Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 104 Membongkar Kelicikan Tabib Zhang (2)


__ADS_3

Sesampainya di rumah, seperti yang diperintahkan oleh Chu Pian Ran, Lei Mong tidak memberitahu siapapun jika tuan putri Nanyang akan datang ke desa Shou Shan. Jadi, saat istri dan anaknya bertanya dia habis pergi darimana, pria paruh baya itu menjawab jika dia ada urusan pekerjaan dengan temannya.


Malam harinya...


Sesuai dengan instruksi nyonya muda Lee, empat orang itu menyebar di empat sudut desa sambil tiarap di atap rumah penduduk untuk menyaksikan sesuatu yang akan terjadi pada malam hari.


Setelah lebih dari satu jam menunggu, mata Zhin Zhuan pun melihat sosok berbaju hitam dan bercadar hitam sedang mengendap-endap di tengah kegelapan malam.


Seperti rencana semula, jika salah satu dari mereka melihat sesuatu yang mencurigakan, maka mereka harus memberi isyarat pada yang lain. Tak berapa lama, peri cantik itu pun mengeluarkan suara khas burung pegarnya dengan lumayan keras.


Setelah mendengar isyarat itu, kedua orang yang lain pun bersiaga, sementara itu Chu Pian Ran merubah wujudnya menjadi kupu-kupu lalu dia pun terbang untuk mencari sumber yang mencurigakan yang telah dilihat oleh Zhin Zhuan.


Setelah beberapa menit terbang di tengah gelapnya malam, kupu-kupu itu pun melihat sosok berbaju hitam dan bercadar hitam sedang tiarap di sebuah atap rumah penduduk.


Tak berapa lama, sosok itu pun tampak menggeser sedikit sebuah genting lalu dia mengeluarkan pipa kecil dari bambu yang panjangnya sekitar 30 cm yang dia simpan dalam buntelannya, lalu memasukkan sesuatu di salah satu ujung pipa dan kemudian meniup ujung pipa yang lain lewat celah atap yang dia buat tadi.


Setelah selesai melakukan aksinya, sosok itu pun kembali menggeser genting, menyimpan pipanya ke dalam buntelan dan menuju rumah berikutnya yang akan dijadikan target selanjutnya.


Rupanya, inilah yang menjadi sumber masalah sakit diare di desa Shou Shan terjadi secara terus menerus secara bergantian selama 3 bulan terakhir ini.


Setelah beraksi di 5 rumah penduduk, maka turunlah sosok berbaju hitam itu dari atap menggunakan ilmu peringan tubuhnya.


Baru saja sosok itu mendaratkan kakinya di tanah, sebuah batu kecil menimpuk punggungnya. Karena penasaran, dia pun membalikkan badannya dan betapa kagetnya sosok itu saat melihat ada seorang gadis cantik sudah berdiri tak jauh di depannya.


"O jadi begitu yaa... Kau sengaja membuat banyak penduduk sakit diare agar klinik si tabib banyak pasiennya kan? Kamu ketahuan niiih..." ucap Zhin Zhuan dengan gaya dibuat centil.


"Siapa kau, berani-beraninya ikut campur urusan orang lain!" kata sosok itu dengan suara tertahan agar tidak membangunkan penduduk.


"Kau ingin tahu siapa aku? Aku ini adalah hantu cantik yang akan menghajarmu malam ini, karena kau sudah berbuat hal yang tidak baik," sahut si peri pegar emas dengan gaya yang masih sama.


"Aku tidak ada urusan denganmu dan tidak kenal denganmu, sebaiknya kau pergi saja dari sini dan jangan coba- coba membocorkan rahasia ini!" ancam pria berbaju dan bercadar dengan warna senada itu.


"Kau mengancamku? Iih tidak bisaa... Aku sudah jauh-jauh datang dari ibukota tahuu...," lanjut Zhin Zhuan.


Begitu mendengar kata 'ibukota', sosok itu kembali terkejut dan alisnya berkerut.


"Kau datang dari ibukota? Siapa sebenarnya kau ini?!" sambung pria bercadar hitam itu.


