
Selama menunggu masa panen tiba, penduduk Beidi menerima bantuan bahan makanan pokok dari pihak istana.
Jika persediaan bahan makanan itu telah menipis, maka Qin Wu Zhu akan memerintahkan prajuritnya untuk pergi ke daerah terdekat guna membeli bahan makanan menggunakan tail emas yang dibawa dari istana.
Satu bulan pertama semenjak benih ditanam, tanaman itu sudah bertunas dan kelihatan tumbuh subur.
Para penduduk Beidi dengan bantuan para prajurit merawat tanaman-tanaman itu dengan baik.
Sementara itu, Kim Lung si mata-mata dari kerajaan Lian, selama di Beidi telah memberikan laporan sebanyak 3 kali kepada temannya yang ditempatkan di daerah lain dekat Beidi.
Tibalah saatnya masa panen pun tiba.
Dengan wajah ceria, para penduduk Beidi dengan bantuan para prajurit memanen hasil pertanian.
Hasil pertanian itu berupa padi, jagung, kacang tanah, sayur-sayuran, buah-buahan dan masih banyak lagi.
Hasil pertanian tersebut sangat melimpah dibandingkan sebelumnya.
Betapa gembiranya penduduk daerah Beidi. Sekarang masa-masa sulit yang mereka hadapi telah berlalu.
Hasil panenan yang telah didapatkan dinikmati dengan adil oleh seluruh penduduk daerah Beidi. Tak lupa, bupati Beidi mengarahkan mereka untuk menyimpan bahan makan tahan lama sebagai persediaan di hari-hari mendatang.
Kebahagiaan penduduk Beidi semakin bertambah saat hujan alami membasahi daerah itu pada suatu sore hari.
Selama kemarau panjang para penduduk mendapatkan hujan dari bantuan Chu Pian Ran, tapi sekarang hujan alami yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Chu Pian Ran sendiri merasa sangat lega dengan kejadian ini. Sekarang tugasnya membantu penduduk Beidi telah selesai.
Satu hari sebelum rombongan itu akan kembali pulang ke ibukota, masuklah seorang pria paruh baya ke daerah Beidi tersebut dengan mengendarai kuda.
Pria paruh baya itu rupanya bermaksud untuk meminta bantuan Qin Wu Zhu terkait hilangnya putri satu-satunya yang berumur 6 tahun.
Putri dari pria itu telah tiga hari ini tiba-tiba saja menghilang bak ditelan bumi saat gadis kecil itu bermain di depan rumah.
Pihak keluarga dan para tetangga sudah berusaha mencari semaksimal mungkin namun hasilnya nihil.
Begitu si pria sudah berada di hadapan Qin Wu Zhu, pria itu menyampaikan niatnya. Dan akhirnya Qin Wu Zhu menyanggupi untuk menolongnya.
Karena besok sebenarnya adalah hari kepulangan mereka ke ibukota, maka Qin Wu Zhu memerintahkan Lu Zee untuk menyampaikan pesan kepada kepala prajurit agar mereka mendahului pulang ke ibukota.
Qin Wu Zhu hanya akan membawa 20 prajurit untuk diajak ikut serta ke dusun dimana pria tadi tinggal.
Dengan segera Lu Zee pun menyampaikan pesan Qin Wu Zhu kepada kepala prajurit.
Sementara itu Qin Wu Zhu mencari keberadaan Chu Pian Ran terkait kasus hilangnya gadis kecil itu.
Tentu saja Chu Pian Ran bersedia untuk membantu menemukan gadis kecil yang hilang itu.
Beberapa saat kemudian, setelah Qin Wu Zu dan Chu Pian Ran berpamitan pada bupati Chao Fang, berangkatlah mereka menuju dusun tempat pria yang kehilangan putrinya ditemani dengan 20 prajurit.
Jarak antara dusun yang dituju dengan Beidi hanya membutuhkan waktu tiga jam dengan berkuda. Jadi rombongan itu sampai di dusun itu sebelum sore hari.
Beberapa penduduk dusun yang melihat kedatangan rombongan itu, berdiri di depan rumah untuk menyaksikan pergerakan mereka.
Sebelumnya diantara para penduduk dusun telah tahu jika Mei Dong, nama pria yang kehilangan putrinya itu akan ke Beidi untuk meminta bantuan pada pangeran Qin Wu Zhu.
Tak lupa, ketika rombongan tiba di dusun, si kepala dusun segera menyambut mereka dan memberi hormat pada pangeran Qin Wu Zhu dan Chu Pian Ran.
Tak ingin membuang waktu lama, Chu Pian Ran bertanya pada Mei Dong dimana tempat terakhir putrinya berada sebelum dia menghilang.
Rupanya putri kecil Mei Dong menghilang secara tiba-tiba dari depan rumah tempat waktu itu dia bermain.
