
Dua minggu menjelang perayaan festival lentera/lampion yang diadakan setiap setahun sekali, banyak penduduk ibukota yang mempersiapkan diri dengan membuat atau memesan lentera dengan berbagai macam bentuk dan warna.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap ada perayaan lentera, semua penduduk ibukota akan menyambutnya dengan sangat antusias, termasuk anggota keluarga Lee.
Khusus perayaan festival lentera tahun ini, Lee Jiang Wook dengan sengaja membuatkan sebuah lentera untuk putri kesayangannya.
Karena pemuda itu pernah mendapatkan pengetahuan tentang teknik untuk membuat lentera, maka ayah muda itu memerintahkan seorang pelayannya untuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat lentera tersebut.
Jadi, selama satu minggu ini Lee Jiang Wook terlihat sibuk membuat lentera di dekat kolam pada sore hari sebelum jam makan malam tiba.
"Yah, tu pa?" tanya bibir mungil Lee Chu Mian Yin pada suatu sore ketika gadis cilik itu diajak jalan-jalan keliling kediaman oleh ibunya.
"Ayah sedang membuat lampion atau lentera sayang... Nanti jika sudah jadi, lampion ini untuk Yin Er...," sahut ayahnya sambil menoleh pada putri kecilnya.
"Yon?" lanjut gadis cilik itu dengan matanya terus menatap benda yang sedang dikerjakan ayahnya.
"Iya, lampion atau lentera...," balas ayahnya mengulang kata 'lampion dan lentera' dengan pengucapan yang lebih jelas dari yang pertama agar putrinya paham.
"Kenapa tidak beli saja suamiku, daripada repot-repot membuat sendiri...," ucap Chu Pian Ran yang duduk di samping suaminya.
"Aku memang sengaja ingin membuat satu buah lampion untuk Yin Er, supaya nanti jika festival lampionnya sudah lewat, lampion ini masih bisa digunakan untuknya. Lagipula, lampion-lampion yang dijual itu sering mudah rusak karena dikerjakan dengan buru-buru," terang suaminya sambil kedua tangannya masih terus membuat lampion.
Nyonya muda Lee membenarkan alasan suaminya, akhirnya perempuan cantik itu tidak mengungkit lagi masalah yang tadi.
Tak berapa lama, secara tak sengaja mata Lee Chu Mian Yin melihat seekor katak yang sedang berdiam diri di dekat kolam. Beberapa detik kemudian, gadis cilik itu pun melangkahkan kakinya lalu jongkok di dekat katak itu.
Mata ibunya yang menyaksikan tingkah putrinya pun mengawasi dari tempat duduknya.
"Tak, mu gi pa?" terdengar bibir mungil Lee Chu Mian Yin mulai berbincang dengan katak itu.
Beberapa saat kemudian, terdengarlah ocehan yang tidak jelas gadis cilik itu yang kesannya seolah-olah sedang bercakap-cakap dengan binatang amfibi itu.
Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran yang sudah terbiasa melihat keanehan putrinya itu, membiarkan saja gadis cilik itu melanjutkan berbincang-bincangnya dengan si katak.
"Yin Er sayang, kemari nak...," panggil ibunya karena Lee Chu Mian Yin sudah lebih dari sepuluh menit duduk jongkok sambil berceloteh tidak jelas di dekat katak itu.
Mendengar namanya dipanggil, maka gadis kecil itu pun bangkit berdiri lalu berjalan ke arah ibunya.
"Bu bu, tak...," kata Lee Chu Mian Yin setelah di dekat ibunya.
"Kamu bicara dengan katak nak?" tanya Chu Pian Ran.
"Ya, tak tak, tu tu...," jawab putrinya dengan tangan kirinya menunjuk ke arah katak itu berada.
Beberapa saat kemudian, nyonya muda Lee mengangkat tubuh putrinya lalu memangkunya dengan posisi tubuh menghadap ke meja, lalu bersenandunglah perempuan cantik itu yang kemudian diiringi celotehan dan tingkah putrinya yang menggemaskan.
