Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 111 Gagasan Chu Pian Ran (1)


__ADS_3

"Terimakasih banyak tuan putri... Saya tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan tuan putri...," kata paman si penjual gulali.


"Paman tidak perlu sungkan... Bukankah dalam kehidupan kita sebagai manusia, 'yang kuat' harus membantu 'yang lemah'... Sudah ya paman, kami mau melanjutkan perjalanan dulu..." ujar Chu Pian Ran.


"Iya tuan putri, silahkan...," balas pria itu.


"Dah ulu ya aman... Yin mo lan lan na..." ucap bibir mungil Lee Chu Mian Yin sambil tangan kirinya menunjuk ke arah jalan yang akan dilewatinya nanti karena tangan kanannya sedang memegang gagang permen gulali.


"Iya gadis kecil yang cantik, sampai ketemu lagi ya...," sahut si penjual gulali sambil melambaikan tangan kanannya dan tersenyum pada Lee Chu Mian Yin.


Kini, tampaklah ibu dan anak itu sedang melanjutkan perjalanannya. Karena gadis cilik itu berjalan sambil menjilati gulalinya, maka perjalanan mereka lebih lambat dari sebelumnya.


Sekitar sepuluh menitan kemudian, terlihatlah oleh mata Chu Pian Ran, ada dua orang peminta-minta perempuan yang sudah tua, duduk di tepi seberang jalan yang terpaut jarak sekitar lima meteran satu sama lainnya.


"Yin Er sayang, di sana ada dua orang peminta-minta, Yin Er beri uang ke mereka ya nak, biar permen gulalinya nanti ibu yang bawa... Yuk, kita ke sana...," ucap nyonya muda Lee dengan posisi tubuh jongkok agar sejajar dengan putrinya sambil tangan kanannya menunjuk pada dua orang peminta-minta itu.


"Iya bu Yan Yan...,"


Tak berapa lama, Chu Pian Ran pun mengajak putrinya untuk mendekati dua orang peminta-minta itu, lalu nyonya muda itu mengeluarkan empat keping koin emas dari kantongnya, dan kemudian diberikannya yang dua keping kepada putrinya, sementara perempuan cantik itu mengambil alih permen gulali dari tangan kanan gadis cilik itu.


Beberapa detik kemudian, Lee Chu Mian Yin pun melangkahkan kaki mungilnya mendekati salah satu peminta-minta itu dengan diikuti oleh ibunya dari belakang.


"Nek, ni wang tuk da...," kata gadis cilik menggemaskan itu sambil menyerahkan dua uang koin emas yang diberikan oleh ibunya tadi.


Begitu menerima dua uang koin emas itu, si nenek peminta-minta menjadi sangat terharu, bahkan matanya sampai merah berair karena senangnya.


"Terimakasih banyak ya gadis kecil yang cantik, nyonya muda... Saya tidak mengira, jika hari ini saya akan mendapatkan uang sebanyak ini...," ujar nenek peminta-minta itu.


"Pakailah uang itu untuk memenuhi kebutuhanmu nek... Jika lain hari nenek membutuhkan sesuatu, datang saja ke kediaman tuan Lee Jiang Xun atau tuan Chu Jeong Byun, niscaya nenek akan dibantu..." ucap peri cantik itu.


"Iya nyonya muda, sekali lagi terimakasih banyak... Kiranya para dewa selalu melimpahkan anugerahnya pada keluarga nyonya muda...," balas nenek peminta-minta itu lalu sedikit membungkukkan badannya sambil kedua tangannya menangkup di depan sebagai wujud rasa terimakasihnya.


Setelah itu, Chu Pian Ran pun mengajak putri kecilnya beralih dari tempat itu lalu memberikan dua keping uang koin emas yang tersisa tadi pada Lee Chu Mian Yin untuk diserahkan pada nenek peminta-minta yang satunya lagi.


Tak beda dengan nenek peminta-minta sebelumnya, wanita tua kedua itu pun juga memberikan reaksi yang sama sesudah menerima dua keping koin emas itu.