"Kan aku tadi sudah memberitahumu, kenapa bertanya lagi... Aku datang kemari tidak sendirian lo, masih ada 3 orang lagi... Itu di belakangmu," ujar si peri pegar emas dengan menunjuk ke arah belakang sosok berjubah hitam itu.


Spontan, si pria bercadar hitam itu membalikkan tubuhnya dan alangkah terkejutnya dia saat melihat ada tiga orang sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya berada, ditambah lagi diantara mereka ada pangeran Qin Wu Zhu dan putri angkat kaisar yang dikenali oleh sosok berbaju hitam itu.


Dengan segera pria itu menurunkan cadar hitamnya dan langsung bersujud hingga keningnya menyentuh tanah.


"Mohon ampun yang mulia, hamba hanya menjalankan tugas dari majikan hamba... Mohon jangan hukum hamba dengan berat, karena hamba memiliki istri dan 3 anak yang harus hamba nafkahi...," kata pria berbaju hitam itu memohon belas kasihan.


"Yee, tadi saja kau berani mengancamku, sekarang nyalimu langsung mengkerut seperti itu, iish...," ucap Zhin Zhuan di samping pria itu.


Tanpa basa-basi lagi, pria berbaju hitam itu langsung digelandang menuju klinik majikannya yang bernama tabib Zhang malam itu juga.

__ADS_1


Bukan main terkejutnya tabib Zhang begitu melihat orang suruhannya ditangkap oleh empat orang dan dua diantaranya adalah sosok yang disegani di wilayah Qin.


Otomatis, tabib yang lumayan tua itu langsung bersujud hingga keningnya menyentuh lantai dan memohon ampun.


"Aku benar-benar tidak mengerti dengan cara berpikirmu tabib. Bisa-bisanya kau membuat penduduk desa ini sakit diare berkepanjangan secara bergantian agar klinikmu banyak pasiennya dan meraup uang yang lumayan banyak dari mereka...," Ujar Qin Wu Zhu.


Suasana menjadi hening karena tabib tua itu tidak berani bicara sepatah katapun.


"Karena perbuatanmu ini melanggar aturan dan kau adalah otak di balik masalah ini, maka kau harus mendapat hukumannya," lanjut pangeran kedua kaisar Qin itu.


Maka, tak lama kemudian, tabib Zhang dan orang suruhannya itu dibawa Lu Zee dan Zhin Zhuan ke biro keamanan terdekat untuk mendapatkan hukuman yang setimpal.


Keesokan paginya, berita tentang penangkapan tabib Zhang pun sudah tersebar luas di desa Shou Shan yang bisa dikatakan cukup besar itu. Dan para penduduk pun benar-benar tidak menyangka jika dalang dibalik sakit diare yang tidak wajar selama ini adalah si tabib tua itu.


Setelah diusut, rupanya yang menjadi target dari tabib Zhang adalah para penduduk yang cukup berada perekonomiannya. Jadi, si tabib tua itu membuat anggota keluarga yang beruang itu menderita sakit diare secara bergantian sesuai jadwal yang direncanakan agar kedoknya tidak ketahuan demi kliniknya selalu ramai dan mendapatkan banyak uang.


Adapun obat yang menyebabkan sakit diare itu, secara khusus diracik sendiri sedemikian rupa oleh si tabib, sehingga saat uap atau aroma obat itu tercium atau terhirup oleh manusia, maka tak berapa lama kemudian si penghirup akan merasa mulas dan akhirnya terserang diare yang cukup susah disembuhkan.


Setelah tabib Zhang dipenjara, kondisi desa Shou Shan pun kembali normal seperti sediakala. Sementara itu, klinik milik tabib Zhang dialih tangankan pada penduduk yang memiliki ilmu pengobatan agar suatu saat jika ada penduduk yang sakit, tidak perlu jauh-jauh pergi ke luar desa untuk berobat.


"Terimakasih banyak tuan putri, yang mulia pangeran, dan yang lainnya... Maaf sudah merepotkan kalian semua untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di desa kami," ucap Lei Mong mewakili penduduk desa Shou Shan untuk mengucapkan terimakasih sebelum keempat orang itu kembali ke ibukota.


