Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 85 Xi Er Dan Xio Bai


__ADS_3

Sejak peristiwa kasus Xio Bai, kepala biro keamanan dengan tegas memberi peringatan kepada semua bawahannya agar ke depannya nanti lebih teliti lagi dalam menangani suatu kasus. Selain itu, atas perintah Qin Wu Zhu mereka dilarang sembarangan menghajar tahanan.


Sejak saat itu, kepala biro keamanan menjadi penasaran tentang identitas nyonya muda itu. Bagaimana dia bisa kenal dengan pangeran Qin Wu Zhu dan bagaimana pula perempuan itu memiliki kelebihan yang tidak biasa seperti itu.


Pria itu sempat menduga bahwa nyonya muda itu adalah tuan putri Nanyang, si putri angkat kaisar yang selama ini selalu mengenakan topeng untuk menyembunyikan identitas aslinya.


Maka secara diam-diam, pria itu menyuruh salah satu bawahannya untuk menyelidiki latar belakang perempuan itu dan bagaimana kehidupannya.


Satu minggu kemudian, bawahannya itu memberi laporan dari hasil penyelidikannya selama ini.


Setelah mendapat laporan tersebut, maka semakin yakinlah kepala biro keamanan itu jika nyonya muda itu adalah putri angkat kaisar yang tak lain adalah tuan Song si pria bertopeng.


****


Dua minggu sudah Xio Bai bekerja di rumah makan milik mertua Chu Pian Ran.


Berdasarkan penuturan dari semua pegawai rumah makan, Xio Bai adalah pemuda yang rajin bekerja, jujur dan polos.


Nasib Xio Bai tak jauh dari nasib Xi Er. Mereka berdua sama-sama yatim piatu, alias sudah tidak memiliki orang tua lagi.


Hari itu, entah kenapa tiba-tiba Chu Pian Ran sedang ngidam makanan yang ada di rumah makan milik mertuanya itu.


Karena suami tercintanya sedang ada urusan bisnis di luar dengan temannya, maka perempuan itu mengajak Xi Er untuk menemaninya ke rumah makan tersebut.


Sesampainya di rumah makan, begitu Xio Bai melihat sosok istri majikannya, maka dengan segera pemuda itu menanyakan maksud kedatangan perempuan cantik itu.


Saat melihat Xio Bai, yang wajahnya bisa diberi nilai 82, tertariklah pelayan setia Chu Pian Ran pada pandangan pertamanya.


Sedari pemuda itu menghampiri majikannya hingga mengantar pesanan makanannya, Xi Er terlihat memperhatikan pemuda itu dengan tatapan yang berbeda.


"Kau tertarik padanya Xi?" Tanya Chu Pian Ran yang memang sudah sedari tadi melihat sikap pelayannya itu agak sedikit aneh.


Xi Er hanya tersenyum malu, gadis itu belum berani mengatakan yang sebenarnya pada majikannya itu.


Tak berapa lama, nyonya muda Lee mengajak pelayannya itu makan bersama.


Seperti biasa, jika istri majikannya sedang ingin makan di rumah makan itu, perempuan itu akan ditempatkan di ruangan khusus seperti saat dia datang bersama suaminya.


Selama setengah jam, Chu Pian Ran dan Xi Er menikmati acara makan itu dengan suasana yang hangat dan tenang.


Setelah selesai makan di rumah makan itu, perempuan itu pun pamit pulang.


Dalam perjalanan pulang, bertemulah Chu Pian Ran dengan Rong Hya.


Rupanya pemuda dari bangsa siluman serigala itu sengaja menunggu kedua perempuan itu keluar dari rumah makan karena dia ingin mengobrol dengan Chu Pian Ran setelah sekian lama mereka tak bertemu.


Maka, mereka berdua pun masuk ke kedai makan sederhana, sementara Xi Er menunggu di depan kedai itu sambil melihat-lihat asesories di sebuah kios yang ada di dekat kedai tersebut.


"Aku pikir kau sudah pulang di hutan Jinfeng." Kata Chu Pian Ran.


"Belum nyonya muda. Setelah tinggal beberapa lama di sini, aku menjadi tertarik untuk tinggal lebih lama lagi." Terang Rong Hya.


"Apa keluargamu tidak akan mencarimu?" Tanya perempuan itu.


Siluman serigala itu pun tersenyum.


"Sedari dulu aku menyukai kebebasan. Jadi jarang sekali ada anggota keluargaku yang menanyakan keberadaanku." Balas pemuda itu.


Selama satu jam Chu Pian Ran mengobrol dengan Rong Hya.

