Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 118 Rencana Mengajari Bangsa Kurcaci Memasak


__ADS_3

Tak berapa lama, kupu-kupu itu pun terbang mendekat ke arah dua orang yang sangat dicintainya itu.


Lee Chu Mian Yin yang tanpa sengaja melihat binatang bersayap itu pun langsung berseru, karena gadis kecil itu memang sudah hafal dengan warna sayap kupu-kupu jelmaan ibunya.


"Bu Yan Yan pulang! Yah Wook, bu Yan Yan sudah pulang!" seru gadis cilik itu riang sambil tangan kanannya menunjuk pada si kupu-kupu.


Lee Jiang Wook yang mendengar seruan putrinya pun akhirnya ikut memperhatikan binatang bersayap yang ditunjuk oleh Lee Chu Mian Yin, yang tak lama kemudian berubah wujud menjadi perempuan cantik yang sangat dicintainya.


"Bu Yan Yan, kenapa pelginya lama sekali? Tadi Yin Eng dimandikan oleh ayah...," ucap Lee Chu Mian Yin begitu ibunya telah duduk di sampingnya sambil matanya menatap pada perempuan cantik itu.


"Maaf ya sayang, tadi ibu ada urusan penting yang harus segera dikerjakan, jadi pulangnya agak lama...," balas Chu Pian Ran dengan melihat pada putri kesayangannya itu.


"Apakah ada hal gawat yang terjadi istriku?" sela suaminya.


"Gawat sih tidak suamiku, tapi lumayan penting...," jawab istrinya yang lalu menggeser tubuhnya dan menyandarkan badan serta kepala bagian kirinya di salah satu tiang gazebo.


Tak berapa lama, datanglah Qin Wu Zhu dan Han Zhuo Jin mendekati keluarga kecil yang harmonis itu.


Melihat kedatangan kedua pangeran itu, dengan segera Lee Jiang Wook pun bangkit berdiri dan memberi hormat, lalu mempersilahkan tamunya untuk duduk di kursi yang ada di depan teras kediaman utama namun dua pemuda itu menolak dengan alasan mereka berdua ingin berbincang santai di tempat itu sambil menikmati indahnya pemandangan di taman.


"Paman Ju, paman Jin, selamat sole...," sapa Lee Chu Mian Yin.


"Selamat sore gadis kecil yang cantik, sudah mandi apa belum?" tanya pangeran kedua kaisar Han sambil menatap Lee Chu Mian Yin dengan bibir tersenyum.


"Sudah paman Jin, tadi Yin Eng dimandikan oleh ayah...," sahut gadis kecil itu.


"Memangnya ibumu kemana kok dimandikan ayah?" sela pangeran kedua kaisar Qin sambil melirik Chu Pian Ran yang sedang duduk bersandar di gazebo tanpa peduli dengan kedatangan tamunya.


"Ibu balu pulang paman Ju, katanya ada ulusan penting...," lanjut bibir mungil Lee Chu Mian Yin.


"Halah urusan penting apa, paling-paling sedang bergosip dengan siluman," ujar Qin Wu Zhu sekenanya.


Mendengar perkataan pangeran kedua kaisar Qin itu, nyonya muda Lee pun mengayunkan kaki kirinya ke arah Qin Wu Zhu yang kebetulan berdiri di depannya namun pemuda tampan itu berhasil menghindar.


Menyaksikan tingkah kedua orang itu, Lee Jiang Wook dan Han Zhuo Jin pun tersenyum geli.


"Uh, bau badannya siapa ini, tidak enak betul, seperti orang yang tidak mandi selama seminggu saja...," lagi-lagi pangeran kedua kaisar Qin menggoda adik angkatnya lalu berpura-pura dengan mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan hidungnya.


Sadar jika belum mandi, Chu Pian Ran pun spontan mengangkat kedua lengannya secara bergantian dan menciumnya. Memang baunya sedikit tidak enak tapi belum sampai 'tidak enak betul' seperti yang dikatakan oleh Qin Wu Zhu.


