Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 95 Berkuda Bersama


__ADS_3

Setelah berkuda selama tiga hari tiga malam tanpa henti, sampailah Chu Pian Ran di ibukota Qin pada sore harinya.


Begitu tiba di kediamannya, dia langsung menyerahkan kudanya pada seorang pelayan agar dimasukkan kembali ke kandang, sementara perempuan cantik itu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah berhari-hari tidak mandi.


Kepulangan nyonya muda Lee pun disampaikan oleh salah seorang pelayan kepada majikannya yang kebetulan saat itu sedang berkumpul di ruang keluarga.


Waktu mendengar jika istrinya sudah pulang, maka dengan segera Lee Jiang Wook beranjak dari tempat itu dan mencari keberadaan istri tercintanya.


"Yah..." Ucap bibir mungil Lee Chu Mian Yin saat melihat ayahnya keluar dari ruangan itu.


"Ibumu sudah pulang sayang, dan sekarang ayah akan menemuinya. Yin Er tunggu di sini dulu ya, nanti ibu juga akan kemari..." Kata nyonya Chu pada cucu kesayangannya.


"Bu lang?" Lanjut gadis kecil itu.


"Iya cucuku, ibumu sudah pulang..." Wanita paruh baya itu mengulang kata-katanya.


"Nyek bu bu, bu bu..." Celoteh mulut Lee Chu Mian Yin sambil tangan kanannya menunjuk ke arah luar ruangan karena tidak sabar ingin bertemu ibunya.


"Ya sudah, sekarang kita temui ibumu yuk..." Jawab nenek Chu lalu bangkit berdiri dengan diikuti oleh cucunya. Maka, berjalanlah wanita paruh baya itu sambil tangan kanannya menggandeng tangan kiri Lee Chu Mian Yin.


Dalam perjalanannya menuju ke kamar, tak henti-hentinya mulut gadis kecil itu mengucapkan kata 'bu bu' karena dia memang sudah sangat rindu dengan ibunya.


Sementara itu, Lee Jiang Wook mendapati istrinya sedang tertidur di dalam bak mandi. Rupanya, saat nyonya muda Lee berendam dan mencium aroma wangi air dalam bak mandi, perempuan cantik itu pun menjadi ngantuk dan akhirnya tertidurlah dia di situ. Maklum, selama 3 hari 3 malam Chu Pian Ran tidak makan minum dan tidak tidur sama sekali karena ingin cepat-cepat bertemu dengan putri kesayangannya.


Sejak Chu Pian Ran menikah, letak kamar mandi yang awalnya jauh dari kamar, sekarang pasangan suami istri itu sudah memiliki kamar mandi pribadi yang letaknya di samping kamar mereka.


Tak beda jauh dengan kamar mandi pribadi yang mereka miliki di kediaman Lee, kamar mandi yang ini pun juga dibuat sama persis atas arahan Lee Jiang Wook.


Untuk beberapa saat, ayah muda itu menatap lekat wajah istrinya yang terlihat lumayan lelah. Tak berapa lama, Lee Jiang Wook mengulurkan tangan kanannya dan memegang pipi kiri istrinya lalu mengelusnya dengan lembut.


Beberapa menit kemudian, terdengarlah oleh pemuda itu suara putri kecilnya yang beberapa kali mengucapkan kata 'bu bu', maka dengan segera Lee Jiang Wook keluar dari kamar mandi lalu menemui ibu mertua dan putrinya.


"Ran Er sedang tertidur lelap di bak mandi bu, aku tidak tega membangunkannya..." Ucap pemuda itu pada ibu mertuanya.


"Yin Er sudah tidak sabaran ingin bertemu dengan ibunya, sebaiknya kau pertemukan dulu gadis cilik ini dengannya. Ibu akan tunggu di luar kamar." Balas nyonya Chu lalu keluar dari kamar dan duduk di kursi yang ada di teras depan kamar.


Tak menunggu lama, ayah muda itu pun lalu membawa putrinya masuk ke dalam kamar mandi dengan menggandeng tangannya.


