
Keesokan harinya...
Pagi itu sekitar jam 9 nan, Rong Hya telah nampak di depan kediaman Chu. Sesudah melewati gerbang, pemuda jelmaan siluman serigala tersebut kembali melihat sosok pelayan pria yang menyambutnya kemarin yang masih saja terlihat sedang menyiangi rumput di sekitar tempat itu.
"Paman!" panggil si Rong Hya setelah cukup dekat dengan pelayan tersebut, yang saat itu posisi badannya sedang jongkok dan membelakangi pemuda jelamaan siluman serigala tersebut.
"Eh tuan muda, anda sudah datang kemari lagi?" sahut si pelayan itu ramah begitu dia sudah ada di hadapan Rong Hya.
"Iya paman, aku ingin sekali bertemu dengan keluarga Chu. Rasanya sudah lama sekali aku tidak berbincang dengan mereka," ucap pemuda jelmaan siluman serigala tersebut.
"Jika jam segini adanya nyonya besar, tuan muda," kata pelayan pria itu.
"Tidak apa-apa paman, aku juga ingin mengobrol dengan bibi Chu," ujar si Rong Hya.
"Kalau begitu tuan muda langsung saja ke kediaman utama ya, maaf saya tidak bisa mengantar dan memanggilkan nyonya besar karena tangan saya kotor," imbuh si pelayan terus terang.
"Iya paman, tidak apa-apa, biasa saja."
Setelah berkata demikian, siluman serigala tersebut melanjutkan langkah kakinya sampai di depan kediaman utama, yang di tempat itu kebetulan ada seorang pelayan perempuan yang sedang bersih-bersih dan juga sudah kenal dengan si Rong Hya.
"Eh tuan muda Rong Hya, anda datang kemari? Sudah lama sekali rasanya anda tidak berkunjung ke sini," kata pelayan itu setelah ada di hadapan siluman serigala tersebut.
"Iya pelayan, beberapa tahun ini aku ada urusan penting di luar wilayah Qin. Bibi Chu ada?" balas si Rong Hya.
"Ada tuan muda, silahkan duduk dulu, biar saya panggilkan nyonya besar di dalam," pelayan tersebut mempersilahkan tamunya untuk duduk di kursi yang ada di teras, lalu dia pun masuk ke dalam kediaman untuk memanggil majikannya.
Tak berapa lama, muncullah sosok Nyonya Chu Jeong Byun dari dalam rumah besar itu. Sementara, pelayan perempuan yang tadi pergi ke dapur untuk membuatkan teh dan mengambil camilan untuk si Rong Hya seperti yang telah diperintahkan oleh majikannya tadi.
"Salam hormat bibi," siluman serigala itu langsung bangkit berdiri dan memberi hormat begitu wanita paruh baya tersebut sudah ada di dekatnya.
"Kemana saja kau Rong Hya? Sudah lama sekali kau tidak berkunjung kemari."
Setelah berkata demikian, Nyonya Chu Jeong Byun pun lalu duduk di kursi dengan diikuti oleh pemuda jelmaan siluman serigala tersebut.
"Maafkan aku ya bibi, karena hari ini aku baru bisa berkunjung kemari. Selama beberapa tahun ini ayah memberiku tugas penting untuk mengerjakan beberapa urusan di luar wilayah Qin," terang si Rong Hya.
"Begitu ya, tidak perlu minta maaf, santai saja... Bagaimana kabar keluargamu?" kata wanita paruh baya itu.
"Semua baik dan sehat bibi," jawab siluman serigala itu.
"Syukurlah kalau begitu..."
"Aku ingin minta maaf sekali lagi bibi karena baru kemarin aku mendapat kabar jika nyonya muda Chu Pian Ran telah tiada...," imbuh si Rong Hya dengan volume suara agak rendah dari sebelumnya dengan perasaan hati yang sedih kembali.
