
Kediaman Keluarga Chu
"Kembalikan!" Kata Chu Pian Ran sambil berusaha merebut kertas bertuliskan bahasa inggris miliknya dari tangan Lee Jiang Wook.
Karena pemuda itu lebih tinggi dari tubuh Chu Pian Ran, gadis itu kesulitan untuk mendapatkan kertas itu kembali.
"Darimana kau mendapatkan kertas itu?! Pasti dari Xi Er kan?!" Lanjut gadis cantik itu sambil berkacak pinggang di depan Lee.
Wajah Chu Pian Ran saat itu sangat kecut.
"Jangan kau marahi Xi Er. Kalau kau ingin marah, marah saja padaku. Aku yang menyuruh dia mengambil kertas ini." Terang pemuda itu. Tangan kanannya memegang selembar kertas yang bahasanya sama sekali tidak dia mengerti.
"Sepertinya kertas ini sangat penting bagimu." Ucap Lee.
"Bukan urusanmu! Sekarang ayo kembalikan kertas itu! Putra seorang pejabat istana ternyata mau juga mencuri. Dasar menyebalkan!" Dengus Chu Pian Ran.
Kedua kaki pemuda tampan itu lalu naik ke atas gazebo. Dia berusaha membaca tulisan itu pelan-pelan.
"Aaaw." Lee memekik pelan saat jari gadis itu mencubit pinggangnya.
Pelayan kediaman Chu yang kebetulan lewat dekat taman itu dan menyaksikan sepasang muda mudi sedang bertengkar itu pun tersenyum.
"Jangan-jangan ini surat cinta ya..." Tebak pemuda itu dengan posisi masih berdiri di atas gazebo.
"Jangan banyak tanya! Kembalikan saja kertas itu padaku! Sini Cepat!" Tangan Chu Pian Ran mulai memukul-mukul pinggang Lee.
"Bagaimana kalau kertas ini aku berikan kepada paman Chu?" Kalimat pemuda itu barusan membuat gadis cantik itu terkejut.
"Jangan, jangan berikan kertas itu pada ayah." Ucap Chu Pian Ran sedikit takut.
"Memangnya kenapa tidak boleh?" Buru Lee karena penasaran.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara khas milik tuan Chu.
Deg.
Chu Pian Ran semakin terkejut dengan kedatangan ayahnya yang tiba-tiba itu.
Lee Jiang Wook segera turun dari gazebo dan memberi salam pada paman Chu.
"Apa yang kalian ributkan?" Lanjut pria paruh baya itu.
"Tidak ada apa-apa ayah. Kami hanya ribut masalah biasa." Jawab gadis itu dengan cepat sebelum kedahuluan Lee Jiang Wook.
"Ini paman..." Pemuda itu berusaha memberitahu paman Chu soal kertas itu, namun dicegah oleh tatapan tajam Chu Pian Ran.
"Ada apa? Kalian ini benar-benar aneh..." Sambung tuan Chu sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya paman, kami tadi hanya ribut biasa... Paman tidak perlu khawatir. Maaf jika kami sudah mengganggu ketenangan paman..." Kali ini Lee sengaja membantu Chu Pian Ran karena ada maksud tersembunyi.
__ADS_1
"Baiklah, aku ada urusan di luar. Kalian lanjutkan saja ngobrolnya." Kata pria paruh baya itu lalu meninggalkan muda mudi itu.
Chu Pian Ran menghela napas lega.
Beberapa detik kemudian gadis itu melotot ke arah Lee.
"Awas ya kalau sampai kau memberitahu ayah soal kertas itu!" Ketus gadis cantik itu dengan menunjukkan kepalan tangan kanannya.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan memberikan kertas ini pada paman Chu jika kau mau terus terang soal tulisan aneh yang ada di sini." Ucap pemuda itu.
Untuk sesaat suasana menjadi hening.
Kemudian Chu Pian Ran berbalik dan melangkah pergi.
"Hei kau mana?" Lee Jiang Wook mengikuti langkah gadis itu.
Mereka berdua pun masuk ke dalam perpustakaan dan Chu Pian Ran menutup pintunya.
Kini mereka berdua sudah duduk saling berhadapan yang dibatasi oleh sebuah meja kayu berukir yang tidak terlalu lebar.
Terlihatlah gadis cantik itu sedang mengatur napasnya. Dalam pikirannya dia sedang mempertimbangkan sesuatu. Apakah dia akan jujur hari ini atau melanjutkan kebohongannya.
"Ran Er, kau benar-benar marah padaku ya?" Tanya Lee memecah keheningan. Kali ini dia melembutkan suaranya.
"Menurutmu?" Balas Chu Pian Ran dengan bibir cemberut.
"Aku hanya ingin tahu soal tulisan ini saja. Jika kau jujur padaku, aku janji tidak akan mengungkit masalah ini pada paman." Lanjut pemuda tampan itu sungguh-sungguh.
"Itu bahasa inggris." Kata gadis itu singkat.
