
Untuk memastikan penciumannya, maka induk burung itu pun berbalik arah lalu terbang pelan merendah tepat di sekitar aroma yang diciumnya tadi.
Begitu aroma itu menguat, dengan segera binatang bersayap itu pun terbang lebih rendah lagi hingga ketinggiannya mencapai belasan meter dari atas puncak pohon tertinggi.
Saat makhluk bersayap raksasa itu sedang terbang berputar-putar puluhan meter di atas kediaman Chu, lewatlah dua orang petugas patroli dari biro keamanan dan tidak sengaja melihat burung raksasa itu. Spontan, dua petugas itu pun langsung terkejut bukan main hingga tubuh mereka seolah membatu sampai beberapa detik.
Setelah tersadar dari rasa kagetnya, salah seorang dari mereka pun berlari kencang menuju ke kediaman kepala biro keamanan yang bernama Gang Shuang dan melaporkan kejadian itu. Sementara petugas patroli yang satunya lagi, yang bernama Xie Men terus mengamati burung raksasa itu di tepi jalanan dekat kediaman Chu.
Mendapat informasi yang 'tidak biasa' dan mengejutkan itu, dengan segera Gang Shuang pun lalu mengajak pegawainya tadi untuk mengambil kuda di kandang agar mereka berdua lebih cepat sampai di tempat tujuan.
Begitu kepala biro keamanan dan pegawainya itu sampai di tempat Xie Men berada, Gang Shuang pun sangat terkejut saat melihat burung elang emas raksasa yang waktu itu masih saja terbang berputar-putar rendah di atas kediaman Chu.
Karena matanya menangkap tiga sosok manusia sedang memperhatikan dirinya, maka burung raksasa itu pun terbang naik ke atas, yang makin lama makin menghilang di balik awan yang gelap.
"Burung apa itu tuan, kok besarnya sampai seperti itu? Baru kali ini kita melihat ada burung raksasa...," ucap petugas biro keamanan yang bernama Meng Fei dengan belum hilang rasa kaget dan herannya.
"Aku sendiri juga tidak tahu... Sekarang, pergilah kau ke kantor biro keamanan agar mereka menambah jumlah petugas patroli sebagai langkah antisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," sahut Gang Shuang sambil menoleh pada Meng Fei.
"Baik tuan, segera saya laksanakan."
Tanpa menunggu lama, Meng Fei pun naik ke atas punggung kuda dan melajukan binatang berkaki empat itu menuju kantor biro keamanan yang hanya membutuhkan waktu sepuluh menit.
Sesampainya di kantor biro keamanan, sudah tentu si Meng Fei pun bercerita pada temannya yang lain jika dia baru saja melihat penampakan burung raksasa.
Mendengar perkataan Meng Fei, teman-temannya pun tidak ada yang percaya bahkan mereka pun sempat mengecap pemuda itu sebagai seorang 'pembual'.
Meskipun si Meng Fei bercerita lebih lanjut, jika yang menyaksikan binatang bersayap raksasa adalah si kepala biro keamanan dan Xie Men juga, petugas biro keamanan yang lainnya pun hanya saling berpandangan satu sama lain untuk beberapa saat dengan hati yang masih sulit percaya karena mereka memang tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Karena Gang Shuang sudah memerintahkan untuk menambah petugas patrolinya pada malam itu, maka mereka pun dengan segera melaksanakan instruksi atasannya itu.
****
Sementara itu di dunia atas, tepatnya di Istana Dewa Burung, induk burung elang emas raksasa yang telah pulang beberapa menit yang lalu sedang ditangkap memori perjalanannya oleh Dewa Shao Hao dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya yang bercahaya putih di dahi binatang itu untuk mengetahui keberadaan rumah yang telah menyimpan bayi burung elang emas.