"Tidak perlu sungkan paman, menyejahterakan rakyat Qin sudah menjadi tanggung jawab kami. Justru dengan adanya laporan seperti ini, kami yang ada di ibukota jadi tahu masalah yang sedang kalian hadapi. Jika ada masalah lagi kalian tidak perlu sungkan untuk melaporkannya ke istana," jawab Qin Wu Zhu.


Dengan diantar oleh puluhan penduduk di gerbang desa, berangkatlah Chu Pian Ran dan yang lainnya untuk kembali ke ibukota.


Berdasarkan keputusan pihak pengadilan, akhirnya tabib Zhang dijatuhi hukuman penjara selama satu setengah tahun dan orang suruhannya dipenjara selama 8 bulan.


****


Dalam perjalanannya kembali ke ibukota, mampirlah mereka berempat di rumah makan yang lumayan besar. Setelah masuk ke dalam, mereka mencari tempat duduk di bagian sudut rumah makan yang lumayan sepi dengan Chu Pian Ran duduk semeja bersama Qin Wu Zhu, sedangkan Lu Zee semeja dengan Zhin Zhuan tak jauh dari meja majikannya.


"Aku tidak menyangka jika kau secentil itu. Jangan-jangan kau biasa seperti itu dengan banyak pria ya," kata Lu Zee mengawali pembicaraan dengan suara agak pelan agar tidak terdengar oleh pengunjung rumah makan yang lain sambil menunggu pesanan makanan mereka diantar oleh pelayan.


"Enak saja... Aku kemarin kan hanya sekedar main-main...," sahut Zhin Zhuan juga dengan suara agak pelan.


"Yang benaar?" pengawal pribadi Qin Wu Zhu itu mulai menggoda peri pegar emas lagi.


Tidak ingin ribut lagi seperti kemarin, Zhin Zhuan pun tidak menanggapi perkataan pemuda yang duduk di sampingnya itu, hingga akhirnya sikap diamnya itu membuat Lu Zee tidak berniat memperpanjang ledekannya.


"Bagaimana ajakanku kemarin?" lanjut pemuda itu mengalihkan bahan pembicaraannya.


"Ajakan yang mana?" tanya si peri pegar emas.


"Ajakan jalan-jalan... Sepertinya berkuda bersama juga menyenangkan. Lagipula selama ini aku kurang sekali menikmati hiburan," ucap Lu Zee jujur.


"Memangnya yang mulia pangeran mengijinkanmu jika ingin jalan-jalan?" sambung Zhin Zhuan.


"Aku akan minta ijin lah... Lagi pula sudah lama sekali aku tidak minta cuti tugas," balas pemuda itu.

__ADS_1


"Kenapa kau ingin mengajakku jalan-jalan? Bukannya di istana banyak gadis-gadis cantik yang bisa kau ajak?" imbuh si peri pegar emas.


"Aku tidak ada minat keluar dengan mereka, inginnya keluar dengan kamu... Bagaimana kamu mau tidak?" tanya pengawal pribadi Qin Wu Zhu itu penuh harap agar peri cantik yang sudah membuatnya terpesona pada pandangan pertama itu menerima ajakannya.


"Aku lihat situasinya dulu lah... Jika longgar mungkin aku bisa," jawab Zhin Zhuan.


"Terimakasih ya hantu cantik, kapan-kapan aku akan datang ke kediaman Chu untuk mengunjungimu," kata Lu Zee.


"Hantu cantik apa lagi itu?" ujar si peri pegar emas.


"Kan kemarin malam kamu menjawab 'hantu cantik' saat ditanya oleh suruhan tabib tidak waras itu," sahut pemuda itu terus terang.


Obrolan mereka pun terhenti saat ada dua pelayan yang mengantarkan makanan pesanan mereka berempat.


Dengan suasana yang tenang, akhirnya mereka berempat menikmati makanan yang tersedia di meja hingga habis tak tersisa karena mereka memang dalam keadaan lapar setelah berjam-jam berkuda tanpa henti.