Berdasarkan penerawangan Chu Pian Ran, rupanya, dua nenek peminta-minta itu masih bertetangga. Mereka berdua berasal dari sebuah desa yang tak jauh dari ibukota. Karena sudah tidak mempunyai kerabat yang merawat, akhirnya mereka berdua pun mengambil keputusan untuk mengadu nasib di ibukota dengan menjadi peminta-minta.


Mengetahui kenyataan yang demikian, timbullah keinginan nyonya muda Lee untuk menemui kaisar Qin dan membahas masalah ini.


Peri cantik itu memiliki suatu pemikiran, harusnya para rakyat yang lanjut usia dan hidup sebatang kara, para tunawisma, dan kaum rakyat sejenisnya seperti itu diberi 'tunjangan' tiap bulan dari uang pajak rakyat agar mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, terutama kebutuhan makan minum.


Sesudahnya, Chu Pian Ran dan Lee Chu Mian Yin pun melanjutkan acara jalan-jalan mereka. Setelah memberi uang koin emas pada dua peminta-minta tadi, nyonya muda Lee mengembalikan permen gulali putrinya. Dan kini terlihatlah, gadis cilik itu kembali menjilati permen gulalinya sambil berjalan.


Kebetulan saat itu, urusan Lee Jiang Wook di toko perhiasan milik keluarganya sudah selesai. Saat ayah muda tampan itu sedang dalam perjalanan pulang, dari jarak puluhan meter di depannya, dia melihat sosok istri dan putrinya sedang berjalan di tepi seberang jalan. Maka, bergegaslah Lee Jiang Wook untuk menghampiri dua orang yang sangat dicintainya itu.


"Yah Uk, yah Uk, bu Yan Yan dah lang...," seru Lee Chu Mian Yin ketika melihat ayahnya sedang berjalan di seberang jalan untuk mendekati mereka.

__ADS_1


Begitu telah sampai di depan istri dan anaknya, tanpa mempedulikan sekitarnya, ayah muda itu pun mencium pipi kanan istrinya.


"Kau sudah pulang sayang?" tanya Lee Jiang Wook sambil matanya menatap mata perempuan cantik itu.


"Sudah sekitar empat puluh lima menitan yang lalu suamiku...," jawab Chu Pian Ran.


"Kau baik-baik saja kan?" lanjut ayah muda itu.


"Aku baik-baik saja suamiku, tidak ada yang perlu kau khawatirkan...," balas istrinya.


Akhirnya, bergabunglah Lee Jiang Wook untuk menemani istri dan putrinya jalan-jalan.


****


Sore itu, tampaklah Lee Jiang Wook sedang duduk berdekatan di tepi ranjang bersama istrinya, sementara putri kesayangan mereka sedang belajar dengan neneknya di ruang belajar pribadinya.


Saat berumur tiga tahun, Lee Chu Mian Yin telah dibuatkan ruang belajar sendiri yang di dalamnya berisi segala buku-buku, mainan, dan barang lainnya yang merangsang kecerdasan otak gadis cilik itu.


"Sekarang kau sudah menjadi peri sayang...," kata Lee Jiang Wook sambil menatap lekat istrinya.


"Iya suamiku... Awalnya, saat aku diberitahu bibi Chang'e tentang hal ini, aku sangat terkejut. Tapi akhirnya, mau tidak mau aku harus menerima kenyataan ini...," sahut Chu Pian Ran.


"Aku harap dengan status baruku ini tidak menjadi beban dalam pikiranmu suamiku... Apapun statusku, aku tetap istrimu, ibu dari anak kita, dan anggota dari keluarga kita...," lanjut perempuan cantik itu.


"Jujur, aku sempat terbeban dengan hal itu sayang... Aku tidak bisa membayangkan kau bisa berumur hingga ribuan tahun...," ucap ayah muda itu terus terang.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu suamiku... Sebaiknya, kita jalani saja apa yang ada di depan dan berusaha menikmatinya..." ujar nyonya muda Lee sambil menatap mata suaminya.