Begitu dewa yang telah berumur lebih dari 60.000 tahun itu sudah mengetahui lokasinya, dengan segera dia pun berubah menjadi seberkas cahaya putih dan melesat dengan kecepatan kilat menuju ke kediaman Chu.
Satu jam kemudian, sampailah seberkas cahaya putih jelmaan Dewa Shao Hao di kediaman Chu yang lalu seberkas cahaya itu menjelajahi rumah tersebut untuk menemukan keberadaan si bayi burung.
Tak butuh waktu lama, Dewa Burung itu pun telah ada di kamar Lee Chu Mian Yin dan melihat jika bayi burung dari elang emas kesayangannya sedang tidur di atas ranjang bersama seorang gadis kecil.
Sebenarnya, Dewa Shao Hao bisa saja langsung mengambil binatang itu dan membawanya pulang, namun itu bukanlah suatu sikap yang terpuji mengingat bangsa manusia yang saat ini sedang merawat si bayi burung adalah manusia yang baik.
Maka, Dewa Burung itu pun memutuskan untuk kembali di keesokan harinya guna mengambil binatang itu sekaligus mengucapkan terimakasih.
Beberapa detik kemudian, pria itu pun merubah wujudnya ke bentuk aslinya dan mendekat ke arah ranjang lalu dengan telapak tangannya yang mengeluarkan cahaya, Dewa Shao Hao pun memberikan pelindung gaib agar binatang itu aman dan auranya tidak tercium oleh makhluk sejenis iblis atau siluman jahat yang bermaksud mengincar hati dan jantungnya.
Tak berapa lama, Dewa Burung pun merubah wujudnya kembali menjadi seberkas cahaya putih lalu melesat cepat menuju istananya.
****
Keesokan harinya, setelah selesai sarapan bersama keluarganya, Lee Chu Mian Yin mengajak Jinying jalan-jalan di taman bunga.
Terlihatlah bayi burung itu berjalan dengan gaya pantatnya yang lucu di samping gadis kecil itu sambil beberapa kali mengeluarkan suara 'kiiik' dengan riangnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba muncullah sosok Dewa Shao Hao dari salah satu sudut taman yang sudah bertransformasi ke bentuk manusia tanpa diketahui oleh siapapun, dan telah sedari tadi memperhatikan pergerakan Lee Chu Mian Yin dan bayi burung dari elang emas kesayangannya.
"Selamat pagi gadis kecil yang cantik...," Dewa Burung menyapa ramah Lee Chu Mian Yin begitu dia telah dekat dengan gadis kecil itu.
"Paman siapa dan ingin mencali siapa?" tanya Lee Chu Mian Yin sambil mendongakkan kepalanya untuk melihat pada pria asing itu.
"Perkenalkan nama paman adalah Shao Hao, dan kedatanganku kemari ingin bicara dengan ayahmu. Apakah ayahmu ada nak?" sahut pria itu sambil menatap gadis cilik yang ada di depannya itu.
"Ayah balu saja pelgi kelja...," jawab Lee Chu Mian Yin.
"Ayahmu kerjanya di mana?" ucap Dewa Shao Hao.
"Ayah kelja di toko pelhiasan," balas gadis kecil itu.
"Kalau anggota keluarga yang lain ada?" lanjut si Dewa Burung.
"Di dalam ada nenek Chu. Paman mau beltemu nenek?" imbuh Lee Chu Mian Yin.
"Ya sudah, paman mau bertemu dengan nenekmu saja," ujar pria itu.
"Paman langsung saja ke sana," sambung gadis kecil itu sambil jari telunjuk kanannya menuding ke arah kediaman utama.
"Bayi burungnya lucu sekali nak...," kata Dewa Shao Hao mulai mengalihkan bahan pembicaraan sambil matanya melihat tingkah bayi burung elang emas yang sedang menggoyang-goyangkan badannya dengan menggemaskan.
"Ini namanya Jinying, dia bulung pelihalaannya Yin'el...," terang Lee Chu Mian Yin.