__ADS_1
Gadis kecil itu menghilang begitu saja saat ditinggal sendirian ibunya ke belakang rumah untuk mengambil sapu lidi karena saat itu ibunya memang hendak menyapu halaman.
Sejak kehilangan putri satu-satunya, istri Mei Dong tak berhenti menangis karena dia merasa bersalah dan sangat khawatir atas kejadian itu.
Sebenarnya Chu Pian Ran tidak suka jika harus beraksi di depan banyak orang, namun mengingat kejadian ini mendesak mau tidak mau gadis itu melakukan penerawangan di depan banyak orang itu.
Untuk beberapa saat Chu Pian Ran memejamkan mata dan mengarahkan tangannya ke depan untuk berusaha menerawang kejadian 3 hari yang lalu di depan rumah Mei Dong.
Melihat aksi Chu Pian Ran, semua orang yang ada di situ tidak ada yang membuka suaranya. Suasana berubah menjadi sangat hening karena gadis itu memang membutuhkan ketenangan agar bisa konsentrasi.
Setelah lima belas menit menerawang, Chu Pian Ran melangkahkan kakinya menuju belakang rumah Mei Dong.
Tak jauh dari belakang rumah Mei Dong memang ada pekarangan yang lumayan luas yang banyak tanamannya.
Chu Pian Ran lalu berjalan ke arah pekarangan itu diikuti Qin Wu Zhu, Lu Zee, Mei Dong dan kepala dusun.
Selama puluhan menit mereka masuk ke dalam pekarangan yang lumayan lebat pepohonan itu.
Beberapa saat kemudian Chu Pian Ran menyuruh keempat pria yang mengikutinya untuk berhenti di tempat, sementara itu dia terus berjalan beberapa meter ke depan menuju ke arah semak-semak yang lebat.
Di semak-semak itu Chu Pian Ran melihat seorang perempuan berpakaian putih kumal sedang duduk jongkok dengan wajah ketakutan sambil memeluk seorang gadis kecil yang tatapannya terlihat kosong.
Perempuan yang sedang duduk jongkok itu bukan manusia tapi dari golongan siluman.
"Jangan ambil anakku... Jangan ambil anakku..." Kata siluman perempuan itu dengan memandang Chu Pian Ran ketakutan.
Chu Pian Ran lalu mendekati siluman perempuan itu lalu duduk jongkok di depannya.
"Coba kau perhatikan baik-baik, apakah gadis kecil itu anakmu..." Ucap Chu Pian Ran.
"Dia putriku, tolong jangan ambil dia..." Sahut siluman perempuan itu.
"Dia itu bukan putrimu, dia punya orang tua yang sekarang ini sedang kebingungan mencarinya..." Chu Pian Ran berusaha menjelaskan pada siluman itu agar segera melepaskan gadis kecil yang sedang dipeluknya.
Sementara itu, agak di kejauhan, keempat pria yang mengikuti Chu Pian Ran mengamati gerak gerik gadis itu.
Mereka melihat Chu Pian Ran seperti sedang mengobrol dengan 'seseorang' yang tak kasat mata.
"Dengar nyonya siluman, putrimu adalah putrimu, dan dia tidak akan tergantikan oleh siapapun... Jika kau memang kehilangan putrimu, lalu kau menculik gadis kecil dan kau anggap sebagai putrimu, kira-kira bagaimana perasaan putrimu sekarang?" Lanjut Chu Pian Ran.
Kata-kata Chu Pian Ran berhasil membuat siluman perempuan itu diam. Dengan wajah yang masih ketakutan campur sedih siluman itu menatap Chu Pian Ran.
"Putrimu pasti sangat sedih jika kau melupakan dia dan menganggap anak orang lain sebagai dia... Gadis kecil itu punya orang tua yang saat ini sedang kebingungan dan khawatir mencarinya. Sekarang tolong kembalikan gadis kecil itu, aku akan memberikannya pada orang tuanya..." Chu Pian Ran terus berusaha membujuk siluman perempuan itu.
"Ayolah tolong kembalikan... Dia itu dari bangsa manusia, jika kau seperti ini terus bisa-bisa dia meninggal karena kelaparan, kehausan dan kedinginan..." Tambah Chu Pian Ran.
Chu Pian Ran mengulurkan kedua tangannya untuk meminta gadis kecil itu dari siluman perempuan.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya siluman perempuan itu mau memberikan gadis kecil itu pada Chu Pian Ran.
"Terimakasih, putrimu pasti bangga punya ibu sepertimu..." Ujar Chu Pian Ran sambil menggendong gadis kecil itu.
Tak berapa lama terdengarlah suara tangisan menyayat pelan dari siluman perempuan itu.
