Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 115 Kekaguman Han Zhuo Jin Pada Chu Pian Ran


__ADS_3

Keesokan paginya, pangeran Han Zhuo Jin diajak oleh putra mahkota Qin Wu Zhang ke markas besar prajurit untuk mengecek batu-batu emas.


Begitu kedua pemuda itu masuk ke dalam markas, tampaklah tempat itu dipenuhi oleh prajurit dari kerajaan Han, sementara sebagian besar prajurit tuan rumah sendiri sedang tidak ada di markas karena telah disebar ke beberapa daerah sekitar ibukota Qin untuk mengerjakan pembangunan 'rumah khusus' bagi para tunawisma.


Karena pangeran kedua kaisar Han masih belum tahu situasi sebenarnya, maka bertanyalah pemuda itu pada Qin Wu Zhang.


"Dimana para prajurit kalian putra mahkota? Sedari masuk markas tadi, yang terlihat olehku kebanyakan adalah prajurit dari Han. Apakah mereka sedang latihan di luar?"


"Tidak pangeran. Sudah dua minggunan ini para prajurit sengaja disebar ke berbagai daerah sekitar ibukota untuk mengerjakan pembangunan 'rumah khusus' bagi para tunawisma," jawab putra mahkota Qin.


"Membangun rumah khusus untuk para tunawisma? Sepertinya baru kali ini aku mendengar ada hal semacam itu...," ucap Han Zhuo Jin jujur dengan perasaan heran.


"Kau benar pangeran... Sebelumnya, kami memang tidak terpikirkan untuk melakukan hal itu. Tapi beberapa waktu yang lalu, Nanyang menyampaikan gagasannya tentang masalah ini kepada ayahanda, dan rencana itu dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari para pejabat istana," terang Qin Wu Zhang.


"O begitu... Jadi pembangunan rumah khusus itu bermula dari idenya tuan putri Nanyang. Wah, hebat...," puji pangeran kedua kaisar Han atas gagasan cemerlang Chu Pian Ran.


"Bukan hanya itu saja pangeran... Nanyang jugalah yang menyampaikan usul agar pihak kerajaan memberikan tunjangan bulanan bagi 'rakyat khusus' dengan menggunakan pajak rakyat...," lanjut putra sulung kaisar Qin.


"Rakyat khusus yang seperti apa putra mahkota?" imbuh Han Zhuo Jin ingin tahu.


"Rakyat khusus di sini maksudnya adalah kalangan rakyat lanjut usia yang hidup sebatang kara pangeran...," jelas putra mahkota Qin.


"Luar biasa... Sepulang dari sini nanti, aku akan mencoba membicarakan hal ini pada ayahanda, siapa tahu gagasan cemerlang ini bisa diterapkan di wilayah Han juga...," ujar pangeran kedua kaisar Han.


"Silahkan pangeran... Menurutku secara pribadi, ide ini sangat lah bagus, karena dengan cara demikian para rakyat yang berkebutuhan khusus dapat menjadi lebih baik kehidupannya," timpal Qin Wu Zhang.


"Atas kemurahan para dewa, begitu ide ini disetujui oleh para pejabat istana dan mulai dilaksanakan, tiba-tiba saja Nanyang menemukan tambang emas. Jadi, hasil penjualan dari batu-batu emas itu dimanfaatkan untuk melaksanakan rencana tadi...," tambah pangeran sulung kaisar Qin.


"Begitu ya... Luar biasa sekali tuan putri Nanyang itu...," kekaguman Han Zhuo Jin pada nyonya muda Lee pun semakin bertambah.


Saat dua pemuda itu sedang berbincang, datanglah Qin Wu Zhu, lalu pangeran kedua kaisar Qin itu memberi hormat dan menanyakan kabar pada Han Zhuo Jin sebagai syarat ramah tamah.


Setelah perbincangan sebentar antara Qin Wu Zhu dengan Han Zhuo Jin, putra mahkota Qin Wu Zhang pun lalu membawa pangeran kedua kaisar Han ke gudang penyimpanan batu-batu emas, sedangkan Qin Wu Zhu melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya untuk melanjutkan kembali aktifitasnya.


