
Keesokan harinya, setelah dirasa kondisi di desa Ying Luang aman dan beberapa penduduk yang sempat kesurupan telah pulih seperti sediakala, Chu Pian Ran beserta rombongannya berpamitan kepada penduduk desa itu.
Sebelum meninggalkan desa Ying Luang, gadis itu memberikan pesan kepada penduduk agar mereka hati-hati dan tidak menebang pohon sembarangan, karena selain dunia ini dihuni oleh manusia dan hewan juga dihuni oleh makhluk tak kasat mata yang bisa marah jika diganggu.
Tak berapa lama rombongan itu pun meninggalkan desa Ying Luang dengan diantar oleh sebagian besar penduduk hingga perbatasan desa.
Setelah satu jam menempuh perjalanan, tiba-tiba Qin Wu Zhu mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat rombongan disuruh berhenti.
"Ada apa?" Tanya Chu Pian Ran heran sambil menoleh pada pemuda itu.
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu." Sahut Qin Wu Zhu.
"Kenapa tidak di istana saja?" Lanjut gadis itu.
"Aku merasa tidak nyaman jika membicarakan hal ini di istana." Balas pemuda itu.
Tak berapa lama, Qin Wu Zhu menginstruksikan agar Lu Zee dan semua prajurit pulang terlebih dahulu ke istana, sementara itu dia dan Chu Pian Ran akan menyusul belakangan.
Beberapa detik kemudian Lu Zee dan para prajurit pun melanjutkan perjalanannya.
"Memangnya hal penting apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Chu Pian Ran penasaran.
"Kita cari tempat lain yang lebih nyaman untuk ngobrol." Ucap Qin Wu Zhu.
Pemuda itu lalu membelokkan kudanya ke arah kiri dan memasuki area pepohonan dengan diikuti oleh Chu Pian Ran.
Setelah menemukan tempat yang cocok, Qin Wu Zhu dan Chu Pian Ran menghentikan kudanya lalu turun dari kuda itu.
Kini muda mudi itu sedang duduk bersandar pada batang pohon besar yang sama.
"Aku dengar sebentar lagi kau akan menikah." Ucap Qin Wu Zhu.
"Iya, tepatnya satu setengah bulan lagi." Sahut Chu Pian Ran.
"Lalu bagaimana denganmu? Semua saudaramu sudah memiliki selir tinggal kau saja yang belum." Lanjut gadis itu.
"Sebenarnya aku menyukai seorang gadis." Ujar pemuda itu.
"Oh ya? Lalu?" Tanya Chu Pian Ran.
"Sayang sekali aku tidak bisa memilikinya karena dia sudah menjadi milik orang lain." Terang Qin Wu Zhu.
Gadis itu menoleh sebentar pada Qin Wu Zhu dengan perasaan heran.
"Kau menyukai gadis yang sudah punya kekasih? Ya ampun, bukankah kau seorang pangeran dan wajahmu juga tampan, tapi bagaimana bisa kau menyukai gadis yang sudah punya kekasih. Seperti tidak ada gadis lain saja. Jadi ini hal penting yang ingin kau bicarakan?" Kata Chu Pian Ran terus terang.
Qin Wu Zhu memalingkan kepalanya dan memperhatikan wajah gadis yang sedang duduk di sampingnya itu.
Merasa diperhatikan, Chu Pian Ran pun ikut memalingkan kepalanya dan menatap pemuda itu.
"Ada apa kau ini?" Tanya gadis itu dengan alis sedikit berkerut.
"Apa kau tahu siapa gadis yang sudah membuatku jatuh hati itu?" Ucap Qin Wu Zhu.
"Aku tidak mau tahu, itu bukan urusanku." Balas Chu Pian Ran datar.
Perkataan Chu Pian Ran barusan ternyata membuat hati pemuda itu pedih.
"Nona Chu, aku sudah lama menyukaimu..." Ujar Qin Wu Zhu pelan sambil menatap lekat gadis itu.
Akhirnya pemuda itu mengungkapkan perasaannya pada Chu Pian Ran setelah sekian lama dipendamnya.
