Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 117 Bangsa Kurcaci (2)


__ADS_3

"Lalu?" lanjut peri senior itu penasaran.


"Kedatanganku kemari karena ingin bertanya nek, apakah nenek peri punya tanaman obat untuk menyembuhkan sakit infeksi usus halus akut, jika memang punya aku ingin minta..." terang Chu Pian Ran yang saat ini sudah duduk dengan posisi tubuh menghadap pada peri Jinfeng Zhui.


"Punya sih... Memangnya siapa yang sakit infeksi usus halus sampai akut?" imbuh peri senior itu ingin tahu.


"Untuk seorang makhluk bangsa kurcaci nek, tadi siang aku tidak sengaja bertemu makhluk itu...," balas nyonya muda Lee.


"Setahuku bangsa kurcaci itu memang masih ada keberadaannya di hutan lebat yang tidak pernah dijamah oleh manusia, lalu bagaimana bisa kau bertemu dengan makhluk itu? Jangan-jangan kau jadi suka kelayapan ya?" ujar peri Jinfeng Zhui yang membuat Chu Pian Ran menyeringai.


"Kelayapan bagaimana nek? Tadi siang, saat aku sedang berkeliling di wilayah Qin bagian utara, aku tidak sengaja melihat seorang kurcaci yang sedang dikejar-kejar oleh harimau saat mencari tanaman obat. Melihat kejadian itu, ya aku tolong dia, kemudian aku diajaknya ke tempat tinggal bangsa kurcaci itu yang ternyata ibunya sedang sakit parah hingga koma...," jelas Chu Pian Ran.


Mendengar penuturan nyonya muda Lee, peri senior itu pun berdiam diri sambil berpikir untuk beberapa saat.


"Kau berkeliling di wilayah Qin bagian utara dalam wujudmu sebagai kupu-kupu? Ingat nak, jika kau merubah wujudmu dalam bentuk binatang lebih dari tiga hari penuh kau akan sulit berubah menjadi manusia kembali, karena wujud ragamu itu masih manusia 100%...," peri Jinfeng Zhui mengingatkan nyonya muda Lee.


"Aku tidak merubah wujud menjadi kupu-kupu nek...," timpal Chu Pian Ran masih menyembunyikan fakta jika dia sudah menjadi seorang peri.


"Tidak mungkin kan kau melakukannya dengan berkuda? Apa juga tujuanmu berkeliaran di hutan lebat itu tanpa suatu kepentingan. Ditambah lagi jika berkuda pasti akan menghabiskan waktu yang sangat lama," peri senior itu mencoba menemukan jawabannya.


"Ayo coba nenek tebak...," nyonya muda Lee mulai menggoda peri Jinfeng Zhui.


"Bisa-bisanya kau mengajak main tebak-tebakan dengan peri setua aku ini...," kata peri senior itu sambil tangan kanannya menyentil pelan dahi Chu Pian Ran.


"Kan kekuatan supranatural nenek sangat tinggi, masa tidak bisa menerawang...," sahut nyonya muda Lee sambil tangan kanannya mengusap dahinya yang baru saja disentil oleh peri Jinfeng Zhui tadi.


Tak berapa lama, peri senior itu pun mengamati Chu Pian Ran dengan mata menyelidik, lalu beberapa saat kemudian peri Jinfeng Zhui mengulurkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang mengeluarkan cahaya di depan dahi nyonya muda Lee.


Begitu selesai menerawang, bukan main terkejutnya peri senior itu karena dia bisa mendeteksi tingkat kekuatan supranatural Chu Pian Ran yang sekarang lebih tinggi darinya.


"Bagaimana bisa kau tiba-tiba menjadi seperti ini nak? Apa yang sudah terjadi denganmu?" tanya peri Jinfeng Zhui sangat penasaran.


"Semuanya bermula saat aku tidak sengaja melihat benda aneh yang jatuh dari langit nek... Karena hatiku diliputi kegelisahan setelah melihat benda itu jatuh, maka dengan segera aku mencari benda itu yang ternyata adalah mustika kehidupan milik Dewi Bulan," terang peri cantik itu.


