
Kediaman Tuan Lee
Satu minggu sudah Lee Jiang Wook tidak sadarkan diri. Selama satu minggu itu pula, secara rutin tiga jam per hari Chu Pian Ran menyalurkan kekuatan supranaturalnya untuk mengobati tunangannya itu.
Sejak Lee Jiang Wook dibawa pulang dalam keadaan tak berdaya, Chu Pian Ran dengan setia menemani pemuda itu.
Sebagai rasa empati atas musibah yang dialami oleh tunangan putri angkatnya, kaisar Qin sering mengirimkan obat herbal kualitas tinggi di kediaman Lee.
Selain itu, kaisar Qin juga meminta kepada putra-putranya untuk sesekali menjenguk Lee Jiang Wook.
Saat ini Chu Pian Ran sedang duduk di tepi ranjang Lee Jiang Wook dengan kedua tangannya menggenggam tangan kanan pemuda itu.
Wajah Chu Pian Ran terlihat sedih menatap tunangannya yang tak berdaya.
Tangan kanan gadis itu lalu terulur dan mengusap-usap pipi Lee Jiang Wook.
Sayang, aku janji akan memberi pelajaran pada orang yang telah membuatmu seperti ini... Kau bertahanlah... Batin Chu Pian Ran.
tok tok tok
Terdengar ketukan pelan di pintu kamar. Gadis itu menoleh dan terlihatlah sosok Qin Wu Zhu.
Pemuda itu lalu melangkahkan kakinya dan masuk ke kamar mendekati Chu Pian Ran.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Qin Wu Zhu pelan dengan masih berdiri.
"Seperti yang kau lihat, dia masih tidak sadarkan diri... Menurut pemeriksaanku tadi kemungkinan dia akan mengalami kelumpuhan..." Jelas gadis itu dengan pelan juga.
"Benarkah? Apakah tidak ada obat untuk menyembuhkan dia?" Lanjut Qin Wu Zhu.
"Untuk saat ini aku belum tahu, yang penting sekarang luka-luka di sekujur tubuhnya dan organ dalamnya yang harus disembuhkan terlebih dahulu." Balas Chu Pian Ran.
Qin Wu Zhu lalu berpindah dari tempatnya berdiri, mengangkat sebuah kursi dan meletakkannya di dekat Chu Pian Ran kemudian duduklah dia di kursi itu.
"Jika kau lelah sebaiknya kau istirahat, tidak baik memaksakan diri untuk menjaganya terus..." Ucap Qin Wu Zhu setelah melihat wajah gadis yang ada di depannya itu sedikit pucat.
"Jangan khawatir aku tidak apa-apa." Sahut Chu Pian Ran.
"Kau sudah makan?" Tambah pemuda itu.
"Sudah." Jawab Chu Pian Ran singkat.
"Sampai sekarang prajurit kita masih belum menemukan pelakunya." Kata Qin Wu Zhu.
"Sebaiknya kau tarik saja prajurit itu, aku sudah tahu siapa pelakunya. Setelah Lee sadar dan keadaannya membaik aku sendiri yang akan membereskan mereka. Jika tidak segera diberi pelajaran mereka akan mengulanginya lagi." Ujar gadis itu.
Mata Qin Wu Zhu menatap Chu Pian Ran sebentar dengan alis sedikit berkerut.
"Maksudmu mereka dari kerajaan Lian lagi?" Tanya pemuda itu.
Chu Pian Ran menganggukkan kepalanya.
"Kurang ajar, lagi-lagi mereka cari gara-gara lagi." Ucap Qin Wu Zhu dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Apa yang akan kau lakukan pada mereka? Bukankah itu terlalu berbahaya? Kau pernah diculik mereka Nanyang." Sambung pemuda itu.
"Untuk saat ini aku masih fokus pada Lee. Entah apa yang akan kulakukan pada mereka nanti masih belum kupikirkan." Balas Chu Pian Ran.
****
Satu minggu kemudian...
Di suatu sore hari, saat Chu Pian Ran menemani tunangannya, terlihatlah oleh gadis itu mata terpejamnya Lee bergerak-gerak pelan dan tak berapa lama mata pemuda itu pun terbuka.
"Kau sudah sadar sayang..." Kata Chu Pian Ran lembut.
"Apa yang terjadi denganku? Kenapa tubuhku rasanya campur aduk begini..." Tanya Lee dengan suara lemah.
"Orang dari Lian telah mencelakaimu sayang." Balas gadis itu dengan memegang pipi kiri tunangannya.
__ADS_1
"Kau pasti lapar, aku akan memberitahu pelayan untuk membuatkanmu bubur sekaligus memberitahu paman dan bibi jika kau sudah sadar. Kau tunggu di sini dulu ya..." Ucap Chu Pian Ran.
Setelah mencium kening tunangannya, gadis itu lalu bangkit berdiri dan beranjak meninggalkan kamar Lee.
