Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 93 Serangan Belalang Di Mong Yan


__ADS_3

Pada suatu siang, datanglah seorang prajurit di kediaman Chu dengan langkah tergesa-gesa karena memang pesan yang akan disampaikan sifatnya sangat darurat.


Setelah menyampaikan niatnya pada seorang pelayan, maka dengan segera pelayan tersebut mencari nyonya mudanya dan melanjutkan pesan tersebut pada perempuan itu, yang kebetulan saat itu sedang melipat beberapa helai baju di kamarnya.


Begitu mendapat pesan darurat itu, tanpa menunggu lama, Chu Pian Ran pun meninggalkan aktifitasnya tadi pada pelayan itu dan segera berangkat ke istana untuk menemui kaisar Qin bersama si prajurit tanpa berpamitan dahulu dengan anggota keluarganya.


Setelah berbincang dengan ayah angkatnya, tahulah permasalahan yang sedang mereka hadapi.


Rupanya di daerah Mong Yan sedang diserang oleh ribuan belalang yang entah darimana datangnya dan apa sebabnya.


Ribuan serangga itu bukan hanya menyerang tanaman pertanian, namun juga memakan sebagian besar tanaman hijau yang ada di daerah tersebut.


Awal kedatangan ribuan belalang itu, para penduduk Mong Yan sudah melalukan beberapa cara untuk menghalau atau mematikan serangga itu, mulai dari melakukan pengasapan, melakukan penyiraman menggunakan campuran cairan tanaman herbal yang sekiranya dianggap bisa mematikan belalang, namun semuanya sia-sia saja, serangga itu tidak mempan dengan semua cara yang mereka lakukan.


Alhasil, dalam dua hari dua malam, sebagian besar tanaman hijau di daerah tersebut rusak, banyak yang layu dan akhirnya mati.


Otomatis, keadaan seperti itu membuat semua penduduk Mong Yan menjadi sangat resah karena sumber bahan makanan mereka ludes dimakan serangga.


Tanpa menunggu lama, akhirnya bupati Mong Yan yang bernama Dae Jung segera bertindak dengan cara mengutus dua orang pegawainya untuk pergi ke istana dan meminta bantuan pada tuan putri Nanyang.


Karena ini adalah keadaan darurat yang harus segera ditangani, maka Chu Pian Ran pun segera berangkat ke Mong Yan bersama Qin Wu Zhu, Lu Zee, 1.000 orang prajurit dan dua orang utusan dari Mong Yan.


Tak lupa sebelum berangkat, nyonya muda itu meminta seorang prajurit untuk menyampaikan pesan di kediamannya, jika saat ini dia berangkat ke Mong Yan karena ada masalah penting yang harus segera diselesaikan.


Begitu rombongan panjang itu melewati jalanan ibukota, para penduduk pun sudah mempunyai pemikiran pasti ada hal penting yang akan mereka tangani, apalagi mereka melihat di baris paling depan ada tuan putri Nanyang dan pangeran Qin Wu Zhu.


Sementara itu, prajurit yang diutus oleh Chu Pian Ran untuk menyampaikan pesan di kediamannya, saat ini terlihat sedang berbincang dengan tuan Chu. Setelah menyelesaikan tugasnya, prajurit itu pun undur diri dan kembali ke istana.


Dengan kecepatan penuh, rombongan dari istana melakukan perjalanan panjang dengan harapan ribuan serangga itu tidak berpindah ke tempat lainnya.


Malam harinya...


Saat ini, terlihatlah Lee Jiang Wook sedang menidurkan putrinya sambil memeluk tubuh gadis kecil itu.


"Yah, bu bu..." Ucap bibir mungil Lee Chu Mian Yin menanyakan keberadaan ibunya yang sedari siang tidak menemui putrinya.


"Ibu sedang ada urusan penting di luar ibukota sayang... Malam ini, Yin Er tidur dengan ayah saja ya..." Balas ayahnya lalu mencium pipi kiri putrinya itu.