"Tidak apa-apa Rong Hya jika kau memang baru mendengar berita tentan kematian putriku. Kami semua sudah berusaha ikhlas untuk melepas kepergiannya yang tiba-tiba itu," balas Nyonya Chu Jeong Byun dengan hati gamang. Membahas masalah kematian putrinya, hati wanita paruh baya tersebut kembali sedih namun sudah bisa mengendalikan dirinya.
"Sebenarnya aku kemarin sudah sempat masuk ke dalam gerbang bibi, tapi begitu diberitahu oleh paman pelayan yang sedang menyiangi rumput jika nyonya muda Lee telah tiada, aku mengurungkan niatku untuk berkunjung dan berbincang, lalu kembali ke hutan yang ada di luar ibukota untuk menetralkan suasana hatiku karena terkejut dan sedih setelah mendengar kabar tersebut," jelas siluman serigala itu jujur.
Obrolan mereka terhenti untuk sesaat ketika pelayan perempuan yang tadi telah kembali sambil membawa nampan yang di atasnya ada seteko teh hangat, 4 buah cangkir dan camilan.
"Silahkan dicicipi teh hangat dan camilannya Rong Hya," ucap Nyonya Chu Jeong Byun begitu si pelayan perempuannya tadi telah meninggalkan tempat tersebut.
"Iya bibi nanti saja, aku masih kenyang...," sahut siluman serigala tersebut.
"Lalu bagaimana dengan kabarnya Yin'er, bibi?" tambah si Rong Hya.
__ADS_1
"Kabar Yin'er baik Rong Hya, sekalipun pembawaannya tidak seceria dulu, tapi cucuku malah kelihatan lebih tegar dibanding kita-kita yang dewasa ini," jawab wanita paruh baya itu.
"Sekarang ini dia tidak ada di rumah karena sedang mengikuti kegiatan belajar di istana," sambung Nyonya Chu Jeong Byun.
"Bolehkah aku nanti menjemputnya bibi?" siluman serigala tersebut meminta ijin untuk menjemput Lee Chu Mian Yin jika pulang sekolah nanti.
"Kalau bibi sih boleh-boleh saja, tapi entah dia masih ingat denganmu atau tidak, kalian berdua kan sudah beberapa tahun tidak ketemu" sahut Nyonya Chu Jeong Byun terus terang.
"Bibi tidak perlu khawatir, biar aku nanti yang mengatasi masalah itu," ujar si Rong Hya.
Belasan menit kemudian, saat Nyonya Chu Jeong Byun dan Rong Hya masih mengobrol, datanglah Zhin Zhuan seusai mengantar bahan makanan mentah untuk bangsa kurcaci sekaligus berkeliling di wilayah Qin bagian utara.
"Kau sudah pulang Zhuan'er?" tanya wanita paruh baya itu sambil menoleh pada si peri pegar emas begitu dia sudah duduk di kursi yang ada di samping kanannya.
"Sudah bibi," jawab Zhin Zhuan singkat.
"Semua aman kan?" lanjut Nyonya Chu Jeong Byun.
"Syukurlah semua aman-aman saja bibi...," balas peri burung pegar emas tersebut.
"Karena kau sudah ada di sini, bibi masuk ke dalam dulu ya, ada hal yang harus bibi kerjakan. Kalian berdua lanjutkan mengobrolnya dengan santai."
"Baik bibi," sahut Rong Hya dan Zhin Zhuan serempak seperti dikomando.
Tak berapa lama, terlihatlah Nyonya Chu Jeong Byun bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam kediaman utama.
"Kak Rong Hya kok baru muncul? Kemana saja selama ini?" Zhin Zhuan melontarkan pertanyaan sambil menoleh pada siluman serigala yang duduk di samping kanannya itu dengan keheranan.
"Selama beberapa tahun ini aku sedang mengurus hal penting di luar wilayah Qin atas perintah ayahku. Karena hal inilah kemarin aku baru mendapat kabar jika nyonya muda Lee sudah tiada, itu pun juga dari salah satu pelayan yang ada di sini," jelas si Rong Hya terus terang.
