Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 88 Peri Zhin Zhuan


__ADS_3

Usia kehamilan Chu Pian Ran telah memasuki bulan ke delapan. Sang suami dan kedua orang tua perempuan itu mulai meningkatkan kesiagaannya dalam mengawasi nyonya muda itu.


Sejak usia kehamilan 7 bulan, Chu Pian Ran meminta persetujuan suaminya agar dia diijinkan tinggal di rumah orang tuanya sampai perempuan itu melahirkan.


Setelah meminta pertimbangan dari kedua orang tuanya, maka Lee Jiang Wook pun menuruti keinginan istrinya, dan sejak saat itu pasangan suami istri itu tinggal di kediaman Chu.


Agar menantunya tidak sering mondar mandir antara kediaman Chu dan kediaman Lee dalam keadaan hamil besar, maka tuan dan nyonya Lee sering berkunjung ke kediaman besannya.


Di usia kehamilan Chu Pian Ran yang ke 8 bulan itu, keluarga Chu dan keluarga Lee telah menyiapkan berbagai keperluan si bayi termasuk ranjang kecil berkelambu yang didesain senyaman mungkin.


Pagi itu, seperti biasa, Lee Jiang Wook sedang menemani istrinya jalan-jalan pagi.


Karena perutnya semakin besar, perempuan itu berjalan pelan-pelan sambil digandeng suaminya.


Tiba-tiba, telinga Chu Pian Ran sayup-sayup mendengar suara lirih minta tolong berulang kali.


Agar semakin yakin dengan pendengarannya, maka berhentilah perempuan itu untuk sesaat sambil memejamkan matanya.


Tentu saja sikap anehnya itu mengundang pertanyaan bagi suaminya.


"Ada apa sayang?" Tanya Lee.


"Aku mendengar suara minta tolong berkali-kali, tapi suaranya sangat lirih, jadi aku berusaha untuk menajamkan pendengaranku dan instingku. Sepertinya suara itu berasal dari sana." Balas Chu Pian Ran lalu menunjuk ke suatu jalan.


Dengan sabar suami tercinta pun lalu menuruti arah langkah istrinya.


Lima belas menit kemudian, sampailah mereka di sebuah kios besar yang menjual berbagai macam burung.


Di kios itu terdapat beberapa kurungan dari kayu yang panjang dan bersekat-sekat, yang diisi berbagai jenis burung biasa yang harganya tidak mahal dan ada pula beberapa kurungan khusus yang di dalamnya hanya diisi oleh satu ekor burung yang biasanya harganya lumayan mahal.


Suara minta tolong tadi telah lenyap beberapa menit yang lalu, maka nyonya muda itu menggunakan insting dan kekuatan batinnya untuk menemukan sumber suara tadi.


Setelah memperhatikan beberapa burung yang ada di situ, maka matanya tertuju pada seekor burung yang paling cantik diantara burung lainnya.



Burung Pegar Emas


Tak lama kemudian, Chu Pian Ran meminta suaminya untuk membeli burung itu. Dengan segera, Lee Jiang Wook pun masuk ke dalam kios untuk menemui si penjual dan menyampaikan niatnya untuk membeli burung itu.


Pemuda itu lumayan terkejut saat pria paruh baya itu menyebutkan harganya. Ketika Lee berusaha menawar harga itu, si penjual tetap kukuh tidak mau menurunkan harganya sedikitpun. Akhirnya, mau tidak mau pemuda itu pun setuju dengan harga itu.


Karena dari awal mereka tidak ada niat untuk membeli burung, Lee Jiang Wook yang saat itu tidak membawa uang tail emas, meminta ijin pada pria paruh baya itu agar salah seorang pelayannya ikut pulang bersamanya untuk mengambil uang.


Saat penjual itu bertanya di mana rumah Lee dan mendengar jawabannya, tiba-tiba pria paruh baya itu sedikit terkejut.