"Bu bu..." Panggil Lee Chu Mian Yin dengan senangnya begitu melihat sosok ibu yang sangat dirindukannya. Namun, Chu Pian Ran sama sekali tidak bergerak karena terlalu lelapnya dia tertidur.


Karena ibunya tidak merespon, maka gadis cilik itu pun mendekati ibunya dengan dipegangi oleh ayahnya agar jangan sampai dia tercebur ke dalam bak mandi.


"Bu bu, bu bu..." Panggil gadis cilik itu lagi sambil berjongkok dan tangan kanannya yang mungil menepuk-nepuk pundak ibunya.


Tak berapa lama ada sedikit pergerakan dari tubuh Chu Pian Ran, setelah mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, mata perempuan cantik itu pun terbuka lebar dan melihat suami dan putri kecilnya sudah berada di dekatnya.


"Halo putri kecilnya ibu, maaf ya ibu sempat tertidur karena ngantuk sekali..." Ucap Chu Pian Ran masih lesu sambil menatap putrinya yang sedang jongkok di tepi bak mandi (bak mandinya berbentuk seperti kolam kecil yang bagian permukaannya rata dengan lantai). Tak berapa lama, perempuan itu lalu mencium salah satu pipi putrinya.


"Bu bu..." Kata Lee Chu Mian Yin dengan kedua tangannya diulurkan pada ibunya dengan maksud minta gendong.


"Minta gendongnya nanti saja ya sayang, ibu masih mau mandi dulu..." Lanjut nyonya muda itu.


"Bu bu di?" Tanya bibir mungil gadis cilik itu.


"Iya nak, ibu harus mandi dulu... Sekarang, Yin Er dengan ayah dulu ya..." Sahut Chu Pian Ran.

__ADS_1


Seolah mengerti kata-kata ibunya, Lee Chu Mian Yin pun berhenti berkata-kata, dan tak lama kemudian tubuh gadis cilik itu pun diangkat oleh ayahnya, dan digendong untuk diajak keluar kamar mandi.


Setelah suaminya menutup pintu kamar mandi, Chu Pian Ran pun dengan segera melanjutkan acara mandinya.


Kini, terlihatlah pasangan suami istri itu sedang duduk di tepi ranjang, dengan Lee Chu Mian Yin duduk di pangkuan ibunya dan menyusu di dada kanan perempuan itu sambil matanya tak lepas menatap lekat ibunya sedari tadi.


Sementara, Lee Jiang Wook menciumi pipi kiri istri tercintanya itu sambil tangan kanannya merangkul pundak istrinya.


"Sayang, aku benar-benar merindukanmu..." Kata suaminya pelan dengan wajahnya sangat dekat dengan pipi kiri istrinya.


"Sayang sekali suamiku aku sama sekali tidak merindukanmu, yang aku rindukan hanya Yin Er." Goda Chu Pian Ran pada suaminya.


"Begitu ya... Lebih baik aku cari gadis cantik lain saja yang selalu ada di sampingku." Balas Lee Jiang Wook ganti menggoda istrinya.


"Coba saja kalau kau berani." Ucap perempuan itu lalu menatap suaminya.


Untuk beberapa saat, pasangan suami istri itu pun saling beradu pandang dan tak berapa lama merekapun berciuman dengan lembut hingga beberapa menit dengan disaksikan oleh putri mereka.


Begitu putri kecilnya tertidur, dengan segera Chu Pian Ran keluar dari kamar lalu pergi menuju dapur dan makan dengan lahapnya makanan yang sudah dia pesan satu jam sebelumnya kepada pelayan dapur karena perutnya sudah menagih sedari tadi.


****


Sejak kepulangan ibunya, Lee Chu Mian Yin jadi sering menempel dengan perempuan cantik itu seolah-olah gadis cilik itu takut ditinggal pergi lagi oleh ibunya.


Jika kebetulan ada orang lain yang berniat ingin mengajaknya, maka gadis cilik itu akan menolak, dan sepanjang hari inginnya dengan ibunya terus.