Tak berapa lama, untuk menenangkan gadis kecil itu, maka Lee Jiang Wook pun bersenandung seperti yang dilakukan oleh istrinya jika sedang menidurkan Lee Chu Mian Yin.


Jika mendengar ibunya yang bersenandung, putri kecilnya itu sering berceloteh tak jelas mengiringi nyanyiannya. Namun saat ini, ketika ayahnya yang menggantikan ibunya bersenandung, gadis cilik itu hanya berdiam diri sambil mata jernihnya memperhatikan ayahnya.


Dalam hati ayah muda itu, sebenarnya dia tidak tega jika putrinya harus berjauhan dengan sang ibu yang mungkin bisa sampai beberapa minggu. Namun, karena pemuda itu tahu betul bahwa istrinya saat ini sedang melakukan tugas penting dan mulia, maka Lee Jiang Wook pun berusaha menerima keadaan dan berusaha bagaimana caranya agar putrinya tidak bersedih atau menangis gara-gara ditinggal pergi oleh ibunya.


Untunglah, belasan menit kemudian putri kecilnya itu pun tertidur.


Tak berapa lama, masuklah nyonya Chu ke dalam kamar itu untuk mengecek apakah cucunya rewel atau tidak.


Lee Jiang Wook yang sadar akan kehadiran ibu mertuanya pun menolehkan kepalanya pada wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Apakah dia tadi rewel?" Tanya nyonya Chu dengan suara pelan seperti berbisik.


Ayah muda itu menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Syukurlah kalau begitu... Ibu tinggal dulu ya..." Lanjut wanita paruh baya itu dengan volume suara yang masih sama.


Beberapa detik kemudian, nyonya Chu pun meninggalkan depan kamar itu setelah menutup pintunya dengan pelan.


****


Setelah berkuda selama 4 hari 4 malam tanpa henti dengan kecepatan penuh, sampailah rombongan besar itu di gerbang Mong Yan pada pagi harinya.


Terlihatlah oleh mereka, banyak penduduk Mong Yan yang saat itu sedang berdiri berjajar di tepi lahan pertanian yang sangat luas sambil menatap sedih tanaman pertaniannya yang hampir 100% ludes akibat dimakan oleh belalang-belalang itu.


Diantara mereka, nampak juga sosok bupati Dae Jung yang begitu tahu bahwa bantuan dari istana telah tiba, pria itu pun langsung menyambut dan memberi hormat pada Qin Wu Zhu dan Chu Pian Ran dengan diikuti oleh para penduduk yang saat itu sedang berada di tempat itu.


Dengan datangnya bantuan dari pihak istana, para penduduk sangat berharap jika rombongan itu dapat menyelesaikan permasalahan berat yang sedang mereka alami saat ini.


Tanpa menunda waktu lagi, nyonya muda Lee pun langsung bertanya kepada si bupati, apakah di dekat lahan pertanian itu ada parit besar atau sumur.


Setelah mendengar jawaban dari pria itu, maka dengan segera perempuan itu memerintahkan semua prajurit dengan dibantu penduduk agar mengumpulkan ember sebanyak-banyaknya.


Sementara menunggu ember-ember itu terkumpul, bupati Dae Jung dengan diikuti Chu Pian Ran dan Qin Wu Zhu berjalan menuju ke salah satu sumur yang ada di dekat lahan pertanian itu.


Berdasarkan keterangan si bupati tadi, di lahan pertanian itu ada enam buah sumur yang jaraknya agak berjauhan yang biasa digunakan para penduduk untuk mengairi lahan itu jika musim kemarau datang.


Begitu ada beberapa prajurit dan penduduk yang mulai berdatangan sambil membawa ember di tangan mereka, maka dengan segera nyonya muda Lee memerintahkan salah satu prajurit itu untuk mengisi salah satu ember itu dengan air sumur sampai hampir penuh.