Chu Pian Ran menoleh pada Qin Wu Zhu dan melihatnya sesaat.
"Maafkan aku yang mulia pangeran, aku tidak bisa membalas perasaanmu karena aku sudah mencintai pemuda lain... Sebaiknya mulai dari sekarang kau berusaha untuk melepaskan perasaanmu padaku karena hal itu adalah suatu kesia-sian, malah kau sendiri nanti yang akan tersiksa." Terang gadis itu.
"Lagipula di ibukota banyak gadis cantik yang bisa kaupilih untuk menjadi selirmu." Tambah Chu Pian Ran.
Beberapa detik kemudian gadis itu bangkit dari duduknya.
"Ayo kita segera pulang." Katanya lalu melangkah meninggalkan tempat itu menuju tempat kudanya ditambat.
Dengan lesu Qin Wu Zhu mengikuti Chu Pian Ran.
Dua jam kemudian sampailah mereka di ibukota Qin.
__ADS_1
****
Satu setengah bulan kemudian...
Hari pernikahan Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran pun tiba.
Sejak dini hari, di kedua kediaman itu terlihat sangat sibuk untuk menyiapkan acara pernikahan.
Saat ini Chu Pian Ran terlihat sedang duduk di depan meja riasnya. Gadis itu sedang dirias wajah dan ditata rambutnya oleh ibunya dengan dibantu Xi Er.
"Bu, riasannya jangan terlalu tebal ya, dan hiasan kepalanya juga sedikit saja..." Kata gadis cantik itu.
"Sayang, ini kan hari pernikahanmu yang dirayakan hanya sekali seumur hidup, jadi kau harus tampil semaksimal mungkin." Ucap wanita paruh baya itu sambil menata rambut putrinya.
"Ya sudahlah, terserah ibu saja..." Akhirnya Chu Pian Ran mengalah pada ibunya. Lagipula nanti juga kepalanya ditutupi kain merah, jadi bagian kepala dan wajahnya tidak akan terlihat.
Satu jam kemudian selesailah nyonya Chu dan Xi Er merias wajah dan menata rambut Chu Pian Ran. Terlihatlah wajah gadis itu bertambah semakin cantik bak seorang dewi.
Sekarang mereka berdua membantu mengenakan pakaian pengantin berwarna merah di tubuh Chu Pian Ran.
Setelah semua dirasa siap, berangkatlah pengantin perempuan beserta rombongan menuju ke kediaman tuan Lee Jiang Xun.
Para penduduk ibukota saat itu banyak yang berkerumun menyaksikan iring-iringan pengantin itu di dekat kediaman tuan Chu Jeong Byun, mengingat selama ini keluarga tersebut sering sekali berderma untuk warga yang tidak mampu.
Diantara kerumunan tersebut terlihat juga Rong Hya, si siluman serigala yang sampai saat ini masih mengawasi gerak gerik Chu Pian Ran dari kejauhan.
Entah kenapa, ketika menyaksikan gadis itu hendak menikah, di dalam hatinya ada perasaan sedih yang tiba-tiba muncul begitu saja.
Setelah sekian lama membuntuti Chu Pian Ran dari hutan Jinfeng hingga saat ini, Rong Hya semakin yakin jika gadis itu adalah reinkarnasi peri Mei Hwa Lie.
Siluman srigala itu mengikuti rombongan pengantin perempuan hingga sampai di kediaman tuan Lee Jiang Xun.
Setengah jam kemudian, sampailah rombongan mempelai perempuan di depan kediaman tuan Lee Jiang Xun.
Di sekitar kediaman tersebut, juga terlihat banyak penduduk yang ingin menyaksikan hari pernikahan putra satu-satunya pejabat istana itu dengan putri satu-satunya penasehat kerajaan.
Tak lupa, anggota keluarga Lee juga tampak menunggu rombongan mempelai perempuan di depan kediaman.
Dengan dibantu Xi Er, Chu Pian Ran turun dari kereta kudanya. Dengan segera Lee Jiang Wook menggandeng tangan calon istrinya untuk dibawa masuk menuju aula dimana acara prosesi pernikahan akan diselenggarakan.