"Mustika kehidupannya Dewi Chang'e? Benarkah itu nak?" tanya peri senior itu masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.


"Benar nek, aku tidak berbohong...," tegas Chu Pian Ran.


"Lalu bagaimana bisa kekuatan supranaturalmu bisa meningkat lebih tinggi dari milikku sendiri?" lanjut peri Jinfeng Zhui sangat ingin tahu.


"Begitu aku menemukan mustika kehidupan itu, eh tiba-tiba saja benda itu masuk ke dalam telapak tangan kananku dan akhirnya menimbulkan reaksi yang sangat menyakitkan setelah satu minggu kemudian," jelas nyonya muda Lee.


"Astaga, bukankah itu sangat berbahaya jika benda itu sampai masuk di raga manusiamu... Lalu bagaimana kelanjutannya?" buru peri senior itu tidak sabaran.


"Saat tubuhku terasa sakit seperti disengat listrik tegangan tinggi, jiwa peri Mei Hwa Lie berusaha memisahkan dirinya dari ragaku, namun dia merasa kesulitan. Untungnya, di saat yang genting dan berbahaya itu, Dewi Bulan sedang ada di wilayah ibukota. Begitu merasakan aura mustika kehidupannya sedang bereaksi kuat, dengan segera beliau pun mencariku dan meleburkan rohku dan roh peri Mei Hwa Lie. Dan akhirnya ya seperti ini... Sekarang aku menjadi seorang peri seperti nenek Jinfeng," sahut Chu Pian Ran dengan rinci memberikan keterangan pada peri senior itu.

__ADS_1


"Bukan hanya itu saja nek... Saat aku dalam keadaan tak sadarkan diri, aku dibawa Dewi Chang'e ke istananya. Selain itu, aku juga diajari beliau bagaimana caranya melakukan perjalanan singkat antara dunia atas dengan dunia bawah...," imbuh nyonya muda Lee yang membuat peri Jinfeng Zhui terkejut.


"Luar biasaa... Aku benar-benar iri denganmu nak. Seumur-umur aku menjadi peri saja, aku belum bisa pergi ke dunia atas apalagi ke Istana Bulan...," ucap peri senior itu terkagum dengan pengalaman hidup 'peri baru' yang ada di depannya itu.


"Ceritanya sudah ya nek, sekarang bolehkah aku langsung minta tanaman obat itu?" Chu Pian Ran kembali fokus dengan tujuan utamanya datang di tempat tinggal peri senior itu.


"Oh ya, aku hampir saja lupa gara-gara mendengar ceritamu yang luar biasa tadi...," peri Jinfeng Zhui pun tersadar.


Tak berapa lama, terlihatlah peri senior itu dan nyonya muda Lee sedang melangkahkan kakinya menuju ke lahan tanaman obat langka milik peri Jinfeng Zhui.


"Oh ya nak, kebetulan hari ini aku sedang memanen buah-buahan yang lumayan banyak. Sebaiknya nanti kau bawa saja untuk bangsa kurcaci itu daripada tidak ada yang memakannya...," sambung peri senior itu.


"Kenapa nenek tidak membuka bisnis dagang buah saja, kan buah-buahan yang ada di tempat nenek ini kualitasnya terbaik sedunia... Hitung-hitung untuk tambah penghasilan...," Chu Pian Ran mulai menggoda peri Jinfeng Zhui.


"Kamu ini ada-ada saja, memangnya nenek sedang kurang penghasilan... Justru kamu itulah yang cocok untuk jualan buah. Dengan wajah secantik kamu pasti dagangan buahmu laris manis, siapa tahu juga nanti ada pria tampan yang ingin menikahimu," peri senior itu ganti membalas godaan nyonya muda Lee.


"Baiklah nek, nanti aku akan mempertimbangkan untuk buka bisnis dagang buah-buahan... Tapi kalau urusan menikah lagi, lewat saja, karena aku sudah sangat puas punya suami yang baik dan paling tampan sejagat raya ini...," balas Chu Pian Ran sekenanya yang membuat peri Jinfeng Zhui tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, sampailah kedua peri itu di lahan tanaman obat, lalu peri senior itu pun melangkahkan kakinya menuju ke tengah-tengah lahan. Setelah mengedarkan pandangannya untuk sesaat, peri Jinfeng Zhui kemudian mencabut sebuah tanaman yang tingginya sekitar 30 cm an.