"Sumpah Zhuan'er, aku baru tahu berita itu kemarin dari paman pelayan yang menyiangi rumput di sana," si Rong Hya mempertegas perkataannya dengan jari telunjuk kanannya menuding ke arah dimana pelayan pria tadi sedang menyiangi rumput.
"Bahkan kemarin aku juga ke tempatnya Peri Jinfeng Zhui untuk memperoleh informasi lebih banyak tentang kematiannya nyonya muda Chu Pian Ran, yang ternyata meninggalnya juga di hutan Jinfeng," imbuh pemuda jelmaan siluman serigala tersebut.
"Waktu itu aku adalah salah satu saksi yang melihat keadaan nenek Jinfeng Zhui yang sedang sekarat karena baru saja bertempur dengan Qing Liong. Dengan kemampuan yang aku miliki, aku berusaha untuk menyelamatkan beliau," terang Zhin Zhuan.
"Oh ya? Saat hari pertempuran itu kau ada di sana juga?" tanya si Rong Hya penasaran.
"Tepatnya setelah pertempuran baru saja berakhir kak. Waktu itu aku berniat mencari keberadaan kak Ran'er karena sedari pagi dia tidak ada di kediaman Lee alias pergi tanpa pamit," jelas peri pegar emas.
"Oh ya biasanya Yin'er pulang sekolahnya jam berapa ya? Aku tadi sudah minta ijin pada bibi Chu jika akan menjemputnya," lanjut siluman serigala itu.
"Kakak mau menjemput Yin'er? Memangnya dia nanti bisa mengenali wajah kakak? Kan kalian sudah beberapa tahun tidak ketemu," tukas Zhin Zhuan.
"Halah gampang, aku bisa mengatasinya, percaya saja padaku," timpal Rong Hya dengan percaya dirinya.
"Bagaimana dengan kabarmu sendiri Zhuan'er?" sambung pemuda jelmaan siluman serigala tersebut.
"Ya beginilah kak, sama seperti yang lainnya. Sejak kakak Ran'er meninggal hidupku rasanya tidak seceria dulu. Jika kakak Ran'er ada kan kita sering bercanda," ujar si peri pegar emas terus terang terang.
"Kakak Rong Hya!"
Sebuah suara dari samping kiri kediaman memanggil nama siluman serigala tersebut yang tentu saja membuat si empunya nama langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Halo Xi'er."
__ADS_1
"Kakak kemana saja selama ini, kok lama tidak datang kemari?" tanya gadis pelayan itu dengan masih berdiri diantara Zhin Zhuan dan siluman serigala tersebut.
"Aku diberi tugas penting oleh ayahku Xi'er, jadi ya maaf kalau aku lama sekali tidak berkunjung kemari," lagi-lagi si Rong Hya harus menjawab pertanyaan yang sama.
"Aku kira kakak sedang berburu pacar...," kata Xi'er asal-asalan dengan volume suara lebih rendah dari sebelumnya.
"Sembarangan... Kenapa juga aku harus berburu pacar, seperti kurang kerjaan saja," sergah siluman serigala itu.
"Aku tadi kan hanya bercanda kak, kok dianggap serius...," ucap gadis pelayan tersebut.
"Kenapa kamu berdiri saja di situ, ayo duduklah di sini, kita kan sudah lama tidak saling mengobrol" si Rong Hya menyuruh Xi'er untuk duduk di kursi yang ada di sebelah kanannya karena rasanya kurang pantas saja jika dia mengobrol sambil berdiri.
"Aku mau menjemput nona kecil kak, ngobrolnya nanti saja ya."
Begitu mendengar pelayan itu mau menjemput Lee Chu Mian Yin, dengan segera siluman serigala tersebut bangkit dari duduknya.
"Biar aku saja yang menjemput Yin'er, lagipula aku tadi juga sudah ijin pada bibi. Dia mau pulang ya? Ya sudah kalau begitu aku akan menjemputnya sekarang."
Belum juga mendapat balasan dari Xi'er, si Rong Hya langsung meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat yang tentu saja sikapnya tersebut membuat Xi'er geleng-geleng kepala.
