
"Aku sungguh menghargai pendapatmu Tuan Liu Xhu Tan... Dan untuk Tuan Chu Jeong Byun, aku juga sangat berterimakasih atas responmu yang sangat positif tentang masalah ini... Silahkan untuk perdana menteri yang lain, jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat kalian karena ini demi kemajuan wilayah Qin kita... Atau langsung saja kita adakan pemungutan suara agar masalah ini dapat segera kita tindak lanjuti," Kaisar Qin Shi Huang memberikan apresiasi sekaligus menyarankan solusi untuk mendapatkan kesepakatan lebih cepat atas masalah tersebut.
"Silahkan angkat tangan kanan kalian bagi yang setuju jika wilayah Qin kita ini menyediakan fasilitas sekolah khusus untuk anak dari kalangan rakyat jelata," lanjut pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu yang membuat semua para pejabat istana tersebut mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bahwa mereka setuju, sekalipun ada beberapa dari antara mereka yang mengangkat tangan paling akhir sendiri setelah melihat ke sekitarnya.
Adapun beberapa perdana menteri yang mengangkat tangan paling akhir adalah tipe orang yang dikatakan 'kolot' oleh Tuan Chu Jeong Byun kemarin sore pada Zhin Zhuan.
Pejabat istana model seperti itu sebenarnya merasa 'tidak rela' jika anak-anak dari kaum rakyat jelata mendapatkan perhatian khusus bahkan memperoleh ilmu yang setara dengan rakyat golongan menengah ke atas, karena mereka mempunyai pemikiran bahwa sikap tersebut suatu saat nanti bisa 'menyaingi' anak-anak dari kaum terpandang yang seharusnya tampil lebih unggul atau diprioritaskan.
Begitu semua para perdana menteri tersebut setuju, maka Kaisar Qin Shi Huang pun membubarkan persidangan rutin hari itu dan akan dilanjutkan kembali keesokan harinya.
Saat para pejabat istana tersebut telah keluar dari aula persidangan, Tuan Chu Jeong Byun dihampiri oleh Kasim Liu karena Kaisar Qin ingin berbicara empat mata dengan tuan penasehat kerajaan itu.
Maka dengan segera, pria paruh baya tersebut pun mengikuti Kasim Liu menuju ke ruang kerja pria penguasa nomer satu di wilayah Qin.
"Duduklah Tuan Chu, aku ingin mengajakmu bicara empat mata tentang masalah tadi," Kaisar Qin Shi Huang mempersilahkan duduk tuan penasehat kerajaan setelah pria paruh baya itu masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Terimakasih yang mulia kaisar..."
Sesudah berkata demikian, Tuan Chu Jeong Byun pun duduk di sebuah kursi kayu berukir yang tak jauh dari meja kerja pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu.
"Bagaimana keadaan kalian? Semua baik dan sehat?" tanya Kaisar Qin Shi Huang sebelum masuk ke inti pembicaraan.
"Kabar kami semua baik dan sehat yang mulia...," sahut tuan penasehat kerajaan.
"Sejak meninggalnya Nanyang, aku dan keluargaku menjadi jarang sekali berkunjung ke kediamanmu, aku harap kau tidak kecewa dengan hal ini Tuan Chu...," sesal pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu jujur.
"Yang mulia kaisar tidak perlu berkata demikian, kami semua tidak mempermasalahkan jika yang mulia dan anggota keluarga kerajaan lainnya menjadi jarang berkunjung ke kediaman kami. Kami sangat memaklumi kesibukan anda semua masing-masing...," balas Tuan Chu Jeong Byun.
"Jadi Zhin Zhuan yang sudah menggantikan tugas mendiang Nanyang?" imbuh Kaisar Qin Shi Huang yang sebelumnya memang pernah mendengar nama si peri pegar emas itu dari mendiang Chu Pian Ran sendiri maupun dari Qin Wu Zhu karena mereka pernah menangani kasus tentang kelicikan tabib Zhang bersama-sama.
"Benar yang mulia kaisar. Bahkan sebelum putri hamba tiada, mendiang Chu Pian Ran juga sudah sering mengajaknya berkeliling. Jadi setelah sekian lama melakukan hal itu, Zhin Zhuan menjadi peka jiwa kemanusiaannya...," jawab tuan penasehat kerajaan.
