Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 131 Dewa Shao Hao Menjemput Jinying dan Induknya


__ADS_3

🌷 Salam sejahtera dan salam sehat untuk pembaca setia novel "Chu Pian Ran. Di kesempatan kali ini, author mau minta maaf jika beberapa episode sebelumnya, alur cerita dan susunan kalimatnya 'kurang pas' karena si author sedang pusing persiapan ujian. Dan sekarang karena ujiannya sudah selesai, author berusaha untuk update kembali dengan alur cerita dan susunan kalimat yang lebih baik seperti sebelumnya.


Sekali lagi terimakasih banyak untuk dukungan kalian semua... 🙏🙏 🌷


Happy reading...


🌹


Keesokan harinya...


Pagi itu sekitar pukul 8 nan, terlihatlah Lee Chu Mian Yin sedang mengajak si Jinying ke bagian utara kediaman dengan maksud untuk mengeluarkan burung meraknya yang bernama Khong'er dari kandangnya.


Selama dalam perjalanan menuju ke kandangnya Khong'er, bayi burung elang emas itu beberapa kali disapa oleh beberapa pelayan yang kebetulan berpapasan atau dilewati olehnya yang waktu itu si Jinying sedang berjalan dengan gaya pantatnya yang lucu.


Adapun cara Jinying membalas salam para pelayan itu adalah dengan mengeluarkan suara 'kik kik' sambil melambai-lambaikan sayap kanannya. Tentu saja tingkah bayi burung elang emas itu mengundang senyuman dan rasa gemas para pelayan tersebut.


"Selamat pagi Khong'el...," sapa putrinya Chu Pian Ran sambil membuka pintu kandang burung merak jantan itu.


"Keeer keeer...," burung berbulu cantik itu pun bersuara sebagai balasan atas salamnya gadis kecil itu.


Begitu burung merak jantan itu keluar dari kandangnya, kedua binatang berbeda ordo itu pun saling menyapa dengan menggerak-gerakkan paruh mereka, karena Jinying dan Khong'er memang sudah pernah bertemu sebentar saat mereka ada di area pekarangan istana Dewa Shao Hao.


"Kita belmain di taman yuk...," ajak Lee Chu Mian Yin yang langsung dituruti oleh kedua binatang bersayap itu dengan senang hati. Tak berapa lama, ketiganya pun melangkahkan kaki mereka menuju ke taman.


Ketika sampai di kediaman utama, si Khong'er yang melihat induknya Jinying pun langsung menyapa burung elang emas raksasa itu dengan mengeluarkan suara khasnya yang lengkap sambil mengembangkan bulunya sebagai wujud rasa hormat pada binatang peliharaan kesayangan dewa Shao Hao itu.


"Keok keok keok, keeer keeer, eeek eeek eeek..."


"Krak krak...," induknya Jinying pun membalas salamnya si Khong'er sambil kedua matanya yang tajam menatap burung merak jantan itu.


Tak berapa lama, Lee Chu Mian Yin, Khong'er dan Jinying pun telah sampai di taman yang jaraknya hanya belasan meter dari tempat burung elang emas raksasa berada.


"Bagaimana kalau kita main petak umpet?" usul putrinya Lee Jiang Wook yang langsung mendapat anggukan dari kedua binatang bersayap itu.


"Ya sudah, kalau begitu Yin'el yang belhitung dulu ya tlus kalian yang sembunyi. Aku hitung sampai dua puluh..." ucap gadis kecil itu yang beberapa detik kemudian menutup kedua matanya dengan menggunakan telapak tangan kanannya sambil berhitung dengan lambat.


"Satu dua tiga empat..."


Begitu Lee Chu Mian Yin mulai berhitung, Khong'er dan Jinying pun dengan segera berlari dengan gaya khas nya masing-masing untuk mencari tempat persembunyian.


Dua puluh detik kemudian, setelah mencapai hitungan yang ke dua puluh, putrinya Chu Pian Ran pun melepas telapak tangan kanannya yang menutupi kedua matanya itu.