"Rebuslah tanaman ini dengan 3 gelas air putih, setelah mendidih agak lama, saringlah airnya dan diminum tiga kali sehari, niscaya setelah beberapa hari penyakitnya akan sembuh...," pesan peri senior itu begitu sampai di depan nyonya muda Lee sambil menyerahkan tanaman obat.


"Terimakasih banyak ya nek, nenekku yang satu ini memang baik dan cantik tiada tara...," goda Chu Pian Ran lagi setelah menerima tanaman obat itu.


"Heleh, bicaramu itu terlalu tinggi... Sudahlah, sekarang kau bantu aku sebentar untuk melanjutkan panen buah-buahan yang sempat terhenti tadi," kata peri Jinfeng Zhui.


Kini, tampaklah dua peri itu sedang memanen di kebun buah-buahan peri Jinfeng Zhui yang cukup luas.


"Beberapa hari ke depan datanglah kemari lagi untuk mengambil buah-buahan ini dan bagikan pada orang yang kurang mampu, supaya buah-buahan ini bermanfaat untuk banyak orang...," ucap peri senior itu sambil memasukkan buah-buahan di keranjang buah yang lumayan besar.


"Baik nek...," sahut nyonya muda Lee.


Puluhan menit kemudian, terlihatlah peri Jinfeng Zhui sedang membantu Chu Pian Ran meletakkan beberapa jenis buah-buahan di atas selembar kain yang lebar.


Setelah dirasa cukup, nyonya muda Lee pun menaruh tanaman obat, panci kecil, dan sebuah mangkuk berukuran sedang di atas buah-buahan, lalu mengikat keempat sudut kain lebar tadi. Dengan bantuan peri Jinfeng Zhui, buntelan besar buah-buahan itu sudah berada di punggung Chu Pian Ran dengan diikat menyilang menggunakan kain yang kuat.


"Hati-hati ya nak, pelan-pelan saja terbangnya karena kau membawa buntelan sebesar ini," pesan peri senior itu.


"Tentu nek, sampai ketemu besok lagi...,"


Beberapa detik kemudian, dengan kekuatan supranaturalnya, nyonya muda Lee pun merubah wujudnya menjadi berkas cahaya dalam keadaan menggendong buntelan buah-buahan yang sangat besar di punggungnya, dan kemudian terbang menuju tempat tinggal bangsa kurcaci.


Setelah satu jam melesat dengan kecepatan sedang, sampailah peri cantik itu di tempat tinggal para kurcaci dalam bentuk berkas cahaya yang tentu saja membuat sebagian besar mahkluk mini itu terkejut dengan kehadirannya yang begitu tiba-tiba.


Begitu merubah wujudnya kembali menjadi manusia, dengan segera Chu Pian Ran pun jongkok, menguraikan kain pengikat lalu menurunkan buntelan besar berisi buah-buahan dari punggungnya.

__ADS_1


"Nyonya muda, buntelan besar apa yang kau bawa itu?" tanya Fong Chai penasaran setelah dia ada di dekat nyonya muda Lee yang saat itu sedang duduk sebentar di sebuah batu sambil menetralkan nafasnya.


"Itu buah-buahan dari peri Jinfeng Zhui yang kebetulan hari ini beliau sedang panen besar. Kau buka saja buntelan itu dan makanlah bersama-sama. Jangan lupa, tanaman obat, panci, dan mangkuk yang ada di atasnya kau bawa kemari padaku," jawab Chu Pian Ran.


Tak berapa lama, Fong Chai pun menuruti perintah peri cantik itu. Begitu buntelan kain itu terbuka, berbinarlah mata manusia mini itu saat melihat beberapa macam buah-buahan yang kelihatan menggiurkan itu karena bangsa kurcaci memang sangat jarang makan buah-buahan.