Pagi ini, terlihatlah Lee Jiang Wook sedang mengajak berkuda istri dan putri kecilnya dengan pelan dan santai sambil menikmati pemandangan jalanan ibukota di pagi hari.


Karena ini adalah pengalaman berkuda yang pertama kali bagi Lee Chu Mian Yin, maka bukan main senangnya gadis kecil itu. Sedari tadi mulutnya sering mengoceh tidak jelas sambil kedua tangannya menunjuk-nunjuk ke berbagai arah dengan pinggang dipegangi oleh tangan kanan ibunya.


Beberapa penduduk ibukota yang kebetulan berpapasan dengan mereka bertiga ada yang membungkukkan sedikit badannya sebagai rasa hormat pada anggota keluarga putri angkat kaisar itu.


Sebagai jawabannya, Chu Pian Ran pun juga sedikit membungkukkan badannya sambil tersenyum kepada mereka.


Setelah puluhan menit, sampailah mereka di gerbang ibukota. Begitu para prajurit penjaga gerbang melihat sosok putri angkat kaisar sedang lewat, maka mereka pun dengan segera membungkukkan badannya.


Sekalipun mereka bertiga sudah keluar dari tempat keramaian, namun Lee Jiang Wook tidak menambah laju kudanya. Dia sengaja membuat kuda itu berjalan kaki agar putri kecilnya semakin mengenal lingkungan di luar kediaman dengan baik.


Dalam perjalanan mereka, beberapa kali Chu Pian Ran menunjuk ke suatu objek sambil mengucapkan namanya dengan pelan untuk mengajari putri kecilnya itu.


"Lihat sayang, itu namanya burung, bu rung..." Kata perempuan cantik itu sambil menunjuk seekor burung kecil yang sedang berkicau di atas pohon tak jauh dari depan mereka.


Maka, mata Lee Chu Mian Yin pun melihat ke arah burung yang ditunjuk oleh ibunya itu.


"Yung yung..." Seru gadis cilik itu sambil tangan kanannya menunjuk ke arah burung kecil itu.


Satu jam sudah mereka berkuda sejak keluar dari gerbang ibukota. Karena hari sudah mulai panas, maka Lee Jiang Wook pun menarik tali kekang kudanya agar kuda itu berbalik arah.


Dan sekarang mereka pun dalam perjalanan kembali ke kediaman. Dalam perjalanan kembali itu, rupanya Lee Chu Mian Yin tertidur setelah bibir mungilnya sering berceloteh hingga dia kelelahan.


Satu setengah jam kemudian, sampailah mereka di kediaman Chu. Setelah Lee Jiang Wook turun dari kudanya terlebih dahulu, pemuda itu lalu mengangkat tubuh kecil putrinya yang sedang tertidur dengan hati-hati, kemudian menggendongnya dan membawanya menuju ke kamar.


Sementara itu Chu Pian Ran, setelah menyerahkan kuda itu pada salah satu pelayannya, perempuan cantik itu pun mengikuti langkah suaminya dari belakang.


Sesampainya di kamar, Lee Jiang Wook pun membaringkan tubuh Lee Chu Mian Yin di atas ranjang.

__ADS_1


"Sayang, seperti kesepakatan kita kemarin, dua hari lagi kita akan pindah ke kediamanku." Kata pemuda itu mengingatkan istrinya dengan suara pelan agar tidak mengganggu tidurnya putri kecil mereka.


"Iya suamiku. Mintalah beberapa pelayan untuk mengangkut beberapa barang yang sekiranya kita butuhkan nanti di sana." Balas istrinya.


Sejak istrinya hamil 7 bulan hingga putri kecil mereka berumur 1 tahun lebih 2 bulan, pasangan suami istri itu tinggal di kediaman Chu. Lee Jiang Wook memaklumi hal ini karena Chu Pian Ran adalah putri satu-satunya dari mertuanya.


Namun, untuk menunjukkan sikap adil, maka sudah saatnya mereka giliran tinggal di kediaman Lee.