"Yuhuuu, Yin'el datang...," kata gadis kecil itu sambil mengedarkan pandangannya untuk sesaat.


Tak berapa lama, Lee Chu Mian Yin pun melangkahkan kakinya untuk menjelajahi area taman itu untuk mencari keberadaan Jinying dan Khong'er.


Setelah 5 menit an mencari, bibir putrinya Lee Jiang Wook pun tersenyum saat kedua matanya melihat bagian belakang sayapnya Khong'er.


Dengan segera, gadis kecil itu pun menapakkan kaki pendeknya menuju ke tempat persembunyian burung merak jantan itu yang berada di balik rerimbunan pepohonan yang rendah sambil mengendap-ngendap.

__ADS_1


"Ci luk baaa... Khong'el, kamu ketemuu...," ujar Lee Chu Mian Yin yang langsung dibalas dengan gerakan paruhnya burung merak jantan itu, yang arti gerakan paruhnya adalah 'wah payah, kok aku cepat sekali ketemunya...'


Tak berapa lama, Khong'er pun keluar dari tempat persembunyiannya lalu melangkahkan kakinya menuju ke tempat gadis kecil itu saat berhitung sambil menutup mata tadi karena setelah si Jinying ketemu nanti adalah gilirannya untuk menutup matanya sambil berhitung.


Beberapa saat kemudian, putrinya Chu Pian Ran itu pun melangkahkan kakinya kembali untuk melanjutkan pencarian dan terus berusaha menemukan keberadaannya Jinying yang sedari tadi belum terlihat sosok bayi burung elang itu.


"Jinying, kamu sembunyi di mana sih?! Sedali tadi Yin'el cali-cali kok belum ketemu... Jinyiiing...!" seru Lee Chu Mian Yin setelah hampir putus asa karena sudah hampir puluhan menit mencari keberadaan bayi burung elang emas itu, yang rupanya sedang bersembunyi di balik badan besar induknya.


Tanpa sepengetahuan anaknya, burung elang raksasa itu memberitahukan keberadaan Jinying pada gadis kecil itu dengan menggerak-gerakkan paruhnya.


Tak menunggu lama, putrinya Chu Pian Ran itu pun berjalan mengendap-ngendap menuju ke arah persembunyiannya Jinying yang kebetulan posisi berdirinya bayi burung elang itu membelakangi Lee Chu Mian Yin.


"Baa!!"


Gadis kecil itu berhasil membuat kaget si Jinying dengan gertakannya.


Dengan hati sebal, bayi burung elang emas itu pun membalikkan badannya.


"Ki kik ki kik," gerutu Jinying sambil menggerak-gerakkan kedua sayapnya di hadapan putrinya Lee Jiang Wook.


"Maaf ya Jinying, Yin'el sudah membuatmu telkejut... Habis, Yin'el cali-cali dali tadi di taman tidak ketemu sih, telnyata kamu belsembunyi di sini..."


Begitu Lee Chu Mian Yin menyelesaikan kalimatnya, terlihatlah di atas kediaman utama ada dua berkas cahaya berwarna putih yang terbang merendah yang tak lama kemudian berubah wujud menjadi Chu Pian Ran dan Zhin Zhuan tak jauh dari induknya Jinying berada.


"Tumben ibu dan bibi Jin Juan sudah pulang, biasanya kan siang hali...," kata gadis kecil itu begitu dia sudah ada di dekat nyonya muda Lee.


"Iya sayang, hari ini ibu dan bibi Zhin Zhuan tidak ada pekerjaan yang terlalu banyak di luar, jadi bisa pulang lebih awal dari biasanya...," jawab perempuan cantik itu sambil kedua matanya menatap pada putrinya.


"Halo Jinying, Khong'er...," sapa peri burung pegar emas itu sambil melambaikan tangan kanannya yang mendapatkan balasan secara serempak dari dua binatang bersayap itu dengan suara khas masing-masing.


