Chu Pian Ran

Chu Pian Ran
Episode 123 Telur Emas Menetas


__ADS_3

Satu minggu kemudian...


Pada malam hari, di saat semua penghuni di kediaman Chu sedang tertidur lelap, tampaklah telur burung elang emas bergoyang-goyang di tempatnya dan tak lama kemudian kulitnya pun mulai retak-retak. Hingga beberapa menit setelahnya, muncullah bayi burung elang emas yang ukurannya besar dari cangkang telur tersebut.


"Kiiik, kiiik..."


Bayi burung itu beberapa kali mengeluarkan suara 'kiiik' yang membuat Lee Chu Mian Yin terbangun dari tidurnya.


Begitu gadis kecil itu duduk di ranjang dan matanya melihat bayi burung elang emas itu, Lee Chu Mian Yin pun dengan segera turun dari ranjangnya yang berdipan rendah.


"Halo bulung cantik, kamu sudah kelual ya? Kenalkan namaku Yin'el...," ucap gadis cilik itu setelah dia jongkok di depan binatang itu sambil tangan kanannya mengelus-ngelus pelan si bayi burung.


Tak berapa lama, terlihatlah Lee Chu Mian Yin sedang bercakap-cakap dengan bayi burung elang emas itu yang bahasanya hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua saja.


Beberapa menit kemudian, gadis kecil itu pun lalu bangkit berdiri dan menapakkan kakinya sebentar untuk mengambil sebuah apel dan sebuah pir dari piring buah yang ada di atas meja rendah dekat ranjangnya, kemudian dibawanya dua buah-buahan itu di depan hewan itu.


Setelah itu, Lee Chu Mian Yin pun menggigit buah apel lalu diletakkannya gigitan buah tadi di lantai yang langsung saja dipatuki dan dimakan sedikit demi sedikit oleh bayi burung itu hingga gigitan buah tadi habis tak tersisa. Kejadian itu terus terulang hingga buah apel dan buah pir itu habis.


"Kamu sudah kenyang apa belum?" tanya gadis kecil itu.


Sebagai jawabannya, bayi burung elang emas itu pun menggelengkan kepalanya.


Maka, tak menunggu lama, Lee Chu Mian Yin pun kembali bangkit berdiri dan melangkahkan kakinya untuk mengambil piring buah-buahan, yang di atasnya masih ada tiga buah apel dan dua buah pir.


Begitu piring buah-buahan sudah diletakkannya di lantai, gadis cilik itu lagi-lagi menggigiti buah-buahan itu dan diletakkannya gigitan buah tadi di lantai agar dipatuki dan dimakan oleh si bayi burung, begitu seterusnya, hingga binatang itu merasa kenyang.


Setelah si burung sudah kenyang, Lee Chu Mian Yin pun mengembalikan piring buah-buahan yang telah kosong itu ke atas meja lagi dan sekembalinya, gadis kecil itu pun lalu mengangkat tubuh bayi burung elang untuk diajak tidur bersama di atas ranjang.


Tak berapa lama, terlihatlah Lee Chu Mian Yin dan bayi burung elang emas itu tertidur lelap hingga keesokan harinya.


*


Keesokan paginya...


Karena Chu Pian Ran punya kesibukan rutin belanja bahan makanan mentah dan perbumbuan untuk para kurcaci bersama Zhin Zhuan dan Xi'er. Maka seperti biasanya, Lee Jiang Wook lah yang bertugas memandikan putrinya.


Begitu ayah muda tampan itu masuk ke dalam kamar Lee Chu Mian Yin, dia pun terkejut karena mendapati bayi burung elang emas sedang tidur di dekat putrinya.


"Yin'er sayang, bangun nak, waktunya mandi...," kata Lee Jiang Wook pelan sambil menggoyangkan sedikit bahu kanan putrinya.


Tak berapa lama, gadis cilik itu pun membuka matanya yang masih berat karena tadi malam memberi makan bayi burung elang lebih dari satu jam an.


