Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 36 Bupati Xhin Dilengser Dan Dihukum


__ADS_3

Penduduk Yingchuan kembali mendengar berita bahwa pria bertopeng membagikan banyak uang koin emas pada rakyat miskin.


Kabar ini didengar juga oleh bupati Xhin dan pria itupun curiga tentang asal usul uang koin emas itu.


Rasanya kebetulan sekali, dia kehilangan banyak uang koin emas secara aneh dan saat ini si pria bertopeng juga membagikan banyak uang koin emas kepada rakyat miskin.


Tanpa ditunda lagi, pria itu menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari tahu dan mengawasi gerak-gerik pria bertopeng selama ada di Yingchuan.


Setelah bupati Xhin mendengar laporan-laporan yang dia terima dari para anak buahnya itu, kecurigaannya pada pria bertopeng semakin bertambah.


Pria paruh baya itupun mulai mengatur siasat untuk menjebak pria bertopeng.


Bupati Xhin lalu menulis beberapa surat yang ditujukan kepada para pendukungnya.


Di surat, pria paruh baya itu mengundang mereka untuk membahas masalah pria bertopeng yang dia curigai mencuri uang koin emasnya.


Malam harinya, di sebuah ruangan kediaman bupati Xhin telah berkumpul puluhan orang yang sedang membicarakan masalah serius.


Pria paruh baya itu meminta bantuan kepada golongan orang kaya itu untuk membantunya menjebak pria bertopeng karena pria itu sudah mencuri uang koin emasnya dan yang lebih gawat lagi jangan sampai pria itu membongkar kebusukan mereka selama ini.


Tanpa mereka ketahui, seekor kupu-kupu hinggap di balik pintu dan mendengarkan pembicaraan mereka semua.


Selama dua jam lebih para pria itu membahas cara yang paling jitu dilakukan untuk menjebak pria bertopeng.


Akhirnya mereka sepakat untuk mengupah salah seorang pelayan penginapan untuk menaburkan racun di kamar pria bertopeng.


Rencana itu akan dilakukan saat si pria bertopeng sedang keluar penginapan keesokan harinya.


Saat kumpulan itu sudah selesai berdiskusi dan sekarang ini mereka sedang makan minum, si kupu-kupu meninggalkan tempat itu.


****


Kini, Chu Pian Ran telah berada di kamarnya dan kembali ke wujudnya semula.


Gadis itu sudah mempunyai rencana untuk menghindari jebakan bupati Xhin dan kaki tangannya.


Saat tengah malam tiba, Chu Pian Ran kembali merubah dirinya menjadi kupu-kupu dan terbang keluar daerah Yingchuan, tepatnya ke area hutan yang pernah dia singgahi beberapa hari yang lalu.


Setelah kembali ke wujud aslinya, dia menyimpan buntelan kainnya di atas pohon yang sangat rimbun daunnya.


Gadis itu lalu berubah menjadi kupu-kupu kembali dan terbang menuju ke penginapan lagi.


Sesampainya di penginapan, Chu Pian Ran merubah dirinya ke wujud asli dan tidur nyenyak hingga siang hari.


Setelah mandi dan makan, gadis itu pun keluar penginapan dengan mengendarai kudanya.


Mengetahui pria bertopeng sudah meninggalkan penginapan, pelayan yang sudah ditugasi oleh bupati Xhin segera melakukan aksinya.


Tanpa menimbulkan kecurigaan pada pengunjung penginapan lainnya, pelayan itu masuk ke kamar pria bertopeng lalu mengeluarkan sebuah botol berisi racun dari balik bajunya.


Racun dari botol itu sangat langka dan sangat mahal harganya karena sulit dideteksi tanda-tandanya.


Sebelum menaburkan racun itu, si pelayan mengenakan cadar dan membungkus tangannya dengan sarung tangan.


Pria itu pun lalu mulai menaburkan cairan racun itu di kamar pria bertopeng. Bagian yang paling banyak dia taburkan adalah ranjang, bantal dan selimut.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan tugasnya pelayan itu segera keluar dari kamar, menutup pintu kemudian melepas cadar dan sarung tangannya.