Bahasa inggris? Bahasa apa itu? Selama ini aku belum pernah tahu tentang bahasa ini." Ucap Lee Jiang Wook bingung.
"Tentu saja kau tidak mengenal bahasa itu di zaman ini, karena itu adanya di bagian lain dunia ini, di era dan waktu yang berbeda." Jelas Chu Pian Ran.
Pemuda itu mengerutkan alisnya tanda belum mengerti.
"Kemarikan kertas itu. Aku akan membacakan dan mengartikannya untukmu." Ujar gadis itu.
Lee kemudian menyerahkan kertas itu pada Chu Pian Ran. Dengan fasih gadis cantik itu mengucapkan tulisan itu dan sekaligus mengartikannya.
"Kau tidak menipuku kan? Darimana kau belajar bahasa aneh itu?" Lanjut pemuda itu ingin tahu.
"Apakah wajahku menunjukkan kalau aku sedang berbohong?" Lagi-lagi wajah Chu Pian Ran cemberut.
"Lalu darimana kau belajar bahasa aneh itu?" Lee Jiang Wook mengulang pertanyaannya.
"Dari sekolah." Balas gadis itu datar.
"Sekolah? Sekolah mana yang mengajarkan bahasa aneh ini padamu? Di dataran Qin ini tidak ada sekolah yang mengajarkan bahasa seperti ini." Sanggah pemuda itu.
__ADS_1
"Guangzhou." Jawab Chu Pian Ran.
"Guangzhou? Apa itu Guangzhou? Nama aneh apa lagi ini? Ayolah Ran Er aku benar-benar tidak mengerti maksud pembicaraanmu." Kata Lee mulai tidak sabaran.
"Guangzhou adalah tempat asalku. Aku lahir di kota itu tanggal 25 Juni tahun 2002." Ucap gadis cantik itu mantap.
Lee Jiang Wook sangat terkejut dengan keterangan gadis itu.
"Kau, kau pasti bercanda kan?" Tanya pemuda itu masih tidak percaya.
"Jika kau masih tidak percaya ya sudah, kau boleh pergi. Yang jelas aku sudah mengatakan dengan jujur padamu." Sambung Chu Pian Ran.
Lee pun tenggelam dalam pikirannya.
"Namaku Song Hyu Meen. Entah apa alasannya tiba-tiba rohku berada di dalam raga gadis ini... Sebenarnya aku bukan hilang ingatan, tapi karena memang aku orang yang berbeda dengan tubuh asli ini." Jelas gadis yang ada di depannya itu.
Mata Lee Jiang Wook menatap lekat pada gadis itu. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Jika kau masih tidak percaya, itu adalah hakmu... Tulisan di kertas itu sebenarnya curahan hatiku yang merindukan kedua orang tuaku. Ibuku meninggal sejak umurku 11 tahun karena kanker darah. Dan tahun ini adalah giliranku, karena aku juga mewarisi penyakit ibuku. Sekarang, di Guangzhou ayahku tinggal sendirian tanpa ada kerabat siapapun." Terang Chu Pian Ran panjang lebar sambil meneteskan air matanya.
Pemuda itu meraih kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya. Lalu tangan kanannya mengusap air mata Chu Pian Ran.
"Kau saja tidak percaya dengan hal masuk akal ini, apalagi aku yang menjalaninya..." Lanjut gadis itu dengan suara pelan.
Lee Jiang Wook lalu berdiri dari tempat duduknya. Dan kini dia sudah ada di samping Chu Pian Ran dan memeluk gadis itu erat-erat.
Beberapa saat kemudian, Lee mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
Selama beberapa menit mereka tidak saling bicara lagi. Mereka terhanyut oleh perasaan masing-masing.
"Apa kau tidak kecewa karena aku bukan Chu Pian Ran gadis yang kau sukai itu?" Tanya jiwa Song Hyu Meen dalam pelukan pemuda itu.
"Kenapa aku harus kecewa? Bagiku kau tetaplah kau." Jawab Lee pelan.
"Apa kau tidak ingin tahu dimana jiwa Chu Pian Ran sekarang berada?" Lanjut gadis itu.
Lee membisu. Dia tidak bisa memberikan jawaban apa-apa.
"Aku punya pikiran jika pemilik tubuh ini meninggal karena penyakitnya." Chu Pian Ran menegakkan kepalanya dan menatap pemuda itu.
Kedua mata insan itu lalu saling beradu.
"Entahlah, aku tidak mampu berpikir apa-apa lagi. Bagiku kau adalah Ran Er yang kukenal." Sambung Lee.
****
Kediaman Lee Jiang Xun
Mata Lee Jiang Wook sulit terpejam. Laki-laki itu masih memikirkan semua perkataan Chu Pian Ran.
__ADS_1
Benar-benar tidak masuk akal... Bagaimana semua ini terjadi... Batin Lee bingung.
Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam otak Lee. Hingga akhirnya mata pemuda itu pun merasa berat dan jatuh tertidur.