Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 35 Keprihatinan Chu Pian Ran


__ADS_3

Chu Pian Ran telah berada di kamarnya lagi. Gadis itu kembali bermeditasi agar mendapatkan kekuatan dan inspirasi.


Saat matahari terbit Chu Pian Ran menyudahi meditasinya lalu pergi tidur.


Tiga jam kemudian terdengar ketukan di pintu kamar gadis itu. Rupanya seorang pelayan penginapan ingin menyampaikan surat undangan dari bupati Xhin.


Karena pintu kamar belum juga terbuka si pelayan mengulang kembali ketukannya.


Beberapa detik kemudian pintu kamar terbuka.


"Ada apa kau menggangguku?" Tanya Chu Pian Ran tidak semangat karena memang masih mengantuk.


"Maafkan saya tuan Song, saya hanya ingin mengantarkan surat undangan ini pada tuan." Kata pelayan itu sambil menyerahkan surat undangan pada pria bertopeng itu.


Setelah menerima surat itu, tanpa banyak bicara Chu Pian Ran langsung menutup pintu kamarnya lagi.


Gadis itu membuka kertas terlipat yang ada di tangannya. Setelah membaca sekilas dia lalu melempar kertas itu di sembarang tempat dan melanjutkan tidurnya lagi.


Siang harinya Chu Pian Ran terbangun. Setelah itu dia mandi dan makan.


Merasa badannya segar kembali, dia berniat untuk jalan-jalan di pusat daerah Yingchuan.


Banyak pasang mata yang saat itu memperhatikannya, namun Chu Pian Ran tidak peduli.


Saat menikmati jalan-jalan itu tiba-tiba ada dorongan yang kuat dalam dirinya untuk mengubah jalur yang dilewatinya.


Di depannya ada jalan pertigaan dan gadis itu mengambil jalur kanan.


Baru saja beberapa menit melangkah, dia dihadang lagi oleh salah satu anak buah bupati Xhin yang kemarin menemuinya di depan rumah makan.


Kali inipun pria tua itu lagi-lagi meluncurkan kata-kata manisnya. Chu Pian Ran dibuat jengkel olehnya.


Tanpa berkomentar apapun gadis itu langsung meninggalkan pria tua itu.


Namun tanpa disangka-sangka si pria tua rupanya tak menyerah. Dia terus mengikuti Chu Pian Ran dan mengajaknya minum bersama.


Gadis itupun mulai kehilangan kesabaran.


"Hei pria tua, rupanya kau ingin merasakan dilempar dari jarak beberapa meter ya." Kata Chu Pian Ran sengak.

__ADS_1


Pria tua itu mulai ciut nyalinya.


"Sekali lagi kau muncul di hadapanku, aku akan melempar tubuhmu hingga patah tulang. Dan satu lagi, katakan pada bupatimu itu jika malam ini aku tidak bisa datang ke rumahnya." Lanjut Chu Pian Ran lalu meninggalkan pria tua itu yang memperlihatkan ekspresi kecut.


Saat Chu Pian Ran telah sampai di pinggiran daerah Yingchuan, dia benar-benar terkejut.


Penduduk yang ada di daerah pinggiran itu kondisinya begitu memprihatinkan. Mereka hidup dalam kemiskinan. Baju yang mereka kenakan juga compang-camping.


CHu Pian Ran jadi teringat dengan kata-kata Ling Xuan kemari malam.


Untungnya gadis itu tadi membawa beberapa koin emas. Chu Pian Ran lalu membagikan uang itu pada sebagian penduduk.


Orang-orang yang telah menerima koin emas sangat berterimakasih pada pria bertopeng itu.


Koin emas yang Chu Pian Ran bagikan rasanya sangat tidak cukup untuk membantu para penduduk itu.


Gadis itupun dengan segera kembali ke penginapan dan mengambil beberapa perhiasan yang dibawakan oleh ayahnya dulu.


Chu Pian Ran lalu pergi ke toko emas untuk menukarkan perhiasan yang dia bawa dengan uang koin emas. Setelah itu dia kembali lagi ke pinggiran daerah Yingchuan dan membagikan lagi koin emas yang dia miliki hingga habis tak tersisa.


