Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 89 Si Putri Mungil Yang Cantik


__ADS_3

Usia 9 bulan 5 hari kehamilan Chu Pian Ran...


Siang itu, terlihatlah nyonya muda Lee sedang tidur di ranjang dengan ditemani suami tercinta yang duduk di kursi sambil memeriksa buku catatan keuangan.


Sudah satu minggu ini, Lee Jiang Wook berusaha untuk tidak bekerja di luar rumah demi berjaga-jaga jika istri tercintanya melahirkan sewaktu-waktu.


Sekalipun di kediaman itu ada mertuanya dan banyak pelayan, namun pemuda itu memiliki niat untuk menjaga Chu Pian Ran sebaik-baiknya sebagai wujud rasa tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


Tak berapa lama, terjagalah nyonya muda Lee saat perutnya merasa pulas. Berdasarkan instingnya, inilah saatnya dia akan segera melahirkan.


"Suamiku..." Panggil perempuan itu sambil meringis.


Begitu mendengar istrinya memanggilnya, Lee Jiang Wook dengan segera menghampiri perempuan cantik itu.


"Iya sayang, ada apa?" Tanya suaminya.


"Tolong panggilkan tabib bersalin sekarang, sudah saatnya aku mau melahirkan..." Jawab istrinya pelan.


"Ah ya sayang, kamu yang sabar ya, aku akan meminta pelayan untuk memanggil tabib bersalin sekarang."


Dengan setengah berlari, Lee Jiang Wook keluar dari kamar dan menyuruh seorang pelayan untuk segera memanggil tabib bersalin yang sudah dia pesan sebelumnya.


Pemuda itu lalu menyuruh seorang pelayan yang lain agar memberitahu mertuanya dan orang tuanya jika istrinya akan segera melahirkan.


Begitu diberitahu oleh pelayannya bahwa putrinya akan segera melahirkan, tuan dan nyonya Chu dengan segera menuju ke kamar putrinya.


Tak berselang lama datanglah juga tuan dan nyonya Lee di kamar itu.


Selama menunggu kedatangan tabib bersalin, Chu Pian Ran merasakan perutnya mulai sakit. Perempuan cantik itu terlihat sering meringis dan mendesis karena menahan rasa sakit itu.


Nyonya Chu dan nyonya Lee, yang saat itu sudah berada di dekatnya pun berusaha untuk menenangkannya.


Lima belas menit kemudian, tibalah tabib bersalin wanita dengan dua asistennya di kediaman Chu.


Tabib bersalin itu lalu meminta semua anggota keluarga yang berkumpul di kamar itu agar keluar dari ruangan karena dia dan dua asistennya akan segera memberi penanganan.


Setelah memeriksa kondisi tubuh nyonya muda Lee, tabib bersalin itu meminta agar perempuan itu tetap tenang sambil mengambil dan mengeluarkan napas yang dalam karena saat ini air ketubannya masih belum pecah.


Sambil menunggu air ketuban pecah, tabib wanita itu meminta dua asistennya untuk mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan.


Dengan bantuan beberapa pelayan kediaman Chu, perlengkapan itu sekarang sudah tersedia di dalam kamar.


Tak berapa lama, pecahlah air ketuban Chu Pian Ran.


Dengan instruksi dari tabib bersalin, Chu Pian Ran menarik napas dalam-dalam lalu mengejan dengan kuat. Mulailah terdengar erangan kesakitan dari mulut perempuan cantik itu.


Semua orang yang ada di depan kamar itu terlihat tegang wajahnya dan gelisah terkhusus Lee Jiang Wook.


Sekalipun pemuda itu tahu bahwa istrinya adalah perempuan yang kuat namun rasa khawatir itu pasti ada.


Tak jauh dari mereka, Xi Er, Zhin Zhuan dan beberapa pelayan juga menunggu proses melahirkan nyonya muda Lee dengan perasaan cemas.


Agar proses melahirkannya cepat, Chu Pian Ran sedikit mengerahkan kekuatan supranaturalnya supaya bayinya segera keluar.