"Ayah, Yin'el masih ngantuk kalena tadi malam Yin'el membeli makan bayi bulung ini dengan buah-buahan lumayan lama... Yin'el mandinya nanti saja ya?" sahut Lee Chu Mian Yin dengan masih berbaring di atas ranjang.


"Ya sudah kalau masih ngantuk, Yin'er boleh tidur sebentar lagi. Biar nanti nenek Chu yang mandikan ya?" ucap ayah muda tampan itu.


Mendengar suara berisik, bayi burung elang emas itu pun terbangun lalu untuk sesaat kedua matanya menatap Lee Jiang Wook sambil mengoyang-goyangkan kepalanya.


"Bulung cantik, itu ayahku... Dia baik dan tampan lo...," ujar gadis kecil itu yang sekarang posisi tubuhnya menjadi miring ke kanan sambil tangan kirinya mengelus bayi burung itu.


"Kiiik, kiiik...," binatang itu pun bersuara.


"Ayah, bayi bulungnya membeli salam...," imbuh Lee Chu Mian Yin.


"Halo bayi burung, apa kabar? Perkenalkan aku ayahnya Lee Chu Mian Yin," kata ayah muda tampan itu sambil mengelus sebentar binatang itu.


"Kiiik, kiiik..."


"Ya sudah sayang, kalau begitu ayah keluar dulu ya. Hari ini ayah banyak pekerjaan, jadi Yin'er baik-baik di rumah dengan nenek Chu dan bibi Xi'er. Jangan lupa bayi burungnya juga dijaga dengan baik...," kata Lee Jiang Wook.

__ADS_1


"Iya ayah Wook...,"


Tak berapa lama, ayah muda itu pun membalikkan badannya dan berjalan keluar ruangan.


Setelah beberapa langkah keluar dari pintu kamar putrinya, Lee Jiang Wook pun berpapasan dengan istrinya yang berniat akan memandikan Lee Chu Mian Yin karena dia bisa pulang lebih awal dari biasanya sebab barang-barang yang dibelinya tidak terlalu banyak.


"Kau sudah pulang berbelanja sayang?" tanya ayah muda itu pada Chu Pian Ran.


"Baru saja suamiku... Yin'er mana, bukankah sekarang waktunya mandi?" sahut perempuan cantik itu.


"Tadi aku sudah ke kamarnya, katanya dia masih mengantuk karena tadi malam dia memberi makan bayi burung elang. Telurnya sudah menetas sayang, bayi burungnya lumayan besar...," ucap Lee Jiang Wook.


"Oh ya? Telurnya sudah menetas? Ya sudah, kalau begitu aku segera ke kamarnya Yin'er saja."


Beberapa detik kemudian, Chu Pian Ran pun melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Lee Chu Mian Yin.


Begitu sampai di kamar putrinya, terlihatlah gadis kecil itu sedang berbaring miring sambil berbincang dengan bayi burung elang emas.


"Selamat pagi sayaang...," sapa perempuan cantik itu pada putrinya.


"Selamat pagi bu Lan Lan... Lihat bu, bayi bulungnya sudah kelual tadi malam. Besal ya?" balas Lee Chu Mian Yin dengan masih rebahan miring ke kanan di atas ranjang.


"Kiiik, kiiik...," binatang itu bersuara sambil memperhatikan Chu Pian Ran.


"Bulung elang, itu ibuku... Cantik kan? Ibuku lah yang membawamu pulang kemali?" ucap gadis kecil itu.


Tak berapa lama, bayi burung elang emas itu pun berjalan pelan-pelan mendekati nyonya muda Lee.


"Sepertinya enak sekali nih kalau kamu dipanggang... Sekali-kali aku ingin merasakan bagaimana rasanya daging elang panggang. Lagipula dagingmu lumayan banyak...," kata perempuan cantik itu asal-asalan sambil mengangkat si bayi burung dan didekatkan pada wajahnya.


Mendengar perkataan ibunya, Lee Chu Mian Yin pun langsung bangkit duduk dengan wajah cemberut.