Saat ini wajah kedua pasangan suami istri itu terlihat bahagia bercampur haru karena putra putri mereka akan segera menikah.
Terdengarlah suara petasan selama lima belas menitan.
Di dalam aula telah berkumpul puluhan tamu undangan termasuk ke empat pangeran kaisar Qin. Sedari tadi wajah Qin Wu Zhu terlihat lesu karena hari ini gadis yang dicintainya akan menikah.
Tak lama kemudian prosesi pernikahan pun dimulai. Suasana aula yang awalnya ramai kini menjadi hening.
Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran sedang berdiri agak jauh di depan kedua orang tua mereka yang saat itu sedang duduk di tempat yang telah disediakan.
Tak lama terdengarlah si pembawa acara memecah keheningan.
Prosesi pernikahan itu berlangsung kurang dari tiga puluh menit, setelahnya para tamu undangan dipersilahkan memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru dan kedua orang tua mereka.
Acara santai itu berlangsung lumayan lama disertai dengan kegiatan makan minum dan canda tawa dari para tamu undangan.
Beberapa saat kemudian, Chu Pian Ran diijinkan meninggalkan aula.
Dengan dibantu Xi Er dan seorang kepala pelayan kediaman tuan Lee, perempuan itu dibawa menuju ke kamar pengantinnya.
Kamar pengantin itu terlihat luas dan mewah dengan didominasi warna merah. Perabotannya pun juga memiliki kualitas yang tinggi.
Di bagian samping kamar terlihat sebuah pintu, yang di baliknya terdapat kamar mandi yang juga terlihat berkelas pada jaman itu.
Lee Jiang Wook sendirilah yang merancang desain kamar dan kamar mandi yang kelak akan digunakan untuknya dan istrinya.
Setelah Chu Pian Ran duduk di tepi ranjang pengantin, kedua perempuan itu meninggalkannya lalu menutup kamar itu.
Karena sedari tadi menahan haus dan sedikit merasa lapar, perempuan itu membuka kain penutup kepalanya, meletakkannya di atas meja kemudian duduk di kursi menghadap meja yang di atasnya sudah tersedia beberapa macam makanan, seteko teh dan seteko anggur.
Tanpa rasa sungkan, Chu Pian Ran pun langsung menuang beberapa kali teh ke dalam sebuah cangkir kecil dan meminumnya hingga rasa hausnya hilang. Perempuan itu lalu mencicipi beberapa kue yang ada di situ.
Sepuluh menit kemudian masuklah Lee Jiang Wook ke dalam kamar dan terkejut melihat istrinya sedang asyik makan tanpa beban sama sekali.
"Ya ampun sayang apa yang kamu lakukan? Seharusnya kan aku yang melepas kain penutup kepalamu..." Kata Lee begitu sampai di dekat istrinya.
__ADS_1
"Aku haus dan sedikit lapar suamiku, jadi aku sendiri yang membuka kain penutupnya, apa tidak boleh?" Tanya Chu Pian Ran tanpa rasa bersalah dengan mulut mengunyah makanan.
"Sebenarnya jika menurut adat tidak boleh sayang..." Sahut pemuda itu.
"Sudah terlanjur..." Ucap perempuan itu.
Lee lalu menggeser sebuah kursi dan mendekatkannya pada istrinya dan diapun duduk di kursi itu.
Pemuda itu menatap lekat istrinya yang saat itu cantik bagai seorang dewi.
Merasa diperhatikan, perempuan itu berhenti makan lalu balik menatap suaminya.
"Ada apa? Wajahku terlihat aneh ya? Ibu tadi meriasku terlalu tebal, jadi ya seperti ini..." Ujar Chu Pian Ran dengan polosnya.
"Tidak, wajahmu tidak terlihat aneh, justru kau terlihat sangat cantik bagai seorang dewi..." Kata Lee.
"Memangnya kau pernah melihat seorang dewi?" Tanya perempuan itu.