****


Hari berganti hari, minggu berganti minggu...


Semenjak kejadian di desa Shou Shan, hubungan Lu Zee dan Zhin Zhuan menjadi lebih dekat. Selama satu bulan ini, pengawal pribadi pangeran kedua kaisar Qin itu telah mengunjungi si peri pegar emas di kediaman Chu sebanyak 4 kali, dan tentu saja hal itu atas sepengetahuan dan seijin Qin Wu Zhu.


Awalnya, saat si Lu Zee minta ijin akan berkunjung ke kediaman Chu untuk bertemu peri pujaan hatinya, pemuda itu sempat diledek oleh junjungannya. Namun sekarang, jika Lu Zee minta ijin lagi, si majikan tanpa banyak komentar langsung memberinya ijin.


Sekalipun pengawal pribadi pangeran kedua kaisar Qin itu tahu jika Zhin Zhuan bukan golongan manusia seperti dirinya, namun pemuda itu tetap melangkah maju karena sudah terlanjur jatuh hati dengan peri pegar emas yang cantik itu.


Saat ini, terlihatlah Lu Zee sedang duduk berdua dengan Zhin Zhuan di bawah pohon rindang dekat sungai setelah beberapa saat berkuda bersama peri cantik yang ada di sampingnya itu.


"Jadi, kau sudah tidak punya kerabat sama sekali?" tanya Lu Zee.


"Tidak... Awalnya aku adalah burung pegar emas biasa dan semua saudaraku adalah bangsa burung pegar sewajarnya seperti diriku. Tapi suatu saat, entah bagaimana awalnya aku ingin sekali punya wujud manusia agar bisa merasakan enaknya hidup di dunia manusia yang penuh warna. Akhirnya, aku pun melakukan meditasi panjang, dan kebetulan permohonanku itu dikabulkan oleh Dewi Langit. Jadi, sekarang ya seperti inilah diriku...," jelas Zhin Zhuan.


"Aneh sekali ya kisah hidupmu... Sebagai manusia, awalnya aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu...," timpal pemuda itu jujur.


"Di dunia peri, hal-hal seperti ini sudah menjadi sesuatu yang umum. Bahkan banyak hal-hal lebih tidak masuk akal lagi di luar sana yang melebihi diriku," ujar si peri pegar emas.


"Lalu bagaimana dengan saudaramu yang lain?" imbuh Lu Zee.


"Karena mereka bangsa burung pegar asli ya mereka sudah banyak yang meninggal setelah mencapai batas umurnya," jawab Zhin Zhuan.


"Apakah kau pernah punya kekasih atau menyukai seorang pemuda?" lanjut pengawal pribadi Qin Wu Zhu itu.


"Belum pernah sama sekali... Kenapa kau bertanya seperti itu?" balas si peri pegar emas dengan polosnya.


Tanpa disangka-sangka oleh Zhin Zhuan, Lu Zee mengubah posisi duduknya yang sekarang wajah pemuda itu sangat dekat dengan wajah si peri pegar emas sambil tangannya merangkul pinggang peri cantik itu.


Karena Zhin Zhuan belum pernah sama sekali mendapat perlakuan seperti itu dari pria manapun, otomatis peri itu menjadi sangat gugup dan jantungnya berdetak kencang.


"Kau kau mau apa Lu Zee?" tanya Zhin Zhuan gugup dengan wajah bersemu merah.

__ADS_1


"Asal kau tahu cantik, sejak pertama kali aku melihatmu saat kau bermain catur dengan Xi Er, aku sudah terpesona padamu... Maukah kau menjadi kekasihku?" kata Lu Zee sambil menatap lekat mata peri cantik yang tampak sangat gugup itu.


Suasana menjadi hening karena Zhin Zhuan tidak memberikan jawaban. Karena tidak sabaran, maka tak berapa lama pemuda itu pun mencium bibir tipis peri cantik itu dengan lembut selama beberapa detik. Sementara si empunya bibir hanya mampu diam membeku dengan matanya lebih lebar dari biasanya karena jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya.


__ADS_2