
"Halo paman Zhu'er!" seru putrinya Lee Jiang Wook dari atas atap kediaman utama sambil tangan kanannya melambai pada jenderal muda itu.
"Awas hati-hati sayang, nanti bisa jatuh lo!" balas pangeran kedua Kaisar Qin dengan mendongakkan kepalanya ke atas.
Beberapa detik kemudian, terlihatlah gadis kecil itu meluncur kembali ke bawah dan mendaratkan kedua kakinya di tanah yang langsung disusul oleh si Rong Hya.
"Salam hormat yang mulia pangeran Qin Wu Zhu," pemuda jelmaan siluman serigala itu memberi hormat pada pangeran kedua Kaisar Qin tersebut begitu kedua kakinya telah menyentuh tanah.
"Salam hormat juga tuan muda, kalau boleh saya tahu anda ini siapa ya?" sahut jenderal muda itu lalu bertanya tentang identitas si Rong Hya yang memang mereka berdua belum pernah saling bertatap muka secara langsung, namun siluman serigala itu sudah tahu tentang dengan Qin Wu Zhu sejak lama.
"Perkenalkan yang mulia pangeran, namaku adalah Rong Hya, teman dari mendiang nyonya muda Lee," jawab pemuda jelmaan siluman serigala itu.
"O jadi anda yang namanya Rong Hya. Mendiang Chu Pian Ran pernah beberapa kali menyebut nama anda pada saya," kata pangeran kedua Kaisar Qin terus terang.
"Paman Zhu'er kenapa datang kemari?" sela Lee Chu Mian Yin sambil menoleh pada jenderal muda itu.
"Kakek Qin meminta paman untuk menjemputmu karena ingin mengobrol denganmu, Yin'er," ujar pangeran kedua Kaisar Qin.
"Mengobrol tentang apa ya paman?" imbuh gadis kecil itu penasaran.
"Sebaiknya kamu temui kakek Qin dulu ya agar tahu apa yang ingin beliau bicarakan denganmu?" balas Qin Wu Zhu yang sengaja tidak memberitahu dulu putrinya Lee Jiang Wook jika ayahandanya berniat meminta dia tinggal di istana.
"Baiklah. Paman Rong Hya, nanti minta tolong beritahu kakek, nenek dan ayah ya jika Yin'er sedang ke istana," pinta putrinya Lee Jiang Wook.
"Baik sayang, nanti akan paman sampaikan," sahut si Rong Hya.
"Kalau begitu kami berdua pamit dulu tuan Rong Hya," ucap jenderal muda.
"Silahkan yang mulia pangeran."
__ADS_1
Tak berapa lama, tampaklah Qin Wu Zhu dan Lee Chu Mian Yin sedang melangkahkan kaki mereka meninggalkan kediaman Chu menuju ke istana.
Dua puluh menit an kemudian, sampailah kedua orang itu di depan ruang kerja Kaisar Qin Shi Huang dan jenderal muda tersebut meminta putrinya Lee Jiang Wook masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi kakek Qin," sapa gadis kecil itu begitu dia sudah ada di hadapan Kaisar Qin Shi Huang yang saat itu sedang sibuk mengurus pekerjaannya.
"Selamat pagi sayang," sahut pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu yang lalu bangkit berdiri dari duduknya, melangkahkan kakinya sebentar dan mengangkat sebuah kursi yang kemudian meletakkan benda tersebut di samping kiri kursinya.
"Duduk di sini Yin'er, kakek ingin ngobrol denganmu karena sudah lama sekali kita tidak saling berbincang," ucap Kaisar Qin Shi Huang yang langsung dituruti oleh Lee Chu Mian Yin.
"Bagaimana kabar kamu sayang? Sehat?" tanya pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu setelah cucu angkatnya duduk di kursi.
"Syukurlah, Yin'er baik dan sehat kek... Bagaimana dengan kakek sendiri?" jawab putrinya Lee Jiang Wook yang kemudian balik bertanya sambil kepalanya diarahkan pada kakek angkatnya.
"Kakek juga sehat Yin'er...," balas Kaisar Qin Shi Huang.
