
Markas Prajurit Qin di Perbatasan
Pada suatu malam saat dua orang prajurit sedang berpatroli, mereka secara tidak sengaja melihat sinar putih berkelip-kelip di tanah.
Dua prajurit itu kemudian berjalan mendekati sinar itu. Setelah berjongkok terlihatlah oleh mereka sebuah kelereng yang terus menerus berkelip-kelip. Salah seorang prajurit itu kemudian mengambil kelereng aneh itu.
"Aneh sekali, baru kali ini aku melihat kelereng yang bisa berkelip-kelip seperti ini." Kata prajurit yang mengambil kelereng tadi sambil mengamat-amati benda yang dipegangnya itu.
"Sudahlah sebaiknya kau simpan dulu benda itu. Sekarang kita lanjutkan tugas kita lagi." Kata prajurit satunya mengingatkan.
Sambil menyimpan kelereng itu di saku seragamnya, prajurit tadi bersama temannya kembali melanjutkan patrolinya.
Keesokan harinya terlihatlah beberapa orang prajurit sedang berkerumun.
Rupanya mereka sedang memperhatikan kelereng aneh yang ditemukan oleh temannya kemarin malam.
Secara kebetulan Qin Wu Zhu melihat kerumunan itu lalu pemuda itu mendekati mereka.
"Hem!" Qin Wu Zhu berdehem.
Secara refleks para prajurit itu membuyarkan kerumunan dan memberi hormat pada pangeran kedua Qin itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Qin Wu Zhu.
"Maaf yang mulia pangeran kami tadi hanya sedang melihat kelereng aneh yang ditemukan oleh Jin Er dan Kung Er kemarin malam." Jawab seorang prajurit.
"Kelereng aneh? Coba perlihatkan padaku." Kata Qin Wu Zhu.
Prajurit yang bernama Jin Er lalu merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan kelereng aneh yang dimaksud.
"Ini yang mulia pangeran." Ucap Jin Er sambil menyerahkan kelereng itu pada Qin Wu Zhu.
Untuk sesaat pemuda itu mengamat-amati benda yang dipegangnya.
Baru kali ini aku melihat kelereng bisa berkelip-kelip seperti ini. Batin Qin Wu Zhu.
"Benda ini aku bawa ya. Dan kalian lanjutkan tugas kalian." Ujar Qin Wu Zhu.
"Siap yang mulia pangeran." Balas prajurit itu serempak.
Qin Wu Zhu lalu berbalik arah dan berjalan menuju ke kamarnya. Sekali lagi pemuda itu mengamat-amati kelereng aneh itu.
Sepuluh menit kemudian pemuda itu mengambil sebuah kotak kecil dari dalam lemari kecilnya dan menyimpan benda itu di kotak tersebut.
2 hari kemudian
Malam hari saat Qin Wu Zhu sedang tidur, tiba-tiba dia terbangun karena mendengar bunyi 'klotak-klotak' beberapa kali dari arah lemari kecilnya.
Pemuda itu menajamkan pendengarannya untuk memastikan sumber suara itu.
Setelah yakin jika sumber suara itu dari lemari, Qin Wu Zhu turun dari ranjangnya dan melangkah mendekati lemari.
Sesudah pintu lemari dibuka suara itu muncul kembali dan ternyata sumber suara itu berasal dari kotak kecil tempat dia menyimpan kelereng aneh dua hari yang lalu.
Pemuda itu lalu mengambil kotak kecil itu lalu membukanya.
Saat ini kelereng itu tidak berkelip-kelip lagi namun bersinar terus dengan cahaya agak redup. Selain itu benda bulat itu juga mengeluarkan asap putih terus menerus.
Qin Wu Zhu merasa heran dan kedua alisnya mulai berkerut.
Pemuda itu lalu duduk di tepi ranjang sambil tangan kanannya memegang kotak kecil berisi kelereng aneh.