****


Saat ini, Chu Pian Ran dengan santai memacu kudanya keluar daerah Yingchuan.


Anak buah bupati Xhin yang ditugasi mengawasi gerak-gerik pria bertopeng segera membuntuti pria itu.


Setelah sampai di area hutan, anak buah bupati Xhin mengurangi laju kudanya karena beberapa meter di depannya dia hanya melihat kuda pria bertopeng sementara si penunggangnya tidak tahu entah kemana.


Dengan rasa was-was, pria itu menghentikan kudanya lalu memperhatikan sekelilingnya, namun sosok pria bertopeng tidak terlihat.


Tiba-tiba kepala pria itu ditimpuk oleh sesuatu. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari tahu dari mana asal benda yang mengenai kepalanya itu.


"Hei, kau mencariku?" Tanya pria bertopeng yang tiba-tiba sudah bertengger di atas pohon yang rimbun daunnya, tidak jauh dari si pria penguntit.


Pria itu hanya melihat Chu Pian Ran tanpa memberikan jawaban apa-apa.


"Katakan pada bupatimu itu kalau sebentar lagi aku akan memberikan kejutan padanya, minta saja dia untuk bersiap-siap. Satu lagi, beritahukan padanya untuk tidak perlu repot-repot menaburkan racun di kamarku karena aku tidak akan kembali lagi kesana." Lanjut Chu Pian Ran dengan santainya.


Anak buah bupati Xhin itu akhirnya pergi dan kembali ke Yingchuan untuk melapor pada majikannya.


****


Jangan ditanya bagaimana marahnya bupati Xhin setelah mendapat laporan dari anak buahnya yang tadi mengikuti pria bertopeng. Usahanya untuk menjebak pria itu ternyata gagal total. Dia tidak habis pikir bagaimana caranya pria bertopeng itu bisa mengetahui rencananya.


Tanpa buang waktu lagi, pria itu mengumpulkan semua anak buahnya untuk menjaga kediamannya. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya ada 30 orang.


Tengah malamnya...


Kupu-kupu itu lalu masuk ke sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar bupati Xhin. Tak disangka, rupanya pria itu bisa tidur nyenyak hingga mendengkur di tengah situasi yang genting seperti ini.


Kupu-kupu itu lalu merubah wujudnya menjadi pria bertopeng lagi.


Chu Pian Ran kemudian mengambil sebuah botol anggur yang ada di atas meja. Gadis itu lalu menuangkan isi botol itu di wajah bupati Xhin. Alhasil, pria itu terkejut dan terbangun. Rasa terkejutnya bertambah saat di depannya sudah berdiri sosok pria bertopeng.


"Penjagaaaaa!" Suara bupati Xhin menggelegar memecah keheningan malam.


Beberapa saat terdengar suara dari luar kamar si bupati.


"Tuan bupati apakah anda baik-baik saja?" Tanya salah seorang penjaga.


"Cepat tolong aku! Pria bertopeng itu ada di sini!" Teriak bupati Xhin dari dalam.


Para penjaga itu segera mendobrak pintu kamar bupati Xhin karena pintu itu memang terkunci dari dalam.


Baru saja pintu kamar berhasil dibuka, tubuh para penjaga itu sudah terlempar keluar.


Mereka meringis kesakitan.


Chu Pian Ran mengangkat tubuh bupati Xhin dengan kekuatan telapak tangannya. Gadis itu membawa tubuh pria itu keluar kamar, lalu dengan sekuat tenaga Chu Pian Ran menghempaskan tubuh si bupati.


Braaak!


Tubuh pria itu membentur dinding bangunan yang ada di seberang. Bupati Xhin mengerang kesakitan.

__ADS_1


Di kediaman bupati Xhin terjadi kegemparan. Chu Pian Ran tanpa tanggung-tanggung memberi pelajaran pada bupati Xhin dan semua anak buahnya.


Istri, selir dan anak-anak bupati Xhin kabur dari kediaman dan berteriak minta tolong di jalanan.


Penduduk Yingchuan yang sebenarnya sudah tidur nyenyak menjadi terkejut dengan teriakan itu kemudian terbangun.