🌹
Depan gerbang istana
Saat ini, tampaklah si Rong Hya sudah ada di depan gerbang istana untuk menjemput putrinya mendiang nyonya muda Lee.
Kebetulan saat itu juga sudah ada beberapa pelayan yang juga sedang menunggu majikan kecil mereka masing-masing pulang sekolah.
Diantara para penjemput tersebut ada beberapa pelayan perempuan yang tampak curi-curi pandang ke arah Rong Hya, yang jika dinilai, wajah pemuda jelmaan siluman serigala itu memang ada di angka 85 sedikit di bawahnya Lee Jiang Wook.
Sebenarnya si Rong Hya tahu jika diperhatikan oleh beberapa pelayan perempuan tersebut namun dia cuek saja karena dia bukan tipe siluman serigala yang mudah tergoda kecantikan perempuan. Selama dia hidup ratusan tahun, perempuan yang berhasil membuatnya jatuh hati hanyalah Peri Mei Hwa Lie yang rohnya menumpang pada rohnya Song Hyu Meen alias Chu Pian Ran.
Beberapa menit kemudian, mulailah keluar beberapa anak dari gerbang tersebut dan masing-masing langsung menuju ke arah pelayan penjemput mereka.
Karena pemuda jelmaan siluman serigala itu memiliki penciuman yang tajam dan sudah hapal dengan aroma tubuh Lee Chu Mian Yin, begitu gadis kecil itu keluar gerbang, si Rong Hya langsung menghampirinya.
"Halo Yin'er sayang," kata siluman serigala tersebut yang tentu saja membuat putrinya Lee Jiang Wook itu mengamati wajah 'orang asing' yang berdiri di hadapannya tersebut untuk beberapa detik, karena dia memang lupa memori masa batitanya dulu.
"Kamu lupa dengan wajah pamanmu yang tampan ini? Ini paman Rong Hya sayang," lanjut pemuda jelmaan siluman serigala tersebut sambil memperkenalkan dirinya agar Lee Chu Mian Yin teringat.
"O paman Rong Hya temannya ibu ya?" gadis kecil itu mulai ingat karena ibunya dulu pernah beberapa kali bercerita tentang siluman serigala tersebut.
"Iya sayang ini paman Rong Hya. Hari ini paman sengaja menggantikan bibi Xi'er untuk menjemputmu," terang siluman serigala itu.
"Kita pulang sekarang atau jalan-jalan dulu? Senyampang paman punya banyak uang nih. Atau kita makan siang di rumah makan yang paling enak di ibukota ini?" si Rong Hya sengaja mengatakan hal demikian karena punya niat untuk menghibur gadis kecil itu.
"Paman betulan punya banyak uang?" putrinya Lee Jiang Wook memastikan ucapan teman mendiang ibundanya itu.
"Betulan sayang, paman punya banyak uang lo," sahut siluman serigala tersebut yang kemudian mengeluarkan kantong uang dari balik bajunya, yang setelah dibuka ternyata isinya uang koin emas semua.
"Banyak kan? Masa' paman berkata bohong. Kamu ingin apa sayang? Paman akan traktir kamu. Jangan khawatir paman tidak akan bisa bangkrut sekalipun kamu minta dibelikan banyak barang atau makanan yang ada di ibukota ini," imbuh si Rong Hya dengan meluncurkan candaannya.
"Apa iya uang paman yang segitu tadi bisa untuk membeli banyak barang dan makanan di ibukota ini? Paman bohong ah, uangnya mana cukup?" tukas Lee Chu Mian Yin dengan lugunya.
"Uang paman kan bukan cuma yang ada di sini sayang. Tabungan paman banyak lo," balas siluman serigala itu ada jujurnya karena dia memang memiliki banyak 'simpanan harta' berupa bongkahan-bongkahan emas yang dia temukan secara tidak sengaja saat menjelajah di banyak tempat.
__ADS_1
🌹🌹🌹