"Hei semuanya kemarilah, banyak buah-buahan enak di sini!" seru Fong Chai pada kaum sebangsanya setelah dia mengambil sebuah apel merah besar dan 3 jenis benda yang ada di atasnya.


Dengan segera, puluhan manusia mini itu pun berkerumun di sekeliling buntelan itu dan masing-masing mengambil satu buah.


"Usahakan dimakan rata ya, jangan ada yang ingin menang sendiri," sela nyonya muda Lee.


Tak berapa lama, tampaklah para manusia mini itu sedang menikmati buah-buahan dengan rukun. Jika kebetulan ada yang tidak kebagian, maka yang lain akan memotong buahnya sebagian dan memberikan pada yang tidak kebagian tadi.


Saat ini di mulut gua, terlihatlah Chu Pian Ran sedang merebus tanaman obat di dalam panci yang dibawanya dari kediaman peri Jinfeng Zhui dengan ditemani si Fong Chai yang sedang makan separuh buah apel, sedangkan yang separuhnya lagi diberikan pada ayahnya.


"Nyonya muda, apakah penyakit ibuku benar-benar bisa sembuh?" tanya Fong Chai sambil mengunyah apel.


"Bisa... Menurut penuturan peri Jinfeng tadi, beberapa hari setelah minum air saringan tanaman ini, niscaya ibumu akan sembuh. Suamiku yang pernah lumpuh karena diracun saja bisa berjalan seperti sediakala setelah satu jam makan tanaman obat dari beliau," terang Chu Pian Ran meyakinkan manusia mini yang sedang duduk di dekatnya.


Mendengar perkataan nyonya muda Lee, Fong Chai pun terkejut.


"Suamimu pernah diracun nyonya muda? Oleh siapa? Jahat sekali orang itu," ucap sosok kerdil itu.


"Mereka adalah mata-mata dari kerajaan Lian... Bahkan, aku saja pernah diculik dan dicelakai oleh mereka," sahut nyonya muda Lee.


"Mereka benar-benar manusia gila...," lanjut Fong Chai.


"Tapi sekarang keadaan mereka sudah terpuruk setelah aku memberi mereka pelajaran," ujar Chu Pian Ran.


"Syukurlah kalau begitu... Jika manusia seperti itu dibiarkan saja pasti akan tetap jahatnya," timpal manusia mini itu.


Kini, tampaklah nyonya muda Lee sedang menyaring rebusan tanaman obat tadi menggunakan sapu tangannya dan ditadahkan di sebuah mangkuk.


"Ingat ya, minumkan air ramuan ini sebanyak tiga kali dalam sehari jangan diminumkan sekaligus," pesan Chu Pian Ran.


"Kau bawa mangkuk ini masuk ke dalam setelah mangkuknya lumayan dingin jangan dalam keadaan panas, nanti ramuannya bisa tumpah dan terbuang sia-sia apalagi ini tanaman yang sangat langka," sambung peri cantik itu.


"Baik nyonya muda, terimakasih banyak untuk semua bantuannya... Aku benar-benar minta maaf jika tadi sempat curiga dan tidak percaya dengan perkataanmu...," ujar Fong Chai jujur.


"Sudahlah, kau tidak perlu membahas masalah itu... Sekarang aku mau pulang dulu, kapan-kapan jika ada waktu senggang aku akan ke sini lagi. Sampaikan salamku pada semuanya ya, maaf aku tidak bisa berpamitan langsung dengan kalian semua," kata Chu Pian Ran sambil bangkit berdiri.


"Baik nyonya muda, nanti salammu akan aku sampaikan pada yang lainnya...,"


Tak berapa lama, nyonya muda Lee pun merubah wujudnya menjadi seberkas sinar lalu melesat cepat menuju ke kediaman orang tua kandungnya.

__ADS_1


Sebelum masuk gerbang ibukota, seperti biasa, peri cantik itu merubah wujudnya menjadi seekor kupu-kupu terlebih dahulu.


Setelah terbang santai selama lebih dari setengah jam an, sampailah binatang bersayap itu di depan halaman kediaman utama dan melihat putri kesayangannya sedang duduk di gazebo taman dengan suaminya.


__ADS_2