Penjual itu pun lalu menanyakan apa status pemuda itu di kediaman penasehat kerajaan Chu. Setelah pria paruh baya itu mendengar jawabannya, rasa terkejutnya menjadi bertambah.


Karena suaminya sudah agak lama di dalam dan belum keluar juga, maka Chu Pian Ran pun menyusul masuk ke dalam kios.


Begitu melihat sosok putri angkat kaisar Qin datang, dengan segera penjual burung itu memberi hormat dengan membungkukkan badannya.


Akhirnya, setelah tahu bahwa si pembeli burung adalah orang yang tersohor di wilayah Qin, maka pria paruh baya itu mau menurunkan harganya. Yang awalnya 10 tail emas sekarang menjadi 7 tail emas.


Beberapa saat kemudian, pulanglah Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran dengan diikuti seorang pelayan kios burung yang membawa kurungan besar berisi burung pegar emas.


Sesampainya di kediaman, Lee pun membayar harga burung itu beserta 3 koin emas sebagai tip untuk pelayan itu.


Saat ini, Chu Pian Ran dan suaminya sedang duduk di dalam kamar sambil memperhatikan burung pegar emas yang terlihat berdiam diri sejak beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


Ketika Lee Jiang Wook masih menyelesaikan masalah pembayaran burung itu, istrinya mengeluarkan burung itu dari kurungan dan meletakkannya di atas meja.


"Kau yakin suara minta tolong tadi dari burung ini sayang?" Tanya suaminya.


"Aku yakin suamiku... Setelah kuterawang sebentar sebenarnya dia adalah seorang peri yang kekuatannya sudah banyak dihisap oleh iblis jahat." Terang Chu Pian Ran sambil mengelus bulu burung itu.


"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan burung ini?" Lanjut Lee Jiang Wook.


"Aku akan menyuruh pelayan untuk menyediakan sebuah ruangan khusus untuk tempat tinggalnya sementara." Balas perempuan itu.


"Kau tetaplah duduk di sini, biar aku yang menyuruh pelayan agar menyiapkan ruangan untuk burung ini." Ucap pemuda tampan itu.


"Terimakasih banyak suamiku, kau sudah mengorbankan 7 tail emasmu demi menyelamatkan burung ini..." Kata Chu Pian Ran menoleh pada suaminya lalu mencium pipi kanan pemuda itu.


"Kau tidak perlu berterimakasih sayang, uangku adalah uangmu juga..." Sahut Lee.


Tak berapa lama, pemuda itu pun keluar dari kamarnya untuk mencari seorang pelayan agar menyiapkan sebuah ruangan khusus untuk burung pegar emas yang baru dibelinya sekaligus memerintahkan pelayan itu agar merawat burung itu dengan sebaik-baiknya.


Sejak saat itu, tinggallah burung pegar emas itu di sebuah ruangan khusus dan dirawat sebaik-baiknya oleh pelayan itu.


Berdasarkan penerawangan Chu Pian Ran, burung jelmaan peri itu hanya makan buah-buahan manis dan minum air putih.


Maka atas perintah nyonya muda Lee, setiap hari pelayan itu menyiapkan potongan-potongan kecil buah-buahan dan semangkuk air putih masak.


Dua minggu kemudian...


Pada suatu tengah malam, tubuh burung pegar itu dikelilingi oleh titik-titik cahaya yang lumayan banyak. Dan tak berapa lama, keluarlah cahaya tipis dari tubuh makhluk itu, lalu berubahlah burung itu menjadi seorang gadis cantik dengan baju yang warnanya cerah.


Tubuh gadis itu terlihat tergeletak pingsan tak berdaya, karena untuk merubah wujud dari tubuh burung menjadi tubuh manusia membutuhkan kekuatan supranatural yang lumayan besar.


Hingga pagi hari menjelang, tubuh gadis itu tetap seperti itu hingga kedatangan pelayan yang niatnya akan membersihkan ruangan itu.