Beberapa menit kemudian muncullah dari pintu, Chu Pian Ran bersama kedua orang tua Lee.
"Kau sudah sadar nak?" Ucap nyonya Lee dengan wajah cemas begitu wanita paruh baya itu duduk di tepi ranjang putranya.
Lee hanya mengangguk lemah.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" Lanjut nyonya Lee.
"Badanku rasanya campur aduk bu..." Jawab Lee lemah.
"Kau sabar ya nak, kami terus berusaha agar kau bisa sembuh seperti sediakala..." Tambah nyonya Lee.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang pelayan dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya ada mangkuk bubur dan obat.
Chu Pian Ran mengambil alih nampan itu lalu meletakkannya di atas meja. Gadis itu kemudian mengambil mangkuk berisi bubur dan menyerahkannya pada calon ibu mertuanya.
"Makan dulu ya nak, kau pasti lapar..." Kata nyonya Chu dan kemudian menyuapi bubur itu sedikit demi sedikit ke mulut putranya hingga isinya habis.
Setelah itu nyonya Chu melanjutkan menyuapi Lee dengan obat cair yang ada di mangkuk satunya.
Sesudah Lee makan dan minum obat, keluarlah Chu Pian Ran dari kamar pemuda itu untuk sementara karena kedua calon mertuanya saat ini sedang membersihkan tubuh Lee dan mengganti pakaiannya.
Tak berapa lama keluarlah nyonya Lee sambil membawa pakaian kotor Lee.
"Biar aku yang memberikannya pada pelayan bibi." Ucap Chu Pian Ran.
"Terimakasih ya sayang." Sahut calon ibu mertuanya sambil menyerahkan pakaian kotor anaknya pada gadis itu.
Wanita paruh baya itu lalu masuk lagi ke dalam kamar putranya, sementara itu Chu Pian Ran melangkah menjauh dari kamar untuk mencari pelayan.
Selama setengah jam tuan dan nyonya Lee berbincang dengan putranya kemudian mereka berdua meninggalkan kamar pemuda itu.
"Kau yang sabar ya sayang, kau harus bertahan hingga sembuh kembali..." Ucap gadis itu sambil mengelus pipi kiri tunangannya.
"Iya, jika kau bisa melewati beberapa kali masa sulitmu maka aku juga harus bisa..." Balas Lee dengan suara pelan.
"Kau mau menemaniku tidur kan?" Tanya Lee sambil menatap lekat mata gadis itu.
Iya, aku akan menemanimu tidur." Jawab Chu Pian Ran.
Tangan kiri Lee lalu memegang tangan kanan tunangannya yang saat itu ada di pipi kirinya.
Pemuda itu kemudian menciumi tangan gadis itu berkali-kali.
Dalam hati, Lee sangat beruntung memiliki kekasih seperti Chu Pian Ran.
Selain cantik dan hebat, Lee tidak pernah menjumpai kekasihnya itu tergoda oleh pemuda lain.
Karena reaksi dari obat yang diminum, maka mengantuklah Lee. Dan seperti yang dijanjikan, Chu Pian Ran menemani pemuda itu tidur sambil memeluk pinggang tunangannya.
Tak berapa lama muda mudi itu pun tertidur lelap di ranjang yang sama hingga keesokan paginya.
Pagi harinya...
Hari itu adalah jadwal tabib Xie untuk memeriksa Lee Jiang Wook.
Setelah selesai memeriksa kondisi Lee, tabib Xie meminta waktu untuk bicara berdua saja dengan tuan Lee di depan kamar pemuda itu.
Entah kenapa saat itu Lee merasa bahwa ada suatu rahasia yang akan disampaikan oleh tabib Xie pada ayahnya.
Beberapa menit kemudian masuklah kembali tuan Lee ke dalam kamar putranya, sementara itu tabib Xie mohon pamit untuk kembali ke biro kesehatan istana.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya ayah?" Tanya Lee penasaran.
"Seperti biasanya nak, tabib Xie tadi menyampaikan hasil perkembanganmu hari ini. Kau yang kuat dan sabar ya, yakinlah kau pasti bisa sembuh seperti sediakala..." Jawab tuan Lee.
__ADS_1
Lee kembali merasakan dalam hatinya jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayahnya itu, namun dia tidak berani bertanya lebih lanjut.
"Hari ini ayah ada pertemuan rutin di istana, kau baik-baiklah di sini dengan ibumu dan Ran Er."
Setelah berkata demikian, tuan Lee beranjak meninggalkan kamar putranya.
Nyonya Lee lalu mengajak mengobrol ringan putranya itu selama satu jam, setelahnya wanita paruh baya itu menyerahkan pemuda itu pada calon menantunya lalu keluar kamar.
Kini Chu Pian Ran sedang duduk di tepi ranjang tunangannya sambil kedua tangannya menggenggam tangan kanan pemuda itu.