Setelah setengah jam mengerang kesakitan, tak lama kemudian keluarlah bayi mungil perempuan tanpa ada suara tangisan dari mulutnya.


Suasana hening yang tiba-tiba datang itu malah menimbulkan ketakutan bagi semua orang yang sedang berdiri di depan kamar.


Merekapun saling memandang satu sama lain dengan perasaan tak menentu.


"Suamiku kenapa tidak ada suara tangisan dari cucu kita?" Tanya nyonya Chu dengan wajah sangat cemas.


"Aku juga tidak tahu istriku, kita tunggu saja tabibnya keluar..." Balas pria paruh baya itu dengan menyembunyikan kekhawatirannya.


Sepuluh menit kemudian, terbukalah pintu kamar dan muncullah sosok tabib bersalin sambil menggendong bayi perempuan yang cantik dan matanya masih tertutup.


Dengan segera para pria dan wanita itu mendekati tabib bersalin itu.

__ADS_1


"Tuan-tuan dan nyonya-nyonya semuanya, saya ucapkan selamat karena bayinya telah lahir dengan sehat..." Kata si tabib bersalin itu.


Tanpa menunggu lama, si ayah bayi pun langsung mengambil alih bayi itu lalu menggendongnya dan menciuminya dengan rasa haru bercampur bahagia.


Tentu saja sikap pemuda itu mengundang rasa iri kedua orang tuanya dan mertuanya, maka mereka pun secara bergantian menggendong dan mencium bayi itu.


Tabib wanita itu ikut merasakan bahagia saat menyaksikan pemandangan yang ada di depannya.


Ketika bayi perempuan itu sedang digendong secara bergantian, dua asisten tabib bersalin itu telah selesai membersihkan tubuh Chu Pian Ran dan ranjang nyonya muda itu.


Kini, kedua asisten itu keluar dari ruangan sambil membawa perkakas kotor dan perlengkapan lainnya yang habis dipakai dan diserahkan kepada pelayan kediaman itu.


Agar hawa kamar itu menjadi wangi dan menenangkan, salah satu dari asisten itu menyalakan dupa aroma terapi.


"Maaf tuan-tuan dan nyonya-nyonya, sudah saatnya bayi itu harus mendapatkan ASI." Lanjut tabib bersalin itu.


Maka, masuklah Lee Jiang Wook sambil menggendong putri mungilnya itu dan diletakkannya di dekat istri tercintanya yang saat itu berbaring dengan wajah yang agak pucat.


Kini, di kamar itu tinggallah Lee Jiang Wook, istrinya dan putri mungilnya.


Dengan segera, Chu Pian Ran mengeluarkan buah dada sebelah kanannya dan mulailah dia menyusui putri kecilnya itu.


Perempuan cantik itu menatap dan menciumi putri mungilnya dengan rasa sayang yang tak terkatakan.


Sementara itu, sang suami duduk di tepi ranjang sambil membelai rambut dan pipi kiri istri tercintanya.


"Terimakasih banyak sayang, hari ini kau sudah berjuang untuk melahirkan putri kita..." Kata pemuda itu dengan rasa haru.


"Kau tidak perlu berterimakasih suamiku, ini memang sudah seharusnya kulakukan. Rasa sakit yang menderaku tadi kini sudah hilang dan tergantikan dengan rasa bahagia yang tak terkira..." Balas istrinya.


"Kita tadi sempat takut karena tidak mendengar suara tangis dari si bayi ini..." Lanjut Lee.


"Aku sendiri juga tidak mengira seperti ini suamiku, sepertinya kelak putri kita ini akan menjadi perempuan yang istimewa..." Sahut nyonya muda itu.


Beberapa saat kemudian, Lee Jiang Wook menurunkan kepalanya lalu mencium pipi dan kening istri tercintanya itu.


Setelah bayinya kenyang menyusu, Chu Pian Ran pun merapikan pakaiannya kembali. Lalu dengan segera suaminya membuka pintu kamar agar kedua orang tuanya dan mertuanya dapat masuk ke ruangan itu.