Dengan segera si pelayan melaporkan kejadian aneh itu pada Lee Jiang Wook.


Tak menunggu lama, pemuda itu menuju ke ruangan itu dengan diikuti pelayan tadi. Sesampainya di sana, Lee langsung mengangkat tubuh gadis yang pingsan itu untuk diletakkan di sebuah kamar kosong.


Kini, berkumpullah dua pasang suami istri di kamar itu sambil memperhatikan tubuh peri yang masih pingsan itu.


Chu Pian Ran yang saat ini telah duduk di tepi ranjang, berusaha menstransfer kekuatannya pada tubuh gadis itu agar dia tersadar.


Puluhan menit kemudian, terbukalah mata peri cantik itu dan mengedarkan pandangannya di ruangan itu sambil memperhatikan beberapa orang yang sedang berkumpul di tempat itu.


Sekalipun dalam wujud burung, ingatan peri itu masih sangat jelas jika yang telah menolong dia adalah sepasang suami istri yang saat ini ada di kamar itu.


"Terimakasih banyak kak atas pertolongannya... Jika bukan karena kakak berdua, wujudku pasti tidak bisa berubah secepat ini..." Kata gadis itu lemah sambil menatap Chu Pian Ran.


"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting sekarang kau banyak istrirahat agar tubuhmu bisa pulih kembali." Sahut nyonya muda itu.


"Siapa namamu?" Lanjut perempuan itu.


"Namaku Zhin Zhuan kak, aku adalah peri burung pegar... Keadaanku menjadi seperti ini karena kekuatan supranaturalku dihisap hampir habis oleh iblis jahat setahun yang lalu..." Jelas peri itu.


"Aku sudah tahu sedikit dengan apa yang kau alami melalui penerawanganku. Sekarang, lebih baik kau istirahatlah dulu dan aku akan meminta pelayanku untuk merawatmu sampai kau bisa beraktifitas kembali." Ucap Chu Pian Ran.


"Terimakasih banyak kakak berdua, paman dan bibi, kalian sudah mau menolong dan merawatku... Maaf jika aku sudah merepotkan kalian semua..." Ujar Zhin Zhuan dengan mengedarkan pandangannya pada keempat orang itu.


"Kau tidak perlu sungkan nak, kami semua senang membantumu... Mudah-mudahan tubuhmu cepat sehat kembali." Sela nyonya Chu.


Hari itu, tuan Chu Jeong Byun memerintahkan semua pelayannya untuk menyimpan rahasia tentang identitas peri pegar emas yang saat ini ada di kediaman itu.

__ADS_1


Setelah mendapat perawatan selama hampir dua minggu, akhirnya tubuh peri itu pun membaik.


Atas kemauannya sendiri, sebagai rasa terimakasihnya pada keluarga itu, Zhin Zhuan menyediakan diri untuk menjadi pelayan di rumah itu sambil memulihkan kekuatan supranaturalnya sedikit demi sedikit.


Awalnya anggota keluarga Chu tidak setuju jika peri itu menjadi pelayan di kediaman. Namun, karena Zhin Zhuan bersikukuh dengan niatnya itu akhirnya merekapun mengijinkannya tapi dengan syarat dia tidak boleh bekerja terlalu berat.


Dengan bimbingan dari Xi Er, maka mulailah peri pegar emas itu menjadi salah satu pelayan di kediaman Chu.


Hari demi hari, hubungan Xi Er dan Zhin Zhuan semakin dekat bahkan bisa dikatakan kakak beradik sekalipun peri pegar emas itu telah berumur 1.500 tahun.


Saat ada waktu senggang, mereka berdua akan keluar kediaman bersama-sama untuk jalan-jalan atau membeli sesuatu.