"Aku pernah membacanya di buku atau melihat gambarnya. Waktu aku kecil, kedua orang tuaku juga beberapa kali menceritakannya padaku." Kata Lee.
Chu Pian Ran pun menyeringai.
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba saja Lee mengangkat tubuh istrinya lalu membawanya menuju ranjang dan memangkunya di atas pahanya.
"Hari ini aku bahagia sekali, akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya sayang." Ujar pemuda itu di depan wajah istrinya yang cantik mempesona.
Perempuan itu tidak berkomentar apa-apa karena rasa terkejutnya belum hilang saat pria itu tadi mengangkat tubuhnya dengan tiba-tiba.
Pasangan pengantin baru itu kini saling menatap lekat satu sama lain.
Tak berapa lama, mereka saling memajukan kepalanya dan berciuman dengan intimnya hingga puluhan menit.
21+
Beberapa detik kemudian, tangan kanan Lee pun mulai menyingkap sebagian pakaian istrinya lalu merayap di balik pakaian itu untuk mencari sesuatu.
Setelah menyelesaikan kegiatan berciuman, pemuda itu melanjutkan aksinya untuk melepas pakaian atas istrinya.
"Ini masih siang suamiku, apa kau mau melakukannya sekarang?" Ucap Chu Pian Ran.
"Memangnya kenapa jika masih siang sayang? Senyampang kita masih bersama dan kau belum pergi jauh lagi aku tidak akan menunda-nunda sesuatu yang ingin kulakukan." Balas Lee.
Perempuan itu membenarkan perkataan suaminya dan tidak bisa berkata apa-apa.
Kini tubuh bagian atas Chu Pian Ran telah polos. Kedua gundukan miliknya saat ini sedang dipandangi oleh suaminya.
Masing-masing tangan Lee lalu memegang masing-masing gundukan itu lalu melakukan sentuhan-sentuhan lembut dan memainkan puncaknya.
"Apakah kau juga merasa bahagia dengan pernikahan kita ini istriku?" Tanya Lee dengan menatap lekat mata perempuan di depannya, sementara kedua tangannya masih bergerak di kedua bagian tadi.
"Iya aku bahagia sayang..." Jawab Chu Pian Ran.
Beberapa saat kemudian suaminya melakukan ritual menghisap seperti yang sering dia lakukan sebelum mereka menikah.
Mulut pemuda itu kadang menghisap pelan kadang menghisap kuat.
Chu Pian Ran hanya mampu memejamkan matanya sambil menikmati apa yang dilakukan suaminya itu. Lumayan lama juga pemuda itu beraksi di bagian itu.
"Sayang, apakah kau merasa gugup?" Tanya suaminya begitu mulutnya terlepas dari puncaknya.
"Kenapa aku harus gugup suamiku?... Bukankah kita sudah sering bersama dan kau juga sudah sering melakukan hal ini padaku?" Balas perempuan itu.
"Kau benar, tapi hari ini aku ingin meminta hakku sepenuhnya." Ucap Lee.
"Apa yang ingin kau lakukan ya lakukan saja suamiku, aku siap..." Jawab Chu Pian Ran.
Lee Jiang Wook sangat senang mendengar perkataan istrinya. Pemuda itu lalu menggesek-gesekkan puncak hidungnya pada puncak gundukan bagian kanan istrinya dengan rasa sayang.
Beberapa detik kemudian terdengarlah ketukan di pintu kamar.
Dengan segera Chu Pian Ran mengambil selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang polos itu.
Sementara suaminya beranjak dari ranjang lalu mendekati pintu dan membukanya.
Rupanya ada dua orang pelayan perempuan yang mengantarkan makan siang untuk mereka.
__ADS_1
Lee pun mengambil alih sebuah nampan besar berisi makanan itu. Tak lupa dia menyuruh pelayan itu untuk menutup pintu kamarnya lagi.
Setelah pintu kamar ditutup, Chu Pian Ran meletakkan kembali selimut yang menutupi tubuhnya di atas ranjang, lalu perempuan itu melepas hiasan rambutnya yang niatnya sedari tadi ingin dia lepaskan tapi kelupaan.