Menyaksikan pemandangan itu, Lee Jiang Wook pun merasa bahagia. Selama membina rumah tangga, hubungannya dengan istrinya selalu harmonis, sekalipun kadang pernah berselisih pendapat namun tidak pernah sampai bertengkar. Maka teringatlah pemuda itu akan kenangan masa lalunya saat dia masih mengejar cinta perempuan cantik yang saat ini sudah menjadi ibu dari anaknya itu.
****
__ADS_1
Perayaan festival lentera pun telah tiba, sore itu Lee Jiang Wook mengajak anak istrinya untuk turut serta menyaksikan kemeriahan perayaan itu.
Bukan main senangnya Lee Chu Mian Yin melihat cahaya lampion yang beraneka bentuk dan warna bertebaran di area jalanan ibukota dan sekitarnya. Tak henti-hentinya bibir mungilnya berceloteh sambil tangannya menunjuk-nunjuk ke berbagai arah di gendongan ayahnya.
Sore itu, separuh lebih penduduk ibukota tumpah ruah di jalanan hingga jalanan itu lumayan padat dengan orang yang berlalu lalang.
Karena jalanannya lumayan padat, maka Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran berjalan agak lambat sambil mata mereka memandang lampion-lampion yang berjejer di area jalanan itu.
Berhubung ini adalah perayaan festival lentera, jumlah pedagang saat ini lebih banyak dibanding hari biasanya, sehingga tepi kanan kiri jalanan itu lumayan dipenuhi oleh kios-kios pedagang yang sedang meraup rejeki di perayaan festival lentera itu.
Sementara itu, di sudut ibukota yang lain, nampaklah Xi Er, Zhin Zhuan dan beberapa pelayan perempuan juga ikut ambil bagian meramaikan perayaan festival lentera.
Sudah menjadi kebiasaan di kediaman Chu dan kediaman Lee, tuan rumah akan membebaskan para pelayannya agar bisa menikmati acara perayaan itu.
Karena mereka masih tergolong usia muda, maka para gadis-gadis itu pun sering mampir di depan banyak kios sekedar untuk melihat-lihat barang dagangan yang dijual.
Sore pun merambat malam, suasana saat itu bertambah meriah karena cahaya-cahaya lampion terlihat sangat indah pada malam hari. Ditambah lagi banyak penduduk ibukota yang menerbangkan lentera, sehingga langit malam yang gelap itu menjadi indah saat dihiasi oleh ratusan lentera itu.
****
Di saat banyak orang sedang bahagia dalam perayaan festival lentera itu, di pinggiran ibukota, tampaklah seorang gadis kecil berumur 9 tahun sedang duduk sendirian di depan rumahnya dengan menangis sambil menatap ratusan lentera yang terbang ke langit.
Gadis kecil itu bernama Xhi Wan Mei, seorang anak yang telah yatim piatu sejak dia berumur 4 tahun karena ibunya telah meninggal akibat sakit keras. Sementara itu, ayah biologisnya, sejak Xhi Wan Mei masih dalam kandungan, sudah pergi entah kemana dan meninggalkan ibunya tanpa mau bertanggung jawab sama sekali.
Sekarang ini, tinggallah gadis kecil itu bersama neneknya yang sekarang sudah mulai sakit-sakitan.
Jiwa seorang anak seusia dia tentu saja merasa sedih karena harus melewatkan malam meriahnya perayaan festival lentera di pusat ibukota.
"Mei Er, masuk nak, sudah malam...," panggil neneknya dari ambang pintu sambil menahan rasa sakit pegal linu di seluruh tubuhnya.
Gadis yang empunya nama itu pun dengan segera mengelap air matanya dengan bajunya, lalu beranjak bangkit dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah.