"Sayang, kenapa aku merasa ayah seperti menyembunyikan sesuatu dariku..." Ucap Lee.
"Kau terlalu berpikir berlebihan Lee... Tabib Xie tadi hanya memberi informasi mengenai kondisimu saat ini seperti biasanya." Elak Chu Pian Ran.
"Tidak sayang, aku tidak berpikir berlebihan, firasatku mengatakan bahwa ayah menyimpan suatu rahasia tentang kondisiku saat ini." Kukuh Lee.
"Bahkan aku yakin kau juga tahu rahasia itu." Lanjut Lee dengan menatap lekat mata tunangannya itu.
Kedua mata insan itu pun beradu.
"Jika paman Lee tidak memberitahumu aku juga tidak berani mengatakannya Lee..." Sahut Chu Pian Ran.
"Ayolah sayang tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi." Pinta Lee penuh harap.
"Sebaiknya kau tanya sendiri pada paman Lee karena ini bukan wewenangku. Tapi kuharap apapun jawabannya nanti kau harus tetap kuat dan optimis bahwa kau bisa sembuh. Aku sendiri juga akan berusaha untuk mencari obat agar kau bisa seperti sediakala." Akhirnya gadis itu berkata jujur sekalipun tidak terperinci.
Siang harinya saat tuan Lee menjenguk putranya, pemuda itu mendesak ayahnya untuk jujur padanya.
Sekalipun tidak tega akhirnya tuan Chu mengatakan dengan jujur pada putranya bahwa dia akan mengalami kelumpuhan yang tidak bisa diprediksi sampai kapan.
Mendengar penuturan ayahnya, Lee menghela napas panjang dan berusaha tegar menghadapi kenyataan yang harus dia terima.
****
Satu bulan kemudian...
Pagi itu terlihatlah Chu Pian Ran sedang mendorong Lee yang ada di atas kursi roda.
Setelah sekian lama pemuda itu berada di dalam kamar karena sakit, ini menjadi hari pertamanya untuk keluar jalan-jalan, menghirup udara segar yang ada di sekitar kediaman.
Selama Lee sakit hingga sekarang Chu Pian Ran masih terus setia mendampingi tunangannya itu.
Semenjak dinyatakan lumpuh, Lee memang merasa sedih. Namun, dia tidak mau menjadi laki-laki yang putus harapan dan membuat orang-orang terdekatnya semakin khawatir dengan keadaannya sekarang. Jadi pemuda itu berusaha sebisa mungkin untuk tegar menjalani kehidupannya yang sekarang ini, ditambah lagi tunangannya juga sering memberi kata-kata motivasi padanya.
Chu Pian Ran lalu menghentikan kursi roda Lee di gazebo taman.
Setelah duduk di gazebo, Chu Pian Ran ingin menyampaikan niatnya pada tunangannya itu.
"Lee, kira-kira kalau aku pergi ke Lian bagaimana, secepatnya aku harus memberi pelajaran pada mereka agar mereka jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi." Kata Chu Pian Ran pelan.
Lee terkejut mendengar perkataan tunangannya itu.
"Jangan sayang jangan, itu terlalu berbahaya. Bukankah mereka juga pernah menculikmu dan mencelakaimu." Kata Lee dengan cepat dan volume suara agak tinggi.
"Tapi Lee jika dibiarkan saja mereka akan berbuat lebih buruk dari ini... Mereka sebenarnya ingin membunuhmu, tapi jika mereka mendengar kau masih hidup, pasti mereka akan kembali lagi sampai usahanya berhasil. Aku takut jika nanti mereka menargetkan kedua orang tua kita juga." Terang Chu Pian Ran.
Untuk sesaat pemuda itu terdiam dan kelihatan berpikir. Di satu sisi apa yang dikatakan tunangannya itu benar, tapi di sisi lain dia juga khawatir dengan keselamatan tunangannya itu.
"Aku janji akan menjaga diri baik-baik dan bahkan aku tidak akan menampakkan wujud manusiaku sehingga aku bisa melakukan aksiku tanpa ketahuan siapapun." Lanjut gadis itu berusaha meyakinkan tunangannya.
Lee lalu menatap mata Chu Pian Ran.
"Kapan kau akan berangkat dan dengan siapa kau kesana?" Tanya pemuda itu.
"Kalau bisa secepatnya. Aku akan datang dulu ke markas prajurit yang ada di perbatasan untuk mempersiapkan diri. Dan untuk ke Lian nya aku akan berangkat sendiri dalam bentuk kupu-kupu." Jelas Chu Pian Ran.
"Jika itu sudah keputusanmu aku mengijinkanmu. Tapi kau harus janji, kau harus pulang dalam keadaan selamat dan sehat." Dengan berat hati akhirnya Lee mengijinkan tunangannya pergi.
Pemuda itu lalu menggenggam erat kedua tangan tunangannya itu.
__ADS_1