"Ibu kan hanya bercanda sayaang... Tadi ayah berkata bahwa kamu memberi makan bayi burung ini, memangnya kamu beri makan apa Yin'er?" tanya Chu Pian Ran sambil meletakkan kembali bayi burung elang emas itu di atas ranjang.


"Bayi bulungnya maunya hanya makan buah-buahan bu... Tadi malam dia menghabiskan 7 buah-buahan lo...," terang gadis kecil itu.


"Oh ya, aneh sekali... Baru kali ini ada burung elang makannya buah-buahan, biasanya kan makan daging mentah... Lagipula binatang ini kan masih bayi, bagaimana bisa langsung minta makan buah-buahan...," ucap nyonya muda Lee sambil menatap kedua mata bayi burung elang emas itu untuk sesaat.


"Kiiik, kiiik..."


"Oh ya sayang, kamu ingin mandi sekarang atau nanti?" lanjut peri cantik itu dengan melihat putrinya.


"Nanti saja ya bu, bolehkan?," sahut Lee Chu Mian Yin.


"Tentu boleh sayang... Ya sudah, kalau begitu ibu mandi dulu ya, setelah ini ibu harus pergi lagi karena ada urusan penting yang harus ibu kerjakan," imbuh Chu Pian Ran.


"Ya bu, hati-hati ya di jalan... Da da bu Lan Lan...," gadis kecil itu melambaikan tangan kanannya pada ibunya yang dibalas juga dengan lambaian tangan oleh nyonya muda Lee.


"Kik kiiik, kik kiiik..." bayi burung elang emas itu bersuara sambil berjalan cepat menuju tepi ranjang dengan maksud ingin ikut Chu Pian Ran.


Karena Lee Chu Mian Yin takut jika bayi burung itu jatuh ke bawah, dengan segera gadis cilik itu pun langsung mengangkat tubuh binatang itu dan diletakkannya di tengah ranjang.


"Kik kiiik, kik kiiik..."


Bayi burung elang emas itu pun terlihat protes lalu binatang itu berusaha kembali berjalan mendekat ke tepi ranjang namun segera dihalang-halangi oleh tubuh Lee Chu Mian Yin.


"Kiiik...," bayi burung itu bersuara melas sambil mendongakkan kepalanya dan kedua matanya menatap sayu pada gadis kecil yang sedang duduk di depannya.


"Ibu mau pelgi jauh karena ada ulusan penting, kamu di sini denganku saja ya... Kalau kamu nakal, nanti dipanggang dan dimakan ibu loo...," kata gadis kecil itu sambil memandang kedua mata binatang itu.

__ADS_1


"Kiik!"


Binatang itu merasa terkejut dan takut saat Lee Chu Mian Yin mengucapkan kata 'dipanggang' dan 'dimakan', yang akhirnya membuat bayi burung itu berhenti bersuara dan meletakkan tubuhnya di ranjang.


"Sudah jangan sedih sepelti itu, nanti ibu juga kembali pulang... Kamu nanti main dengan Yin'el saja ya...," imbuh gadis kecil itu yang kemudian dibalas dengan anggukan dari bayi burung elang emas.


Dua puluh lima menit kemudian, muncullah nyonya Chu dari balik pintu kamar dengan maksud ingin memandikan cucunya karena tadi wanita paruh baya itu telah bertemu dengan putrinya dan dimintai tolong untuk memandikan Lee Chu Mian Yin.


Begitu melihat bayi burung elang yang besarnya melebihi ayam jantan itu, nyonya Chu pun lumayan terkejut karena tadi saat bertemu dengan Chu Pian Ran, nyonya muda Lee tidak sempat cerita jika telur burungnya sudah menetas karena buru-buru ingin berangkat ke gua para kurcaci bersama Zhin Zhuan.


Menyadari kehadiran neneknya, gadis kecil itu pun menyapa wanita paruh baya itu.


"Selamat pagi nenek Chu...," ucap Lee Chu Mian Yin sambil menoleh pada wanita paruh baya itu.