__ADS_1
"Syukurlah jika peri itu sudah menggantikan tugasnya mendiang Nanyang, jadi nya rakyat di wilayah Qin ini terus terpelihara kehidupannya, aku pantas berterimakasih padanya. Kapan-kapan saja aku akan memanggilnya kemari untuk bicara empat mata sekaligus agar lebih mengenal dia," lanjut pria penguasa nomer satu di wilayah Qin tersebut.
"Silahkan yang mulia kaisar, nanti biar hamba yang menginformasikan padanya..."
"Kita kembali ke masalah yang tadi Tuan Chu. Menurutmu bagaimana caranya agar pelaksanaan pengadaan sekolah untuk anak-anak dari kaum rakyat jelata bisa berjalan se efektif mungkin," Kaisar Qin Shi Huang meminta masukan dari penasehatnya.
"Menurut pendapat hamba masalah ini diserahkan kepada pejabat daerah masing-masing saja yang mulia kaisar, agar pengawasannya lebih mudah dan lebih cepat...," Tuan Chu Jeong Byun menyampaikan buah pemikirannya.
"Selain itu, untuk mengadakan sekolah tersebut tidak harus memiliki gedung khusus terlebih dahulu, untuk sementara kita bisa meminjam aula atau teras penduduk yang sekiranya cukup untuk menampung anak-anak tersebut. Dan juga agar anak-anak itu tidak terlalu jauh untuk menjangkau lokasi sekolahnya, kita bisa membuat beberapa lokasi sekolah dalam tiap daerahnya," tambah tuan penasehat kerajaan yang memang sudah kemarin malam mulai memikirkan hal ini sebagai persiapan jika ditanya oleh junjungannya.
Untuk beberapa saat ruangan tersebut menjadi hening karena pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu tampak sedang berpikir.
"Menambah lagi yang mulia kaisar. Sebelum sekolah tersebut benar-benar diadakan, kita harus memiliki persiapan yang matang terlebih dahulu agar pelaksanaannya nanti bisa berjalan lancar, seperti pendataan anaknya dan jumlah mereka berapa agar perlengkapan sekolah yang didistribusikan nanti benar-benar tersalur sesuai dengan yang dibutuhkan," imbuh Tuan Chu Jeong Byun yang membuat pria nomer satu di wilayah Qin itu manggut-manggut.
"Pemikiranmu sangat bagus Tuan Chu, aku setuju."
Kedua pria itu pun kemudian terlibat perbincangan serius hingga dua jam an lebih untuk mematangkan rencana pengadaan sekolah bagi anak-anak kalangan rakyat jelata.
🌹
✳️ Setiap kepala daerah melakukan pendataan untuk semua anak yang belum pernah mengenyam bangku pendidikan.
✳️ Setelah proses pendataan selesai, setiap kepala daerah harus 'segera' melaporkan jumlah anak tersebut ke perdana menteri pengembangan sumber daya manusia.
✳️ Menyiapkan beberapa lokasi yang akan dipakai sebagai tempat untuk mengadakan kegiatan belajar.
✳️ Menyiapkan beberapa guru yang nantinya akan mengajar anak-anak tersebut.
✳️ Kepala daerah wajib menginformasikan bahwa semua perlengkapan untuk belajar nanti semuanya akan disiapkan oleh pihak kerajaan dan sekolah itu bersifat gratis alias tidak dipungut biaya sepeserpun.
Adapun pengadaan wajib belajar tersebut rencananya akan dilaksanakan dua bulan setelah laporan jumlah anak-anak yang belum pernah mengenyam bangku pendidikan sampai di meja perdana menteri pengembangan sumber daya manusia.
__ADS_1
Begitu surat-surat tersebut selesai dibuat dan distempel, dengan segera Kaisar Qin Shi Huang memanggil Kasim Liu agar memerintahkan beberapa prajurit yang akan ditugaskan untuk mengirimkan surat-surat tersebut.
Sesudah diberi penjelasan oleh Kasim Liu, tanpa menunggu lama, beberapa prajurit tersebut segera berangkat ke beberapa daerah yang ada di wilayah Qin untuk menyampaikan surat-surat itu kepada kepala daerah masing-masing.
Sementara itu di pihak Tuan Chu Jeong Byun, seperti yang telah dijanjikannya bahwa keluarganya akan menjadi donatur, maka pria paruh baya tersebut, dengan uang hasil penjualan berlian, dia memerintahkan beberapa asistennya untuk membeli perlengkapan tulis yang nantinya akan dibagikan ke setiap anak yang akan mengikuti kegiatan sekolah, seperti : buku tulis, tinta, kuas tulis, maupun perlengkapan tulis lainnya, yang dikemas dalam buntelan kain sambil menunggu jumlah laporan dari masing-masing kepala daerah sampai di perdana menteri pengembangan sumber daya manusia.