"Hei ibu burung, seperti kesepakatan kita kemarin, hari ini kamu akan membawaku dan putriku terbang. Bagaimana kalau sekarang saja? Senyampang belum terlalu panas...," ujar Chu Pian Ran mengingatkan induknya Jinying sambil mendongakkan kepalanya pada burung elang raksasa itu.


"Krak..," burung elang raksasa itu pun bersuara sambil menganggukkan kepalanya.


Tak berapa lama, tampaklah nyonya muda Lee dan putrinya sudah berada di punggung induknya Jinying dengan posisi Lee Chu Mian Yin duduk di depan ibunya sambil berpegangan pada separuh leher burung elang emas raksasa itu.


Belasan menit kemudian, terlihatlah induknya Jinying telah mengudara pelan-pelan di atas langit ibukota Qin yang tentu saja pergerakannya itu langsung menarik perhatian penduduk yang saat itu sedang berada di luar rumah.


Sementara itu, di taman bunga kediaman Chu, tampaklah Zhin Zhuan gantian diajak bermain petak umpet oleh Jinying dan Khong'er.


"Waah, pemandangan dali atas sini telnyata bagus sekali!" seru Lee Chu Mian Yin dari atas punggung induknya Jinying sambil mengedarkan pandangannya ke beberapa penjuru.


Nyonya muda Lee yang awalnya duduk tenang di belakang putrinya, kini tiba-tiba perempuan cantik itu pun bangkit berdiri dari punggung burung elang raksasa dan mulai lah 'kambuh' sikapnya yang aneh, yakni kedua tangannya bergaya layaknya 'Superman/Superboy' yang filmnya pernah dia lihat di dunia modern.


"Superwoman... te te teeet te te te teet..."



(para readers masih ingat dengan film Superboy/Superman?? Gaya tangan seperti itu lah yang sedang ditiru oleh Chu Pian Ran 🙈)

__ADS_1


Selama satu jam an, ibu dan anak itu pun dibawa terbang berputar dengan pelan oleh induknya Jinying hanya sebatas di langit ibukota Qin karena burung elang raksasa itu tidak ingin menarik perhatian banyak orang lagi seperti kemarin jika sampai terbang di luar langit ibukota.


Setelah merasa puas terbang dengan burung elang raksasa peliharaan Dewa Shao Hao, Chu Pian Ran pun meminta induknya si Jinying untuk membawa mereka pulang.


🌹


Sementara itu di dunia atas, Dewa Burung telah kembali ke istananya dan belum sadar jika burung elang peliharaannya sudah tidak ada di tempat selama beberapa jam yang lalu.


Dua jam an kemudian, tiba-tiba muncullah keinginan Dewa Shao Hao untuk menjenguk dua ekor burung elang miliknya. Betapa terkejutnya 'pria abadi' itu begitu melihat kediaman burung elangnya kosong. Tanpa menunggu lama, Dewa Shao Hao pun menghampiri salah satu penjaga yang telah dia tugaskan untuk berjaga di bagian luar kediaman burung elang miliknya.


"Penjaga, kemana perginya kedua burung elang itu, kok tidak ada di tempatnya?" tanya Dewa Burung yang tentu saja membuat penjaga itu sangat terkejut dan juga bingung.


"Maaf yang mulia dewa, bukankah burung elangnya ada di dalam? Sedari tadi hamba sama sekali tidak melihat burung elang itu terbang meninggalkan kediamannya...," sahut penjaga itu berkata apa adanya.


"Tapi buktinya mereka itu tidak ada di dalam, coba saja kamu lihat sendiri... Pasti burung raksasa itu sudah menggunakan jurus 'tipuan mata' agar bisa menyelinap pergi tanpa diketahui oleh kalian. Ya sudah, kalau begitu aku segera menyusul mereka ke dunia bawah saja. Aku sangat yakin jika burung elangku ada di sana."


Tanpa menunggu balasan lebih lanjut dari penjaga itu, Dewa Shao Hao pun langsung merubah wujudnya menjadi seberkas cahaya putih yang kemudian melesat dengan cepat menuju ke dunia bawah alias ke kediaman Chu.