"Sepertinya hidungmu sedang tidak beres tuan jendral, mungkin terkena polip atau sinus... Lebih baik kau periksakan saja ke tabib," kata nyonya muda Lee membalas ledekan kakak angkatnya.


"Sebaiknya kau cepat mandi sana, pangeran Han Zhuo Jin sengaja memintaku menemaninya kemari karena ingin mengajakmu jalan-jalan," ucap pangeran kedua kaisar Qin.


"Mudah-mudahan ajakanku ini tidak mengganggu aktifitasmu adik Nanyang, sekalian saja kau ajak suami dan putrimu, lebih banyak orang malah lebih seru... Senyampang masih ada di sini, aku akan menimba ilmu sekaligus menikmati suasana ibukota Qin ini sampai puas...," sela pangeran kedua kaisar Han.


"Kita sedang tidak sibuk kok kak... Baiklah, kalau begitu aku akan mandi sekarang,"


Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


Sepeninggal nyonya muda Lee, terlihatlah sosok tuan dan nyonya Chu sedang berjalan mendekat ke arah gazebo.


Begitu telah ada di tempat itu, pasangan suami istri itu pun lalu memberi hormat pada Qin Wu Zhu dan Han Zhuo Jin kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi yang ada di depan teras kediaman utama.

__ADS_1


Karena sekarang yang mempersilahkan adalah si tuan rumah, maka kedua pangeran itu pun menurutinya hitung-hitung sambil menunggu Chu Pian Ran selesai mandi dan bersiap-siap.


Kini, tampaklah keempat orang itu sedang berbincang-bincang di tempat tersebut, sementara Lee Jiang Wook dan putrinya tetap duduk di gazebo karena jumlah kursi yang ada di depan teras kediaman utama hanya ada 4 buah.


Tiga puluh lima menit kemudian, tampaklah Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran sedang menggandeng masing-masing tangan putrinya dengan diikuti oleh Qin Wu Zhu dan Han Zhuo Jin di belakang mereka.


Saat ini, mereka berlima sedang menikmati suasana jalanan ibukota Qin di sore hari yang saat itu lumayan ramai.


Selama dalam perjalanan, beberapa kali pangeran kedua kaisar Han berhenti di beberapa kios souvenir untuk membeli barang yang sekiranya menarik dan tidak ada di tempat tinggalnya, sebagai oleh-oleh untuk anggota keluarganya atau sekedar untuk koleksi pribadinya.


Sementara itu, Lee Chu Mian Yin dan ibunya mampir di sebuah kios kue untuk membeli kue yang disukai oleh mereka berdua.


Seperti biasa, jika setelah membeli kue, ibu dan anak itu pasti memakannya sambil berjalan. Sepertinya kebiasaan buruk Chu Pian Ran menurun pada putri kecilnya itu.


Menyaksikan hal itu, Lee Jiang Wook pun hanya membiarkannya saja tanpa berkomentar apa-apa, karena ayah muda itu sudah pernah menasehati mereka berdua namun tidak dihiraukannya.


Sore pun merambat malam, agar putri kecilnya tidak kelelahan berjalan, Lee Jiang Wook menggendong gadis kecil itu, yang belasan menit kemudian Lee Chu Mian Yin pun tertidur dalam gendongan ayahnya dengan kepalanya disandarkan di bahu kiri ayah muda itu.


Melihat hal itu, maka Han Zhuo Jin pun menyarankan untuk menyudahi saja acara jalan-jalannya, dan akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang.


Sesampainya di kediaman Chu, Lee Jiang Wook pun membaringkan tubuh Lee Chu Mian Yin di kamar pribadi gadis kecil itu dengan pelan-pelan agar tidak terbangun lalu menyelimutinya.


Sebelum keluar dari kamar Lee Chu Mian Yin, pasangan suami istri itu pun mencium dahi putrinya sebagai rutinitas yang dilakukan saat gadis kecil itu akan tidur malam.


Sejak Lee Chu Mian Yin telah berumur 4,5 tahun, kedua orang tuanya memang sengaja mengambil keputusan untuk membuatkan kamar pribadi bagi putrinya agar gadis kecil itu bisa semakin mandiri.