"Kau memanggil Dewi Chang'e dengan sebutan 'bibi' sayang?" lanjut Lee Jiang Wook keheranan saat tadi mendengar istrinya menyebut 'bibi' pada Dewi Bulan.


"Itu keinginan beliau sendiri agar aku memanggilnya 'bibi' suamiku... Selain itu, aku juga diperkenalkan pada Dewa Fuxin, si Dewa Bintang, yang juga memintaku memanggilnya 'paman'...," jelas Chu Pian Ran.


" Istana Bulan sangat bagus sekali suamiku... Andai saja aku bisa membawamu dan putri kita ke sana...," sambung peri cantik itu.


"Sepertinya itu tidak mungkin istriku... Dari cerita yang aku baca dan dengar, para dewa-dewi tidak diijinkan membawa manusia ke dunia atas jika tidak ada hal yang sangat penting dan khusus seperti kasus yang terjadi pada dirimu," ucap ayah muda tampan itu.


"Ya siapa tahu saja bibi Chang'e mengijinkanku mengajak Yin Er ke sana suamiku, putri kita pasti akan senang sekali... Lain kali saja jika aku berkunjung ke Istana Bulan lagi, aku akan coba meminta ijin pada Dewi Bulan, apakah boleh mengajak Yin Er ke sana atau tidak," imbuh nyonya muda itu.


Mendengar perkataan istrinya barusan, Lee Jiang Wook pun terkejut.


"Memangnya kau bisa pergi ke Istana Bulan lagi sayang?" tanya suaminya penasaran.


"Bisa suamiku... Bibi Chang'e sendiri yang mengajariku caranya agar aku bisa pergi atau pulang antara dunia bawah dan dunia atas. Bahkan, beliau juga memintaku agar berkunjung ke sana jika aku ada waktu senggang atau saat aku membutuhkan bantuannya," terang peri cantik itu.


Lagi-lagi ayah muda itu terhenyak hingga terbengong sesaat karena masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya, sampai-sampai istri tercintanya menggerak-gerakkan telapak tangan kanannya untuk menyadarkan suaminya itu.


"Tapi kau harus tetap hati-hati istriku, jangan sampai saat kau sedang melintas di dunia atas, dan bertemu dewa dewi lain atau bahkan mahkluk jahat, kau kena marah atau hukuman atau hal yang tidak diinginkan lainnya...," ucap Lee Jiang Wook berusaha mengingatkan istrinya.

__ADS_1


"Iya suamiku tersayaang, tentu saja aku akan berhati-hati saat akan ke sana nanti...," balas Chu Pian Ran dengan pengucapan kalimat yang sengaja dibuat berbeda untuk meyakinkan suaminya.


"Oh ya suamiku, besok pagi aku akan pergi ke istana untuk bertemu dengan kaisar karena ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan beliau...," kata nyonya muda itu kembali serius.


"Hal penting apa yang ingin kaubicarakan dengan yang mulia kaisar istriku?" tanya ayah muda tampan itu.


"Tadi sewaktu jalan-jalan, ada dua orang peminta-minta yang sudah tua umurnya. Setelah aku terawang, ternyata mereka berdua hidup sebatang kara, dan akhirnya mereka datang ke ibukota untuk mengadu nasib dengan menjadi peminta-minta. Tiba-tiba, muncul suatu gagasan di benakku untuk memberi masukan pada kaisar, agar rakyat dari kalangan semacam mereka di beri tunjangan bulanan sehingga mereka bisa makan minum setiap hari," terang nyonya muda itu.


"Begitu ya... Menurutku gagasanmu baik sekali. Seharusnya, rakyat golongan ekonomi mampu memiliki sikap yang lebih peka dengan keadaan rakyat semacam itu daripada menghamburkan hartanya hanya sekedar untuk pamer penampilan atau hal tak berguna lainnya...," ujar Lee Jiang Wook.


