Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 28 Menumpas Perampok


__ADS_3

Pagi hari, setelah matahari terbit, rombongan paman Jiu Lin yang akan mengantar pesanan kain ke Taiyuan mulai berangkat.


Rombongan itu terdiri dari 5 orang termasuk si pria bertopeng dan paman Jiu Lin. Sedangkan 3 orang lainnya adalah pegawai pria cukup berumur itu.


Sebelum berangkat tadi, paman Jiu Lin sudah memperkenalkan satu persatu pegawainya pada Chu Pian Ran.


Gadis itu berada di baris paling depan bersama seorang laki-laki yang usianya sekitar 30 tahunan yang bernama A Bing.


Sementara itu, paman Jiu Lin duduk di depan kereta kuda pengangkut kain sebagai kusir.


Sedangkan 2 lainnya ada di baris belakang kereta kuda itu.


Perjalanan menuju Taiyuan membutuhkan waktu 4 hari untuk berangkat dan pulang. Rombongan itu berjalan lumayan pelan karena jalanan yang dilalui memang berbatu.


Setengah hari perjalanan rombongan itu berhenti sebentar untuk istirahat. Paman Jiu Lin lalu menawarkan roti dan minum yang dibawa dari rumah untuk anggota rombongan.


"Apakah tempatnya masih jauh paman?" Chu Pian Ran menanyakan tempat yang biasa dijadikan para perampok beraksi.


"Sekitar dua jam an dari sini tuan." Jawab paman Jiu Lin.


"Kami sudah mempersiapkan senjata yang kami punyai di dalam kereta kuda." Lanjut pria cukup berumur itu.


"Senjata apa saja paman?" Tanya si pria bertopeng.


Paman Jiu Lin kemudian mengajak Chu Pian Ran untuk melihat senjata yang tersimpan di kereta kuda.


Pria itu lalu menyibak tirai kereta kudanya, dan terlihatlah oleh gadis itu di dalam kereta ada beberapa buah pedang, dua buah tombak, dua buah busur, dan gulungan tali tambang.


"Bagaimana tuan? Apakah tuan membutuhkan senjata ini?" Ucap paman Jiu Lin.


"Tidak paman, aku tidak membutuhkan senjata seperti ini." Kata pria bertopeng itu terus terang.


"Aku akan mencari senjata sendiri saja." Sambung Chu Pian Ran.


"Maksud tuan?" Tanya pria cukup berumur itu tidak paham.


Gadis itu pun lalu melayangkan pandangannya ke bawah. Kemudian dia membungkuk dan memungut beberapa batu kecil yang lumayan tajam.

__ADS_1


Paman Jiu Lin heran dengan tindakan Chu Pian Ran namun tidak berani bertanya.


Setelah si pria bertopeng mengumpulkan puluhan batu kecil, dia lalu membungkus batu-batu itu di selembar sapu tangan yang lumayan lebar.


Sesudah beristirahat sebentar, rombongan itu pun kemudian melanjutkan perjalanan. Begitu hampir dekat dengan tempat yang dimaksud, anggota rombongan itu lalu turun dari kuda dan mengambil senjata dari dalam kereta kuda. Sekarang mereka sudah siap siaga.


Benar saja, setengah jam kemudian rombongan itu dicegat oleh 6 pria berkuda dan bercadar hitam, yang masing-masing sudah membawa pedang.


Chu Pian Ran yang sedari tadi sudah siaga pun, dengan cepat melemparkan batu-batu itu ke arah perampok.


Ketika para perampok itu sedang sibuk menghindari serangan batu, dengan cepat gadis itu melompat dari kudanya dan mengibaskan tangan kanannya.


Alhasil badai debu pun menyerang para perampok itu. Merekapun berhasil dibuat kerepotan. Kuda-kuda perampok itu mulai panik dan meringkik ketakutan.


Si pria bertopeng terus menerus mempermainkan perampok itu dengan badai debu, sebelum akhirnya dia melempar tubuh para perampok itu jatuh beberapa meter dari kuda-kudanya.


Karena ketakutan, kuda-kuda itu pun lari tunggang langgang meninggalkan pemiliknya.


Chu Pian Ran lalu menghalau debu itu hingga terlihatlah 6 sosok perampok itu yang kini sudah bangkit berdiri.


Tanpa memberi waktu jeda, gadis itu memberi pelajaran pada perampok itu dengan mengangkat dan menjatuhkan mereka beberapa kali ke tanah.