Melihat putrinya telah ada di gendongan Chu Pian Ran, dengan segera Mei Dong menghampiri gadis itu dan meminta putrinya.
Akhirnya rombongan kecil itu kembali ke rumah Mei Dong.
Terdengarlah suara kasak kusuk beberapa penduduk saat melihat putri Mei Dong telah ditemukan.
Di dalam rumah, putri kecil Mei Dong didudukkan di sebuah kursi kayu. Tatapan gadis kecil itu masih kosong. Kemudian Chu Pian Ran menangkupkan telapak tangannya sebentar pada wajah gadis kecil itu, dan beberapa detik kemudian dia tersadar.
__ADS_1
Gadis kecil itu merasa bingung melihat beberapa orang asing ada di dalam rumahnya.
Dengan segera Mei Dong memberi putrinya itu minum.
"Ayah, ibu aku sangat lapar..." Kata gadis kecil itu pelan.
"Iya nak, ibu akan menyiapkan makanan untukmu, sabar ya..."
Istrinya Mei Dong pun segera melangkah ke belakang rumah menuju dapur untuk menyiapkan makanan putrinya.
Semua orang yang ada di situ merasa lega karena kini putri satu-satunya Mei Dong telah diketemukan dengan keadaan selamat.
Chu Pian Ran dan Qin Wu Zhu lalu keluar dari dalam rumah untuk memberi kesempatan pada keluarga kecil itu merasakan kebahagiaan setelah kehilangan salah satu anggota keluarganya selama 3 hari.
"Siapa yang telah menculik gadis kecil itu? Dia makhluk tak kasat mata?" Qin Wu Zhu menanyakan rasa ingin tahunya yang sedari tadi dia pendam.
"Iya, seorang siluman perempuan. Sepertinya dia telah mengalami kejadian menyedihkan yang membuat putrinya meninggal hingga tergonjang jiwanya. Waktu kutinggal pergi tadi dia menangis." Terang Chu Pian Ran.
"Aku harap siluman itu tidak mengulangi perbuatannya lagi." Kata Qin Wu Zhu.
"Besok aku akan mencarinya dan bicara padanya." Ucap Chu Pian Ran
Keesokan harinya...
Setelah mandi dan sarapan, Chu Pian Ran berniat untuk mencari siluman perempun kemarin.
Ketika dia sampai di semak-semak itu rupanya siluman perempuan itu sudah tidak ada lagi.
Dengan mengandalkan instingnya, Chu Pian Ran mencari siluman perempuan itu menggunakan jurus peringan tubuhnya.
Setelah lima belas menitan melompati pohon-pohon, ketemulah sosok siluman perempuan itu sedang duduk bersandar di batang pohon yang lumayan besar.
Turunlah Chu Pian Ran dari dahan pohon dan terbang mendekati siluman perempuan itu.
Siluman perempuan itu melihat kedatangan Chu Pian Ran dengan mata sayu dan tidak semangat.
Lalu duduklah Chu Pian Ran di samping siluman perempuan itu.
"Selamat pagi nyonya siluman, bagaimana kabarmu?" Tanya Chu Pian Ran.
Makhluk di sampingnya itu hanya berdiam diri tidak menjawab pertanyaan Chu Pian Ran.
"Sepertinya kau pernah mengalami kejadian buruk yang membuatmu kehilangan putri tercintamu nyonya siluman." Lanjut Chu Pian Ran.
"Putriku satu-satunya telah dibunuh oleh siluman jahat beberapa hari yang lalu." Akhirnya siluman perempuan itu membuka suaranya dengan pelan.
"Aku turut berdukacita nyonya siluman... Aku harap jiwanya mendapat tempat terbaik di nirwana..." Ucap Chu Pian Ran.
"Sepertinya kau bukan manusia biasa nona..." Ujar siluman perempuan itu sambil menoleh pada Chu Pian Ran.
"Ah biasa saja nyonya siluman..." Balas Chu Pian Ran.
"Aku bisa merasakan auramu yang murni dan suka menolong orang lain..." Imbuh si siluman.
"Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan nyonya siluman." Kata Chu Pian Ran.
"Namaku Zhui Heng, siapa namamu?" Tanya siluman yang ternyata namanya adalah Zhui Heng.
"Namaku Chu Pian Ran nyonya." Jawab gadis itu.
"Sepertinya aku harus banyak meditasi agar jiwaku tenang kembali. Terimakasih nona, kau sudah menyadarkan aku. Sekarang aku akan pergi dulu untuk mencari tempat yang nyaman untuk meditasi."
__ADS_1
Belum juga Chu Pian Ran menjawab, tubuh nyonya siluman itu sudah menghilang begitu saja.
Akhirnya Chu Pian Ran memutuskan untuk kembali ke kediaman bupati Chao Fang.