Beberapa menit kemudian, keluarlah cahaya dari telapak tangan perempuan itu, lalu cahaya tersebut turun ke bawah dan masuk ke dalam air. Setelah beberapa saat, terlihatlah air yang awalnya berwarna jernih itu berubah menjadi putih pekat.


Sesudahnya, nyonya muda Lee meminta prajurit itu agar menuangkan air yang berwarna putih pekat itu ke dalam sumur, dan dengan cepat air itu pun bercampur dengan air sumur.


Setelah sepuluh menit, Chu Pian Ran meminta ke beberapa prajurit untuk menimba air sumur secara bergantian dan diisikan ke dalam ember-ember yang ada di situ, lalu memerintahkan banyak orang yang ada di situ untuk mencipratkan air itu ke ribuan belalang yang ada di lahan pertanian itu menggunakan alat terserah, asalkan tidak dengan tangan langsung, karena air sumur itu telah berubah menjadi semacam racun serangga.


Maka dengan segera merekapun bergerak bahu membahu sesuai dengan instruksi putri angkat kaisar itu.


Beberapa puluh menit kemudian, terlihatlah banyak orang yang menyebar ke seluruh penjuru lahan pertanian yang luas itu untuk mencipratkan air yang mereka bawa dalam ember ke ribuan serangga yang telah memakan habis tanaman pertanian mereka.


Sementara itu, bagi siapa saja yang mempunyai ilmu peringan tubuh termasuk Chu Pian Ran dan bupati Dae Jung pun segera bergerak dengan membawa air sumur dalam ember untuk dicipratkan ke belalang-belalang yang menyerang pepohonan atau tanaman yang ada di daerah tersebut.


Belasan menit setelah diciprati oleh air sumur itu, terlihatlah belalang-belalang itu berjatuhan ke tanah dan mati karena keracunan air sumur tadi.


Begitu lahan pertanian itu selesai dibebaskan dari serangga itu, maka mereka beralih ke tempat lain yang sekiranya belum terjangkau dan ada belalangnya.


Aktifitas itu berlangsung selama beberapa jam hingga sebelum matahari terbenam merekapun berhenti atas instruksi Chu Pian Ran.


Selanjutnya, putri angkat kaisar itu memerintahkan mereka agar mencuci tangan dan embernya hingga benar-benar bersih sebelum kembali ke tempat masing-masing untuk istirahat.


Karena para prajurit itu selama beberapa hari tidak beristirahat sejak mereka berangkat dari ibukota, maka setelah menyelesaikan pekerjaan itu mereka diistirahatkan secara total hingga keesokan paginya, namun tidak diperkenankan untuk mabuk-mabukan arak karena keesokan harinya mereka masih ada tugas yang harus dikerjakan.

__ADS_1


Sementara itu, Chu Pian Ran dan Qin Wu Zhu telah disediakan dua buah kamar oleh bupati Dae Jung di kediamannya.


Setelah mandi sebersih-bersihnya dan makan sampai kenyang, maka nyonya muda Lee pun langsung pergi tidur hingga keesokan paginya.


Keesokan harinya...


Setelah matahari terbit, Chu Pian Ran memerintahkan sebagian besar dari para prajurit itu untuk mulai mengolah lahan pertanian yang telah dibebaskan dari serangan serangga kemarin, sedangkan prajurit yang lain diperintahkannya untuk membersihkan bangkai-bangkai belalang yang terlihat berserakan di banyak tempat di daerah itu.


Tak lupa, nyonya muda itu juga menyuruh beberapa prajurit diantara mereka untuk menutup sumur kemarin karena air yang ada di dalamnya sudah beracun.


Maka tanpa berbantah, merekapun melaksanakan perintah putri angkat kaisar itu dengan dibantu oleh para penduduk pria.


Selama pemulihan lahan pertanian itu dilakukan, bupati Dae Jung menyediakan bahan bantuan bahan makanan bagi penduduk yang sekiranya membutuhkan dengan menggunakan uang pajak rakyat.