Perampok itu lalu digelandang di belakang kuda hingga ke pos keamanan terdekat.


Setelah para perampok berhasil diringkus, rombongan itu bisa melanjutkan perjalanan dengan tenang hingga urusan dagang paman Jiu Lin berjalan dengan lancar.


"Terimakasih banyak tuan Song, atas bantuan tuan bisnis saya berjalan lancar karena perampok itu berhasil ditangkap." Kata pria cukup berumur itu sekembalinya mereka di Julu.


"Tidak apa-apa paman, aku senang membantu paman. Hitung-hitung untuk menambah pengalaman." Jawab Chu Pian Ran.


"Jika tuan tidak keberatan bagaimana jika tuan menginap di rumah saya dan mengikuti jamuan makan yang akan saya adakan?" Undang paman Jiu Lin.


"Baiklah paman, aku bersedia." Balas si pria bertopeng.


Malam harinya, paman Jiu Lin dan anggota keluarganya mengadakan jamuan makan.


Jamuan makan itu dihadiri oleh anggota keluarga paman Jiu Lin, semua pegawainya dan Chu Pian Ran.

__ADS_1


Jamuan malam itu berlangsung dengan ceria. Sekalipun gadis itu baru mengenal mereka, dia sudah merasakan suasana akrab layaknya keluarga.


Pagi harinya


Chu Pian Ran berpamitan pada anggota keluarga paman Jiu Lin dan semua pegawainya karena dia ingin melanjutkan perjalanan.


Dengan berat hati mereka melepas kepergian pria bertopeng itu. Jika boleh jujur, sebenarnya mereka masih ingin kenal lebih dekat dengan penolong mereka itu.


****


Berita tertangkapnya komplotan perampok beberapa hari yang lalu kembali menyebar dengan cepat.


Laki-laki bertopeng yang misterius itu semakin terkenal saja.


Kabar ini telah sampai pada telinga pangeran Qin Wu Zhu dan membuatnya semakin penasaran.


Paviliun Jinlong


"Ada apa kau kemari Zhu Er?" Tanya kaisar.


"Maaf ayahanda jika kedatangan ananda mengganggu ayahanda." Jawab Qin Wu Zhu.


"Katakan saja." Lanjut kaisar.


"Ayahanda, beberapa waktu belakangan ini ananda mendengar kabar bahwa di wilayah Qin muncul laki-laki bertopeng yang memiliki kemampuan yang tidak biasa. Jika ayahanda berkenan, ananda mempunyai saran bagaimana jika kita meminta laki-laki itu untuk bergabung dalam kemiliteran kita. Jika dia mau bergabung, ananda yakin kerajaan lain tidak berani lagi mengganggu kita." Terang pemuda itu.


"O soal itu. Aku juga sudah mendengarnya dari kasim Liu dan mempunyai pikiran demikian. Tapi ayah tidak mau terburu-buru mengambil tindakan, ayah masih perlu tahu identitas yang jelas dari laki-laki itu. Jangan sampai dia berbuat mencolok seperti itu dengan tujuan sengaja mencari perhatian kita tapi ternyata mempunyai maksud tidak baik di belakangnya." Jelas kaisar pada putranya.


Qin Wu Zhu membenarkan kata-kata ayahnya. Dia yang awalnya sangat antusias meminta ayahnya untuk menarik laki-laki bertopeng itu dalam kemiliteran Qin, sekarang perlu berpikir dua kali lagi.


"Apa yang ayahanda katakan memang benar. Jika ayahanda mengijinkan, bagaimana jika ananda mencari keberadaan laki-laki bertopeng itu agar lebih mengetahui secara jelas identitasnya." Kata Qin Wu Zhu.


"Kau ingin mencari laki-laki bertopeng itu? Apa kau tidak takut jika dia nanti malah mencelakaimu?" Kaisar merasa heran dengan permintaan putranya.


"Ananda akan menyamar ayahanda. Bukankah laki-laki itu juga belum mengenal ananda." Ucap pemuda tampan itu.


"Baiklah, jika itu memang keinginanmu. Tapi ingat, kau harus berhati-hati padanya." Sambung kaisar.

__ADS_1


"Terimakasih atas ijinnya ayahanda. Pesan ayahanda akan ananda turuti." Jawab Qin Wu Zhu.


__ADS_2