"Sudahlah Mei Er, tidak perlu bersedih seperti itu, tahun depan kan juga masih ada perayaan festival lentera lagi..." ucap wanita tua itu sambil mengelus pundak cucunya setelah mereka sudah duduk di tepi ranjang nenek Xhi Wan Chang.
"Sekarang lebih baik kamu cepat tidur, agar besok bisa bangun pagi dan menggantikan pekerjaan nenek di rumah nyonya Shung...," lanjut neneknya.
"Iya nek, kalau begitu Mei Er pergi ke kamar ya...," Balas Xhi Wan Mei yang kemudian meninggalkan kamar neneknya menuju ke kamarnya.
Semenjak Xhi Wan Chang mulai sakit-sakitan, gadis kecil itu selalu menggantikan pekerjaan neneknya demi menyambung hidup mereka sehari-hari.
Selama bekerja di kediaman nyonya Shung, majikannya itu jarang memberi upah berupa uang, namun sebagai gantinya wanita paruh baya itu memberikan makanan yang cukup untuk dua orang, sehari dua kali makan.
Hal itu bukan karena kemauan nyonya Shung, namun memang nenek Xhi Wan Chang sendiri yang menginginkan demikian, asal dia dan cucunya bisa makan sehari-hari.
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, tampaklah Xhi Wan Mei sedang menyapu halaman rumah nyonya Shung yang lumayan luas.
Karena usianya baru 9 tahun, maka gadis kecil itu tidak dibebankan pekerjaan yang terlalu berat, seperti : menyapu halaman, menyiram tanaman, mengepel dan membantu bibi Chui mencuci baju.
Nyonya Shung sendiri adalah seorang janda beranak dua. Yang sulung merupakan seorang pemuda berumur 25 tahun, yang sampai sekarang masih belum memiliki keinginan untuk menikah dan mengelola toko kain. Sedangkan anak kedua, adalah seorang gadis berumur 19 tahun yang sehari-hari membantu ibunya mengelola rumah makan.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan tugasnya menyapu halaman dan menyiram tanaman, seperti biasa, Xhi Wan Mei akan pulang sebentar untuk mengantar sarapan neneknya, lalu dengan segera dia pun kembali lagi ke rumah nyonya Shung untuk melanjutkan pekerjaannya membantu bibi Chui mencuci baju majikannya.
Hari itu, sesudah semua tugasnya selesai, maka pulanglah Xhi Wan Mei dengan membawa buntelan berisi makanan yang akan disantap bersama neneknya di sore harinya.
Awalnya, nenek Xhi Wan Chang masih bisa beranjak dari ranjangnya ataupun berjalan di sekitar area dalam rumahnya sekedar untuk melakukan sesuatu yang ringan, namun suatu hari, wanita tua itu sudah mulai tidak sanggup untuk memindahkan tubuhnya bahkan sekedar untuk duduk sekalipun.
Otomatis, keadaan neneknya yang demikian membuat gadis berumur 9 tahun itu menjadi bingung, takut dan sedih. Maka, tanpa berpikir panjang, setelah berpamitan pada wanita tua itu, Xhi Wan Mei pun dengan segera berangkat menuju ke kediaman Lee untuk meminta bantuan pada tuan putri Nanyang.
Empat puluh lima menit kemudian, sampailah gadis kecil itu di kediaman Lee, lalu dia pun mengutarakan maksud kedatangannya pada seorang pelayan yang pada saat itu kebetulan melihat sosok Xhi Wan Mei masuk ke dalam gerbang.
Setelah pelayan itu tahu jika tamu ciliknya ingin menemui majikannya karena butuh bantuan, maka dengan segera si pelayan mencari keberadaan Chu Pian Ran.
Kini, tampaklah nyonya muda Lee sedang naik kuda bersama Xhi Wan Mei menuju ke rumah gadis berusia 9 tahun itu.
Sesudah berkuda dengan kecepatan agak lambat selama 15 menit, sampailah mereka di depan kediaman Xhi Wan Mei. Tanpa menunggu lama, gadis kecil itu langsung mengajak nyonya muda Lee masuk ke dalam kamar neneknya.