Kini, di dalam kamar itu terdengarlah perbincangan hangat antara kedua keluarga itu.


Si bayi yang sedang tertidur lelap masih saja digendong secara bergantian oleh kedua kakek neneknya.


Kabar nyonya muda Lee yang melahirkan seorang bayi perempuan telah menyebar di wilayah ibukota termasuk di istana.


Dengan segera, anggota keluarga kerajaan mengirimkan ucapan selamat disertai dengan pemberian-pemberian untuk si bayi itu.


Begitu juga dengan sebagian besar penduduk ibukota. Setelah tiga hari bayi tuan dan nyonya muda Lee lahir, mereka datang berkunjung ke kediaman Chu untuk mengucapkan selamat sambil membawa pemberian untuk bayi mereka.


Jadi, sejak saat itu terlihatlah di depan halaman kediaman Chu, beberapa penduduk ibukota Qin datang secara bergiliran untuk mengucapkan selamat sambil membawa bungkusan hadiah.


Tentu saja, anggota keluarga kediaman itu tidak bisa menemui mereka secara langsung. Jadi, untuk menghargai perhatian penduduk, tuan Chu Jeong Byun menunjuk dua orang kepercayaannya agar menyambut kunjungan mereka di depan halaman kediaman.


Kejadian itu berlangsung selama satu minggu, dan setelahnya suasana kediaman Chu kembali normal seperti biasa.


Tiga hari setelah lahir, terbukalah mata si bayi cantik itu. Mata mungil itu terlihat sangat jernih dan meneduhkan bagi siapa saja yang melihatnya.


Atas kesepakatan kedua keluarga, bayi cantik itu diberi nama 'Lee Chu Mian Yin'.


Sejak saat itu, suasana keluarga Chu dan keluarga Lee bertambah ceria karena bertambah anggota keluarga baru di tengah-tengah mereka.


Karena Chu Pian Ran baru menjadi seorang ibu muda, maka dia banyak belajar dari ibu kandungnya dan ibu mertuanya.


Jika malam menjelang, Lee Jiang Wook lah yang bertugas untuk mengambil dan meletakkan bayi mungilnya di ranjang bayi jika tiba saatnya menyusu setiap satu jam sekali.


Jadi tak heran, akhir-akhir ini pemuda tampan itu sering bangun kesiangan karena memang masih merasa ngantuk dan lelah. Istrinya yang menyadari keadaan suaminya itu pun tidak mempermasalahkan hal itu.


Untunglah putri mereka adalah bayi yang tenang alias jarang rewel, jadi acara tidur malam pasangan suami istri itu tidak terlalu terganggu.

__ADS_1


Jika si bayi sedang buang air kecil atau buang air besar, paling dia hanya akan menangis sebentar karena merasa tidak nyaman. Tapi setelah pakaiannya diganti, bayi itu akan tenang kembali dengan cepatnya.


Satu minggu setelah melahirkan, tubuh Chu Pian Ran telah pulih seperti sediakala. Maka, ibu muda cantik itu mulai belajar banyak hal bagaimana cara mengurus bayinya. Mulai dari cara memandikan, mengenakan pakaian, dan lainnya.


Pagi hari itu, terlihatlah Chu Pian Ran sedang menggendong bayinya sambil menjemur sebentar putrinya di taman bunga kediaman Chu.


"Selamat pagi putri mungilku, hari ini kamu kelihatan cantik sekali sayang..." Kata ibu muda itu sambil menatap sayang mata putrinya.


Tak berapa lama perempuan itu lalu menggesek puncak hidungnya di puncak hidung putrinya yang membuat bayi mungil itu akhirnya tersenyum kecil.


Sepuluh menit kemudian, datanglah Lee Jiang Wook ke taman itu.


"Selamat pagi istriku sayang..." Sapa pemuda itu sambil mengambil alih putrinya dari tangan perempuan itu dengan hati-hati.


Beberapa saat kemudian, Lee menciumi wajah putri kecilnya dengan rasa sayang yang membuat bayi mungil itu menggerak-gerakkan kepalanya mungkin karena risih diperlakukan ayahnya seperti itu.


