yang entah itu berasal dari keluarganya maupun dari hasil penjualan berlian yang ada di gua bangsa kurcaci.


🌹


Sore itu sekitar pukul setengah 5 nan, tampaklah Chu Pian Ran sedang mengajak putrinya berkuda menuju ke area rumah khusus para tunawisma dengan maksud ingin membagikan uang koin emas kepada para penghuninya dengan menggunakan uang hasil penjualan berlian.


Setelah berkuda dengan pelan selama dua puluh menit an, sampailah ibu dan anak tersebut di area pemukiman rumah khusus tersebut.


Adapun jumlah rumah khusus yang ada di ibukota Qin ada 37 buah yang masing-masing rumah telah ada penghuninya, karena sebelum pembangunan rumah itu dimulai, mereka memang harus mendaftar terlebih dahulu agar jumlah rumah yang dibuat pas dengan jumlah para tunawisma yang membutuhkan.


Sesudah turun dari punggung si kuda, nyonya muda Lee dengan diiringi oleh Lee Chu Mian Yin pun mendatangi satu-persatu rumah tersebut dan memberikan 3 uang koin emas kepada para penghuninya yang tentu saja membuat mereka sangat senang dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada perempuan cantik itu.


"Bagaimana kalau kita mampir ke rumah kakak Xhi Wan Mei, sayang? Rasanya sudah lama sekali ibu tidak berkunjung ke sana...," kata Chu Pian Ran sambil melihat kepada putrinya begitu mereka selesai membagi-bagikan uang koin emas.

__ADS_1


"Baiklah bu, Yin'er mau sekali... Yin'er juga sudah lama tidak bertemu dengan kakak Mei'er dan nenek Xhi Wan Chang..." balas gadis kecil itu yang sudah dua minggunan yang lalu bisa mengucapkan huruf 'r'.


Tak berapa lama, setelah nyonya muda Lee dan putrinya ada di atas punggung kuda, mereka berdua pun melanjutkan berkudanya menuju ke rumah Xhi Wan Mei yang jaraknya sekitar tiga puluh menitan dengan berkuda secara pelan.


"Kak Mei'eeer, Yin'er dataaang...!" seru Lee Chu Mian Yin dengan masih di atas punggung si kuda begitu dia dan ibunya telah sampai di depan rumah Xhi Wan Mei.


Beberapa detik kemudian, muncullah dari pintu rumah tersebut seorang remaja perempuan yang berumur 13 tahunan yang kemudian disusul oleh neneknya.


"Nyonya muda Lee, adik Yin'er, kalian berkunjung kemari?" tanya Xhi Wan Mei setelah Chu Pian Ran dan putrinya turun dari punggung kuda.


"Iya Mei'er, tadi setelah dari pemukiman rumah khusus para tunawisma aku punya pemikiran untuk datang kemari karena sudah lama sekali aku tidak menjenguk kalian...," sahut nyonya muda Lee dengan menatap remaja perempuan itu.


"Halo nenek Xhi Wan Chang, bagaimana kabarmu? Sehat?" lanjut Chu Pian Ran ganti menoleh pada wanita tua itu.


"Syukurlah, kabar saya baik nyonya muda Lee... Tapi karena badan saya yang sudah setua ini, jadi ya mulai mudah merasa lelah... Lalu bagaimana keadaan nyonya muda dan anggota keluarga yang lain?" ucap nenek Xhi Wan Chang dengan suara khasnya yang agak serak dan pelan.


"Keadaan keluarga kami baik-baik saja nek... Kalau tubuh nenek sudah mulai mudah merasa lelah ya jangan dipaksakan untuk banyak bekerja, nanti nenek bisa sakit lagi... Dengan tubuh nenek yang seperti itu, sudah waktunya untuk nenek banyak beristirahat...," ujar peri cantik itu berusaha mengingatkan wanita tua itu.


"Iya nyonya muda, dengan kondisi badan saya yang seperti ini, cucu saya sudah melarang saya untuk tidak melakukan aktifitas yang berat. Pekerjaan saya di kediaman Nyonya Shung pun juga sudah diambil alih sepenuhnya olehnya...," timpal nenek Xhi Wan Chang terus terang.


"Baguslah kalau begitu... Kamu memang anak yang hebat Mei'er," Chu Pian Ran memuji remaja perempuan yang sedang berdiri tak jauh di depannya itu.


"Tapi memang begitu kenyataannya kan... Aku masih ingat waktu kamu masih berumur 9 tahunan dan nenekmu sedang dalam keadaan sakit lumayan parah. Dengan usiamu yang baru sekian itu, kamu rela mengorbankan dirimu untuk menggantikan pekerjaan nenekmu di rumah majikannya... Itu merupakan sesuatu yang sangatlah mulia," kata istrinya Lee Jiang Wook mengenang peristiwa beberapa tahun yang lalu saat Xhi Wan Mei masih berumur 9 tahunan dan minta bantuan padanya untuk menyembuhkan neneknya yang sedang sakit.


"Terimakasih banyak untuk pujiannya nyonya muda Lee, semua itu saya lakukan karena keadaan yang memaksa saya berbuat demikian... Jika bukan saya yang membantu meringankan pekerjaan nenek lalu siapa lagi... Sekali lagi, kami mengucapkan terimakasih banyak untuk bantuan nyonya muda Lee dan keluarga hingga sekarang ini, yang membuat penghidupan kami menjadi semakin lebih baik...," balas remaja perempuan itu ikut terkenang dengan masa-masa sulit yang dia hadapi bersama neneknya beberapa tahun yang lalu.