__ADS_1
Selama lima belas menit kelereng itu terus seperti itu.
Akhirnya Qin Wu Zhu meletakkan kotak itu di samping kiri bantalnya dan dia melanjutkan tidurnya lagi.
Keesokan siang harinya...
Qin Wu Zhu membawa sebuah kotak kecil berisi kelereng aneh dan berniat memperlihatkan benda itu pada pamannya.
Jenderal Long Yuan yang saat itu sedang berlatih pedang di depan kamarnyapun menghentikan latihannya ketika melihat keponakannya datang.
Pria paruh baya itu melihat sebuah kotak kecil di tangan kanan keponakannya.
"Apa yang kau bawa itu Zhu Er?" Tanya Long Yuan.
"Ada benda aneh yang ingin kuperlihatkan pada paman. Kita masuk ke dalam kamar paman saja." Balas Qin Wu Zhu.
Kedua pria itu lalu masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
Qin Wu Zhu lalu membuka kotak kecil itu dan memperlihatkan isinya pada pamannya.
Jenderal Long Yuan merasa heran dengan benda mirip kelereng itu.
"Apa paman tahu ini benda apa?" Tanya Qin Wu Zhu.
"Darimana kau mendapatkan benda ini?" Bukannya menjawab pertanyaan keponakannya, pria paruh baya itu malah balik bertanya.
"Dua orang prajurit secara kebetulan menemukan benda ini lalu aku memintanya dan menyimpannya. Awalnya benda ini berkelip-kelip paman, tapi sejak kemarin malam sampai sekarang menjadi seperti ini." Terang Qin Wu Zhu.
"Dari buku kuno yang pernah aku baca, kalau tidak salah benda ini namanya mustika." Ucap Long Yuan.
"Mustika? Benda apa itu paman?" Tanya Qin Wu Zhu.
"Sebaiknya kau simpan baik-baik benda itu dan terus perhatikan perubahannya. Aku yakin benda ini akan berubah lagi lebih dari sekarang ini." Sambung Long Yuan.
"Baik paman." Sahut Qin Wu Zhu.
Selanjutnya kedua pria itu mengamat-amati benda itu untuk beberapa saat.
Satu minggu kemudian...
Benda yang disebut mustika oleh jenderal Long Yuan saat ini memancarkan sinarnya secara penuh dan mengeluarkan asap putih secara terus menerus.
Kedua pria itu kini sedang memperhatikan mustika yang masih ada di kotak kecil di atas meja.
Tiba-tiba saja mustika itu terangkat dari dalam kotak.
Jenderal Long Yuan dan Qin Wu Zhu lumayan kaget dibuatnya.
Beberapa detik kemudian mustika itu melayang pelan dan turun ke bawah beberapa senti dari lantai.
Melihat keanehan itu secara serempak Long Yuan dan Qin Wu Zhu bangkit dari kursi dan mendekati benda itu.
Beberapa saat kemudian keluarlah untaian-untaian cahaya dari mustika itu.
Jenderal Long Yuan dan Qin Wu Zhu mundur satu langkah dari benda tersebut.
Untaian-untaian cahaya itu makin lama makin banyak dan membentuk sketsa manusia.
Awalnya sosok manusia itu tidak jelas, namun setelah lima belas menit kemudian sosok itu terlihat jelas dan itu adalah sosok perempuan.
Qin Wu Zhu yang mengenal siapa perempuan itu pun langsung berseru.
__ADS_1
"Nona Chu!"
Dengan segera Qin Wu Zhu menghampiri gadis yang tergeletak itu. Jenderal Long Yuan yang sempat terkaget akhirnya ikut berjongkok.
"Nona Chu." Qin Wu Zhu berusaha membangunkan gadis itu tapi gagal.
Tak menunggu lama Long Yuan bangkit berdiri dan pergi keluar kamar untuk memanggil tabib yang ada di markas.