"Luar biasa... Wilayah Qin kalian rupanya telah menghasilkan tambang emas yang berkualitas tinggi," kata pangeran kedua kaisar Han sambil mengamat-amati sebongkah batu emas yang dipegangnya.


"Kalau begitu, batu-batu emas ini kami beli semua saja ya... Selama ini wilayah Han selalu membeli emas dari luar, itu pun kualitasnya juga lebih rendah dari batu emas yang kalian miliki," lanjut Han Zhuo Jin sambil melempar pelan batu emas yang tadi dipegangnya ke tumpukan emas.


"Baiklah pangeran, terimakasih banyak sudah membeli batu-batu emas kami... Nanti aku akan membicarakan hal ini pada ayahanda...," balas Qin Wu Zhang.


"Kenapa berterimakasih segala putra mahkota, justru kamilah yang telah punya hutang budi pada kalian, khususnya pada tuan putri Nanyang... Jika waktu itu tuan putri tidak datang ke ibukota Han, pasti iblis jahat itu berhasil keluar dari segelnya dan menyebabkan kekacauan besar di wilayah kami. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai banyak korban jiwa yang berjatuhan akibat ulah jahatnya...," imbuh Han Zhuo Jin.


Saat sedang berbincang, kedua pemuda itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya begitu telinga mereka mendengar suara riang Lee Chu Mian Yin yang waktu itu sedang bermain kejar-kejaran dengan beberapa prajurit Han di halaman.


"Bukankah itu suara anak tuan putri Nanyang, putra mahkota? Ada apa dia datang kemari?" tanya pangeran kedua kaisar Han keheranan.


"Gadis kecil itu memang terbiasa kemari pangeran. Kami semua memprediksi, jika kelak besar nanti dia tertarik bergabung dengan kemiliteran. Bukan hanya itu saja, Lee Chu Mian Yin juga bisa berkomunikasi dengan beberapa binatang...," terang putra mahkota Qin yang tentu saja membuat Han Zhuo Jin lumayan terkejut.


"Oh ya? Gadis kecil itu bisa berkomunikasi dengan binatang? Benar-benar menarik dan luar biasa...," ujar pangeran kedua kaisar Han terkagum.


"Beberapa waktu yang lalu kakakku pernah bercerita, jika saat tuan putri Nanyang sangat panik begitu tahu bahwa iblis Qing Liong berusaha melepaskan diri dari segel mantra yang mengurungnya, dia melihat dengan mata kepala sendiri, tuan putri Nanyang berubah wujud menjadi kupu-kupu. Dan sekarang, aku mendengar dari putra mahkota jika anaknya tuan putri punya kelebihan bisa berkomunikasi dengan binatang. Semuanya benar-benar sulit dimasuk akal...," kata Han Zhuo Jin jujur.

__ADS_1


"Itulah yang namanya misteri kehidupan pangeran. Banyak hal di luar nalar yang terjadi di sekitar kita, tanpa diketahui bagaimana asal muasalnya dan mengapa hal itu bisa terjadi...," timpal Qin Wu Zhang.


"Pangeran akan merasa lebih terkejut lagi jika mendengar apa yang baru saja Nanyang alami beberapa waktu yang lalu," tambah putra sulung kaisar Qin.


"Memangnya apa yang terjadi dengan tuan putri, putra mahkota?" timpal Han Zhuo Jin sangat penasaran.


"Dia pernah dibawa Dewi Bulan ke istananya karena sesuatu hal pangeran...," jawab putra mahkota Qin terus terang.


Bagai disambar petir, pangeran kedua kaisar Han dibuat terkejut dengan jawaban Qin Wu Zhang.


"Apa?? Benarkah itu putra mahkota??" tanya Han Zhuo Jin masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar sampai-sampai matanya melebar dari sebelumnya.


"Sebaiknya pangeran tanyakan sendiri saja pada Nanyang. Jika putrinya ada di sini, pasti dia juga ada di sini, sekaligus kalian bisa saling berbincang setelah lama tidak bertemu...," saran Qin Wu Zhang yang langsung disetujui oleh Han Zhuo Jin.


Tak berapa lama, kedua pemuda itu pun keluar dari gudang. Saat kedua pasang mata mereka melihat di halaman markas, tampaklah Lee Chu Mian Yin sedang digendong di atas pundak salah seorang prajurit dari Han.