"Telurnya sudah menetas ya sayang?" tanya nyonya Chu sambil memperhatikan si bayi burung yang juga mendapat balasan yang sama dari binatang itu, sehingga mereka saling menatap.


"Sudah kemalin malam nek... Lalu bayi bulung ini langsung minta makan buah-buahan, sampai habis 7 buah lo nek..." sahut gadis kecil itu.


"Burung elang makan buah-buahan?? Aneh sekali...," kata wanita paruh baya itu keheranan.


"Ini bukan bulung elang biasa nek, makanya makannya juga tidak biasa...," terang Lee Chu Mian Yin.


"Bulung cantik, itu nenekku...," lanjut gadis cilik itu memperkenalkan neneknya pada binatang itu.


"Kiik..."


"Nenek Chu, bayi bulungnya mengucapkan 'halo'...," imbuh Lee Chu Mian Yin.


"Halo juga burung elang...," balas wanita paruh baya itu sambil mengangkat telapak tangan kanannya pada si bayi burung.


"O ya sayang, mandi sekarang yuk...," ajak nyonya Chu sambil menoleh pada cucunya.


"Iya nek, Yin'el mau mandi sekalang...," jawab gadis kecil itu.


"Bulung cantik, Yin'el mau mandi dulu ya... Kamu diam dulu di kotak itu dan jangan nakal...," sambung Lee Chu Mian Yin dengan menatap kedua mata bayi burung elang emas itu sambil telunjuk tangan kanannya menuding sebuah kotak terbuka yang dijadikan tempat meletakkan telur sebelum menetas.


Tak berapa lama, nyonya Chu pun mengangkat tubuh binatang itu dan meletakkannya di atas kotak. Sementara itu, Lee Chu Mian Yin turun dari ranjang lalu menarik sprei yang niatnya akan diberikan kepada pelayan untuk dicuci. Dan setelahnya, gadis cilik itu pun kemudian merapikan bantal dan melipat selimutnya.


Kegiatan itu memang telah diajarkan oleh ibunya sejak Lee Chu Mian Yin berusia 4 tahun agar sedikit demi sedikit gadis kecil itu semakin mandiri.


*


Sore harinya...


Saat ini, berkumpullah tuan dan nyonya Chu, Lee Jiang Wook, Chu Pian Ran dan si kecil Lee Chu Mian Yin di ruang keluarga dengan duduk di lantai yang beralaskan permadani sambil mengelilingi bayi burung elang emas yang saat itu sedang mengedarkan pandangannya untuk berusaha mengenali manusia yang ada di sekitarnya.


"Bagaimana kalau bayi burung ini diberi nama 'Jinying'?" saran Chu Pian Ran memecah keheningan.


"Terserah kamu saja nak, kita hanya mengikut saja...," sahut nyonya Chu.


"Bagaimana Yin'er sayang? Apakah kau setuju jika bayi burung elang ini ibu beri nama 'Jinying'?" tanya nyonya muda Lee sambil menoleh pada putrinya.


"Iya bu, Yin'el setuju...," jawab Lee Chu Mian Yin yang saat ini sudah duduk di tengah sambil tangannya mengelus-elus si bayi burung.


"Yang kuherankan, sebenarnya darimana asal telur emas itu. Jika kau pernah berkata bahwa telur itu jatuh dari langit, bagaimana itu bisa terjadi, apa penyebabnya dan siapa pemiliknya," ucap nyonya Chu sangat penasaran.


"Menurut prediksiku, telur burung itu berasal dari dunia atas bu. Kalau untuk penyebab jatuhnya ke bumi aku juga tidak tahu karena aku tidak bisa menerawangnya. Sebenarnya bisa saja aku melesat ke dunia atas untuk mencari tahu siapa pemilik telur burung elang emas itu, tapi resikonya lumayan tinggi, jadi kuurungkan saja niatku," jelas Chu Pian Ran.


"Jangan sampai kau berkeliaran sembarangan di dunia atas nak... Jika nanti kau tertangkap oleh salah satu dewa atau dewi, kau akan mendapatkan masalah," sela tuan Chu.

__ADS_1


__ADS_2