__ADS_1


Kebetulan, saat mereka berdua masih di dalam kedai, Lee Jiang Wook lewat di depan kedai itu dan melihat Xi Er. Maka bertanyalah pemuda tampan itu pada pelayan setia istrinya itu.


Tanpa ragu-ragu, Lee lalu masuk ke dalam kedai untuk mencari istrinya. Setelah mengedarkan pandangannya sesaat, ketemulah sosok perempuan yang dicintainya itu sedang duduk berseberangan dengan seorang pemuda tampan.


Lee kemudian melangkahkan kakinya dan mendekati meja mereka berdua.


Begitu Chu Pian Ran melihat kedatangan suaminya, perempuan itu pun memperkenalkan Rong Hya padanya.


Tak berapa lama, ketiga orang itu terlibat dalam perbincangan yang akrab.


****


"Jadi kau tadi dari rumah makan sayang?" Tanya Lee begitu mereka telah sampai di kamar.


"Iya suamiku, hari ini aku ingin makan masakan yang ada di sana." Balas Chu Pian Ran sambil mengelus perutnya.


Beberapa detik kemudian, perempuan cantik itu menguap. Dan tak butuh waktu lama, nyonya muda yang sedang hamil itu membaringkan tubuhnya di atas ranjang karena matanya mulai mengantuk.


Suaminya lalu menyusul istrinya itu berbaring di sampingnya, kemudian mulailah tangan kanan pemuda itu mengelus-elus perut perempuan itu dengan lembut sambil matanya menatap lekat pada istri tercintanya.


"Tadi waktu di rumah makan, aku rasa Xi Er tertarik dengan Xio Bai. Bagaimana jika kita mendekatkan mereka berdua suamiku?" Ucap Chu Pian Ran.


"Benarkah sayang?" Tanya Lee.


"Iya... Menurutku mereka berdua cocok, apalagi keduanya juga sama-sama yatim piatu." Ucap perempuan cantik itu.


"Baiklah, kapan-kapan aku akan mempertemukan mereka berdua."


Setelah berkata demikian, pemuda itu mencium bibir istrinya dengan lembut. Maka mereka berdua pun saling berciuman mesra hingga beberapa menit.


18+


Sambil masih berciuman, tangan kanan Lee menyingkap pakaian atas istrinya hingga kedua gundukannya terlihat jelas.


Jari-jari kanan pemuda itu mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembut di gundukan kanan istrinya termasuk puncaknya.


Tak berapa lama, Lee memberikan ciuman dan jilatan di bagian itu dan akhirnya menghisap pelan puncaknya hingga dia merasa puas.


Setelah bibirnya melepas hisapan, mata pemuda itu melihat wajah cantik istrinya yang rupanya sudah tertidur beberapa menit yang lalu.


Untuk beberapa saat, Lee menatap istrinya lalu mencium pipi perempuan itu. Setelahnya, dia merapikan pakaian istrinya dan turun dari ranjang untuk melanjutkan pekerjaannya.


****


Sudah setengah tahun lebih kerajaan Lian dalam keadaan terpuruk.


Kondisi kedelapan pangeran masih tetap sama saja sekalipun telah diobati dengan berbagai ramuan herbal, begitu pula dengan sebagian besar prajurit yang mereka miliki.


Semenjak menderita kelumpuhan, para prajurit itu akhirnya dipulangkan ke rumah masing-masing. Sementara itu, Lian Xiao Yuan yang saat ini menjadi kaisar sementara kerajaan Lian, dengan pelan-pelan merekrut calon-calon prajurit baru.


Beberapa kerajaan kecil yang awalnya ditundukkan oleh kerajaan Lian, akhirnya meminta surat pembebasan dan permintaan itu diluluskan oleh Lian Xiao Yuan, karena pemuda itu tidak ingin jika beberapa kerajaan kecil itu menggabungkan diri dan berbalik menggempur kerajaan itu jika dia menolak permintaan mereka.


Setelah berdiskusi yang alot dengan anggota keluarganya, maka mereka akhirnya menyetujui niat Lian Xiao Yuan untuk berdamai dengan kerajaan Qin.


Tak berapa lama, maka pemuda itu mengirimkan salah seorang jenderalnya untuk mengirimkan surat perdamaian itu ke kerajaan Qin.


Berita kerajaan Lian yang menyatakan damai dengan kerajaan Qin lambat laun menyebar di seluruh wilayah Qin dan kerajaan lainnya.


Tentu saja kabar itu mendatangkan kelegaan bagi semua rakyat di seluruh wilayah Qin itu.