"Paman Jaang, Yin tinggiii...!!" seru gadis kecil itu kesenangan sambil melambaikan tangan kanannya pada Qin Wu Zhang.


Sebagai reaksi balasan, putra sulung kaisar Qin pun membalas melambaikan tangan dengan tersenyum pada Lee Chu Mian Yin. Begitu juga dengan Han Zhuo Jin, pemuda itu juga turut melambaikan tangan pada gadis kecil yang cantik dan menggemaskan itu.


Beberapa saat kemudian, kedua pemuda itu pun melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Qin Wu Zhu untuk mencari keberadaan Chu Pian Ran, yang ternyata perempuan cantik itu memang ada di ruangan itu sambil makan kwaci.


"Good morning handsome prince, how are you? Selamat pagi pangeran tampan, bagaimana kabarmu?"


Mendengar perkataan Chu Pian Ran yang dibumbui dengan bahasa Inggris, pangeran kedua kaisar Han merasa bingung.


"Bahasa apa itu tuan putri, kedengarannya asing sekali...," kata Han Zhuo Jin jujur.


"Itu bahasa kaum siluman pangeran Jin, maklum, sekarang dia bertemannya dengan para siluman...," sela Qin Wu Zhu sekenanya mulai menggoda adik angkatnya.


"Ye enak saja dibilang bahasa siluman, itu namanya bahasa Inggris kakakku yang masih melajaang... Di dunia modernku sana, bahasa Inggris dijadikan salah satu sebagai bahasa internasional...," timpal Chu Pian Ran sambil melempar sebuah kwaci pada kakak angkatnya yang langsung ditampik oleh pemuda tampan itu.


Tingkah adik kakak 'yang tidak biasa' itu otomatis membuat Qin Wu Zhang dan Han Zhuo Jin tersenyum geli.


"Oh ya tuan putri, apakah kau ada waktu senggang? Aku ingin berbincang denganmu...," ucap pangeran kedua kaisar Han pada perempuan cantik yang masih saja memakan kwaci tanpa rasa sungkan.


"Mulai hari ini jangan panggil aku 'tuan putri' lagi pangeran, rasanya kedengaran aneh di telingaku... Panggil saja aku 'Ran Er yang cantik'...," balas Chu Pian Ran dengan nada bicara sedikit dibuat-buat.


"Jangan ketularan virus centilnya siluman Zhin Zhuan, mendengar nada bicaramu saja membuatku mual...," potong pangeran kedua kaisar Qin dengan nada dinginnya.


"Zhin Zhuan itu bukan siluman kakakku yang betah melajaang, tapi dia peri cantik jelmaan burung pegar emas," sahut nyonya muda Lee dengan memberikan penekanan pada kata 'peri'.


"Terus saja kau mengataiku 'lajang' ya perempuan aneh...," ujar Qin Wu Zhu mulai cemberut wajahnya sambil mendelik pada adik angkatnya.


Mendapat reaksi seperti itu, Chu Pian Ran malah semakin menggoda dengan menjulurkan lidahnya pada Qin Wu Zhu.


"Kakak Jin ku yang tampan, yuk kita bicara di luar saja... Nanti kita bisa diterkam oleh singa,"


Tanpa menunggu jawaban, tangan kanan peri cantik itu pun langsung menarik tangan kiri Han Zhuo Jin dan mengajaknya duduk di salah satu area markas yang agak sepi lalu mereka berdua pun mengobrol dengan hangatnya seperti layaknya adik kakak.


Sementara itu di ruang kerja Qin Wu Zhu, tampaklah pemuda itu sedang berbincang dengan kakak sulungnya.

__ADS_1


"Sudahlah Zhu Er jangan pasang tampang masam terus, kan Nanyang tadi hanya bergurau...," ujar Qin Wu Zhang memecah kesunyian.


"Bergurau apanya, sejak jadi peri, perempuan aneh itu jadi berani meledek saja...," balas Qin Wu Zhu dingin.


"Ya itu kan karena pembawaanmu yang selalu dingin itu Zhu Er. Dia hanya berusaha agar kau sedikit lebih ceria dari sebelumnya..." putra sulung kaisar Qin berusaha memberi pengertian pada adik kandungnya.