Setelah beberapa detik memeriksa kondisi tubuh wanita tua itu, kini Chu Pian Ran sedang menyalurkan kekuatan supranaturalnya ke dalam tubuh nenek Xhi Wan Chang agar wanita tua itu bisa kembali beraktifitas kembali seperti biasa.
Selama lebih dari tiga puluh menit, ibu jari dan jari telunjuk perempuan cantik itu memegang pergelangan tangan kanan wanita tua itu sambil menyalurkan kekuatan supranaturalnya.
Rupanya, nenek Xhi Wan Chang sakit pegal linu hingga parah akibat fisiknya kelelahan karena selama puluhan tahun sudah dia gunakan bekerja keras membanting tulang demi menghidupi dirinya dan anggota keluarganya. Termasuk, selama mendiang ibu Xhi Wan Mei saat ditinggal pergi oleh suaminya entah kemana rimbanya waktu perempuan itu baru beberapa bulan mengandung, hingga dia sakit keras sampai meninggal, nenek Xhi Wan Chang lah yang bertindak sebagai pencari nafkah. Jadi tak heran, jika saat ini tubuh tua itu menjadi sering terserang pegal linu.
Selama proses penyembuhan berlangsung, wanita tua itu merasakan seperti ada aliran yang hangat merambat dalam tubuhnya dan pegal linu yang awalnya sangat menyiksa dia semakin lama semakin berkurang dan kini benar-benar menghilang sama sekali.
"Sekarang coba nenek bergerak dan duduk...," ucap Chu Pian Ran selesai menyalurkan kekuatan supranaturalnya.
Sesaat kemudian duduklah wanita tua itu dengan kondisi tubuh yang terasa lumayan ringan.
"Terimakasih banyak tuan putri, saat ini pegal linu saya sudah sembuh...," sahut nenek Xhi Wan Chang.
"Nenek tidak perlu berterimakasih, aku merasa senang bisa membantu kalian... Sebaiknya, untuk beberapa hari ke depan ini nenek beristirahat dulu sampai tubuh nenek benar-benar pulih. Jika sudah lelah, jangan terlalu memaksakan diri lagi agar pegal linunya tidak menyerang lagi," terang nyonya muda Lee.
"Baiklah tuan putri, saya akan menuruti kata-kata tuan putri...," balas wanita tua itu.
"Mulai hari ini, jika kalian memang membutuhkan bantuan, jangan sungkan-sungkan datang mencariku. Selama aku bisa membantu kalian, maka akan aku bantu," lanjut perempuan cantik itu.
"Dan kau, aku merasa salut padamu, karena selama ini kau telah berusaha menjadi anak yang berbakti pada anggota keluargamu...," sambung Chu Pian Ran dengan melihat gadis berumur 9 tahun itu.
"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya tuan putri. Sekarang ini yang saya miliki hanyalah nenek saya, jadi saya berusaha semampu saya untuk membantu meringankan beban nenek...," jelas Xhi Wan Mei.
"Kamu memiliki pemikiran yang mulia Mei Er, teruslah membantu nenekmu selama kau mampu...,"
Sebelum meninggalkan rumah itu, Chu Pian Ran memberikan sebuah kantong uang yang di dalamnya berisi 100 koin emas kepada nenek Xhi Wan Chang.
Mendapat koin emas sebanyak itu, wanita tua dan cucunya itu merasa sangat senang sekali karena kebutuhan mereka untuk hari-hari ke depannya akan tercukupi.
Seperti yang telah diperintahkan oleh nyonya muda Lee, nenek Xhi Wan Chang istirahat tidak bekerja selama beberapa hari hingga tubuhnya benar-benar pulih sepenuhnya.
Sejak saat itu, setiap dua bulan sekali Chu Pian Ran akan memberikan 100 koin emas kepada nenek Xhi Wan Chang, agar uang itu dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan cucunya.
__ADS_1