"Hari ini kau tidak bekerja di luar suamiku?" Tanya Chu Pian Ran.


"Setelah ini aku akan berangkat istriku, kebetulan hari ini ada pesanan perhiasan dari luar ibukota." Balas suaminya sambil menimang-nimang pelan putri kecilnya.


Tak berapa lama, datanglah nyonya Chu ke tempat itu.


"Sebaiknya kalian sarapanlah dulu, biar ibu yang menggendong bayi itu..." Ucap wanita paruh baya itu.


Lee Jiang Wook lalu menyerahkan putri kecilnya pada ibu mertuanya dan tak lama kemudian pasangan suami istri itu meninggalkan nyonya Chu untuk sarapan bersama.


Selesai sarapan, pemuda itu pun pamitan pada istrinya, ibu mertuanya dan putri mungilnya karena akan menyelesaikan urusan pekerjaan di toko perhiasan.


Malam harinya...


Setelah Lee Jiang Wook meletakkan putri mungilnya di ranjang bayi karena habis menyusu, pasangan suami itu istri itu berbaring saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat dengan tangan kiri Lee di bawah kepala istrinya.


Setelah putri mereka lahir, keromantisan mereka lumayan berkurang banyak karena sibuk mengurus bayi itu.


Tak berapa lama tangan kanan Lee membelai rambut perempuan cantik itu hingga beberapa menit, kemudian pemuda itu mengelus pipi kiri istrinya.


"Kau sudah mengantuk sayang?" Tanya Lee saat melihat mata istrinya sudah redup pandangannya.


"Iya suamiku..." Balas Chu Pian Ran dengan suara pelan.


Tak berapa lama, pemuda itu pun mencium lembut bibir istrinya yang membuat mata perempuan itu lebih terbuka sedikit dari sebelumnya.


18+


Setelah beberapa menit berciuman, tangan kanan Lee menyingkap pakaian atas sebelah kiri istrinya hingga dada besar kiri perempuan itu terlihat.


Pemuda itu lalu memberikan sentuhan-sentuhan pelan pada bagian itu dan puncaknya yang akhirnya membuat rasa kantuk Chu Pian Ran mulai menghilang.


Karena sehabis melahirkan dan sedang masa-masa menyusui, sedikit diberi sentuhan saja dadanya terasa agak nyeri.


Beberapa saat kemudian, Lee sedikit mengubah posisinya sehingga kini wajah pemuda itu sudah ada di atas dada kiri istrinya.


Karena pemuda itu tahu dada perempuan cantik itu mudah mengeluarkan ASI, maka Lee menciumi bagian itu dengan sangat pelan hingga beberapa menit dan akhirnya puncak bagian itu dia jilati sampai merasa puas.


Kini, wajah pemuda itu sudah ada di depan wajah istrinya lagi. Baru saja kembali menatap lekat mata istrinya, terdengarlah tangisan pelan putri mereka.


Dengan segera, Chu Pian Ran turun dari ranjang dan melihat keadaan bayi mungil itu. Rupanya, putri kecil mereka sedang buang air kecil.


Dengan sigap, Lee mengambilkan pakaian ganti dan kain alas ranjang dari dalam lemari, sementara istrinya melepas pakaian basah putrinya dan mengambil kain alas ranjang yang basah itu.


Setelah mengelap ranjang itu dengan sedikit air yang dicampur cairan pewangi, pemuda itu lalu memasang kain alas ranjang yang baru.


Sesudahnya, Lee pun membawa pakaian dan alas kain yang basah oleh pipis putrinya tadi ke kamar mandi dan meletakkannya di ember kayu yang berukuran lumayan besar.


Beberapa detik kemudian, pemuda itu kembali ke kamar dan melihat istrinya mulai menyusui putri kecilnya lagi dengan posisi duduk di tepi ranjang.


Setelah meletakkan si kecil di ranjang bayi, pasangan suami istri itu pun lalu segera tidur karena sudah merasa ngantuk dengan saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2