"La memang dari kandungan ibu sudah dicetak seperti ini kak...," jelas pangeran kedua kaisar Qin yang ada benarnya juga.


Tak ingin memperpanjang masalah, putra mahkota Qin pun mengalihkan pembicaraan.


*


Setelah puas bermain dengan beberapa prajurit Han, Lee Chu Mian Yin pun melangkahkan kakinya dan mendekat pada ibunya.


"Ibu Yan Yan, Yin haus...," ucap bibir mungil gadis kecil itu dengan wajah terlihat berkeringat.


"Iya sayang, nanti minta minum pada paman Zhu Er ya. Sekarang keringatnya di lap dulu...," balas Chu Pian Ran lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya dan memberikannya pada putrinya, yang kemudian dipakai oleh Lee Chu Mian Yin untuk mengelap keringatnya.


Setelah memasukkan sapu tangannya ke saku bajunya kembali, nyonya muda Lee pun membawa putri kecilnya ke ruang kerja Qin Wu Zhu untuk meminta teh pada pemuda itu dengan diikuti oleh Han Zhuo Jin di belakang mereka berdua.


"Paman Ju, i want tea...," ucap bibir mungil Lee Chu Mian Yin yang spontan membuat beberapa pemuda yang ada di ruangan itu sedikit terkejut.


Tanpa mereka ketahui, selama dua bulan terakhir, Chu Pian Ran mulai mengajari putrinya bahasa Inggris sedikit demi sedikit.


Karena belum ada reaksi dari pamannya yang tampan itu, Lee Chu Mian Yin mengulangi kata-katanya sambil menepuk tangan kiri pemuda itu.


"Paman Ju Eng, Yin haus, ingin minyum tea...,"


Begitu tersadar, maka dengan segera, Qin Wu Zhu pun menuangkan teh ke cangkir hingga beberapa kali sampai gadis kecil itu puas minum.


"Tlimakasih banyak paman Ju Eng yang baik...," kata Lee Chu Mian Yin yang mengundang senyum para pemuda yang ada di ruangan itu.


"Ibu Yan Yan, yuk kita pulang...," ajak gadis kecil itu sambil melihat pada ibunya.


"Pamit dulu pada semua paman, sayang...," balas nyonya muda Lee dan langsung dituruti oleh putri kecilnya.


"Paman Jang, paman Ju, paman Jhin, Yin Eng pulang dulu ya... Kapan-kapan ketemu lagi...,"


"Iya sayang, hati-hati di jalan ya..." sahut Qin Wu Zhang.


"Da da paman-paman semuanya...,"


Lee Chu Mian Yin melambaikan tangannya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dengan diikuti oleh ibunya di belakangnya.


Saat melewati kumpulan prajurit Han, gadis kecil itu pun berseru.


"Paman plajulit, Yin Eng pulang dulu yaaa...!!" teriak gadis cilik itu sambil melambaikan tangan kanannya dengan gaya menggemaskan, dan mendapat balasan lambaian tangan juga dari para prajurit itu.


Sesampainya di kediaman Chu, waktu makan siang pun telah tiba. Setelah makan bersama dengan anggota keluarganya, seperti biasa, Chu Pian Ran akan berkeliling ke salah satu penjuru wilayah Qin.


Setelah berpamitan dengan anggota keluarganya dan merubah wujudnya menjadi seberkas cahaya, peri cantik itu pun mulai menjelajah kembali di wilayah Qin bagian utara, dan tak lupa dia membawa buntelan berisi uang koin emas.

__ADS_1


Sesudah berkeliling selama satu jam, saat sedang terbang pelan di atas sebuah hutan lebat dalam perjalanan pulangnya, tampaklah oleh Chu Pian Ran, ada sosok manusia mini semacam kurcaci, sedang lari ketakutan karena dikejar-kejar oleh seekor harimau dewasa.


Menyaksikan kejadian itu, maka dengan segera, nyonya muda Lee pun merubah wujudnya menjadi manusia lalu dengan jari telunjuk dan jari tengahnya, dia melepaskan cahaya putih tepat di kepala binatang itu agar si harimau berhenti mengejar sosok pendek tadi.


__ADS_2