Peri Zhin Zhuan merasa senang tinggal di kediaman itu. Gadis itu kini merasa seperti tinggal di tengah-tengah keluarga sendiri karena diperlakukan dengan baik oleh anggota keluarga Chu maupun semua pelayan yang ada di situ.


Sore itu, terlihatlah Xi Er sedang mengajari Zhin Zhuan bermain catur di dekat kolam.


Karena peri itu memang baru pertama kali bermain catur, maka gadis itu pun merasa kesulitan. Namun, dengan sabar Xi Er mengajari peri itu hingga dia mulai sedikit mengerti.


Kebetulan, sore itu datanglah Qin Wu Zhu dengan ditemani Lu Zee ke kediaman Chu.


Pangeran kedua kaisar Qin itu berniat untuk mengunjungi adik angkatnya dan suaminya, karena sebentar lagi Chu Pian Ran akan melahirkan.


Sambil menunggu majikannya mengobrol, Lu Zee pun mendekati Xi Er dan Zhin Zhuan yang sedang bermain catur.


Begitu sudah dekat dengan kedua gadis itu, dan melihat kecantikan peri pegar emas, entah kenapa hati pemuda itu langsung terpesona.


"Selamat sore nona nona cantik..." Sapa si Lu Zee lalu pemuda itu duduk di kursi kosong yang ada di dekat kedua gadis itu.


"Selamat sore tuan Lu Zee... Anda datang kemari?" Tanya Xi Er sambil menoleh pada pemuda itu.


"Iya Xi Er, aku sedang mengantar yang mulia pangeran untuk bertemu tuan putri." Jawab Lu Zee.


"Tuan putri? Tuan putri siapa?" Sela Zhin Zhuan dengan polosnya.


Peri itu memang belum diberitahu jika nyonya mudanya adalah putri angkat kaisar Qin.


"Kau siapa nona? Pelayan baru di sini?" Tanya pemuda itu.


"Iya tuan..." Balas peri itu.


"Darimana asalmu?" Lanjut Lu Zee.


Mendengar pertanyaan pengawal pribadi Qin Wu Zhu itu, Xi Er pun mulai gelisah. Semua pelayan yang ada di kediaman sudah diberi peringatan oleh tuan besar jika mereka tidak boleh mengungkap identitas Zhin Zhuan pada siapapun. Maka, pelayan itu pun memikirkan cara agar dia dan peri itu bisa segera pergi dari tempat itu.


"Oh ya Zhin Zhuan, aku baru ingat jika nyonya muda tadi meminta kita untuk melakukan sesuatu. Ayo, kita lakukan sekarang saja." Ucap Xi Er sambil menarik tangan peri yang kelihatan bingung itu lalu segera mengajaknya pergi dari tempat itu.


Lu Zee yang melihat tingkah aneh Xi Er pun keheranan dan menyimpan tanda tanya besar.


"Memangnya nyonya muda menyuruh kita melakukan apa Xi Er?" Tanya Zhin Zhuan dengan lugunya begitu mereka berdua telah jauh dari Lu Zee.


"Sebenarnya ini hanya alasanku saja agar tuan Lu Zee tidak bertanya macam-macam denganmu. Kan tuan besar sudah mengingatkan semua pelayan agar menyimpan rahasiamu." Jelas Xi Er.


"Begitu ya... Lalu tuan itu tadi mengatakan tuan putri, memangnya tuan putri itu siapa?" Lanjut peri itu.


"Sekarang kita duduk di sana saja, aku akan menceritakan banyak kisah menarik tentang nyonya muda kita." Ajak Xi Er sambil menunjuk beberapa kursi kayu yang ada di depan halaman kamar pelayan perempuan.


Mulailah Xi Er bercerita tentang petualangan nyonya muda Lee hingga ditahbiskan menjadi putri angkat kaisar.


Mendengar cerita Xi Er, Zhin Zhuan pun menjadi sangat kagum dengan Chu Pian Ran.

__ADS_1


__ADS_2