Sepeninggal junjungannya, penjaga itu pun langsung beranjak dari tempatnya berdiri lalu berjalan dengan langkah cepat menuju ke bagian tengah kediaman, yang biasa menjadi tempat favorit si burung elang raksasa berdiam diri.


Setelah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri jika tempat itu kosong, penjaga itu pun lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena merasa bingung bercampur heran.


"Aneh sekali, bagaimana caranya burung elang sebesar itu bisa tiba-tiba menghilang dari kediamannya... Kalau tidak salah dengar, tadi yang mulia Dewa Shao Hao menyebut jurus 'tipuan mata', jurus apa itu, sepertinya baru kali ini aku mengetahuinya...," si penjaga itu bergumam dalam kebingungannya.


Setelah berkecamuk dengan pikirannya untuk beberapa saat, penjaga itu pun kembali ke tempatnya semula.


🌹


Saat ini di taman kediaman Chu, tampaklah si Jinying sedang bersembunyi di belakang tubuhnya Chu Pian Ran sambil menutup kedua matanya dengan kedua sayapnya karena bayi burung itu takut dimarahi oleh pemiliknya sebab memang dialah yang sudah membuat induknya nekat pergi tanpa pamit.


"Jinying, kemari sayang, jangan terus bersembunyi di belakang tubuhnya nyonya muda Lee, nanti kamu bisa dikentuti lo...," ucap Dewa Shao Hao dengan sengaja 'sedikit berkelakar' agar bayi burung elangnya tidak takut untuk menghadapinya dan mengakui kesalahannya.


Karena ditunggu hingga beberapa menit si Jinying belum juga merespon, maka Dewa Burung pun lalu melangkahkan kakinya untuk sesaat hingga ada di samping kanan badannya Chu Pian Ran, lalu dengan segera 'pria abadi' itu pun mengangkat tubuh bayi burung elang itu kemudian menggendongnya.


"Sudah kamu tidak perlu takut seperti itu, kakek ingin menegur kamu kan karena untuk kebaikanmu juga...," hibur Dewa Shao Hao dengan nada lembut sambil melihat Jinying yang masih saja menutup kedua matanya dengan kedua sayapnya.


"Coba kamu bayangkan, dulu sewaktu ada seorang dari suku iblis mencurimu saat kamu masih di dalam telur, jika nyonya muda Lee tidak menemukanmu waktu itu, pasti kamu tidak akan bisa hidup seperti sekarang ini...," lanjut 'pria abadi' itu.


Tak berapa lama, bayi burung elang itu pun menurunkan kedua sayapnya.


"Ki kik ki kik...," si Jinying mengeluarkan suara khasnya dengan pelan yang artinya 'maafkan aku ya kakek...'


"Lain kali kalau kamu kangen dengan Yin'er ngomong dulu ke kakek, kan kakek bisa mengantarmu ke sini tanpa indukmu, malah lebih cepat dan aman lagi... La kalau kamu ngambek, trus karena kasihan, indukmu sampai nekat datang ke dunia bawah dalam keadaan terang benderang, indukmu pasti bukan hanya menarik perhatian banyak manusia, tapi juga bisa menarik perhatian bangsa iblis dan siluman jahat berkekuatan supranatural tinggi, yang bisa membunuh kalian berdua...," imbuh dewa yang usianya sudah lebih dari 60.000 ribu tahun itu.


Mendengar penjelasan 'kakek' nya, Jinying pun lalu menggerak-gerakkan paruhnya yang menyatakan bahwa dia menyesal dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.


Beberapa saat kemudian, terlihatlah Dewa Shao Hao berpamitan dengan anggota keluarga Chu yang saat itu ada di tempat itu.


Tak berapa lama, dengan tangan kanan mengepit Jinying, Dewa Burung pun merubah wujudnya menjadi seberkas cahaya putih lalu melesat cepat menuju istananya, sementara itu burung elang raksasa menyusul kepergiannya dengan cara terbang yang sama seperti kemarin waktu dia berangkat ke dunia bawah.

__ADS_1


🌹🌹🌹


__ADS_2