Aksi Chu Pian Ran yang membagi-bagikan koin emas itu terdengar oleh banyak penduduk Yingchuan, termasuk Ling Xuan beserta sekutunya dan bupati Xhin beserta kaki tangannya.


Chu Pian Ran benar-benar geram dengan fenomena yang dia lihat. Sepertinya dia harus segera mengambil tindakan untuk menggulingkan bupati Xhin dari jabatannya agar rakyat tidak terlalu lama menderita.


Saat kembali ke penginapan dan masuk kamar, gadis itu menemukan kertas terlipat di bawah pintu kamarnya.


Dia membuka lalu membaca kertas itu.


Tuan Song, kami sangat berterimakasih karena tuan sudah membantu rakyat miskin Yingchuan. Sebaiknya tuan waspada karena bupati Xhin dan para kaki tangannya tidak akan tinggal diam...


Ling Xuan


Chu Pian Ran kemudian membakar kertas itu.


Di dalam kamar, gadis itu lalu bermeditasi untuk mendapatkan inspirasi.


Pada saat tengah malam, gambar bunga mei hwa di bahu Chu Pian Ran mengeluarkan berkas-berkas cahaya yang mengelilingi tubuh gadis itu.


Kejadian itu berlangsung hingga dua jam dan tanpa dinalar oleh akal pikiran manusia tubuh Chu Pian Ran berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan berkilauan.

__ADS_1


Sesaat kemudian kilauan di tubuh kupu-kupu itu menghilang dan binatang itu terlihat sewajarnya.


Kupu-kupu itu kemudian terbang keluar penginapan dan menuju rumah bupati Xhin.


Si kupu-kupu kemudian memasuki kediaman bupati Xhin yang lumayan luas dan megah. Kemudian binatang itu langsung menuju ke sebuah ruangan yang digunakan untuk tempat penyimpanan harta kekayaan Xhin.


Sesaat kemudian, kupu-kupu itu kembali ke wujudnya semula, yaitu wujud pria bertopeng alias Chu Pian Ran.


Dengan tindakan cepat gadis itu mengambil koin emas milik bupati Xhin sekuat yang dia bawa.


Kebetulan di ruangan itu ada sebuah kantong berisi perhiasan yang lumayan besar. Chu Pian Ran menumpahkan perhiasan itu pada sebuah kotak yang berisi perhiasan juga, lalu mengisi penuh kantong itu dengan uang koin emas.


Setelah kantong itu penuh, Chu Pian Ran kembali duduk bermeditasi agar wujudnya kembali menjadi kupu-kupu.


Dua puluh menit kemudian wujud gadis itu berubah menjadi kupu-kupu kembali lalu terbang meninggalkan kediaman bupati Xhin.


Sesampainya di kamar dan kembali ke wujud manusia kembali, Chu Pian Ran memindahkan uang koin emas itu ke buntelan kain miliknya lalu membakar kantong yang dia ambil dari rumah bupati Xhin.


Gadis itu kemudian naik ke atas ranjang dan tidur nyenyak.


****


Pagi harinya, di kediaman bupati Xhin terlihat seorang pria paruh baya sedang marah besar karena dia kecurian banyak uang koin emas secara aneh.


Selama ini hanya dialah yang memegang kunci ruangan tempat menyimpan semua hartanya. Kunci itu masih ada di tempat biasanya dia simpan dan hanya dia juga yang tahu tempat penyimpanannya.


Istri, gundik dan anak-anak bupati Xhin hanya bisa berdiam diri menyaksikan pria itu marah-marah.


Selama ini mereka sudah tahu bagaimana tabiat pria itu. Jika sudah marah besar, tidak boleh ada seorangpun yang memberinya komentar apapun atau orang itu akan berakhir mengenaskan.


****


Dengan menaiki kudanya pelan-pelan, si pria bertopeng menuju ke arah pinggiran Yingchuan yang belum mendapatkan bagian koin emas darinya kemarin.


Gadis itu kembali membagikan uang koin emas yang dia bawa kepada rakyat miskin di Yingchuan.


Rakyat itu sangat senang mendapatkan uang koin emas dari si pria bertopeng.


Sudah lebih dari 2 jam Chu Pian Ran berkeliling dari rumah ke rumah untuk membagikan uang koin emas hingga uang koin itu habis tak tersisa.

__ADS_1


__ADS_2