Maka dengan segera, pemuda itu memerintahkan beberapa pelayan pria untuk mengangkut beberapa barang yang akan dibawa ke kediamannya.


Sementara itu di kediaman Lee, si nyonya besar telah memerintahkan beberapa pelayan perempuan untuk membersihkan dan menata kamar putra dan menantunya serta kamar mandi pribadi mereka.


Empat hari sebelumnya, tuan dan nyonya Lee telah diberitahu oleh putranya, jika dia, istri dan putrinya akan giliran tinggal di kediaman mereka.


Maka hari ini, dengan hati senang wanita paruh baya itu mempersiapkan segala sesuatu yang akan dipakai oleh menantu dan cucunya kelak.


Beberapa puluh menit kemudian, datanglah dua orang pelayan pria dari kediaman Chu dengan membawa sebuah kereta barang.


Setelah berbincang sebentar dengan nyonya Lee, dua pelayan itu mengangkut beberapa barang itu dan meletakkannya di ruang kerja Lee Jiang Wook sesuai dengan instruksi wanita paruh baya itu.


Setelah menyelesaikan tugasnya, maka dua orang pelayan itu pun undur diri dan kembali ke kediaman Chu.


****


Saat ini, Lee Jiang Wook beserta istri dan putrinya telah berada di kediaman Lee.


Terlihatlah Chu Pian Ran dengan dibantu oleh ibu mertuanya, mengeluarkan barang-barang dari kotak penyimpanan dan meletakkan di tempat yang semestinya.


Sementara itu, suaminya sedang mengajak Lee Chu Mian Yin berkeliling di kediaman Lee.


Betapa senangnya putri kecilnya itu saat ini. Kakinya yang mungil berjalan dengan lincah kesana kemari sambil berceloteh dan tangan kanannya menunjuk ke beberapa arah.


Kebetulan, di kediaman Lee juga ada sepetak taman yang ditumbuhi beberapa tanaman bunga yang saat itu sedang mekar-mekarnya dan dihinggapi oleh beberapa ekor kupu-kupu.


Ketika gadis kecil itu melangkahkan kakinya ke arah taman, seperti dikomando, kupu-kupu itu pun terbang mendekat ke arah Lee Chu Mian Yin lalu mengerumuni tubuh putri cilik itu.


Karena ini adalah penglihatan pertama bagi Lee Jiang Wook, maka pemandangan itu menimbulkan keheranan di benaknya.


"Pu pu, pu pu..." Ucap bibir mungil Lee Chu Mian Yin.


Beberapa detik kemudian terdengarlah celotehan putri kecilnya itu seolah-olah sedang bercakap-cakap dengan kupu-kupu itu.


Lee Jiang Wook pun berdiam diri sambil terus memperhatikan tingkah putri kecilnya dengan menyimpan tanda tanya besar di pikirannya.


Satu jam kemudian, datanglah Chu Pian Ran beserta mertuanya ke tempat suami dan putrinya berada.


Saat ini, Lee Jiang Wook sudah duduk di gazebo bersama putri kecilnya yang sedang berdiri sambil berceloteh tidak jelas. Sementara, beberapa ekor kupu-kupu yang mengerumuni Lee Chu Mian Yin sudah buyar beberapa belas menit yang lalu.


"Istriku, tadi Yin Er dikerumuni oleh beberapa ekor kupu-kupu." Lapor pemuda itu begitu istri dan ibunya sudah bergabung di gazebo.


"Aku dan ibuku juga sudah pernah melihatnya sekali di kediamanku suamiku. Sejak dia lahir, dia sudah menunjukkan hal yang tidak biasa, sepertinya kelak dia akan menjadi gadis yang tidak biasa pula." Terang Chu Pian Ran.


"Apakah dia akan menjadi persis seperti dirimu?" Lanjut Lee Jiang Wook.


"Tidak suamiku. Kelebihan yang dimiliki oleh Yin Er masih jauh di bawahku karena aku dijadikan inang secara langsung oleh peri Mei Hwa Lie." Jawab istrinya.

__ADS_1


__ADS_2