Kini tubuh Chu Pian Ran telah dibaringkan di atas ranjang dan sedang diperiksa denyut nadinya oleh tabib Suo.
"Bagaimana keadaannya tabib?" Tanya Qin Wu Zhu dengan wajah cemas.
"Yang mulia pangeran, denyut nadi nona ini sangat lemah dan tubuhnya kurang nutrisi. Menurut perkiraan hamba gadis ini bisa tak sadarkan diri hingga satu minggu ke depan." Terang tabib Suo.
"Masalah pengobatannya aku serahkan padamu tabib, yang penting dia harus sehat kembali." Ucap Qin Wu Zhu.
"Baik yang mulia pangeran, hamba akan berusaha sebaik mungkin. Dan sekarang hamba mohon undur diri untuk membuat ramuan herbal untuk nona ini." Balas tabib Suo.
Sepeninggal tabib Suo, jenderal Long Yuan pergi keluar kamar dan memanggil dua orang prajuritnya.
Prajurit yang satu dia perintahkan untuk mencari seorang perempuan di pemukiman penduduk dekat markas yang nantinya akan diupah untuk merawat nona Chu selama gadis itu sakit.
Sementara prajurit lainnya dia perintahkan untuk membeli beberapa pakaian perempuan.
Jenderal Long Yuan kemudian mengumpulkan semua prajurit yang ada di markas itu terkait dengan keberadaan nona Chu yang ada di markas.
Semua prajurit itu terkejut dan menyimpan tanda tanya besar saat jenderal Long Yuan memberitahu bahwa nona Chu putri penasehat kerajaan yang diculik mata-mata Lian tiba-tiba sudah ada di dalam markas.
Jenderal Long Yuan memerintahkan semua penghuni markas untuk menyimpan rahasia keberadaan nona Chu dan menyuruh prajuritnya untuk siaga secara bergilir selama 24 jam.
Tanpa banyak tanya, semua prajurit itu langsung melaksanakan perintah jenderal Long Yuan.
Sejak hari itu penjagaan di markas diperketat.
Tiga puluh menit kemudian datanglah seorang prajurit bersama seorang gadis untuk menemui jenderal Long Yuan.
Sedangkan prajurit satunya yang dia perintahkan untuk membeli beberapa baju perempuan telah kembali lima menit yang lalu.
Setelah gadis itu diberi beberapa arahan oleh pria paruh baya itu dengan segera gadis itu melaksanakan perintah jenderal Long Yuan.
Kini di kamar tempat Chu Pian Ran dibaringkan hanya tersisa Chu Pian Ran dan gadis pelayan itu.
Dengan cekatan gadis pelayan itu membersihkan tubuh Chu Pian Ran menggunakan lap basah dan mengganti pakaiannya.
Setelah selesai gadis itu keluar kamar sambil membawa baskom, lap dan pakaian kotor Chu Pian Ran.
Qin Wu Zhu kemudian masuk ke kamar gadis itu.
Pemuda itu lalu duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan kanan Chu Pian Ran.
Wajah Qin Wu Zhu terlihat jelas sangat khawatir.
Beberapa menit kemudian jenderal Long Yuan yang hendak masuk ke kamar Chu Pian Ran langkah kakinya menjadi tertahan saat melihat tangan keponakannya itu mengelus pipi nona Chu.
Akhirnya pria paruh baya itu mengurungkan niatnya untuk masuk kamar.
Selama ini dia sangat mengenal sifat keponakannya itu. Sekalipun Qin Wu Zhu sudah berumur 23 tahun namun pemuda itu sama sekali belum pernah dekat dengan gadis manapun.
Namun hari ini jenderal Long Yuan melihat dengan mata kepala sendiri keponakannya itu mengelus pipi calon istri tuan muda Lee.
Pria paruh baya itu memiliki keyakinan bahwa keponakannya itu telah jatuh hati pada nona Chu.
__ADS_1