__ADS_1


Sejak saat itu, daratan China menjadi tenang tanpa ada peperangan lagi seperti sebelumnya.


****


Seperti janji Lee sebelumnya, pemuda itu akhirnya membuat rencana untuk mendekatkan Xi Er dan Xio Bai.


Awalnya, Lee meminta Xi Er untuk mengantar surat yang sebenarnya isinya 'kurang begitu penting' kepada Xio Bai secara langsung.


Selanjutnya, pemuda itu menyuruh Xi Er untuk mengantarkan pakaian baru yang secara khusus dia beli untuk Xio Bai.


Setelah beberapa kali bertemu, akhirnya mereka berdua janjian untuk keluar bersama, dan rencana itu diketahui oleh Lee Jiang Wook dan istrinya.


Pasangan suami istri itu merasa yakin jika hubungan Xi Er dan Xio Bai cepat atau lambat akan semakin bertambah dekat.


Sore itu, terlihatlah sepasang muda mudi sedang jalan-jalan sambil menikmati suasana jalanan ibukota yang lumayan ramai.


Ekspresi gadis itu beberapa kali tersenyum dengan ceria, sementara si pemudanya sedari berangkat menunjukkan sikap yang tenang.


Beberapa kali mereka berdua terlihat berhenti di kios untuk sekedar melihat-lihat atau membeli kue.


Setelah puas berjalan-jalan, akhirnya sepasang muda-mudi itu duduk di tepi kanal sambil ngobrol dan makan kue yang mereka beli tadi.


Setelah puas mengobrol merekapun memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam.


****


Keesokan paginya, saat Xi Er membersihkan kamar majikannya seperti biasa, Chu Pian Ran pun menggoda pelayan itu.


"Setelah kencan kemarin sepertinya wajahmu semakin ceria saja Xi..." Kata perempuan cantik itu sambil menyulam selimut yang rencananya kelak akan dipakai untuk putrinya saat telah lahir.


Pelayan itu hanya terdiam karena malu.


"Kau tidak perlu malu mengakuinya Xi... jika kau memang suka dengan Xio Bai, aku akan mendukungmu. Lagipula, pemuda itu tipe orang yang rajin dan jujur." Lanjut perempuan itu dengan pandangan matanya tak beralih dari sulamannya.


Beberapa saat kemudian, Xi Er duduk di tepi ranjang di samping Chu Pian Ran.


Nyonya muda itu menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada pelayannya itu.


"Ada apa Xi? Kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya perempuan itu.


"Nyonya muda, apakah jika kita dekat dengan seseorang yang kita sukai, jantung kita akan berdebar-debar?" Ucap Xi Er terus terang karena selama ini dia memang belum pernah yang namanya benar-benar jatuh hati pada laki-laki.


"Iya benar... Jadi kau serius suka dengan Xio Bai?" Kata Chu Pian Ran.


Untuk beberapa saat Xi Er tidak menjawab, namun setelah bagian samping tubuhnya disenggol oleh majikannya, pelayan itu akhirnya mengangguk malu.


"Aku sebenarnya sudah tahu jika kau tertarik pada Xio Bai saat kita datang ke rumah makan beberapa hari yang lalu. Kalau kau memang menyukai pemuda itu, ya silahkan, aku akan mendukungmu. Siapa tahu hubungan kalian akan terus berlanjut hingga ke jenjang pernikahan nantinya. Sudah waktunya kamu merasakan hidup bahagia dengan orang yang kamu cintai Xi..." Ujar nyonya muda itu.


Sebulan kemudian, Xi Er pun bercerita pada Chu Pian Ran jika saat ini dia dan Xio Bai memutuskan untuk berpacaran.


****


Sementara itu, usia kandungan nyonya muda Lee telah memasuki bulan ketujuh.


Dengan perutnya yang semakin membesar, suaminya dengan setia memantau aktifitas perempuan itu agar tidak melakukan sesuatu dengan berlebihan.


Mulai hari ini, begitu matahari terbit, Lee mempunyai rutinitas baru yaitu menemani istrinya jalan-jalan pagi selama setengah jam hingga empat puluh lima menit setiap harinya.


Chu Pian Ran lah yang berinisiatif untuk melakukan kegiatan itu agar otot-ototnya tidak kaku, dan saat melahirkan kelak tidak akan terlalu sakit.

__ADS_1


Selain itu, Lee Jiang Wook juga mulai rajin memijiti tubuh istrinya di kala sore hari sebelum makan bersama keluarga.


Dengan senang hati pemuda itu mau melakukan apapun demi istri tercintanya itu.


__ADS_2