Pagi-pagi benar tadi, pria itu telah menyuruh beberapa pegawainya untuk membeli bahan makanan di daerah terdekat dengan Mong Yan.


Maka terlihatlah beberapa wanita yang mulai mengantri untuk mendapatkan jatah bahan makanan harian mereka yang cukup untuk menghidupi satu keluarga.


Saat ini, berdirilah Chu Pian Ran dan Qin Wu Zhu di tepian lahan pertanian yang sangat luas itu sambil memantau pekerjaan para prajurit.


Sebelum lahan itu diolah, para prajurit dan sebagian penduduk pria membersihkan lahan pertanian itu terlebih dahulu dari sisa-sisa tanaman pertanian yang ditinggalkan oleh belalang dan bangkai serangga yang berjumlah ribuan itu.


"Aku nanti tidak akan bisa berada di sini hingga keadaan mereka pulih 100%. Aku tidak tega meninggalkan Yin Er terlalu lama." Ucap Chu Pian Ran.


"Kenapa tidak hari ini saja kau pulang, biar aku yang memegang kendali selanjutnya." Sahut Qin Wu Zhu.


"Beberapa hari ini aku harus tinggal di sini dulu karena aku perlu menurunkan hujan dan meningkatkan kesuburan lahan pertanian itu, agar panen ke depannya lebih cepat dan lebih melimpah." Balas nyonya muda Lee.


"Baiklah, apapun itu yang kau pandang baik lakukanlah." Kata pemuda itu.


Malam harinya....


Terlihatlah Chu Pian Ran sedang berdiri di atas pohon tinggi yang gundul daunnya karena habis dimakan oleh belalang.


Kedua tangan nyonya muda itu telah bersiap untuk membuat mendung seperti yang sudah pernah dia lakukan sebelumnya di Beidi dan hutan dekat ibukota.


Setengah jam kemudian, turunlah hujan deras yang membasahi lahan pertanian dan tempat sekitarnya hingga tiga jam ke depan.


Sesudahnya, dengan menggunakan ilmu peringan tubuhnya, perempuan itu terbang menuju ke tengah-tengah lahan pertanian dan meletakkan telapak tangannya di atas permukaan tanah dan bersiap menyalurkan kekuatan supranaturalnya untuk meningkatkan kesuburan lahan pertanian itu.


Dua jam kemudian, berhentilah Chu Pian Ran dari aksinya itu lalu kembali ke kediaman bupati Dae Jung dengan menggunakan ilmu peringan tubuhnya. Sesampainya di kediaman bupati, perempuan itu langsung masuk ke kamar dan bermeditasi hingga pagi hari.


Semenjak hamil dan memiliki seorang anak, nyonya muda Lee menjadi jarang bermeditasi, maka senyampang ada waktu, dia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk bermeditasi kembali agar suara batin dan kekuatannya tetap berfungsi sebagaimana mestinya.


Hingga dua hari ke depan, Chu Pian Ran melakukan hal yang sama pada saat malam harinya.


Karena naluri keibuannya, maka pada suatu pagi sebelum matahari terbit, nyonya muda Lee berpamitan kepada bupati Dae Jung dan penduduk Mong Yan karena akan pulang terlebih dahulu ke ibukota.


Si bupati dan para penduduk Mong Yan sangat berterimakasih kepada putri angkat kaisar itu, karena atas bantuannya ribuan belalang yang menyerang di tempat tinggal mereka kini telah tiada.

__ADS_1


Dengan diantar oleh Qin Wu Zhu, bupati Dae Jung dan para penduduk Mong Yan hingga ke gerbang, pergilah Chu Pian Ran meninggalkan daerah itu sendirian. Sementara yang lainnya harus tetap tinggal di tempat itu hingga kondisi daerah itu benar-benar pulih seperti sediakala.


Karena rasa rindunya pada putrinya yang menggemaskan, perempuan itu melarikan kudanya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di ibukota.


__ADS_2