"Beli di toko burung mana?" tanya Dewa Shao Hao yang berniat ingin mencari informasi tentang asal-usul bayi burung itu.
Mendengar pertanyaan Dewa Burung yang sudah mulai menyinggung soal Jinying, gadis kecil itu pun menjadi teringat dengan pesan ayah dan ibunya.
Menyaksikan tingkah gadis kecil yang polos itu, Dewa Shao Hao pun tersenyum dan maklum jika dia dicurigai oleh Lee Chu Mian Yin.
Tak berapa lama, Dewa burung pun melangkahkan kakinya menuju ke kediaman utama. Setelah menyampaikan niatnya kepada salah seorang pelayan yang kebetulan sedang lewat di halaman depan kediaman utama tersebut, maka pria itu pun dipersilahkan masuk ke ruang tamu, sementara si pelayan tadi memanggil majikannya.
Kini, tampaklah nyonya Chu sedang menemui tamu asingnya di ruang tamu.
"Maaf tuan, jika saya boleh tahu tuan ini siapa dan ada keperluan apa mencari saya?" tanya wanita paruh baya itu sambil melihat ke tamunya.
"Perkenalkan nyonya, nama saya Shao Hao. Adapun tujuan saya kemari karena saya ingin mengambil bayi burung yang adalah anak dari burung elang emas peliharaan saya," jawab pria itu langsung ke inti masalahnya.
Mendengar balasan dari tamu asingnya itu, nyonya Chu pun lumayan terkejut dan mulai curiga karena teringat jika Jinying mengeluarkan eek emas dan bisa menjadi incaran siapapun.
"Tuan ingin mengambil Jinying? Memangnya tuan ini siapa?" ucap nyonya Chu terus terang.
"Saya adalah Shao Hao, si Dewa Burung nyonya. Dan bayi burung yang dibawa gadis kecil tadi adalah anak dari burung elang emas peliharaan saya. Beberapa waktu yang lalu, ada seorang dari suku iblis yang mencuri telur burung itu karena berniat ingin memakan jantung dan hati si bayi burung untuk meningkatkan kekuatan supranaturalnya," terang Dewa Shao Hao jujur.
"Karena aksinya ketahuan oleh beberapa penjaga istana saya, maka iblis itu pun melemparkan telur emas itu saat keadaannya sudah terdesak dan kekuatannya sudah melemah," lanjut si Dewa Burung.
Mendengar penjelasan dari pria asing yang duduk tak jauh darinya itu, wanita paruh baya itu pun tidak percaya begitu saja.
"Bagaimana saya percaya dengan perkataan anda tuan? Dan apa buktinya jika bayi burung itu adalah anak dari burung elang emas kesayangan anda?" imbuh nyonya Chu.
"Saya maklum jika anda tidak percaya dengan saya nyonya... Kalau begitu nanti malam saya akan membuktikannya dengan membawa induknya kemari nyonya. Saya sengaja membawa induknya saat malam hari agar tidak menarik perhatian banyak manusia mengingat ukuran burung elang emas kesayangan saya sangat besar," Dewa Shao Hao menyanggupi permintaan wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Baiklah, akan kami tunggu kedatangan anda malam hari nanti jika anda memang benar Dewa Burung dan pemilik induknya Jinying."
Tak berapa lama, pria itu pun pamit undur diri dan keluar dari ruang tamu lalu merubah wujudnya menjadi seberkas cahaya putih di salah satu sudut taman tanpa diketahui oleh siapapun.
*
Sore harinya...
Saat ini, tampaklah tuan dan nyonya Chu, Lee Jiang Wook, Chu Pian Ran, dan Lee Chu Mian Yin di ruang keluarga dengan duduk di bawah beralaskan permadani, sementara itu si Jinying sudah sedari tadi menggoyang-goyangkan badannya dengan tingkah yang lucu dan menggemaskan.