"Paman Zhu'er bilang kakek ingin mengobrol dengan Yin'er. Memangnya kakek ingin bicara apa dengan Yin'er?" lanjut gadis kecil itu.
"Iya kek, tapi ya baru beberapa minggu ini," jawab Lee Chu Mian Yin jujur.
"Apa benar ayahmu yang memintamu berlatih ilmu itu?" imbuh Kaisar Qin.
"Iya kek."
Baru mendengar jawaban singkat dari cucu angkatnya, Kaisar Qin Shi Huang sudah bisa merasakan jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh putrinya mendiang Chu Pian Ran itu.
"Apa iya? Kok kakek tidak percaya ayahmu yang memintamu melakukan hal yang seberbahaya itu," kata pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu terus terang yang langsung membuat gadis kecil yang duduk di samping kanannya tersebut menunjukkan 'sedikit' gelagat kebingungan.
"Nah, kamu ketahuan bohong kan sayang?" Kaisar Qin langsung meng skak mat cucu angkatnya yang tentu saja membuat putrinya Lee Jiang Wook itu kelimpungan.
__ADS_1
"Yin'er bohong kan karena memang disuruh kakek, nenek dan ayah, kek," tukas Lee Chu Mian Yin jujur.
"Lo kok begitu? Memangnya kenapa mereka menyuruhmu berbohong?" Kaisar Qin Shi Huang mulai menelisik alasan dibalik kebohongan yang dibuat keluarga Chu.
"Yin'er tidak mau cerita ah, jangan-jangan kakek nanti bocor mulut lalu disebarkan kemana-mana lagi," dengan lugunya gadis kecil itu menolak memberitahu kebenarannya.
"Kok kamu tega sih bilang kakek bocor mulut, sayang? Kakek janji deh tidak akan menyebarkannya kemana-mana," pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu berusaha merayu cucu angkatnya.
"Kalau kakek ingin tahu kebenarannya, tanya saja langsung ke kakek, nenek atau ayah. Soalnya kalau Yin'er memberitahu kakek sekarang, nanti Yin'er yang akan kena tegur," tutur putrinya Lee Jiang Wook polos.
"Ya sudahlah kalau kamu pelit begitu, kapan-kapan saja kakek akan bertanya langsung pada mereka," Kaisar Qin akhirnya menyerah karena dia tidak berhasil mengorek keterangan dari cucu angkatnya itu.
"Apa ini juga ada hubungannya denga peristiwa 'lemparan kertas' di kelas seperti yang diceritakan oleh Qin Wu Dang?" tambah Kaisar Qin Shi Huang yang mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari Lee Jiang Wook.
"Jangan-jangan kamu punya warisan kekuatan supranatural dari ibumu?" pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu mencoba menebak-nebak yang tidak mendapat respon sama sekali dari cucu angkatnya yang tentu saja semakin membuat dia penasaran dan gemas dengan sikap tutup mulut nya gadis kecil itu.
"Oh ya ada hal lain yang ingin kakek bicarakan denganmu," sambung Kaisar Qin Shi Huang.
"Apa itu kek?" tanya putrinya Lee Jiang Wook.
"Kamu mau tidak tinggal di istana?" sahut pria penguasa nomer satu di wilayah Qin itu yang langsung saja dibalas dengan beberapa kali gelengan kepala dari cucu angkatnya.
"Kenapa tidak mau sayang? Kan enak tinggal di istana, selain itu juga ada beberapa teman mainmu di sini," Kaisar Qin Shi Huang merasa heran dengan penolakan Lee Chu Mian Yin.
"Enak bagaimana kek? Masa' Yin'er disuruh berjauhan dengan orang-orang yang Yin'er sayangi," timpal gadis kecil itu dengan lugunya.
"Kan kita yang ada di sini anggota keluargamu juga sayang. Memangnya kamu tidak sayang dengan kita semua?" ucap Kaisar Qin.
"Sayang juga sih kek, tapi Yin'er lebih sayangnya pada anggota keluarga Yin'er sendiri... Lagipula Yin'er juga lebih senang tinggal di kediaman kakek Chu atau di kediaman kakek Lee," terang putrinya Lee Jiang Wook dengan polosnya.
__ADS_1
lanjutannya beberapa jam lagi ya...