Sedangkan Kaisar Qin, seusai membuat surat, pria penguasa nomer satu di wilayah Qin tersebut memerintahkan para guru-guru profesional yang ada di wilayah Qin untuk menulis materi pelajaran yang kemudian akan disalin oleh orang-orang yang telah ditunjuk, yang buku tersebut nantinya akan dijadikan sebagai buku pelajaran dan disalurkan kepada setiap anak-anak yang akan mengikuti kegiatan sekolah bersamaan dengan perlengkapan tulis yang disiapkan oleh pihak tuan penasehat kerajaan.
Tentu saja untuk proses penyalinan buku-buku pelajaran tersebut perlu dana untuk mengupah orang-orang yang akan diutus menyalin dan hal itu sudah diatasi oleh Tuan Chu Jeong Byun.
Sesampainya surat tersebut di masing-masing kepala daerah, maka dengan segera pejabat daerah itu memerintahkan beberapa asistennya untuk melakukan pendataan yang tentu saja harus terjun ke lapangan langsung dengan memasuki rumah-rumah penduduk.
Selama proses pendataan berlangsung, masing-masing pegawai wajib memberikan kata-kata pengantar kepada keluarga si anak berkenaan dengan program wajib belajar yang akan diselenggarakan berdasarkan titah Kaisar Qin. Tentu saja rencana itu disambut baik dan senang hati oleh semua rakyat, karena anak-anak mereka akhirnya bisa mengenyam bangku pendidikan secara gratis.
🌹
Tahap demi tahap pun telah selesai dilakukan, hingga dua bulan kemudian kegiatan belajar (sekolah) untuk anak-anak dari kaum rakyat jelata pun mulai dilaksanakan yang ternyata mendapat respon yang sangat positif dari anak-anak tersebut. Mereka begitu semangat selama mengikuti kegiatan sekolah.
Adapun untuk upah para guru pengajarnya juga disediakan oleh Tuan Chu Jeong Byun dari uang hasil penjualan berlian, yang pengiriman upah tersebut dilakukan dengan sistem rapelan, yang dikirim setahun sekali lewat kepala daerah masing-masing sebagai upah selama 12 bulan untuk masing-masing guru. Sementara itu, untuk peralatan tulis anak-anak akan disuplai setiap sebulan sekali oleh tuan penasehat kerajaan juga.
Karena melihat pengorbanan besar yang Tuan Chu Jeong Byun berikan dalam pengadaan sekolah bagi anak-anak dari kalangan rakyat jelata, maka semakin lama, para pejabat istana yang lain pun banyak yang turut menyumbangkan hartanya untuk keperluan sekolah tersebut kecuali pihak perdana menteri yang masih memiliki sifat 'kolot' terhadap tradisi lama.
Jadwal kegiatan pembelajaran itu sendiri diadakan selama 4 hari per minggunya dan masing-masing guru wajib menggali bakat atau kemampuan yang dimiliki oleh para siswanya sehingga talenta mereka tidak terbuang sia-sia.
Apabila di suatu hari, kepala daerah menemui suatu kendala yang tidak bisa diselesaikan secara intern dengan para pegawainya terkait sekolah khusus tersebut, maka pejabat daerah tersebut dipersilahkan menyampaikan keluhannya berupa surat dan dikirimkan kepada perdana menteri pengembangan sumber daya manusia yang akan diteruskan kepada Kaisar Qin.
Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan
Setelah menyaksikan bahwa sekolah khusus tersebut menghasilkan banyak hal yang positif bagi kehidupan anak-anak maupun keluarganya, maka mulai terketuklah hati para penduduk yang berasal dari kalangan menengah ke atas untuk menyumbangkan sebagian kekayaan mereka demi terus berlangsungnya sekolah tersebut yang pengumpulannya diserahkan pada bendahara daerah setempat.
Dari hasil uang sumbangan itu, para pejabat daerah dapat menyediakan fasilitas atau kebutuhan yang sekiranya mendukung kegiatan belajar yang tidak mendapat bantuan dari pihak kerajaan, seperti : membuatkan sepatu sekolah, menjahitkan seragam sekolah, maupun kebutuhan lainnya.
__ADS_1
🌹🌹🌹