Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 25 Chu Pian Ran Berangkat Mengembara


__ADS_3

Chu Pian Ran sudah membulatkan tekadnya untuk segera berangkat mengembara.


Setelah sarapan, di depan kedua orang tuanya dia pun memberanikan diri untuk meminta ijin.


"Ayah ibu, ada hal penting yang ingin Ran Er sampaikan." Ucap gadis itu.


"Kau ingin bicara soal apa nak?" Tanya nyonya Chu.


"Ran Er ingin meminta ijin untuk mengembara bu." Jawab Chu Pian Ran.


Bagai disambar petir, nyonya Chu benar-benar dibuat terkejut dengan pernyataan putrinya.


Lain halnya dengan tuan Chu. Pria paruh baya itu sudah bisa memprediksi apa yang akan dibicarakan oleh putrinya.


"Apa? Kau ingin mengembara? Tidak nak tidak, sampai kapanpun ibu tidak akan setuju." Kata nyonya Chu dengan suara agak tinggi.


"Bu, aku mengerti keberatan ibu... Tapi dengan kelebihan yang aku miliki sekarang, apakah aku hanya akan duduk-duduk manis di rumah saja. Ran Er punya keinginan yang sangat kuat untuk mengembara dan menolong banyak orang bu..." Terang Chu Pian Ran berusaha meyakinkan wanita paruh baya itu.


"Nak, kamu adalah putriku satu-satunya, bagaimana bisa ibu akan mengijinkanmu pergi jauh. Lagi pula, hampir 2 tahun ibu sering khawatir dengan kondisi tubuhmu yang sering melemah." Sanggah nyonya Chu.


"Bu, sekarang tubuh Ran Er sehat-sehat saja, ibu tidak perlu khawatir lagi soal tubuh Ran Er." Lanjut gadis itu.


"Tidak nak tidak. Apapun alasanmu ibu tidak akan mengijinkan kau pergi." Tegas nyonya Chu.


"Suamiku, kenapa kau diam saja. Tidakkah kau ikut mencegah putrimu?" Tanya nyonya Chu sedikit jengkel karena sedari tadi suaminya diam saja.


"Istriku, Ran Er sudah pernah mengungkit masalah ini padaku. Cepat atau lambat dia pasti akan mengulanginya kembali." Ucap tuan Chu.

__ADS_1


"Apa? Kau sudah pernah diberitahu Ran Er? Lalu kenapa kau tidak pernah cerita padaku suamiku?" Protes nyonya Chu dengan wajah cemberut.


"Ran Er sendiri yang minta agar tidak memberitahumu dulu istriku. Dia tidak ingin kau terus kepikiran." Balas tuan Chu.


Nyonya Chu merasa jengkel dengan suaminya karena sudah menyembunyikan hal sebesar ini.


"Kau sudah yakin dengan keinginanmu putriku?" Tanya tuan Chu pada putrinya.


"Aku sudah sangat yakin ayah. Jika boleh, bulan depan aku akan berangkat. Aku berniat menyembunyikan identitasku dengan memakai topeng dan menyamar menjadi laki-laki." Terang Chu Pian Ran.


"Jika itu sudah keinginanmu, ayah terpaksa menyetujuinya. Tapi ingat, jika kau mengalami kesulitan yang tidak bisa kau selesaikan sendiri, kau harus segera pulang." Pesan tuan Chu.


"Suamiku, kau mengijinkan putrimu pergi?!" Tanya nyonya Chu tidak percaya.


"Iya, aku mengijinkannya pergi. Jika kita mencegahnya, dia nanti bisa kabur dari rumah." Balas pria paruh baya itu.


"Maaf bu jika aku berbuat senekat ini... Rasanya aku sudah tidak bisa membendung keinginanku lagi. Mungkin ini dikarenakan sejak munculnya gambar bunga mei hwa di bahuku. Aku benar-benar terpanggil untuk menolong orang lain." Jelas Chu Pian Ran.


Nyonya Chu menarik napas dalam-dalam. Wanita paruh baya itu tidak membayangkan akan menghadapi masa-masa sesulit ini.


"Baiklah, kalau begitu nanti ayah akan menyuruh orang untuk membuat beberapa topeng dan baju laki-laki untukmu." Ucap tuan Chu.


****


Dini hari, di kediaman keluarga Chu telah berkumpul banyak orang. Mulai dari anggota keluarga Chu, keluarga Lee dan para pelayan.


Hari ini mereka semua akan mengantarkan kepergian Chu Pian Ran dengan hati yang sangat berat.

__ADS_1


Nyonya Chu tidak bisa menahan air matanya. Wanita paruh baya itu sebenarnya tidak rela melepas kepergian putrinya itu.


"Kau akan pergi kemana dulu nak?" Tanya tuan Chu pada putrinya.


"Aku akan pergi ke Handan dulu yah, ada hal penting yang harus ku urus di sana." Jawab Chu Pian Ran.


"Ingat semua pesan-pesan ayah, dan jaga diri baik-baik. Jangan lupa sebulan sekali kau suruhlah orang untuk memberi kabar ke kediaman." Lanjut tuan Chu.


"Baik ayah, Ran Er akan ingat semua pesan ayah." Balas Chu Pian Ran.


Secara bergantian, mereka memeluk Chu Pian Ran sebelum melepas kepergiannya.


Hati Lee merasa sangat sedih mengetahui dia harus berpisah denga kekasihnya untuk jangka waktu yang tidak bisa ditentukan.


Sudah saatnya untuk Chu Pian Ran berangkat. Gadis itu telah mengenakan topeng dan baju laki-laki untuk menyamarkan dirinya.


Chu Pian Ran menaiki kudanya, dan dengan mantap dia pergi meninggalkan kediaman Chu tanpa menoleh ke belakang lagi.


Gadis itu menyusuri jalanan ibukota yang saat itu kebetulan masih sangat sepi.


Dia sengaja berangkat dini hari agar tak seorangpun ada yang melihatnya keluar dari kediaman Chu.


Untuk menuntun jalannya, beberapa hari sebelum berangkat, gadis itu telah mempelajari peta wilayah Qin.


Sepeninggal putrinya, nyonya Chu masih saja menangis. Tuan Chu, tuan dan nyonya Lee berusaha sebisa mungkin untuk menghiburnya.


"Percayalah istriku, dengan kemampuan yang dimiliki oleh Ran Er, dia pasti baik-baik saja. Lagipula aku sudah berpesan padanya agar dia pulang jika menemui kesulitan yang tidak bisa dia selesaikan sendiri." Hibur tuan Chu.

__ADS_1


__ADS_2