"Oh ya, saking asyiknya berbincang, jadi lupa mempersilahkan kalian masuk ke dalam. Silahkan masuk nyonya muda Lee, nona kecil Yin'er...," ucap nenek Xhi Wan Chang mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah.


"Ibu, Yin'er di luar saja ya. Yin'er ingin ngobrol dengan kakak Mei'er," sela Lee Chu Mian Yin sambil melihat pada ibunya.


"Baiklah sayang..."


Tak berapa lama, nenek Xhi Wan Chang dan Chu Pian Ran pun masuk ke dalam rumah. Sementara itu, Xhi Wan Mei dan Lee Chu Mian Yin duduk di depan teras rumah.


"Kakak kok lama sekali tidak ke rumah Yin'er?" tanya gadis kecil itu sambil menoleh pada cucunya nenek Xhi Wan Chang.


"Maaf ya dik, kakak belum ada waktu untuk berkunjung ke sana, karena sudah beberapa bulan ini kakak menggantikan nenek bekerja di kediamannya Nyonya Shung sampai sore...," terang Xhi Wan Mei dengan menatap pada putrinya nyonya muda Lee.


"Kakak pasti lelah ya? Kenapa kakak tidak bekerja di rumahnya Yin'er saja, kan kita jadi bisa ketemu setiap hari atau pula bermain dan jalan-jalan bersama...," lanjut Lee Chu Mian Yin.

__ADS_1


"Sebenarnya kakak juga ingin bekerja di rumah kalian, tapi kakak dan nenek merasa tidak enak dengan Nyonya Shung...," jelas remaja perempuan itu.


"Jika kakak dan nenek merasa tidak enak dengan Nyonya Shung, kenapa tidak minta tolong pada ibuku saja? Pasti Nyonya Shung itu akan mengijinkan kakak untuk bekerja di rumahnya Yin'er," imbuh Lee Chu Mian Yin.


"Untuk saat ini kakak jalani saja apa yang ada di depan dulu. Jika nanti kakak berniat ingin keluar kerja dari kediamannya Nyonya Shung, kakak akan memberitahu ibumu...," kata cucunya nenek Xhi Wan Chang.


"Beneran ya kak, Yin'er tunggu lo...," sambung putrinya Chu Pian Ran.


"Keluarga kalian hebat ya bisa dikunjungi oleh Dewa Burung dan burung elang raksasanya. Sayang sekali waktu itu kakak tidak bisa melihat secara langsung burung raksasa itu karena harus bekerja," sesal Xhi Wan Mei dengan jujur.


"Kakek dewa dan burung elang raksasanya datang ke rumah Yin'er karena mau menjemput Jinying kak," balas gadis kecil itu.


"Jinying? Siapa dia?" tanya remaja perempuan itu penasaran.


"Jinying itu nama bayi dari burung elang raksasanya kakek dewa. Beberapa bulan yang lalu, saat Jinying masih berupa telur, ibu menemukannya dan telur itu dibawanya pulang...," terang Lee Chu Mian Yin.


"Aneh sekali... Bagaimana bisa telur elang itu sampai ditemukan oleh ibumu? Apa yang terjadi?" Xhi Wan Mei keheranan mendengar penuturan gadis kecil yang duduk di samping kanannya itu.


"Kata kakek dewa telur burung itu dicuri oleh seorang dari suku iblis lalu dilempar ke bawah dan akhirnya jatuh ke bumi...," jawab putrinya Chu Pian Ran.


"Begitu ya... Kenapa telur burungnya dicuri oleh seorang dari suku iblis?" lanjut cucunya nenek Xhi Wan Chang ingin tahu lebih banyak tentang si Jinying.


"Karena hati dan jantung dari burung elang milik kakek dewa bisa meningkatkan kekuatan supranatural hingga beberapa kali lipat kak...," ujar Lee Chu Mian Yin terus terang.


"Wah, kalau demikian burung elang milik Dewa Shao Hao bisa manjadi incaran makhluk jahat dong...," timpal remaja perempuan itu.


"Iya kak, makanya kakek dewa menjemput Jinying lalu menggantikannya dengan burung merak untuk menjadi peliharaannya Yin'er... Burung meraknya sangat cantik lo kak... Kalau kakak ada waktu datanglah ke rumah Yin'er, nanti kita bisa bermain bersama dengan si burung merak," sambung gadis kecil itu.


"Wih beruntung sekali ya kamu Yin'er, bisa mendapat burung merak dari Dewa Shao Hao. Aku dengar burung merak adalah burung yang lumayan langka dan sangat mahal harganya," kata Xhi Wan Mei terkagum.


"Iya kak... Kakek nenek, ayah dan ibu, serta bibi Zhin Zhuan juga pernah berkata seperti itu pada Yin'er. Malahan paman Zhu'er sangat ingin membeli burung merak itu, tapi Yin'er tidak mengijinkannya...," ucap Lee Chu Mian Yin.


"Mudah-mudahan jika kakak ada hari libur kerja nanti bisa segera berkunjung ke rumahmu, kakak jadi sangat ingin melihat burung merakmu itu...," sahut remaja perempuan itu.


"Beneran ya kak, Yin'er tunggu kedatangan kakak... Nanti kita bisa bermain dengan si Khong'er, nama burung merak Yin'er..."


Setelah dua jam an bertamu di rumah nenek Xhi Wan Chang dan Xhi Wan Mei, Chu Pian Ran dan putrinya pun akhirnya pamit pulang.


🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2