"Tidak boleh, pokoknya Jinying tidak boleh dibawa paman tadi!" protes Lee Chu Mian Yin dengan wajah cemberut saat diberitahu oleh neneknya jika tamu yang datang tadi pagi akan mengambil bayi burung peliharaannya.
"Tapi bagaimana jika paman yang tadi adalah benar-benar Dewa Burung dan tetap ingin membawa Jinying?" tanya ibunya sambil menatap lekat putrinya.
"Yin'el akan malahi dewa itu," sahut gadis kecil itu dengan bibir merengut.
"Memangnya Yin'er berani memarahi Dewa Burung?" lanjut Chu Pian Ran.
"Kenapa tidak belani, salah sendili dewa nya nakal mau membawa Jinying nya Yin'el...," balas Lee Chu Mian Yin dengan berani dan polosnya.
"Sayaang, saat Jinying nya masih berupa telur kan ibu hanya menemukannya, bukan milik ibu sendiri... Jadi kalau pemilik yang asli ingin mengambil Jinying ya harus diberikan...," perempuan cantik itu berusaha memberi pengertian pada putrinya.
"Tapi Yin'el tidak mau kehilangan Jinying buu...," imbuh gadis kecil itu sambil menatap ibunya yang matanya sudah agak memerah.
"Ya sudah begini saja, kalau paman yang tadi benar-benar Dewa Burung dan membawa induknya kemari, ibu akan berusaha berbicara dengannya agar kamu tetap bisa memelihara Jinying...," ujar peri cantik itu.
"Ibu janji ya...," timpal Lee Chu Mian Yin.
"Iyaa ibu janji akan bicara dengannya, tapi keputusannya kan tetap ada di paman tadi..."
*
Malam harinya...
Terlihatlah Chu Pian Ran sedang duduk nangkring santai di atas atap kediaman utama sambil makan buah apel untuk menunggu kedatangan pria yang mengaku sebagai Dewa Burung beserta induk nya Jinying.
Sementara itu, anggota keluarganya yang lain memang sengaja tidur dulu, jika tamunya nanti sudah datang, mereka akan bangun untuk menemuinya.
Satu jam telah berlalu, namun tamu yang ditunggu-tunggu masih belum datang. Untuk menghilangkan rasa bosannya, nyonya muda Lee pun memandangi indahnya bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit, yang tanpa disadari keberadaannya yang 'tidak wajar' itu telah diperhatikan oleh Gang Shuang dan Meng Fei yang malam ini sengaja datang ke tempat itu lagi untuk memastikan apakah burung raksasanya datang lagi atau tidak.
Karena penasaran dengan sikap anehnya putri angkat kaisar Qin, kepala biro keamanan pun mengajak Meng Fei untuk masuk ke dalam gerbang kediaman Chu.
"Tuan putri, apakah anda baik-baik saja?!" seru Gang Shuang dari bawah sambil mendongakkan kepalanya ke atas begitu dia dan pegawainya telah dekat di kediaman utama Chu.
Tak berapa lama, perempuan cantik itu pun melihat ke bawah dan mendapati dua orang dari biro keamanan sudah ada di situ tanpa diketahuinya kapan mereka datang karena terlalu asyik memperhatikan bintang-bintang yang ada di langit.
"Aku baik-baik saja tuan-tuan, kalian tidak perlu khawatir!" jawab Chu Pian Ran dari atas atap.
"Apa yang anda lakukan di situ malam-malam begini?!" lanjut si kepala biro keamanan.
"Aku sedang mencari angin sambil menghitung bintang-bintang!" sahut nyonya muda Lee asal-asalan.
Rupanya balasan dari putri angkat kaisar Qin yang sekenanya itu cukup membuat dua pria itu terhenyak.
__ADS_1
Saat mereka bertiga sedang berbincang, dari atas terlihatlah bayangan burung besar yang makin lama makin terbang rendah.