Karena Lee Chu Mian Yin memang tipe anak penurut, saat mulai disuruh tidur sendirian di kamar pribadinya, gadis kecil itu pun langsung mematuhinya tanpa membantah atau merengek.


Saat ini, tampaklah Lee Jiang Wook dan Chu Pian Ran sedang berbaring di atas ranjang dengan posisi wajah ayah muda itu didekatkan di wajah istri tercintanya sambil tangan kanannya membelai rambut panjang perempuan cantik itu, sementara tangan kirinya diletakkannya di bawah kepala istrinya.


"Ada urusan penting apa sayang?" tanya Lee Jiang Wook sambil menatap lekat mata istrinya.


"Percaya tidak jika hari ini aku tanpa sengaja bertemu dengan bangsa kurcaci?" sahut peri cantik itu.


Mendengar pertanyaan istri tercintanya, ayah muda tampan itu lumayan terkejut.


"Kurcaci? Apa iya makhluk itu ada? Bukannya keberadaan mereka itu sekedar 'mitos' yang adanya di buku-buku cerita saja?" lanjut Lee Jiang Wook penasaran.


"Awalnya aku juga menganggapnya demikian suamiku, tapi ternyata mereka itu benar-benar ada dan jumlahnya ada puluhan. Kasihan sekali mereka itu, tinggalnya di gua bagian dalam yang gelap gulita dengan fasilitas hidup yang sangat minim...," terang Chu Pian Ran.


"Rencananya, besok aku akan mengajak Zhin Zhuan kesana sambil membawa peralatan masak, peralatan makan, dan bahan-bahan yang akan dimasak nanti. Kami berdua akan mengajari mereka memasak agar kebutuhan makan mereka lebih baik dari sebelumnya," sambung perempuan cantik itu.


"Setelah tahu kebenaran ini, tolong jaga rahasia ini baik-baik ya suamiku, agar hidup mereka tetap berlangsung tanpa ada gangguan dari pihak manapun..." imbuh istrinya.


"Kau jangan khawatir sayang, aku akan menjaga rahasia ini baik-baik. Tapi kau tidak akan mungkin kan menyembunyikan hal ini dari ayah, ibu dan Zhin Zhuan," balas ayah muda tampan itu.


"Besok pagi aku sendiri yang akan memberitahu mereka secara pribadi, agar rahasia ini jangan sampai menyebar luas," ujar peri cantik itu.


"Baiklah sayang, apapun yang kau pandang baik lakukanlah, aku akan terus mendukungmu. Jika kau butuh dana katakan saja, aku akan memberikannya...," ucap ayah muda itu.


"Terimakasih banyak ya suamiku... Besok, aku akan bangun pagi-pagi untuk membeli semua barang-barang yang akan aku bawa kesana bersama Zhin Zhuan dan Xi'er. Jadi minta tolong, besok pagi kau yang mandikan Yin'er...," tukas Chu Pian Ran.


"Baiklah istriku, kau jangan mengkhawatirkan hal itu...," jawab suaminya.

__ADS_1


Karena dua-duanya sudah merasa lelah, akhirnya pasangan suami istri itu pun segera tidur dengan saling berpelukan erat.


****


Keesokan harinya, saat langit sedikit terlihat terang, Chu Pian Ran telah bangun dari tidurnya. Lalu, perempuan cantik itu pun beranjak turun dari ranjang dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.


Setelah keluar dari kamar mandi, nyonya muda itu pun lalu duduk di depan meja riasnya untuk berkaca sambil menyisir rambut panjangnya yang terlihat agak berantakan dan memoles tipis wajahnya dengan bedak.


Sementara itu, Lee Jiang Wook yang sedari tadi telah terbangun karena merasakan adanya pergerakan di ranjang, hanya menyaksikan aktifitas istrinya itu sambil tetap rebahan.


"Kau akan berangkat belanja sekarang istriku?" tanya ayah muda itu sambil mengucek-ngucek kedua matanya.