Beberapa saat kemudian mulai berkumpul puluhan penduduk Yingchuan di depan kediaman bupati Xhin untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Dari gerbang masuk kediaman bupati terlihatlah oleh mereka beberapa pria yang tergeletak tak berdaya di kediaman bupati itu.


Setelah melihat para lawannya tak berdaya, Chu Pian Ran lalu terbang dan mendarat di atap kediaman bupati Xhin paling depan.


"Para penduduk Yingchuan, aku telah mendengar bahwa selama bupati Xhin menjabat, dia telah banyak melakukan hal keji hingga membuat rakyat di sini menderita. Saat ini aku sudah membuat pria itu dan anak buahnya tak berdaya. Dan untuk langkah selanjutnya aku serahkan kepada kalian semua. Kalian tidak perlu takut pada ancaman siapapun, karena aku ada di sini untuk membantu kalian." Kata Chu Pian Ran lantang di hadapan penduduk.


Tanpa menunggu lama, para penduduk itu mulai menyebar dan membangunkan penduduk lainnya.


Beberapa puluh menit kemudian, berbondong-bondonglah penduduk Yingchuan ke kediaman bupati Xhin untuk meringkus pria itu dan para anak buahnya.


Tak luput pula, semua pendukung bupati Xhin juga digelandang oleh penduduk.


Chu Pian Ran menyaksikan kejadian itu dari atap. Gadis itu memang sengaja memberi kesempatan kepada penduduk untuk menegakkan keadilan karena selama ini mereka telah dibuat menderita.


Sampai matahari terbit daerah Yingchuan masih terlihat riuh. Para penduduk masih memadati jalanan untuk menyaksikan bupati Xhin dan semua kaki tangannya diadili.


Diantara kumpulan penduduk itu juga terlihat Ling Xuan dan para pengikutnya. Mereka penjadi penggerak bagi rakyat untuk mengadili bupati Xhin dan antek-anteknya.


Akhirnya, bupati Xhin dilengserkan dari jabatannya dan memenjarakan pria itu beserta para kaki tangannya.


Ling Xuan dan sebagian penduduk lalu mengangkut sebagian harta kekayaan bupati Xhin dan para pendukungnya untuk dibagikan kepada rakyat miskin.


****


"Terimakasih tuan Song karena anda telah membantu penduduk di sini untuk mendapatkan keadilan." Kata Ling Xuan.


"Sudahlah tidak perlu membahas soal ini. Aku hanya membantu apa yang bisa kubantu." Balas Chu Pian Ran.


"Tapi tuan, tanpa bantuan anda kami pasti tidak akan bisa menggulingkan kekuasaan Xhin dan aksi kejamnya itu." Lanjut Ling Xuan.


"Lalu siapakah yang akan pilih untuk menggantikan Xhin nanti?" Tanya gadis itu.


"Kami sudah memiliki beberapa calon penggantinya tuan. Untuk siapa yang akan terpilih nanti, kami akan mengadakan pemungutan suara." Jelas Ling Xuan.


"Baguslah kalau begitu. Aku harap untuk ke depannya, daerah Yingchuan ini semakin sejahtera." Ucap Chu Pian Ran.


"Terimakasih banyak untuk doanya tuan. Kami akan bersama-sama berusaha untuk memajukan daerah Yingchuan ini." Kata Ling Xuan mantap.


Selama satu bulan semenjak penangkapan Xhin, Chu Pian Ran masih tinggal di Yingchuan untuk memantau perkembangan penduduk, khususnya kelompok rakyat miskin yang ada di daerah pinggiran Yingchuan.


Dengan hasil rampasan dari harta kekayaan Xhin dan para pengikutnya


serta bantuan sebagian penduduk yang ekonominya tergolong mampu, bupati baru dan para penduduk bahu membahu meningkatkan kehidupan rakyat miskin itu. Mulai dari perbaikan rumah, penyediaan bahan makanan dan pakaian, hingga penyediaan lapangan pekerjaan.


Secara bertahap penghidupan rakyat miskin itu akhirnya menjadi lebih baik.


Kini aura keceriaan dan kekeluargaan mewarnai daerah Yingchuan.

__ADS_1


__ADS_2