"Itulah manusia suamiku... Mereka memiliki cara berpikir dan gaya hidup yang berbeda-beda, asalkan bagi mereka hal itu mendatangkan kesenangan atau kepuasan akan rela mereka lakukan, tanpa peduli jika di sekitar mereka banyak orang yang sedang kesusahan bahkan untuk sekedar makan sehari sekali saja," timpal Chu Pian Ran.


"Satu lagi suamiku... Setelah aku menjadi peri dan memiliki kekuatan supranatural berlipat dari sebelumnya, mulai besok aku akan berpatroli di wilayah Qin dan sekitarnya setiap satu jam atau dua jam per hari. Dengan kemampuanku sekarang, aku bisa berubah menjadi seberkas cahaya yang bisa terbang dengan super cepat seperti kemarin. Perjalananku dari dunia atas ke ibukota Qin saja hanya menghabiskan waktu sekitar dua jam," lanjut peri cantik itu.


"Benarkah? Secepat itu?" tanya suaminya lagi-lagi masih tidak percaya sambil menatap istrinya.


"Iya suamiku, aku tidak berbohong...," jawab istrinya berusaha meyakinkan suaminya.


"Hebat sekali...," gumam Lee Jiang Wook pelan.


"Kau pasti bangga punya istri hebat seperti aku kan suamiku...," ucap Chu Pian Ran.


"Bangga sih bangga istriku, tapi dengan kemampuanmu yang sekarang ini, jangan-jangan musuh yang akan kau hadapi nanti juga akan lebih kuat dari sebelumnya...," sahut ayah muda itu.


"Jangan dibiasakan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi suamiku... Itu akan bisa membuat hidup terasa berat. Lebih baik kita jalani saja yang ada di depan kita," kata peri cantik itu memberi masukan pada suaminya.


****


Ruang kerja kaisar Qin Shi Huang


"Selamat pagi ayahanda...," sapa Chu Pian Ran begitu kakinya telah melewati ambang pintu ruang kerja ayah angkatnya.


Tanpa dipersilahkan duduk dulu oleh kaisar Qin, peri cantik itu langsung duduk di kursi yang tak jauh dari meja kerja ayah angkatnya.


"Kau sudah pulang Nanyang?" tanya kaisar Qin Shi Huang dengan perasaan sedikit terkejut dan bangga karena putri angkatnya sekarang menjadi seorang peri.


"Sudah kemarin pagi ayahanda...," balas nyonya muda Lee.


"Bagaimana perasaanmu sekarang setelah menjadi peri dan bagaimana kesanmu diajak ke Istana Bulan oleh Dewi Bulan?" lanjut pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu sangat penasaran.


"Luar biasa ayahanda... Setelah menjadi peri, tubuhku rasanya ringan sekali dan energi yang ada dalam badanku ini rasanya sangat kuat... Istana Bulan sendiri sangat mengagumkan ayahanda, rasanya aku ingin tinggal lama di sana, tapi itu tidak mungkin karena aku punya anggota keluarga di bumi ini...," terang Chu Pian Ran.


"Hebat sekali kau nak, bisa merasakan tinggal di Istana Bulan, aku benar-benar iri padamu...," ucap kaisar Qin Shi Huang jujur.


"Aku sendiri juga tidak menyangka akan menjalani hidup yang tidak biasa seperti ini ayahanda... Semuanya di luar kendaliku...," timpal peri cantik itu.


"Kedatanganku kemari karena ada hal penting yang kubicarakan dengan ayahanda...," lanjut Chu Pian Ran mulai mengalihkan pembicaraan ke hal inti.

__ADS_1


"Hal penting apa itu Nanyang?" tanya kaisar penasaran.


"Aku ingin menyampaikan saran agar ayahanda menyediakan tunjangan bulanan dari penghasilan uang pajak untuk rakyat kalangan lanjut usia yang hidup sebatang kara, atau semacamnya. Termasuk di dalamnya para rakyat yang sekalipun masih muda, hidup sebatang kara namun fisiknya tidak kuat untuk mencari nafkah. Dan bahkan untuk kaum tunawisma yang tidak punya tempat tinggal yang hidupnya tak menentu di jalanan...," terang nyonya muda Lee.


__ADS_2