"Iya suamiku, senyampang masih pagi dan belum banyak antriannya...," jawab peri cantik itu.


"Ambil saja uangnya di dalam lemari sayang...," ucap ayah muda itu.


"Iya suamiku, terimakasih banyak... Apakah kau ingin menitip sesuatu?" kata Chu Pian Ran sambil menoleh pada suaminya.


"Tidak sayang, bukankah kau akan belanja dalam jumlah yang banyak. Jika nanti aku butuh beli sesuatu, aku bisa membelinya sendiri saat pulang dari toko perhiasan...," lanjut Lee Jiang Wook.


"Baiklah kalau begitu..."


Tak berapa lama, nyonya muda Lee pun beranjak dari depan meja riasnya lalu membuka lemari tempat penyimpanan uang dan mengambil puluhan uang koin emas dari kotak uang milik suaminya karena belanjaan yang harus dibelinya nanti lumayan banyak.


Setelah berpamitan dengan suaminya, peri cantik itu pun lalu melangkahkan kakinya, membuka pintu kamar dan menutupnya kembali.


Begitu Chu Pian Ran ada di depan kamar, tampaklah olehnya ada seorang pelayan perempuan yang sedang menyapu halaman.


Tak berapa lama, perempuan cantik itu pun memanggil si pelayan dan memintanya untuk memanggilkan Zhin Zhuan dan Xi'er agar segera datang menemuinya.


Dengan segera, pelayan itu pun melaksanakan perintah majikannya, dan sepuluh menit kemudian dia datang bersama Zhin Zhuan dan Xi'er.


Begitu hampir dekat dengan Chu Pian Ran, si pelayan berbelok ke kanan untuk melanjutkan pekerjaannya, sementara Zhin Zhuan dan Xi'er melangkahkan kakinya untuk menghampiri nyonya muda Lee sambil menyimpan rasa penasaran kenapa masih pagi begini perempuan cantik itu memanggil mereka berdua.


"Kalian berdua ikut aku belanja ya, karena barang belanjaan yang aku beli nanti lumayan banyak...," kata Chu Pian Ran pada dua gadis yang sudah berdiri di hadapannya itu.


"Belanja banyak untuk apa kak?" tanya si peri pegar emas ingin tahu.


"Untuk saat ini jangan banyak tanya dulu, sekarang lebih baik kita segera berangkat belanja sebelum banyak yang antri."


Tanpa berbantah, akhirnya Zhin Zhuan dan Xi'er pun mengikuti perintah Chu Pian Ran.


Lima belas menit kemudian, terlihatlah ketiga perempuan itu sedang berbelanja di kios sayuran.


Maka dengan segera, nyonya muda Lee pun membeli : 10 buah sawi putih segar yang ukurannya besar, 20 ikat kangkung, 5 kg wortel, 5 kg kentang, dan lainnya.


Melihat belanjaan sayuran yang dibeli oleh Chu Pian Ran lumayan banyak, Zhin Zhuan dan Xi'er pun saling berpandangan dengan menyimpan tanda tanya besar dan memiliki pemikiran jika nyonya muda Lee mungkin akan mengadakan acara makan-makan.


Setelah selesai urusannya di kios sayuran, Chu Pian Ran pun lalu mengajak kedua gadis itu untuk berbelanja di kios perbumbuan. Di kios itu pun, nyonya muda Lee juga membeli banyak sekali bumbu-bumbu dapur.


Selanjutnya, ketiga perempuan itu pun berbelanja perlauk-pauk an mentah, minyak goreng, perlengkapan masak, dan perlengkapan makan yang jumlahnya menurut Zhin Zhuan dan Xi'er 'sudah tidak wajar'.


Kini, tampaklah ketiga perempuan itu pulang ke kediaman Chu dengan tangan kanan kiri masing-masing membawa barang belanjaan yang lumayan banyak.

__ADS_1


Karena Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan termasuk peri, maka dua perempuan itu membawa barang belanjaan lebih banyak dari Xi'er.


__ADS_2